
Pagi ini tiba-tiba saja Jirome mendapat kabar bahwa masalah Mobil mereka yang sudah di selesaikan di Pabrik itu bocor keluar. Bahkan rincian tentang kerusakan Mobil yang sejatinya hari itu hanya untuk bahan pertemuan sampai meruak ke meja publik.
Alhasil, Mobil Blackbird keluaran Perusahaan MEC itu kembali di pertanyakan bahkan masih ada yang meragukan kualitas baja mahal itu.
"Bisa jadi ada yang melanggar aturan Perusahaan. Sudah jelas pada Meeting itu tak boleh ada yang bocor keluar tapi mereka memanfaatkan ini untuk merebut pasar Otomotif dari tangan Perusahaan kita," jelas Gregor yang tadi mengamati kondisi pemasaran Mobil ini.
Jirome hanya bisa diam berdiri di depan ruangan Maxwell yang ntah kenapa sudah mendaki siang belum juga keluar dari sarangnya bersama wanita purba itu.
"Pasar Mobil ini menurun dan Mobil GFU merek Perusahaan Dawson langsung di promosikan oleh Perusahaan Tuan Fernandez secara besar-besaran. Jika kita diam saja ini akan berakibat fatal pada Produk Perusahaan yang lainnya," papar Gregor kembali.
"Kau pantau terus keadaan dan respon Konsumen. Aku akan laporkan ini pada. Tuan!"
"Baik!"
Gregor berbalik pergi dan Jirome beralih masuk ke dalam ruangan kerja Maxwell. Disini lengang seakan tak berpenghuni. Tak ada tanda-tanda keberadaan manusia sama sekali.
"Tuan!"
Panggil Jirome mengetuk Pintu kamar. Ia keheranan karna sangat tak pernah Tuannya terlambat seperti ini apalagi sampai tak keluar sekalipun.
"Tuan! Apa kau di dalam?"
Ia mencoba mengetuk Pintu beberapa kali tapi masih tak ada jawaban. Jirome beralih menelpon dan suara deringan itu muncul di dalam pertanda Tuannya masih ada di ruangan ini.
"Mungkin Tuan masih tidur. Aku akan melihatnya nanti," gumam Jirome hanya memberi pesan singkat lalu melangkah pergi kembali melanjutkan pekerjaannya.
Sementara di dalam sana. Sang empu yang ia cari masih nyaman di bawah selimut yang sama dengan seorang Wanita pemikat dahaganya.
Ia berbaring terlentang membiarkan dada bidangnya menjadi bantalan bagi kepala Bidadari cantik yang masih enggan menjauh darinya. Begitu juga dengan Maxwell. Satu tangan kekarnya membelit pinggang ramping seksi Evelyne posesif dengan dagu tersandar ke puncak kepala Wanita ini.
Setelah beberapa lama dalam posisi ini tiba-tiba saja dahi Maxwell mengkerut karna cahaya yang lolos dari sela Fentilasi kamar menyapa wajahnya.
Ia mengerijab beberapa kali memperjelas penglihatannya. Dirasa dadanya dingin dan berat Maxwell langsung menurunkan pandangannya ke puncak kepala Evelyne.
Shitt. Aku kehilangan kendaliku.
Rutuk Maxwell kala teringat bayangan tadi malam. Ia sedikit merasa bersalah tapi tak di pungkiri ada rasa senang di hatinya karna bisa menjadi yang pertama bagi Evelyne.
Membayangkan pertempuran dahyat mereka semalam sampai dinihari membuat bibir Maxwell melengkung tipis, ia membenamkan wajahnya ke puncak kepala Evelyne karna merasa tak karuan.
"Ehmm!"
Gumaman Evelyne yang terganggu karna cahaya mentari ini sudah berpindah ke wajahnya. Ia menggeliat beberapa kali semakin membenamkan wajahnya ke dada kekar Maxwell dengan satu tangan ada di perut Sixpack Pria itu.
"Ehmm.. Maax!" lirih Evelyne serak khas bangun tidur. Melihat itu tangan Maxwell terangkat mengusap kepala Evelyne lembut sampai sang empu sadar dan membuka matanya sayu.
Tatapan setengah sadar dan kepala yang ia angkat pelan dari bantalan berotot ini. Tatapan keduanya bertemu seakan mengagumi wajah polos masing-masing yang terlihat seksi dan menggemaskan ketika bangun tidur.
"Pagi!!" ucap Evelyne menghadiahkan kecupan selamat pagi tanpa canggung ke bibir Maxwell yang hanya bisa menerimanya.
Ia belum sadar akan kejadian tadi malam karna biasanya ia bangun juga tanpa sehelai benangpun jadi sudah biasa, Pikirnya begitu.
Saat Evelyne ingin duduk tiba-tiba saja ia meringis hebat merasakan perih sekaligus nyeri di bagian intinya.
__ADS_1
"A..asss ..a apa ini?!" desisnya mencengkram selimut di pahanya.
Maxwell segera duduk di dekat Evelyne lalu menyibak selimut untuk melihat apa Milik Evelyne lecet karna penyatuan ganas mereka semalam atau tidak. Tapi, Evelyne terhenyak melihat bercak darah di ranjang dan memar-memar merah di sekujur tubuhnya.
"M..Max! Ini.."
"Itu karyaku!" bisik Maxwell mengecup lembut bahu polos Evelyne seraya menatap puas bekas kissmark yang menjalar di sekujur paha, perut dan dada Evelyne yang merah.
Bukannya merasa marah atau kesal Evelyne justru pemasaran kenapa bisa merah membiru seperti ini?! Padahal semalam Maxwell hanya mencium dan menjilati setiap jengkalnya walau ia merasakan sedikit di gigit.
"Bagaimana cara membuatnya? Semalam kau hanya menghisap saja!" gumam Evelyne mengusap bekas-bekas gigitan Maxwell yang tampak acak.
"Kau ingin belajar?"
"Hm. Aku ingin membuatnya juga padamu!" jawab Evelyne menatap licik Maxwell yang beralih mengigit gemas bahu Evelyne sampai wanita itu terpekik.
"Auhh.. Maax!!"
"Apa yang kau pikirkan. Hm? ada apa dengan otakmu?!" desis Maxwell membelit pinggang Evelyne dengan satu tangan merapat padanya.
Jika aku bisa, aku akan membedah isi kepalanya karna jarang-jarang ada wanita yang baru lepas perawan langsung meminta tutorial selugas ini. Hanya ada satu spesies dan itu hanya Miliknya.
"Ayolah. Bagaimana caranya? Aku ingin membuat itu di sini!" menunjuk leher Maxwell dengan jarinya.
"Kenapa kau sangat nakal. Hm?"
"Aku hanya penasaran. Bisa saja bentuknya berbeda, bukan?" tanya Evelyne menunjukan dadanya pada Maxwell yang seketika menegguk ludah.
"Ayo ajari aku! aku juga ingin melakukannya. Max!"
"Nanti saja!"
"Tapi.."
Kalimat Evelyne terhenti kala tak sengaja bergerak menimbulkan rasa nyeri sekaligus perih di bawah sana. Melihat itu Maxwell segera turun dari ranjang tanpa malu berjalan di depan Evelyne yang memerah melihat tampilan seksinya.
Fokus Evelyne beralih pada Milik Maxwell yang tampak sangat imut tak sebesar semalam karna masih dalam mode tenang.
Ternyata benda itu bisa berubah-rubah bentuk. Aaa.. Aku tak sabar ingin mencobanya lagi!!
Pikiran cabul Evelyne terlihat malu sendiri menatap lekat tubuh kekar Maxwell yang tinggi dan bidang. Ia ingin sekali memeggang belalai gajah jinak ini tapi Maxwell segera memakai celananya karna tahu kemana arah benak messum Evelyne.
"Jangan macam-macam!" gumam Maxwell tak mau melakukan itu dulu karna kondisinya tak memungkinkan.
"Jangan di tutup. Aku suka kau tak memakai apapun!" lancang Evelyne membuat Maxwell memerah. Ia tak tahan dengan kalimat sensual dan menggoda Evelyne yang terus terang tanpa di saring sama sekali.
"Maax! Lepaskan celanamu!!"
Maxwell tak mau menuruti rengekan manja Evelyne. Ia mengambil kotak Obat di dalam laci meja lalu duduk di samping ranjang.
"Berbaringlah!"
"Lepas celanamu!" masih dengan rengekan yang sama bahkan mengguncang lengan lengan kekar Maxwell yang menepuk punggung tangannya.
__ADS_1
"Jangan mulai lagi! Kau sudah seperti ini masih saja ingin meminta hal yang sama."
"Memangnya kenapa? Aku suka melakukannya denganmu. Kau itu hebaat dan enaak!" jawab Evelyne seraya menggerutu mengelus punggung tangannya yang di tabok Maxwell tadi.
Bukannya marah Maxwell justru merasa malu sendiri. Evelyne benar-benar membuatnya ingin mengulang lagi bahkan lebih ganas dan brutal tapi ia masih punya akal sehat.
"Jangan bicara seperti itu dengan orang lain!" tegur Maxwell seraya membuka paha Evelyne selebar bahu dan melihat jika Milik wanita ini bengkak dan ada sisa darah di sana.
"Max! Apa Jirome atau yang lain juga melakukan hal yang sama sepertimu?" tanya Evelyne berbaring tapi matanya menatap Maxwell yang mencoba meluruskan otak Evelyne.
"Aku berbeda!"
"Jadi, yang kau lakukan padaku itu tak bisa di lakukan oleh Pria lain?"
"Hm."
Jawab Maxwell acuh tak acuh. Evelyne mangut-mangut mengerti tapi ia masih merasa janggal. Kenapa setiap Pria yang ia temui ingin sekali menyentuh tubuhnya sedangkan Maxwell bersusah paya menolak. Itu sangat menarik bagi Evelyne.
"Jangan berpikir yang macam-macam. Kau harus membersihkan tubuhmu dulu!"
"Max! Kalau misalnya aku melakukannya dengan orang lain apa kau.."
"Bisa tidak kau jangan bicara sembarangan!!" geram Maxwell dengan wajah mengeras dan mata menajam.
Melihat itu Evelyne tersenyum pias karna ia tahu Maxwell kalau sudah marah bisa membuat ia jantungan.
"Aku..aku bercanda. Jangan marah-marah, Max!"
"Hargai tubuhmu sendiri!" tekan Maxwell segera menggendong ringan Evelyne dan membawanya ke kamar mandi.
Evelyne hanya diam tak lagi berani bicara dan hanya menyimpan pertanyaan-pertanyaan itu di benaknya.
Maxwell memperlakukan Evelyne sama seperti memandikan Leen. Ia membersihkan area ketiak, ceruk leher dan terakhir bagian inti Evelyne dengan lembut dan hati-hati karna ini sudah sobek.
Walau Maxwell harus tersiksa tapi ia tak mau melakukan hal itu dengan kondisi Evelyne yang tak memungkinkan tapi wanita ini pasti mau-mau saja.
Karna ingin membuat Evelyne rileks, Maxwell merendam tubuh seksi itu ke dalam Bathub dengan air hangat dan menyalakan lilin aromaterapi.
Ia juga memasukan Bola-bola karet seukuran kepalan tangan yang menjadi mainan Leen dulu ke dalam Bathub hingga Evelyne asik memainkannya.
"Jika sudah kau panggil aku. Hm?" ucap Maxwell mengusap kepala Evelyne yang mengangguk bermain dengan mainan yang di berikan Maxwell.
Pria bertubuh jangkung itu pergi ke luar kamar mandi melihat Ponselnya di atas nakas. Masuk panggilan dari Jirome yang tak terjawab dan pesan baru dari Pria itu.
Tuan. Ada yang membocorkan masalah kerusakan Mobil perusahaan. Perusahaan Stars Otomof mengambil pasar Mobil Blackbird kita.
Pesan itu hanya di baca dengan tatapan datar oleh Maxwell. Setelah mendepak Tuan Marcello sekarang Tuan Fernandez yang ingin mencari masalah dengannya.
"Tunggu saja giliranmu!" desis Maxwell hanya akan bergerak dalam diam. Ia suka mengadu domba dari pada masuk secara langsung.
..
Vote and Like Sayang..
__ADS_1