
Deretan foto-foto bocah kecil itu sudah terpampang jelas di Mejanya. Berbagai pose terlihat sangat cantik dan memiliki khasnya sendiri.
Jelas ia tak pernah melihat bocah ini sebelumnya apalagi dengan tingkahnya yang begitu lincah dan energik cukup di kagumi bisa berkeliaran di Perusahaan sebesar dan sekejam itu.
"Sejak kapan dia berada di sana?"
Tanya seorang Pria dengan rambut Gondrong hitam pekat dan berewokan tipis di rahangnya. Tampilan terlihat maskulin dengan ciri khas tatapan tenang tapi bisa berubah menajam.
Tubuh kekarnya dibaluti stelan Jas seperti seorang Pebisnis handal dengan bagian lehernya ada Tato Elang yang menambah kesan gagah tapi juga mengerikan.
"Tuan! Di lihat dari beberapa hari sebelumnya, anak ini ada di Perusahaan sudah 2 Minggu yang lalu. Dia datang dengan Mobil Pria itu sendiri."
"Dengannya," gumam Dawson yang menarik sudut bibirnya tipis. Ia tengah memeggang sebatang rokok yang sudah tinggal setengah.
Tatapannya yang penuh dengan rencana dan ketelitian itu seketika meruak membuat Keylo pria muda kaki tangannya itu hanya bisa diam menunggu perintah.
"Ada kemungkinan besar jika anak itu memiliki hubungan baik dengannya. Tuan! Apalagi, kami mencoba mencari identitas bocah itu tapi tak bisa seakan sudah di tutupi oleh seseorang."
"Siapa yang lebih paham soal menyembunyikan dari pada dia?! Pria yang MENJIJIKAN," desis Dawson meremas Puntung rokoknya yang masih menyala hingga tangannya tentu terbakar.
Tapi. Rasa bencinya pada Maxwell sudah mendarah daging hingga luka apapun tak akan terasa begitu sakit di tubuh kekarnya.
"Lihat bagaimana aku membalikan keadaan. Kau juga akan merasakannya."
"Tuan! kau tenang saja. Kami sudah mengirim beberapa mata-mata untuk mengawasi area Perusahaanya. Mereka dalam pantauan kita," jelas Keylo menyediakan semua itu.
Karna begitu tak sabaran menunggu kehancuran Pria angkuh dan sombong itu, Dawson langsung bersiul ringan melihat foto-foto menggemaskan ini sampai ia tertawa kecil membayangkan tangisan Maxwell yang meminta ampunan padanya.
"Kau terlalu percaya diri. Seberapa banyak nyawa orang-orang ku yang mati di tanganmu dan kau harus membayarnya. MAXWELL!!"
Keylo hanya diam. Ia tahu permusuhan antara Black Devil yang di pimpin oleh Maxwell dan Deamon Dark milik Dawson ini di picu hanya karna seorang wanita.
Kejadian sudah bertahun-tahun lamanya tapi Dawson masih belum melupakan kekejaman Maxwell yang membunuh sesosok wanita yang di sukai oleh Dawson di depan matanya sendiri. Alhasil keduanya bersaing di dunia bawah tapi Dawson selalu menjadi rival sejati bagi Maxwell yang juga tak mau mengalah.
"Lukai anak ini sebagai salam Pertemuan!!"
"Baik. Tuan!"
Jawab Keylo lalu menghubungi anggota mereka yang sudah bersiap di tempat. Hal ini akan jadi salam sapa di hari pertama pertemuan setelah lama menunggu.
.......................
Di tempat yang berbeda. Kali ini Mentari sudah di gantikan oleh Panorama bulan yang baru muncul setelah menunggu cukup lama.
Suasana Kota kembali terasa meriah tapi tak semua orang bisa merasakan kehangatan itu. Hanya beberapa manusia yang masih menatap dingin semua hal yang menurutnya sama sekali tak berarti.
"Sampai kapan kau mau berdiri di situ?"
__ADS_1
Ketus Maxwell yang baru masuk ke dalam kamar membawa Plastik berisi makanan. Ia tadi sudah membersihkan diri hingga berpakaian santai dengan kaos lengan pendek dan celana Jeans hitam panjang menambah kesan muda dan pesona yang bertambah.
Ia meletakan barang-barang ini di atas meja dekat sofa lalu mendudukan diri beralih menatap seorang Wanita dengan kemeja kebesaran yang sudah di ambil dari Lemarinya.
Ia berdiri di dekat Jendela besar kamar memandangi area bawah Perusahaan yang sudah sunyi hanya tersisa lampu yang berkelip.
"Ntah apa isi kepalanya?!"
Batin Maxwell malas untuk menyapanya lagi. Ia memilih untuk mengambil satu potong Sandwich memisahkan 3 lembar Selada lalu baru memakannya dengan suapan besar yang angkuh.
Semua itu tak lepas dari lirikan mata abu tajam Evelyne yang hanya diam melihat Maxwell yang memisahkan beberapa sayur yang tak ia suka.
"Kapan tugasmu selesai?"
Satu pertanyaan keluar setelah membisu cukup lama. Maxwell tak menjawab sama sekali. Ia seperti tak mendengarnya membuat darah Evelyne mendidih.
"Aku bertanya padamu, IDIOT!!"
"Aku tak kenal siapa yang kau panggil," gumam Maxwell mengunyah Sandwich-Nya tanpa menoleh ke arah Evelyne yang mendengus kesal.
"Kau jangan membuang waktu ku!!"
"Waktu ku juga berharga," jawab Maxwell mengelap bibirnya dengan tisu lalu bersandar ke sofa ini dengan satu kaki bertopang seakan berkuasa disini.
Tentu Evelyne tak suka di perintah dan dipermainkan seperti ini. Dengan amarah yang meluap-luap ia berjalan mendekati Maxwell yang tak memperdulikannya.
Maxwell tetap diam hingga Evelyne langsung ingin melempar makanan ini tapi Maxwell segera berdiri menarik bahu Evelyne hingga jatuh ke Sofa panjang dibawahnya.
Tubuhnya di tekan kuat dengan tatapan tajam keduanya saling beradu mempertahankan ego masing-masing.
"Lepaass!!"
Ia berusaha lepas dari kungkungan tubuh gagah Maxwell yang benar-benar tak memberinya cela untuk bergerak sedikit-pun.
"Lepaaas!!!"
"Jangan membuat kesabaran ku habis," desis Maxwell menekan kalimatnya. Wajah Evelyne yang terlihat sama sekali tak perduli membuat Maxwell harus memberi remasan kasar di bahunya.
"Aku bukan anak buah mu. Paham?"
"Kau lupa? Kita punya kesepakatan," geram Evelyne sampai beradu kening dengan Maxwell yang benar-benar tak menyukai sifat keras Iblis satu ini.
"Waktu-ku tak sebanyak itu sampai menemani-mu duduk bersantai," imbuhnya dengan bibir nyaris saling bersentuhan.
Evelyne benar-benar tak perduli dengan posisi intim mereka apalagi jika Maxwell menunduk sedikit saja maka pasti mereka akan berciuman. Dada berisi Evelyne juga sudah menempel erat padanya dengan hidung saling bersentuhan.
Bagi Maxwell ini hal yang membahayakan tapi baginya itu hanyalah sebuah pose tak berguna.
__ADS_1
"Aku tak perduli tentang-mu. PAHAM?"
"Kau pikir aku perduli padamu?" desis Maxwell sama-sama memberikan tatapan liciknya.
Seketika bibir Evelyne menipis dengan tatapan remeh sangat khas darinya.
"Bukankah kau perduli pada Leen kecilmu?"
"Kau bukan dia," tegas Maxwell tapi seketika Evelyne terkekeh geli memperhatikan pahatan tampan yang sangat-sangat dekat dengannya ini.
Ia akui wajah Maxwell begitu tampan dan mempesona tanpa cacat sedikit-pun. Tapi, sayangnya ini terlalu menyedihkan.
"Aku peringatkan padamu satu hal."
Wajah Evelyne mulai mendongak hingga hanya satu senti saja Maxwell bergerak maka ciuman pertamanya akan di ambil wanita ini.
Gestur Evelyne begitu halus tapi sangat agresif. Ia bisa membangkitkan hasrat lawan jenisnya hanya dengan tatapan sayu menggoda dan bibir merah merekah yang seperti ingin menciumnya.
"Dia sangat berbahaya,"
Batin Maxwell ingin menarik diri tapi Evelyne langsung membelit lehernya hingga ia jatuh kembali menindih Tubuh wanita ini.
Dada Maxwell bergemuruh dengan nafas mulai tak stabil kala Evelyne beralih memeluknya dengan dagu bertopang ke bahu kokoh Maxwell.
Hembusan nafas halus ini menerpa telinganya yang terasa campur aduk menahan gejolak goda'an ratu Medusa ini.
Shitt. Kenapa dia lebih liar dari perkiraan ku?
"Jangan terlalu memperhatikannya. Kau akan menyesal di kemudian hari," bisik Evelyne dengan suara syahdu yang membuai.
Maxwell diam untuk sesaat mencerna perkataan Evelyne barusan. Apa maksudnya dari semua ini?
"Aku sudah memperingatkan mu sedari awal. Hm? Jangan menyalahkan-ku saat itu sudah tiba. I-D-I-O-T," tekannya lalu mendorong kasar bahu Maxwell hingga kembali duduk.
Wajah Maxwell yang semula terlihat ingin membunuhnya seketika menatap dengan kosong manik abu dingin Evelyne yang duduk dengan kedua kaki terangkat ke atas meja.
"Apa maksudmu?"
Evelyne hanya diam memilih untuk memainkan kuku-kuku lentiknya dengan senyuman sangat misterius. Ia tak sabar untuk menantikan saat itu datang.
"Ada apa dengan Leen?"
"Ntahlah. Setidaknya aku sudah memperingatkan mu sebelumnya. Hm?" gumam Evelyne memejamkan matanya tapi dari cela kelopak mata indah itu ia menangkap raut gelisah Maxwell yang terlihat begitu memikirkan soal itu.
"Aku berharap kau akan menangis darah jika saat itu tiba," Batin Evelyne tak perduli dengan jejak yang Leen buat. Yang jelas tujuannya tercapai dan itu sudah yang terbaik.
....
__ADS_1
Vote and Like Sayang..