
Malam ini semakin pekat. Rembulan terlihat indah di atas sana dengan taburan bintang toping kehidupan yang gemilau. Dalam suasana larut seperti ini tentu ada kesibukan yang selalu dikerjakannya.
Maxwell tengah memeriksa Proposal yang di ajukan beberapa Perusahaan untuk meminta Investasi akan Proyek Otomotif darinya. Perusahaan Pengembang yang ia bangun tentu telah melakukan berbagai penelitian untuk menguji Mobil-mobil mereka di pasaran.
"Lakukan pertemuan dengan Perusahaan ini!" ucap Maxwell memisahkan berkas yang sudah ia pilih.
Jirome yang selalu sedia membantunya juga telah menyeleksi Proposal mana saja yang bisa di bawa pada Tuannya dan seperti biasa Maxwell juga akan memisahkannya lagi secara ketat.
"Tuan! Ada masalah di bagian Mesin Mobil Blackbird yang kemarin di uji."
"Masalah?!" gumam Maxwell terdiam. Blackbird adalah nama dari Mobil Pengeluaran mereka yang termasuk sangat laku di pasaran.
Selama ini belum di temukan masalah pada kendaraan baja itu tapi sepertinya ini cukup serius.
"Beberapa konsumen mengajukan kritik di Sosial Media. Mereka mengatakan jika kapasitas listrik yang terlalu rendah membuat jangkauan perjalanan mereka terbatas. Padahal, sebelumnya kita sudah melakukan penelitian besar-besaran dan tak pernah mendapatkan masalah ini," jelas Jirome memang cukup heran.
Maxwell diam dengan pikiran berkelana. Jelas ini sama sekali tak benar karna yang ia tahu selama ini semua yang di Produksi oleh Perusahaanya tak pernah mendapat kritikan pedas masyarakat.
"Lakukan pengujian kembali pada Mobil itu. Sekarang.."
"Ini sudah jam 2 dini hari. Tuan!" peka Jirome kala ucapan Maxwell tadi terhenti dan melihat jam di pergelangan tangan kekarnya.
Tanpa banyak bicara lagi ia langsung mengemasi barang-barangnya lalu bangkit mengambil Jas di kursi dan segera pergi ke luar ruangan.
Jirome yang merasa aneh dengan perlakuan Tuannya akhir-akhir ini pun hanya diam mengikuti Maxwell yang terlihat tergesa-gesa terus memantau jam di pergelangan tangannya.
"Tuan! Kau butuh sesuatu?"
"Barang itu!"
"Sudah di Mobil. Tuan!" jawab Jirome terus mengikuti langkah lebar tegas Pria ini masuk ke dalam Lift.
Memang tadi Maxwell memintanya untuk menyiapkan alat yang begitu membuatnya heran. Apa Tuannya diam-diam memiliki tawanan atau Pria ini tengah mempunyai peliharaan?
Tapi tidak. Mana mungkin Tuannya memiliki peliharaan selain Balmon si anjing ganas itu. Atau mungkin Balmon ingin di latih secara pribadi.
Jirome terus menebak-nebak sampai akhirnya Lift terbuka sampai ke lantai bawah. Maxwell keluar dengan tatapan tegasnya menuju Pintu kaca besar sana.
Gedung ini memang memiliki banyak ruangan. Lantai bawah tak ada tempat apapun tapi disini Galery pertunjukan pembuka dimana banyak Lukisan Tiga Dimensi dengan teknologi sensor mumpuni yang menunjukan visual Mobil yang seakan nyata tengah terparkir padahal itu hanya ilusi IT.
Para penjaga di luar sana sedia menunduk kala Maxwell sudah keluar melewati mereka. Mobil baja mewah hitam pengeluaran terbaru Perusahaan itu sudah terparkir gagah di depan Perusahaan.
"Barangnya ada di dalam. Tuan! Itu lengkap."
"Hm."
__ADS_1
Maxwell masuk ke dalam Mobil langsung dihadirkan Paper-bag abu yang tampak sudah berisi. Dengan ini setidaknya ia bisa mengendalikan Perempuan itu.
"Tuan! Apa kita langsung.."
"Ke Kediaman!" jawab Maxwell masih tenang. Padahal, ada tersirat rasa cemas di dalam hatinya karna bisa saja Wanita itu membuat luka di bahu Evelyne semakin parah.
Sayangnya ia terlalu tertutup untuk menunjukan keperduliannya pada Evelyne. Tapi, memikirkan soal itu Maxwell ingat jika Evelyne meminta di belikan Ice Cream.
"Pagi ini bawakan semua jenis rasa Ice Cream ke kamarku!"
"Ice Cream? Apa ini untuk Evelyne? Yang benar saja Tuan mau membelikannya."
Batin Jirome semakin di landa kebingungan. Mobil yang ia kendarai ini sudah melaju stabil seperti biasa tapi pikiran Jirome ikut melayang sesuai sapuan Ban.
"Kau dengar?"
"Dengar. Tuan!" sambar Jirome hanya meredam rasa aneh dalam pikirannya.
Ia diam tak mau menanggapi apapun dan begitu juga Maxwell yang tampak sangat ingin pulang dan berbeda jauh dari sebelumnya.
.......
Di tempat yang berbeda. Kediaman yang di dominasi warna putih elegan itu terlihat cukup ramai dimana para Penjaga yang tadi berkeliling di panggil oleh para Pelayan yang sangat terkejut mendengar suara barang-barang di jatuhkan dan kaca yang pecah dari dalam kamar Tuannya.
"Ada apa?"
"D..Dad! Ponsel Maxwell tak bisa di hubungi. Kami mendengar suara kaca pecah dan barang-barang berjatuhan dari dalam kamarnya. Aku takut ada yang menyusup ke dalam. Dad!" cemas Violet pada Tuan Marcello yang sudah membawa Owen bersamanya.
Pengawal Owen pamit pergi untuk memeriksa lantai atas dan begitu juga para Penjaga lainnya yang tak bisa membuka pintu kamar karna di kunci oleh Sistem keamanan ini.
"Dad! Bagaimana kalau itu penjahat? Pasti musuh Maxwell yang melakukannya."
"Kau tenanglah. Tak akan terjadi apapun." ucap Tuan Marcello mengisyaratkan Reamy untuk terus ada di samping Violet sementara ia pergi ke tangga untuk melihat langsung apa yang ada di dalam kamar itu.
Sesampainya di atas ia melihat Pengawal Owen yang berusaha mendobrak pintu kamar bersama 5 Penjaga lainnya.
Namun. Hal itu sangat sia-sia bahkan tubuh mereka terkena sengatan dari Sistem Keamanan yang memindai tekanan itu sebagai ancaman.
SEMUA SISI TERKUNCI. SISTEM SENSOR AKTIF.
Suara Robot pengaman yang mengalirkan listrik di gagang Pintu ini. Alhasil mereka menjauh tak bisa menyentuh benda itu.
"Tuan! Tuan Muda sangat menjaga privasinya. Aku rasa Musuh dari luar tak akan bisa masuk ke dalam sana."
"Hubungi bocah itu!" titah Tuan Marcello sudah pusing dengan ketidakpedulian Maxwell. Ia diam sejenak menunggu jawaban dari panggilan Pengawal Owen seraya melihat ada Mesin pemindai di dekat Daun pintu yang sudah tertutup pertanda hanya Maxwell yang paham dengan Dunia Elektronik kamarnya.
__ADS_1
"Dia mengangkatnya?"
"Tidak. Tuan!"
Seketika Tuan Marcello mengusap kasar wajahnya. Suara benda tumpul di hantamkan ke dinding itu terdengar jelas menambah rasa penasaran di hati semua orang.
"Apa tak bisa di retas saja?!"
"Tuan! kita sudah mencobanya dari dulu," jawab Pengawal Owen mengingatkan Tuan Marcello bagaimana susahnya meretas Sistem keamanan di kamar ini.
Maxwell seakan benar-benar tak akan membuka kamarnya dan tak membiarkan siapapun tahu isi di dalam sana.
Brakk...
Suara itu lagi-lagi terdengar. Tuan Marcello mencoba menerka apa yang ada di dalam dan siapa yang berani memporak-porandakan kamar Monster ini.
"Balmon tak mungkin di dalam-kan?"
"Balmon sepertinya masih ada di Kediaman belakang. Tak ada tanda-tanda keberadaan Anjing itu. Tuan!" gumam Pengawal Owen sudah bertanya pada para Penjaga disini.
Alhasil Tuan Marcello tak bisa lagi membendung rasa penasarannya hingga langsung mempunyai keinginan yang cukup Fatal.
"Hancurkan saja Kamar ini!"
"Tapi.."
"Dia juga tak perduli. Bukan? Lihat bagaimana dia mengacuhkan panggilan Violet dan kalian semua," geram Tuan Marcello ingin tetap membuka pintu.
Pengawal Owen diam karna ia takut jika Maxwell akan marah besar. Bisa saja Pria itu membumihanguskan mereka semua.
"Tuan! Kau yakin?"
"Yah. Hancurkan area kamar ini saja!" Titah Tuan Marcello mundur beberapa langkah membiarkan anak buahnya memasang Peledak yang jangkauannya sudah di pastikan.
Ini sangat gila bukan? Ntah apa yang membuat Pria ini begitu ingin memancing amarah Anaknya?!
Saat mereka ingin mendekati Pintu. Suara penuh intimidasi dan kebekuan itu langsung mencekal nyalinya.
"JANGAN ADA YANG MENYENTUHNYA!!"
.........
Vote and Like Sayang..
Maaf ya say author up nya sering kurang ama telat. Soalnya lagi daftar beberapa hari ini jadi nggak sering di Rumah.. 🙏
__ADS_1