My Little Devil

My Little Devil
Keterkejutan


__ADS_3

Pagi ini Maxwell kembali pada rutinitas sebelumnya. Ia memandikan Evelyne, berendam bersama dan memakaikan pakaian yang sudah di bawa oleh Jirome ke kamar mereka. Maxwell sama sekali tak membolehkan Evelyne memakai pakaian di dalam lemari karna sikap posesifnya terlalu mengalahkan akal sehat.


Alhasil Evelyne menurut saja di pakaikan kemeja kebesaran yang sangat ia rindukan dan bokser Maxwell yang diantarkan langsung dari tempat mereka oleh Yello.


"Setelah ini kita mau kemana?" tanya Evelyne membiarkan Maxwell menyisir rambutnya di depan cermin meja rias dan tampilan pria ini sudah begitu menawan dengan jaket dan celana jeans hitam miliknya.


"Pulang!"


"Hanya pulang?" tanya Evelyne lagi mengadah menatap Maxwell yang mengambil nafas dalam menyudahi sisirannya.


"Lalu? Kau ingin kemana. Hm?" melayangkan satu kecupan ringan ke bibir pink segar ini.


"Jalan-jalan. Mungkin?"


"Emm.. boleh. Maunya kemana?" tanya Maxwell menangkup pipi Evelyne dari belakang.


"Aku ingin berkeliling di pantai dekat Villa Daddymu. Disana airnya luas bisa untuk berenang."


"Sebelum itu kita ke rumah sakit. Aku tak ingin kau dan anak kita dalam bahaya. Hm?"


"Terserah. Asal dia tak mengambil-mu aku tak masalah," gumam Evelyne berbalik memeluk Maxwell yang sedari juga tak mau lepas darinya. Akhirnya mereka berpelukan cukup lama tanpa bicara apapun seakan menikmati kehangatan ini.


Tapi, kesyahduan itu di alihkan oleh ketukan pintu. Maxwell mengurai pelukan berjalan mendekati pintu yang segera ia buka sementara Evelyne ada di sampingnya.


Terlihat Netta yang menunduk melihat wajah tampan mempesona tapi mendingin ini tengah memandangnya.


"Nona! Tuan menunggu di bawah!"


"Aku akan turun!" jawab Evelyne dari dalam sana. Netta mengangguk dan segera pergi menemui Tuannya.


"Ayo turun. Aku sudah lapar!"


"Kalian sering makan berdua?" tanya Maxwell dengan wajah tak sukanya. Evelyne dengan santai mengangguk keluar dari kamar ini diikuti Maxwell di belakangnya.


"Iya. Makananya sangat banyak bahkan aku sering menyisakannya. Sekarang ada kau, pasti habis!"


Maxwell hanya diam berjalan di belakang Evelyne yang melangkah sesuka hati. Saat di area tangga seperti biasa Evelyne mempercepat langkahnya membuat Maxwell harus sigap memeggangi lengannya agar tak sampai jatuh ke bawah.


"Pelan-pelan! Kau bisa jatuh."


"Tenang saja. Aku bahkan sudah sering memanjat balkon dan terjun ke lantai bawah sana. Jadi.."


"JANGAN ULANGI LAGI!" tekan Maxwell membeku segera menarik Evelyne mendekat padanya lalu mengatur langkah yang pelan dan stabil tak buru-buru seperti tadi sampai ke lantai bawah.


Evelyne hanya menurut segera pergi ke ruang makan. Disana sudah ada Leonard yang tampak menatap datar ke arah mereka. Bagian lengannya memakai Arm Sling penyangga lengan karna perkelahian kemaren menggeser tulang bahu dan pergelangannya.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Evelyne pada Leonard yang hanya diam menarik kursi di dekatnya yang biasa Evelyne duduki.


Tapi, Maxwell mengiring Evelyne di kursi lain.

__ADS_1


"Dia duduk di sampingku!"


Maxwell hanya diam. Ia duduk di samping Evelyne tepat berhadapan langsung dengan Leonard yang seketika mendingin.


"Apa kau memang begitu ingin mengaturnya. Ha?"


"Bukan ingin tapi sudah kewajiban-ku," tegas Maxwell mengacuhkan wajah tak suka Leonard.


Ia melihat ada banyak makanan disini. Semuanya termasuk tak sehat karna mengandung daya fragmentasi seperti minuman Vodka yang tersaji.


"Makan roti saja!"


"Dia biasanya memakan Pasta dan ..."


"Ini tak sehat untuknya," sela Maxwell menyediakan roti dan air putih untuk Evelyne. Ia juga mengupas buah jeruk yang sudah ia pilih padahal semuanya berkualitas bagus mungkin inilah feeling seorang ayah, pikirnya begitu.


Seakan tak terganggu sama sekali, Evelyne-pun hanya menurut. Ia memakan apa yang Maxwell letakan di piringnya dengan lahap padahal sebelumnya Evelyne sangat tak suka diatur-atur.


"Ntah bagaimana caranya dia bisa merubah Evelyne?!"


Batin Leonard penuh umpatan. Ia hanya meminum Vodka tanpa menyentuh makanan di piringnya sama sekali.


Melihat Leonard yang asik meminum benda itu Evelyne jadi terfokus ke gelas yang ia peggang hingga mendapat tatapan membunuh dari Maxwell.


"Kau mau?" tawar Leonard pada Evelyne yang mengangguk cepat tapi Maxwell langsung mendekatkan air putih.


"Alkohol tak baik untuk kesehatanmu," tegas Maxwell melirik tajam Leonard yang tersenyum remeh menegguk tandas minuman itu.


"Ini rendah alkohol. Tak akan berbahaya jika hanya minum sekali."


"Benar. Tak akan bahaya!" timpal Evelyne tapi wajah Maxwell begitu tak bersahabat.


Alhasil Evelyne mengangguk mengurungkan niatnya. Tapi, bukan tanpa alasan Maxwell menolak itu. Evelyne tipe yang terus penasaran, di coba sekali maka dia akan meminta berulang kali dan nekat mencuri diam-diam.


Setelah beberapa lama mereka berdebat di meja makan. Evelyne mulai membahas soal permusuhan itu dengan Leonard yang hanya diam mendengarkannya.


"Leon! Menurutku Tuan Fernandez bukanlah musuh utama kita. Orang yang menyewa orang-orangnya-lah yang seharusnya kita lenyapkan."


"Otakmu di cuci olehnya?" desis Leonard menatap taj Maxwell yang hanya diam memainkan jari lentik Evelyne di atas pahanya.


"Bukan. Maxwell lebih cerdas darimu!"


Glek..


Leonard seketika di cekik oleh kalimat Evelyne barusan. Maxwell menarik senyum liciknya segera mengusap kepala Evelyne lembut.


"Kau memang pintar. Sayang!" puji Maxwell tapi membuat Leonard mengepal.


"Seharusnya kau harus menangkap orang yang menuduh Wihara mu bukan aku. Iyakan, Max?"

__ADS_1


Maxwell mengangguk lagi Leonard langsung kehilangan kesabaran.


"Aku tahu itu tapi dia juga bukan pria malaikat seperti yang kau agung-agungkan, Evelyne!! Dia juga sudah banyak membunuh orang lain!!" bantah Leonard penuh sarkas.


"Aku juga selalu membunuh orang!"


Degg..


Satu lagi jawaban yang akhirnya membuat Leonard diam. Ia tak lagi bicara karna tak ada obat untuk menghilangkan cinta.


"Bahkan, sudah banyak yang mati. Terakhir aku membunuh anak buahmu-kan, Max?"


"Hm. Sudahlah jangan di bahas lagi," gumam Maxwell sudah cukup puas melihat wajah kekalahan Leonard.


Ia mulai menegakkan tubuhnya mengambil alih suasana yang seketika berubah serius.


"Aku sudah mencari ini lebih dulu. Kau hanya perlu mengambil alih orang-orang itu dari Markasku!"


"Cih, kau pikir aku percaya?" geram Leonard tapi Maxwell hanya diam dengan pandangan datarnya.


"Percaya atau tidak bukan urusanku. Datanglah ke sana dan ambil mereka. Aku tak butuh para penjilat itu!" tegas Maxwell sangat serius membuat Leonard diam. Dia bergerak tanpa diketahui dan selalu mendapatkan tujuannya, benak Leonard kagum.


"Nanti ku temani!" sambar Evelyne tak sabaran.


"Kita akan pulang sekarang. Pergilah ke depan!"


"Emm.. Baiklah," gumam Evelyne mendapat kecupan kilas di bibirnya oleh Maxwell yang membiarkan wanita itu pergi lebih dulu.


Karna tak ada Evelyne disini Leonard segera serius dengan tatapan tegasnya.


"Kau sudah mencari tahu semuanya, bukan?"


"Hm. Aku akan berusaha memberitahunya perlahan," gumam Maxwell tapi Leonard menolak itu.


"Sampai kapanpun jangan katakan itu. Dia pasti akan sangat terpukul jika tahu dia yang membuat Pura itu terbakar dan para musuh memanfaatkannya. Dia.."


"A..Apa?"


Duarr...


Maxwell dan Leonard tersentak kala mendengar suara Evelyne di balik dinding dekat pintu masuk. Netra abu itu menatap kosong kesini dengan tangan yang memeggang furniture kayu harimau minimalis.


Rencananya tadi ingin menunjukan ini pada Maxwell tapi ternyata ucapan Leonard begitu mengejutkannya.


"E..Evelyne!"


....


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2