My Little Devil

My Little Devil
Menyelidkinya


__ADS_3

Mentari di atas sana sudah naik sepenggalan tangan. Cahaya kekuningan itu menyebar masuk ke sela Fentilasi kamar yang masih di tutupi oleh Tirai dengan remang-remang masih terlihat gelap.


Pantulan cahaya dari Fentilasi itu tepat mengarah ke wajah cantik seorang wanita yang kali ini terlihat nyaman membenamkan wajahnya ke dada bidang berotot milik Pria yang juga tengah memeluknya.


Tubuh kekar tegap tanpa atasan itu terlihat posesif mengurung sosok yang mulai terganggu dengan suasana pagi ini.


"Ehmm," gumaman seraknya semakin menyusupkan wajahnya ke sela selimut dan satu tangan lentik itu meraba dada bidang Maxwell yang belum membuka matanya.


Jemari nakal Evelyne mengusap halus tonjolan otot-otot seksi ini dengan mimpi masih setengah sadar.


Kenapa bantal ini terasa begitu hangat? detakan jantungnya sangat stabil.


Pikir Evelyne mengulum senyum damai menyusuri dada bidang Maxwell dan tepatnya ia meraba bagian bekas luka di dada sebelah kiri Pria ini.


Dahinya menyeringit hingga perlahan ia membuka matanya dengan pandangan sayu dan samar menautkan bayang-bayang otot di depan matanya.


"Ini.."


Evelyne mengucek matanya bergantian lalu kembali menatap bantalan kepalanya. Sontak ia tersentak kala sadar posisi mereka tengah dalam keadaan tak baik-baik saja.


Tapi, saat ia ingin menarik diri dari pelukan Maxwell tiba-tiba saja perhatian Evelyne tertuju pada bekas luka tembakan di sebelah kiri dada bidang Maxwell.


"Kau.."


Kenapa aku baru tahu sekarang? lukanya juga hanya beberapa senti menuju jantung. Apa yang terjadi padanya?


Evelyne bertanya-tanya hingga beralih menatap wajah damai Maxwell yang terlihat nyenyak. Evelyne tahu Maxwell semalam pergi saat ia pura-pura tidur dan kembali dinihari tadi. Itupun dia tertidur baru beberapa jam yang lalu.


"Kau kemana saja?" tanya Evelyne dengan suara rendah. Di tatapnya wajah Tampan dengan garis rahang tegas tanpa cacat itu hangat dan lebih terlihat berempati.


Satu tangan Evelyne masih mengusap bekas luka di dada Maxwell yang terlihat menghela nafas tapi tak membuka matanya.


"Apa ada yang mengusikmu lagi, hm?" imbuh Evelyne menarik tubuhnya sampai sejajar dengan Maxwell yang sangat nyaman membelit pinggang polosnya.


"Kau tak perlu cemas. Aku akan berusaha terus memperjelas hubunganmu dengannya."


Ucapan tulus itu muncul dengan sentuhan lembut yang tak pernah ia berikan pada siapapun itu beralih mengusap leher kekar Maxwell yang mulai gelisah.


Tatapan Evelyne terkesan sangat mengagumi pahatan tampan ini sampai jarinya terus bergerak membelai Jakun jantan Maxwell yang bergerak karnanya.


Aku tak munafik. Kau memang sangat bisa membuatku berhasrat.


Suara batin Evelyne yang tiba-tiba saja sulit menahan gejolak birahinya. Ia selalu gugup saat Maxwell sadar tapi percayalah jika Pria ini tidur Evelyne pasti diam-diam mencabuli Tubuh seksi ini.


Saat wajah Evelyne semakin mendekat dengan tatapan penuh damba pada Bibir Maxwell dan satu tangan mengusap rahang Pria ini tiba-tiba saja tangan Maxwell langsung membalikan Posisi Evelyne hingga wanita itu syok kala Maxwell mengungkung tubuh polosnya.


"K..kau..."


Evelyne panik karna Maxwell menekannya dengan deru nafas berat dan wajahnya berubah merah padam.


Tatapan Maxwell terlihat sangat sayu dengan gejolak batin yang sangat tersiksa karna selalu menahan dan menahan semua ini. Evelyne hanya ingin memancing tanpa mau menuntaskannya.

__ADS_1


"Sampai kapan?" serak Maxwell parau dengan dada naik turun menahan darah yang terpompa keras.


Suara jantungnya juga berpacu cepat dapat di rasakan Evelyne yang membatu.


"A..apanya?"


Maxwell hanya diam saling tatap dengan Evelyne yang menahan nafas karna jarak mereka sangat tipis bahkan dada keduanya saling menempel.


Kau satu-satunya Wanita bernyali besar yang tak memakai apapun di atas ranjangku.


Itu kegilaan yang seharusnya Evelyne pahami. Ia selalu berusaha tidak terpancing tapi jika seperti ini terus Maxwell tak tahu sampai kapan bisa bertahan.


"A..aku ingin ke kamar mandi," lirih Evelyne tapi segera tercekat kala Maxwell menjatuhkan kepalanya ke bahu Evelyne hingga helaan nafas tak beraturan itu langsung membuatnya meneggang.


"K..kau.."


"Sebentar saja!" serak Maxwell mengeratkan pelukannya hingga Evelyne harus diam tapi percayalah jantung itu tengah menggila di dalam sana.


Maxwell bisa merasakan nikmatnya memeluk tubuh indah ini hingga rasanya lumayan tenang.


"Kau hanya boleh tidur denganku!"


"Kenapa?" tanya Evelyne mendengar bisikan bariton Maxwell yang menyentuh telinganya.


"Hanya denganku!"


"M..Maksudmu?"


Maksudnya apa? Kenapa aku tak boleh tidur dengan orang lain?


"Kau terganggu jika aku tak memakai pakaian?"


"Hm."


"Kalau begitu aku pindah kamar saja. Bagaimana?" Pinta Evelyne juga ingin melakukan beberapa hal tanpa pengawasan Maxwell.


"Dengan begitu kau tak akan terganggu lagi. Jadi.."


"Kau tak akan bisa tidur sendiri!" jawab Maxwell acuh terlihat lebih tenang beralih menarik diri dari Evelyne lalu menutupi Tubuh wanita itu dengan selimut di sampingnya.


Tapi, Evelyne punya rencana yang pasti. Ia ingin bebas pergi kemanapun karna saat Maxwell bersamanya pria ini selalu ingin tahu segala hal.


"Aku bisa!"


"Tidak."


"Bisaa!! Kau lihat saja, akan ku buktikan ucapanku," tegas Evelyne tapi membuat wajah Maxwell berubah mengeras. Ia sampai harus menelan ludah akan respon tak bersahabat ini.


"J..jangan menatapku seperti itu!"


"Coba saja!" tekan Maxwell dengan ekspresi serius yang memang di segani Evelyne. Tapi, bukan berarti ia akan menurut begitu saja.

__ADS_1


Pria menyebalkan ini melangkah pergi ke kamar mandi dan membanting Pintu sangat keras membuat suara sensor merespon dan Evelyne juga terperanjat.


"Ada apa dengannya? Biasanya tak seperti itu," gumam Evelyne lalu diam sejenak. Jika di pikir-pikir ia juga tak bisa melindungi Maxwell jika masih ada di samping Pria ini.


Ia harus sendirian dan baru bisa pergi kemanapun tanpa ada yang melarangnya.


"Tapi, kemana?" gumam Evelyne mendengus kesal. Ia harus segera membawa Sampel rambut semalam ke Rumah Sakit untuk di teliti segera.


"Aku tak ada uang. Ini akan menjadi masalah Evelyne!" umpatnya mengacak rambut frustasi. Namun, tiba-tiba saja matanya tak sengaja melihat Dompet Maxwell di atas Nakas dengan Ponsel Pria itu masih rapi di sana.


"Apa dia punya uang? Ehmm.. Jangan ragukan Si Idiot itu," ketus Evelyne beranjak dari ranjang dan memeriksa Dompet Maxwell.


Ia tak mengerti dengan Kartu-kartu disini apalagi Evelyne sangat asing dengan yang namanya uang atau sejenisnya.


"Ini bukan uang. Benda hitam tak berguna!" maki Evelyne mengigit Black Card milik Maxwell tanpa tahu benda itu bisa membeli apapun bahkan otaknya.


Yang Evelyne pikirkan sekarang adalah mencuri. Yah, jika ia menjual barang-barang berharga yang lebih mahal pasti akan dapat Uang.


"Kau sangat pintar Evelyne!"


Pujinya girang lalu masuk ke dalam ruang ganti. Ia membuka Lemari pakaian Maxwell dengan hati-hati mencari barang berharga disini.


Awalnya Evelyne tertarik dengan Boxer Maxwell tapi apa bisa di jual? Ah.. Pasti banyak yang membeli jika tahu ini pernah di pakai Pria perjaka itu.


Tapii..


"Tidak. Ini tak boleh di jual!" gumam Evelyne kembali merapikannya lalu mencari barang-barang lain di lemari. Disini ada lemari kaca khusus untuk Jam dan banyak lagi aksesoris yang berkilau.


"Ini bagus, ini.. Ini juga!"


Ia mengambil 3 jam tangan bermerek lalu membungkusnya ke dalam Kemeja Maxwell dan ia sembunyikan di dalam lemari pakaian Leen.


"Yaps. Selesai, setelah dia pergi bekerja aku akan menjual-mu. Hm?" gumam Evelyne tak merasa kedinginan sama sekali hilir mudik dengan tubuh polos seksi itu.


Evelyne tak menyadari jika sedari tadi Maxwell melihat gelagatnya dari CCTV di dalam kamar. Pria itu menatap datar Tablet di tangannya yang memang sedari semalam ia tinggalkan disini.


Jika dia butuh Uang untuk membeli sesuatu pasti dia meminta padaku. Ini bukan soal keinginan untuk membeli barang.


Pikir Maxwell begitu. Alhasil ia langsung menghubungi Jirome untuk menyelidiki apa yang ingin Evelyne lakukan.


"Ada apa? Tuan!"


"Selidiki apa yang ingin Evelyne lakukan. Jangan sampai dia tahu soal ini!" tegas Maxwell dan langsung di sanggupi Jirome.


Maxwell mematikan sambungan karna Evelyne sudah terlihat keluar dari area Ruang Ganti.


"Jangan sampai kau mengkhianati-ku," tekan Maxwell sangat berharap Evelyne bukan ingin melawannya.


.....


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2