
Suasana siang yang tadi mendramatisir seketika menyambut Sore yang tenang. Tak ada keributan atau suara apapun kecuali bisikan angin yang terasa semakin dingin.
Langit Jingga di atas sana meneduhi sesosok bocah kecil yang sudah lama duduk di Bangku Taman Perusahaan. Ia diam untuk pertama kalinya tak bicara hanya memandang Kupu-kupu yang tengah hinggap di kuntum-kuntum bunga di sekitarnya.
Yello yang sedari tadi berdiri di belakangnya juga cukup heran. Tak biasanya Evelyne diam tanpa suara seperti ini dan mengabaikan objek yang biasa ia mainkan.
"Nona! Ini sudah Sore. Saatnya kau makan!"
Evelyne hanya diam. Ia tak menjawab sama sekali hingga matanya bergulir memandang langit di atas sana. Ia tengah bingung dan tak rela membayangkan akan pergi dari sisi Daddy-Nya.
"Aunty!"
"Iya. Nona?"
"Leen mau pulang!" gumam Evelyne meremas jemarinya. Yello segera mendekat karna ia pikir Evelyne ingin kembali ke kamarnya.
"Ayo ke kamarmu. Nona!"
"Leen mau pergi!"
Sontak Yello langsung terdiam. Apa yang di maksud Evelyne adalah Pura itu? Tapi kenapa? Kenapa dia baru ingin sekarang?
"Nona! maafkan Tuan yang emosinya sering lepas kendali. Tapi, dia Pria yang baik dan.."
"Leen tahu," gumam Evelyne menatap lurus kedepan. Ia tahu Maxwell pria yang baik walau cara Pria itu hidup sangat berbeda dari orang lain.
"Daddy sangat baik. Daddy tak beruntung mendapatkan Leen!"
"Jangan bicara seperti itu. Nona!" gumam Yello memeggang bahu Evelyne yang terlihat sangat terbeban. Ia hanya ingin Maxwell baik-baik saja dan bisa tersenyum seperti orang-orang di luar sana.
"Mereka.. Mereka bertengkar karna Leen. Jika Leen tak datang maka Daddy.."
Ucapan Evelyne tertahan kala ia mulai merasakan pusing di kepalanya. Hal ini sudah beberapa kali terjadi dan Evelyne tak terkejut sama sekali.
"Nona!"
"Leen juga penyakitan. Leen terus menyusahkan Daddy," lirih Evelyne menahan rasa panas di tubuhnya. Ia berkeringat dingin menahan denyutan di kepala dan panas menjalar di sekujur kulitnya.
Yello yang melihat itu segera berjongkok meletakan punggung tangannya ke kening Evelyne yang membuatnya syok.
"Tubuhmu sangat panas!"
"L.Leen sudah biasa," lirih Evelyne pasrah. Tanpa menunggu lagi Yello segera menggendong Evelyne ringan dan berjalan cepat ke arah Pintu Perusahaan.
Untung saja para Karyawan sudah di pulangkan lebih awal jadi mereka bebas melakukan apapun tanpa ada yang memantau.
Gregor yang tadi baru turun dari lantai ruangan Tuannya seketika melipat dahinya melihat Yello terburu-buru seperti itu.
"Ada apa?"
"Nona Demam tinggi. Dia juga belum makan siang!" jawab Yello penuh kekhawatiran membawa Evelyne masuk ke dalam Lift.
Wanita bertubuh kekar itu terlihat sangat cemas karna wajah Evelyne begitu pucat dan keringatnya juga berlebihan.
"Apa Tuan sudah tenang?"
"Yah. Dia tadi menanyakan Nona Kecil!" jawab Gregor seraya memencet Tombol Lift yang segera membawa mereka ke atas.
Melihat Evelyne yang kepanasan, Gregor segera mengeluarkan sapu tangannya lalu mengusap leher dan kening bocah malang ini.
"P..Panass.."
"Nona! Kau bertahanlah," gumam Yello mengeratkan gendongannya. Ia persis seperti seorang Ibu yang mengkhawatirkan Putri-Nya karna jelas Yello sangat menyukai Evelyne.
__ADS_1
Setelah beberapa lama, Lift itu terbuka memperlihatkan Jirome yang tengah membawa berkas keluar dari ruangan Tuannya.
Pria itu terkejut melihat Yello dan Gregor membawa Evelyne dalam keadaan seperti itu.
"Ada apa?"
"Tiba-tiba saja Nona Demam tinggi!" jawab Yello membawa Evelyne masuk ke dalam.
Jirome kembali memutar langkahnya karna ikut cemas karna Tubuh Evelyne sudah semerah itu dan wajahnya sangat pucat.
"Kau hubungi Dokter Ken untuk kesini!"
Titah Jirome mengambil alih Evelyne dari gendongan Yello lalu bergegas membawa bocah ini masuk ke dalam kamar Tuannya.
"Tuaaan!!"
Maxwell tengah ada di kamar mandi. Jirome membaringkan Evelyne ke atas ranjang lalu pergi ke dekat Pintu Kamar Mandi.
"Tuaan!! Evelyne Demam tinggi!!"
Mendengar kalimat itu Pintu kamar mandi segera terbuka memperlihatkan Maxwell yang baru selesai mandi dengan Bathrobe masih membaluti tubuh kekarnya.
"Tubuhnya sangat panas. Tuan!"
Wajah Maxwell sudah kelut. Ia bergegas mendekati ranjang lalu memeggang kening dan pipi Evelyne yang terasa baru di rebus.
"Kau.."
"D..Dad!" lirih Evelyne dengan pandangan sayu. Maxwell yakin ini masih Sore dan mentari belum terbenam sama sekali.
Tapi..tapi kenapa secepat ini dan kondisi tubuhnya lebih parah dari perubahan sebelumnya.
"D..Dad!"
Evelyne mengangguk memang merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Rasa cemas Maxwell meruak karna kondisi Evelyne begitu mengkhawatirkan.
"Bawa Ken kesini! Cepaaat!!"
"Dia dalam perjalanan. Tuan!" jawab Jirome melihat Maxwell melepas semua pakaian Evelyne karna keringat di tubuhnya sudah tak terkendali.
Semakin lama rasa sakit yang Evelyne tahan tak lagi bisa di redam. Ia sampai merengek karna memang untuk bocah sekecil itu tak akan mampu menahannya terlalu lama.
"D..Daddy s..sakitt.."
"Tenanglah. Kau akan baik-baik saja," ucap Maxwell padahal ia yang tak tenang. Jiwanya seakan di aduk-aduk merasakan telapak kaki Evelyne tiba-tiba dingin tapi bagian tubuh lainnya sangat panas.
"S..Sakit hiks."
"Aku..aku akan menyiapkan air dingin!" gumam Jirome juga tak tahan melihat kesayangannya sampai meringis sakit seperti itu.
Ia bergegas pergi keluar dari kamar sementara Maxwell membawa Evelyne dalam gendongan kokohnya. Tubuh mungil Evelyne yang mungil terlihat ringan di lengan Maxwell yang membuka lebar Gorden kamar lalu menaikan suhu ruangan agar lebih dingin.
"Apa lebih baik?"
Tanya Maxwell meredam kecemasan dengan berdiri di depan jendela kamar. Ia membiarkan angin itu masuk menerpa tubuh Evelyne yang terlihat masih belum tenang dan tubuhnya semakin panas.
"P..Panas.. D..Dad!"
Dada Maxwell begitu sesak. Ia tak tahan melihat kesakitan Evelyne yang terus meremas bahunya menahan semua itu.
"Ini semua karna dia," geram Maxwell pada Evelyne dewasa. Ia mendudukan Evelyne di pinggir Jendela lalu menyimpul rambut pendek anak malang ini ke atas agar lebih dingin dan segar.
Dalam suasana sesakit ini Evelyne masih sempat mengusap rambut di bagian belakang kepala Maxwell karna tangannya tadi meremas bahu kokoh ini.
__ADS_1
"D..Dad!"
"Hm. Masih panas? Apa sudah kurang?" tanya Maxwell tak bisa menyembunyikan jika ia tengah cemas.
Melihat itu bibir Evelyne menipis terlihat seperti seorang penderita kangker stadium akhir.
Ntah kenapa Maxwell tak suka senyum Evelyne untuk kali ini. Ia merasa senyuman itu menyimpan berjuta rahasia yang tak akan baik-baik saja.
"D..Dad!"
"Jangan tersenyum," tekan Maxwell beralih mengangkat Evelyne dari pinggir jendela dengan hangat. Ia tak mencengkram tengkuk atau leher seperti biasa ia lakukan.
"D..Daddy Leen .."
"Berhentilah bicara!" geram Maxwell yang tiba-tiba merasa sesak. Ia seakan merasakan Evelyne akan pergi darinya, Leen-nya tak akan ada lagi.
"D..Daddy jangan sedih. Ya?"
"Jangan membuaall!!! Kondisimu sudah separah ini kau mengerti. Ha??" tukas Maxwell dengan marah tapi ia memeluk Evelyne yang tak merasa di benci tapi justru di sayang dengan gaya Maxwell yang kasar.
Dadanya terasa dihantam batu besar sampai Maxwell harus berulang kali menormalkan nafasnya. Saat di rasa Evelyne mulai tak sadar Maxwell segers mengajaknya bicara.
"Kepalamu masih sakit?"
Evelyne tak menjawab tapi suara Maxwell seakan lama sampai ke pikirannya hingga diam beberapa lama barulah ia mengangguk.
"D..Dad!"
"Jangan bicara lagi! Kau harus tetap sadar sampai Ken kesini, jangan tidur."
"T..tapi Leen lelah. Dad!" gumam Evelyne benar-benar memasrahkan tubuhnya.
Maxwell tak bisa menyangga lagi. Ia mengusap kepala Evelyne agar lebih tenang tapi lucunya tangan Evelyne juga tengah mengusap rambut Maxwell yang menyandarkan kepala Evelyne ke ceruk lehernya.
"D..Dad!"
"Hm," gumam Maxwell meniup kecil bahu Evelyne agar dingin. Jika di lihat keduanya memang seperti Ayah dan anak yang sangat-sangat dekat.
"D..Dad!"
"Kau.."
"Leen ingin pulang!"
Lirih Evelyne membuka mata jernihnya yang sendu menatap manik elang Maxwell yang sudah menajam. Matanya begitu dingin seakan tak suka dengan kalimat Evelyne barusan.
"L..Leen mau P..Pulang."
"Kau belum pernah merasakan jatuh di ketinggian-kan?" geram Maxwell tapi Evelyne terlalu santai hingga ia melabuhkan kecupan sayangnya ke rahang tegas Maxwell yang sudah luluh dengan keberadaanya.
"D..Daddy yang terbaik."
"Jangan banyak bicara hal yang tak berguna. Kau selalu menyusahkanku," ketus Maxwell tapi itu tak sejalan dengan hatinya.
Ia hanya bicara kasar dan pedas tapi itu hanya menutupi perasaan yang belum pernah ia tunjukan pada orang lain selain Ibunya.
Di sela amarah yang tak terima itu, Maxwell justru mulai teringat dengan kata-kata Wanita iblis itu. Sampai sekarang kalimat yang malam itu ia katakan masih menjadi misteri.
"Aku sudah memperingatkanmu."
Suara yang sangat angkuh tapi tak berbohong. Maxwell bisa tahu apa dia tengah bermain-main atau tidak.
.....
__ADS_1
Vote and Like Sayang..