
Serangan agresif yang Evelyne lakukan pada Violet membuat semua anggota langsung kewalahan. Mereka harus mengerumuni Mobil ini melindungi dari Iblis wanita yang sekarang sudah membuat Pintu Mobil ini menjadi sasaran empuknya.
Violet menjerit histeris seakan-akan ia tengah di hadang malaikat maut yang siap menelan jiwanya hidup-hidup. Keberadaan anggota Maxwell membuatnya cukup lega tapi itu tak bertahan lama saat kaca Mobil-Nya pecah di tinju kepalan panas Evelyne yang seperti kesetanan ingin merobek mulut Violet yang sudah memucat di dalam sana.
"AKAN KU ROBEK MULUT-MUUU!!!"
"Nona! Nona tenanglah!" ucap Yello berusaha menahan Evelyne yang benar-benar tak perduli. Sekali ia muak akan ia incar sampai kemana-pun wanita ini bersembunyi.
"Aku.. Aku mohon jauhkan dia!!! Jauhkan dia dari-kuu!!"
"Cepat pergi dari sini!" tekan Gregor yang tengah menahan di Pintu Mobil. Supir yang ada di luar Mobil tak bisa masuk karna Evelyne seperti ingin menarik jantungnya keluar.
Di pertengahan keributan ini. Gregor melihat Mobil Tuan-Nya sudah meluncur stabil ke arah sini. Rasa lega itu menghampiri karna ia sempat menelpon Jirome agar memberitahu hal ini pada Tuan-Nya.
"Tolooong!!! Tolong jauhkan dia darikuu!!"
Mendengar teriakan histeris Violet hasrat iblis Evelyne semakin menggebu. Ia menendang Pintu Mobil ini sampai mengenai Gregor yang seketika menggeram sakit langsung terduduk di aspal dingin ini.
Tak mau menunggu lagi. Evelyne dengan kegesitan yang tak bisa di tebak itu langsung menarik Pintu Mobil untuk masuk kedalam menggapai rambut Violet yang sudah berteriak bak di kejar setan.
"Kesini kauu!!!"
"P.. Pergiii!!"
Teriak Violet kala rambutnya langsung di tarik kuat oleh Evelyne yang menyeret Violet keluar dari Mobil lalu menerjang pinggang Wanita itu sampai ikut tersungkur di aspal ini.
Bukannya merasa kasihan atau iba. Evelyne justru ingin memukulinya sampai lengan kekar seseorang langsung menarik bahunya menjauh dari Violet yang sudah mau pingsan di tempatnya.
"Aku akan membunuhnya!!! Lepaass!!!"
"Diam!" tekan Maxwell menahan bahu Evelyne yang sudah memburu hebat. Ia tak suka dengan keberadaan Violet yang menurutnya begitu mengganggu.
Wanita ini bicara dan berteriak seenak jidatnya apalagi ia mengklaim sesuatu yang menyulut amarah Evelyne.
"Tenanglah!"
"Apa?? Kau membelanya?? Haaa!!!" bentak Evelyne menatap tajam Maxwell yang memandangnya tenang. Jika ia ikut marah maka ini akan seperti ledakan Gunung berapi.
"Pergilah ke kamarmu!"
"Kau mengusirku?" desis Evelyne seperti akan menelan Maxwell yang mengambil nafas dalam. Ia menekan kedua bahu Evelyne ke Body Mobil yang sudah tak bisa menahan keganasannya.
"Evelyne!"
__ADS_1
Panggil Maxwell dengan tatapan mengintimidasi. Ia seakan benar-benar mengatakan untuk kembalilah ke dalam Perusahaan sana tapi Evelyne sudah tak punya Mood yang bagus untuk itu.
Ia sentak bahunya kasar dari peggangan Maxwell lalu menatap Violet yang seketika bergidik dengan ketakutan menggerogoti tubuhnya.
"Aku tak akan melepaskanmu!"
"Evelynee!!" geram Maxwell tapi Evelyne hanya acuh. Ia berjalan pergi ke arah Jalanan utama membuat Maxwell langsung menarik lengannya.
"Masuk ke kamarmuu!!"
"Urus saja dirimu sendiri," ketus Evelyne menyentak tangannya tapi tak bisa. Maxwell sudah lebih dulu menyeretnya ke arah Gerbang Perusahaan dimana semua orang tengah menonton interaksi keduanya.
"Masuk!"
"Berhenti memaksakuu!!!"
"Masuuk!!" tekan Maxwell langsung mengurung Evelyne di dalam Gerbang sana. Tak terima dengan perlakuan seenaknya Maxwell emosi Evelyne semakin menggebu-gebu dengan gamblang mengoyak kemejanya hingga para anggota laki-laki disini langsung memalingkan wajah.
"PRIA IDIOOTT!!"
Maki Evelyne melempar kemejanya dari sela gerbang hingga menyapu wajah Maxwell yang langsung mengepal. Ia memberikan hawa tak bersahabat hingga para anggota langsung mundur tak mau menjadi sasaran lagi.
Berbeda dengan para Anggota yang sudah terbiasa. Violet justru terkejut melihat interaksi Evelyne yang begitu berani pada Maxwell dan lagi Pria ini terlihat sangat sabar tak seperti saat berhadapan dengannya.
"M..Maxwell!" gumam Violet menatap nanar Maxwell yang melepas Jaketnya lalu melempar itu pada Evelyne.
"Pakai itu!!"
"Pakai kepalamu!" ketus Evelyne masa bodoh. ia hanya memakai Bera dari koyakan kemeja dan Boxer milik Maxwell yang membuatnya seperti seorang Dewi keseksian. Tatapan tajam kematian itu menembus jantung Violet yang masih meratapi wajah tampan Pria ini.
"Berdo'alah agar kau tak bertemu denganku lagi!" desis Evelyne lalu berbalik pergi ke arah Gedung Perusahaan.
Ia terlihat sangat seksi sampai Maxwell harus menatap tajam CCTV di dekat Gerbang yang tak patut melihat itu.
"M..Max!"
Lirihan Violet yang segera berdiri menatap Maxwell penuh kerinduan. Maxwell hanya diam masih memantau Evelyne yang terlihat sudah masuk ke Pintu Perusahaan walau kaca itu harus retak lebih dulu.
"Max! Aku mohon kau.."
"Berhentilah berharap padaku!" gumam Maxwell beralih memandang datar Violet yang seketika tersayat luka kembali.
Tatapan Maxwell tak berubah bahkan ia terlihat semakin dingin padanya.
__ADS_1
"Max! Aku..aku berjanji tak akan mencampuri urusanmu dan aku akan.. Aku akan berusaha menjadi apa yang kau inginkan, aku.."
"Aku tak ingin berurusan denganmu," tegas Maxwell kembali memperjelas kalimatnya.
"M..Max.."
"Pernikahan ini bukan hal yang ku inginkan. Berhentilah berharap padaku!"
"T..tapi kenapa? Kenapa aku tak bisa?" tanya Violet dengan suara bergetar tak menerimanya. Ia bergerak ingin memeluk Maxwell yang langsung menjaga jarak dengannya.
Hal itu membuat Violet semakin terluka dan tak bisa berkata-kata lagi. Sampai kapan Maxwell akan menjauhinya bahkan tak pernah mau di sentuh olehnya?!
"Tandatangani surat itu dan urus dirimu sendiri. Jangan kesini jika kau tak ingin menyesal."
"M..Max aku.."
Maxwell sudah lebih dulu masuk ke dalam Gerbang sana meraih Jaket-nya yang tergeletak di lantai ini lalu melangkah pergi tanpa menoleh sama sekali ke belakang.
"Maaax!!! Maax jawab akuu!!! kenapa tak bisa?? Kenapaa??"
Teriak Violet terlihat sangat kacau. Ia hanya bisa menangis meratapi Pernikahan yang sudah lama berlangsung tapi hubungannya dan Maxwell sangat jauh dari kata suami istri.
"K..Kenapa? Hiks!"
Jirome hanya diam. Ia tahu Violet memang tak pernah ada niat jahat pada Tuannya tapi wanita ini terlalu keras kepala. Sudah beberapa kali Maxwell tekankan jika JANGAN BERHARAP, tapi ia masih belum mengerti.
"K..Kenapa?? Kenapa? Maax!"
Isak Violet memandangi kepergian Maxwell yang sudah menghilang di ambang Pintu Perusahaan sana. Jangan-kan menyapa atau menoleh, berhenti saja Maxwell tak pernah ragu untuk meninggalkannya.
"A..aku bisa..bisa menjadi apa yang kau mau? Kau.. Kau katakan saja padaku."
"Jangan terlalu memaksakan apa yang memang tak bisa kau capai!" tegas Jirome juga tak ingin ini semakin berlarut.
"Kau tak bisa memaksakan kehendak-mu pada hati seseorang yang belum tentu bisa menerima-mu. Paham?"
"Tapi.. Tapi aku bisa merubah apapun yang dia tak suka. Aku.."
"Bukan masalah Fisik atau Karakter. Ini tentang Perasaan. Kau tak bisa memaksa Tuan untuk nyaman denganmu. Cobalah mengerti!" jelas Jirome lalu meninggalkan Violet dalam kesunyian.
Jika di dengar orang lain pasti ini salah Tuannya. Padahal sedari awal pernikahan Maxwell sudah mengatakan JANGAN BERHARAP PADANYA. Apa itu tak cukup?
....
__ADS_1
Vote and Like Sayang..