
Suasana siang yang tadi begitu sibuk sekarang berganti dengan keheningan malam yang begitu dingin. Jam sudah menunjukan pukul 9 tapi belum ada tanda-tanda kepulangan Evelyne yang tadi pergi sampai sekarang belum kembali.
Maxwell yang tadi baru selesai dari pertemuan rekan bisnisnya tiba-tiba saja mondar-mandir di depan ranjangnya. Ia tengah menunggu laporan dari Yello yang ia suruh untuk mengawasi Evelyne dari kejahuan.
"Pergi kemana dia?!" gumam Maxwell antara cemas dan juga marah. Ia belum berniat mandi bahkan masih memakai stelan kerjanya tadi siang.
Hanya saja Jas yang ia pakai tadi sudah ada di Sofa dan leher kokoh itu terlepas dari kekangan Dasi yang menyesakan.
Pandangan Maxwell tak henti-hentinya mengarah pada Jam di nakas lalu beralih ke Pintu kamar. Suasana sangat hening bahkan hanya deritan langkahnya saja yang terdengar.
"Tuan!!"
Suara Yello dari luar kamar membuat Maxwell segera bergegas membuka pintu.
"Kau menemukannya?"
"Iya, Tuan! Sekarang Nona dalam perjalanan pulang kesini di antar Nyonya Meeiner!"
"Mereka bertemu lagi?" geram Maxwell mendapat anggukan dari Yello.
Jujur Maxwell tak ingin Evelyne masuk dalam garis Keluarga Fernandez karma nantinya Wanita itu akan terkena masalah besar.
"Mereka bertemu di Rumah Sakit. Sepertinya hasil Tes DNA itu sudah keluar dan Nona memeriksanya, mereka berbicara seraya berjalan ke Mall dan seharian ini Nyonya Meeiner memperlakukan Evelyne seperti putrinya sendiri. Dia sampai membelikan Ponsel. Tuan!"
Jelas Yello tak berani menatap wajah dingin Maxwell yang terlihat mengatupkan rahangnya erat.
"Apalagi yang dia lakukan?"
"Hanya itu saja. Mereka lebih banyak jalan-jalan dan belanja. Sejauh ini belum ada tanda-tanda jika Wanita itu berniat buruk pada. Nona!" papar Yello tapi Maxwell sangat berhati-hati. Evelyne terlalu nekat dan sama sekali tak mau mendengar ucapannya.
Setelah melaporkan semua ini Yello pamit pergi karna harus menjalankan tugas yang lain. Mereka tengah sibuk mengurus urusan Perusahaan yang sedang di umpan balik oleh Maxwell.
"Dia memang sangat keras kepala!" umpat Maxwell mengusap wajahnya kasar hingga beberapa lama kemudian ia terkesiap mendengar suara langkah kaki ke arah sini.
Pintu itu terbuka dan Maxwell sigap pergi ke arah Meja kerjanya membalikan beberapa Dokumen yang sebenarnya tak ia baca, hanya sekedar mencari bahan.
"Dia masih sibuk?!"
Batin Evelyne yang hanya melihat sekilas Maxwell lalu segera masuk ke dalam kamarnya seraya membawa 5 Paper-bag. Merasa Evelyne tak menyapa sama sekali Maxwell langsung membuang nafas kesal bukan main.
"Apa dia memang tak merasa bersalah sama sekali?!" umpat Maxwell melempar Dokumen itu ke atas Kursi Kerjanya.
Ia segera melangkah masuk ke dalam kamar dimana mata elang Maxwell tertuju pada Ranjang. Pasti ini barang-barang yang di belikan Wanita itu, pikir Maxwell terlihat tak suka.
Pintu Kamar mandi terbuka dan ada pakaian Evelyne yang berserakan di lantai. Maxwell sudah hafal dengan tabiat buruk dan menggemaskan Evelyne hingga ia berusaha untuk mengabaikannya.
Namun, berusaha untuk tak perduli bukanlah hal yang mudah. Maxwell memanfaatkan keadaan ini dengan memeriksa isi Papar-bag yang tadi Evelyne bawa.
"Barang-barang ini tak lebih bagus dari apa yang aku belikan," umpatnya melihat beberapa Dress mini dan kurang bahan.
Bahkan semuanya hanya menampakan belahan dada dan lekuk tubuh si pemakai.
Kau pikir kau bisa memakai pakaian seperti ini di luar?! Coba saja kau lakukan kalau tak ku seret kau ke dalam kamar ini.
Batin Maxwell mengumpulkan semua pakaian bermerek itu lalu mengambil Gunting di dalam laci Meja di dekat nakas.
Saat Maxwell sangat bernafsu ingin merobeknya tiba-tiba saja Pakaian itu di rampas kasar dari genggamannya.
"Apa-apan kau ha??" sewot Evelyne yang keluar dengan tubuh basah tanpa busana apapun. Pandangan tajamnya menghunus wajah keras Maxwell yang sempat panas dingin melihat pemandangan indah ini tapi ia belum ingin bersikap biasa.
"Berikan!!"
__ADS_1
"Untuk apa? Ini bukan pakaianmu!" bantah Evelyne berbalik pergi ke arah Walk in closet. Melihat itu Maxwell segera mengejarnya mencoba meraih pakaian dari pelukan lengan putih lembut ini.
"Kauu..."
"Kau tak bisa memakainya!!" keras Maxwell mencegat bahu Evelyne yang hampir memasuki ruangan ini.
Keduanya saling berhadapan dan Maxwell berusaha fokus hanya pada manik abu Evelyne dan mencoba mengabaikan dua bukit kembar indah dan lekukan syahdu bak gitar spanyol milik wanita ini.
"Menyingkir!"
"Apa kau tak puas dengan pakaianmu. Ha??" tanya Maxwell tapi justru Evelyne tak mengerti dengan yang ia ucapkan.
"Pakaian apa?"
"Pakaian yang biasa kau pakaiii!!"
"Itu bukan milikku!!" tukas Evelyne tak kalah keras hingga Maxwell terdiam. Ia baru sadar jika Evelyne tak punya Pakaian pribadi dan hanya memakai kemeja san Boxernya.
"Kau hanya menyediakan Daleman dan Bra saja. Aku rasa itu tak sebanding dengan pakaian ini!" imbuh Evelyne dengan senyum meledek.
Mendengar itu semua Maxwell jadi diam mengusap tengkuknya yang dingin antara canggung dan tak tahu harus melakukan apa.
"Ada lagi yang ingin kau katakan?"
"Tidak!" tegas Maxwell lalu pergi ke arah kamar mandi.
Evelyne juga tak perduli. Ia masuk ke dalam Walk in closet ingin mencoba beberapa jenis Pakaian yang di pilihkan Nyonya Meeiner untuknya. Ia sangat senang dan merasa di perhatikan oleh Ibunya sendiri.
Salahkah Evelyne berpikir seperti itu? Jelas tidak, jika bisa egois Evelyne ingin sekali menggantikan Violet.
Sementara Maxwell. Ia tengah mandi dalam keadaan marah dan emosi. Jelas jika ia tak membelikan pakaian khusus untuk Evelyne karna tak masalah berbagi lemari, apa dia mulai bosan memakai Pakaianku? Biasanya dia tak suka dengan pemberian orang lain?
Setelah beberapa lama membersihkan diri dan memurnikan otaknya. Maxwell segera menyudahi ritual penting ini dengan memakai Bathrobe coklat yang masih terbuka di area dada bidangnya.
Ia melangkah keluar seraya meraih handuk kecil di lemari kaca kamar mandi untuk mengusap rambutnya.
"Apa aku cantik memakai ini?"
"Woww!! Kau sangat-sangat luar biasa. Sayang! Coba putar tubuhmu, aku ingin melihat semuanya!"
Suara percakapan dua orang berbeda tempat di dalam Walk in closet menarik diri Maxwell untuk mendekat.
Setibanya di depan pintu ia terkesima dengan Evelyne yang terlihat sangat cantik dan seksi memakai Dress abu diatas lutut tanpa lengan. Teksturnya lembut dan mencetak lekukan tubuh indah Evelyne dengan bagian dada membusung ke depan tapi ada Blazer tipis berwarna hitam dengan tambahan bulu-bulu halus di pinggirnya.
Evelyne persis seperti Model dengan pose feminim dan rambut setengah basah seperti itu sukses membuat mata Maxwell tak mampu berkedip.
Nyatanya keberadaan Maxwell masuk di dalam kamera Ponsel Evelyne yang tadi di letakan di dekat lemari yang menghadap langsung ke arah Pintu masuk.
Wajah tampan seksi Maxwell yang tak berkutik menatap Evelyne membuat wanita paruh baya itu tersenyum sekaligus merasa senang.
"Kau nyaman memakainya. Nak?" tanya Nyonya Meeiner dan mendapat anggukan cantik oleh Evelyne.
"Senang! Aku tak merasa panas dan lebih dingin!"
"Benarkah? Besok kita bertemu dan kau harus memakai itu. Hm?"
"Baiklah. Aku siap!" jawab Evelyne lugas dengan senyum tulusnya yang selalu menuai rasa hangat di dada Nyonya Meeiner.
Begitu juga Maxwell tapi sekarang ia masih diam mengamati interaksi keduanya sampai akhirnya Evelyne menyudahi Vidio Call ini. Ia kembali melihat-lihat pakaian lain sampai tak sadar jika Maxwell sudah berjalan mendekatinya dengan handuk di genggaman sudah terlepas ke permukaan lantai.
"Emm.. Ini bagus. Aku akan mencobanya!" gumam Evelyne melepas Blazer di tubuhnya lalu berbalik ingin melangkah ke arah cermin tapi ia menubruk tubuh kekar Maxwell sampai keningnya berhantaman dengan dada keras ini.
__ADS_1
"Kauu.."
Evelyne mengusap keningnya seraya menatap tajam Maxwell yang hanya memandangnya datar. Pindaian mata elang ini membuat Evelyne merasa di selidiki.
"Kau tak ingin dekat-dekat denganku-kan? Kalau begitu jangan tiba-tiba muncul. Pergi saja kau dengan ISTRIMU yang sangat kau Cin.."
Ucapan ketus Evelyne terhenti kala Maxwell langsung membungkam bibirnya. Ia memberontak dengan memukul dada dan mendorong bahu kekar ini tapi Maxwell sudah menekannya langsung ke dinding di dekat Lemari.
"Emm!!!" Ia menutup mulutnya tapi Maxwell segera mengigit bibir bawahnya dan sontak Evelyne membuka mulut. Kedua tangannya Maxwell kunci ke atas kepala hingga Pria ini leluasa menyusuri rongga mulutnya.
Sialaan!! Kenapa dia yang lebih agresif? Seharusnya tak seperti ini!!
Jerit Evelyne yang masih kesal dengan ucapan Maxwell tadi siang. Ia tak melunak sama sekali bahkan terus memberontak sampai tercekat kala lutut Maxwell menekan area intinya.
"Ehmm!!" geraman Evelyne karna kehabisan nafas. Mau tak mau Maxwell melepas hisapannya hingga nafas Evelyne memburu hebat kembali mengisi rongga dadanya yang sempat kosong.
"K..kau.. Aku.."
"Jangan keluar sendirian!" lirih Maxwell dengan dahi saling bertaut hingga hembusan nafas keduanya terasa hangat. Evelyne nyaman dengan aroma mind dari Shampo dan nafas Maxwell yang memejamkan matanya sejenak.
"Kenapa kau perduli? Aku bisa menjaga diriku sendiri dan kau.."
"Maaf!" sela Maxwell tahu Evelyne marah karna sikapnya tadi siang tapi itu murni karna marah dan takut di dalam batinnya saat mendengar kalimat Evelyne pagi tadi.
"Aku hanya bisa menggodamu. Violet itu wanita sempurna-kan? Pergi saja bersamanya!! Setidaknya dia tak sepertiku!" geram Evelyne tapi itu di jawab kecupan ringan Maxwell di bibirnya.
Pria ini beralih memeluk pinggangnya melepaskan kuncian ke lengan Evelyne yang kembali turun.
"Aku hanya terbawa emosi saja. Maaf, hm?" seraya merapikan rambut Evelyne yang masih basah.
Evelyne menepisnya kasar dengan wajah terlihat masih kesal. Ia tak mau menatap Maxwell yang justru tak mengalihkan pandangan dari wajah cantik ini.
"Lepass!!"
"Maaf. Kau tak mau memaafkan-ku?" tanya Maxwell menangkup pipi Evelyne dengan kedua tangan besarnya hingga jelas wajah cantik itu langsung memerah segera meninju dada Maxwell yang pura-pura meringis.
"Haiss!!"
"Rasakan!! Aku tak mau memaafkan Pria Idiot seperti mu. Cih!" umpat Evelyne membuang muka juteknya dan melenggang pergi menjahui Maxwell.
"Kau yakin tak ingin memaafkan-ku?" tanya Maxwell berbalik.
"Hm."
"Walau aku akan bersedia melayanimu Full Servis?" pancing Maxwell dan terdengar menyenangkan di telinga Evelyne yang juga sangat ingin melakukan itu dengan Maxwell, ia merasa Permainan malam itu membuatnya ketagihan.
"Bagaimana? Hm!" memeluk Evelyne dari belakang dengan kedua tangan membelit perut datar ini posesif.
Kenapa amarahku tiba-tiba saja hilang? Padahal tadi aku ingin mendiamkannya.
Umpat Evelyne menunduk hingga Maxwell segera membalikan tubuhnya dan kembali menyambar bibir Evelyne dengan ciuman yang sangat panas dan liar.
Tangan nakalnya sudah bergerak sensual mere**mas bokong bulat seksi ini bahkan membuat Evelyne menggeliat tak karuan tapi itulah tujuan Maxwell.
Ia ingin Evelyne hamil dan tak akan pernah meninggalkannya. Ia akan membuat Evelyne berjanji untuk tak pergi darinya.
Aku tak pernah bisa menahan diri saat kau jauh dariku. Jadi aku mohon, jangan pernah berniat meninggalkan aku.
.....
Vote and Like Sayang..
__ADS_1