
Sejak berangkat dari Lobby tadi semuanya diam. Mobil ini sudah di isi oleh racauan Evelyne yang terlihat begitu senang menguji kesabaran Maxwell yang tengah menahan emosi dan tak mau membuang tenaga untuk melayani anak kecil baru lahir seperti Evelyne yang terus bertanya apa yang baru ia lihat.
Yang menjawab adalah Jirome. Jangan harap Maxwell mau membuka suara satu kata-pun dan itu selalu di pancing oleh Evelyne yang bertanya tapi menoleh kebelakang.
"Dad! Itu apa?" tanya Evelyne melihat banyak sekali Balon-balon di depan sebuah Gedung yang sepertinya tengah di Desain untuk menyambut Pesta anak-anak.
Warnanya yang beragam dan mencolok menarik perhatian Evelyne yang mendempet ke jendela Mobil seraya berdiri melihat keluar. Jirome tak bisa melaju seperti kecepatan biasa karna bisa saja Evelyne jatuh ke luar dan ia menaiki kaca jendela sedikit lebih tinggi hingga Evelyne kesusahan untuk menyembulkan kepalanya keluar.
"Uncle!!!"
"Kau bisa jatuh," jawab Jirome dengan suara yang tenang tak seperti Maxwell yang selalu membentaknya.
Evelyne menatap sinis Jirome yang hanya acuh tahu jika bocah ini memang sulit di pahami. Karna tak bisa melihat dalam Mode kaca setinggi ini akhirnya Evelyne duduk kembali dengan gayanya yang begitu menggemaskan.
Kaki yang tak sampai ke bawah kursi itu terjuntai mengayun dengan tangan kecil mungilnya terlipat di dada seraya bersandar ke kursi Mobil memanyunkan bibirnya.
"Leen lapar!" gumam Evelyne dengan wajah masam dan mata polos menatap ke arah Spion Mobil dimana wajah Tampan Maxwell yang tengah memejamkan matanya terlihat jelas.
Saat tak ada yang menjawab atau perduli. Evelyne langsung mengambil nafas dalam dengan posisi yang sama.
"LEEN LAPAAAAAR!!!!" Teriak Evelyne sejadi-jadinya begitu melengking hingga Maxwell langsung menendang kursi Jirome yang sontak menginjak Rem sampai Ban berdecit dan kendaraan di belakang mereka hampir berhantaman.
Untuk tak ada yang berani memaki karna ada nama Perusahaan yang tertera di belakang Mobil sana hingga tak akan ada yang berani.
"Leen Lapaar!!! Kenapa Daddy diam?"
"Apa aku harus membelah isi perutmu?" geram Maxwell sampai tak bisa tenang sedikit saja.
Mendengar itu Evelyne terdiam menaikan pakaiannya sampai ke perut hingga daleman Barbie itu terlihat membuat Jirome mengalihkan wajah.
Walau Evelyne anak kecil dengan tubuh semok pas dan menggemaskan itu ia juga tak mau mencabuli matanya oleh kelancangan si belia ini.
"Belah perut Leen Daddy!" mengusap perutnya yang terasa perih. Dengan polosnya ia meminta itu karna rasanya begitu perih.
"Perut Leen sakit! Mama bilang kalau Leen tak makan pasti ada Monster yang memakan perut Leen!" imbuhnya masih begitu memusingkan.
Maxwell mengambil nafas dalam menatap Jirome dari kaca spion dengan isyarat yang tentu Jirome paham. Ia kembali melajukan Mobil ke area Restoran yang tak jauh dari sini karna sudah mendekati Wilayah Perusahaan.
Dari kejahuan ini Maxwell sudah melihat begitu banyak orang disana. Ia sangat malas berbaur dengan manusia sebanyak itu hingga Jirome memarkirkan Mobil di tempat yang tampak sudah padat pertanda ini terlalu ramai.
"Tuan! Aku akan mengurusnya."
__ADS_1
"Hm," gumam Maxwell hanya diam dengan Mode malas. Jirome turun dari Mobil lalu berjalan masuk ke area Resto yang sepertinya bergaya Eropa.
Furniture barat terlihat kental dengan Lemari Bir dan Wine di sajikan di luar bersanding dengan Lemari kaca untuk Minuman buah. Ada gambar-gambar menu di dinding sana membuat Evelyne yang tadi mengusap perutnya beralih mencengkram Seatbelt-nya.
"Dadd!! Mau itu!!!"
"Diamlah," gumam Maxwell memijat pelipisnya pusing. Dalam beberapa detik saja sudah banyak yang keluar dari Resto membuat mata abu Evelyne mengerijab dengan bulu mata lentik ikut tergerak.
Ia memandangi banyak manusia-manusia yang berkelas ini kembali masuk ke dalam Mobil dengan wajah yang cukup senang. Ntah apa yang di lakukan Jirome sampai membuat mereka rela keluar dari sini.
Setelah beberapa lama. Jirome datang dalam keadaan sudah sepi. Ia membuka Pintu samping dimana Maxwell keluar di sambut para Waitress dan Manajemen Resto ini.
"Selamat datang. Tuan!"
Maxwell tak menjawab. Ia berjalan gagah dengan kedua tangan masuk ke saku celananya memasuki Resto yang terasa begitu sunyi tapi ia menyukai ini.
Aroma parfum Maskulin itu membuat para Waitress menggila. Wajahnya merah mencuri-curi pandang pada ketampanan Maxwell yang sudah duduk di Kursi tepat di dekat Jendela yang mengarah ke Taman samping.
Angin disini membuat rambutnya yang agak panjang di bagian atas terhembus hingga pesonanya membuat para Wanita ini hampir gila menahan letupan kebahagiaan.
"Daddy!!!"
Suara keras Evelyne membuat mereka terkejut kala sosok mungil cantik itu berlari seraya melayangkan tatapan tajam pada para Pelayan wanita yang seketika menunduk. Ada hawa tak baik dari manik abu itu membuat mereka membisu.
Para Waitress sana ingin membantu tapi Maxwell mengangkat tangannya pertanda tak di perbolehkan. Tatapan manik coklat Maxwell terus melihat usaha Evelyne untuk naik ke atas kursi yang Notabennya bukan untuk anak usia 4 Tahun sepertinya.
"Bisaa!!" gumam Evelyne terus memanjat Kursi ini dengan kedua tangan di naikan dan ia berusaha menarik diri.
Namun. Sangat di sayangkan karna Evelyne mendorong Kursi itu untuk tumbang menimpanya ke bawah.
"Ammm Mamaa!!" pekik Evelyne kala kepalanya terbentur lantai dan kursi itu menimpa dadanya.
Mereka hanya diam termasuk Maxwell yang begitu menikmati kesusahan yang di alami oleh Evelyne. Tapi, tidak dengan Jirome yang masih punya hati nurani hingga ia yang baru masuk langsung mendekati Evelyne.
"Kau bisa meminta bantuan-kan?!" gumam Jirome mengangkat Kursi kayu berukir itu kembali tegak dan Evelyne ia angkat untuk duduk di atasnya.
Ada memar di dahi, dagu dan benjolan di belakang kepalanya membuat Jirome terperanjat.
"Tuan! Kepalanya terbentur."
Maxwell hanya diam. Ia tak memperdulikan wajah cantik Evelyne yang sudah merah menahan sakit di tubuhnya tapi ia tetap memberi cengiran polos.
__ADS_1
"Leen tak apa! Ini tak sakit."
"Kauu..."
"Leen lapar. Uncle!" sela Evelyne membuat Jirome terdiam.
Maxwell membuka Buku Menu di atas meja dimana semuanya adalah makanan Eropa. Jujur Maxwell sama sekali tak lapar karna ia sudah makan sebelum pergi ke Rumah Sakit.
Merasa Evelyne begitu menatap penuh selera pada Makanan-makanan ini, Maxwell langsung melemparkan Buku menu itu ke hadapannya sampai kening mulus Evelyne yang telah membiru kembali jadi objek sasaran.
"Pilih sendiri!"
"Leen yang pilih?" tanya Evelyne berbinar seraya mengusap keningnya. Ia tak perduli akan semua rasa sakit ini asal ia dekat dengan Maxwell yang katanya adalah Daddynya.
Maxwell diam dan itu pertanda boleh. Tak mau menunggu lagi Evelyne langsung berdiri karna tingginya memang tak cukup untuk menjangkau Meja orang dewasa.
"Leen mau ini.. Ini.. Ini juga. Lalu.. Emm.."
Evelyne menunjuk apapun asal gambarnya bagus. Ia melihat ada Sandwich dan Pasta bakar dengan taburan Kiwi manis. Warnanya begitu cerah dan terlihat lezat membuat Evelyne terus menunjuk gambar-gambar yang ia mau pada Waitress yang begitu terkejut karna hampir semua Menu Evelyne pesan.
"Ini.. Ini juga dan.."
"Evelyne!" panggil Jirome menahan tangan mungil Evelyne yang ingin membuka lembaran terakhir. Matanya begitu lugu menatap banyak gambar lezat ini seakan menjadi Monster makanan.
"Leen mau semuanya!"
"Perutmu tak sebesar itu. Pesan satu atau dua sudah cukup," jawab Jirome ingin mengambil Buku Menu tapi Evelyne langsung naik ke atas Meja mendudukan benda itu.
Wajahnya ditekuk masam dengan bibir manyun dan tangan di lipat didepan dada.
"Leen mau semuanya!"
"Kauu.."
"Pesan!" sela Maxwell membuat Jirome melayangkan tatapan penuh tanya. Mereka semua juga saling pandang tak percaya jika Makanan sebanyak itu hanya dimakan oleh 3 orang.
"Yah. Daddy bilang 'PESAN'!" Ucap Evelyne menirukan gaya angkuh Maxwell yang hanya membuat seringaian liciknya.
Bocah ini benar-benar tahan banting hingga berani berbuat sejauh ini bahkan seperti tak ada takutnya.
Mereka bergegas pergi ke area Dapur dan Manajer Resto ini tak tahu harus senang karna mereka mendapat pelanggan emas atau ngeri karna Evelyne terlalu berbahaya.
__ADS_1
.....
Vote and Like Sayang.