My Little Devil

My Little Devil
Mommy-nya Violet?


__ADS_3

Sudah sedari tadi ia berjalan di area Bangunan elite Kota Brusel dimana banyak Mall dan Hotel terutama Apartemen yang tengah ramai di kunjungi.


Mobil-mobil melintas stabil di jalur di sampingnya sedangkan langkah pelan kelinglungan itu masih tetap menapaki area pinggir Jalan tepatnya di depan-depan Mall yang tengah ramai.


Untung saja ia tengah memakai Masker dan jika tidak, sudah di pastikan sudah banyak kamera yang mengintai di sekelilingnya.


"Kemana aku akan menjual ini?!" gumam Evelyne melihat kiri kanan. Beberapa orang yang berpapasan dengannya hanya menatap sekilas karna Evelyne terlihat santai memakai Kemeja kebesaran seperti biasa menutupi Boxer yang ia pakai.


Hanya para lelaki yang terkadang salah fokus dengan paha mulus dan kaki beralas Sandal kamar mandi itu.


"Kemaren mereka bilang bisa mendapatkan Uang di Mall. Ini yang namanya Mall-kan?!" lirihnya bertanya pada diri sendiri. Evrlyne berhenti di Gerbang dekat Mall yang tengah sibuk.


Melihat Evelyne yang ragu-ragu seorang Wanita paruh baya yang tadi telah keluar dari Mall dengan dua Pengawal di sampingnya itu tertarik.


"Bantu Wanita itu. Mungkin dia ada kendala!"


"Baik, Nyonya!"


Salah satunya mendekati Evelyne yang melangkah perlahan ke arah Mall. Langkahnya yang pelan secara tak langsung mengatakan jika ia tak yakin.


"Nona!"


Evelyne diam menatap tajam Pria kekar di depannya. Gulungan kemeja itu ia sembunyikan di balik punggung tanda waspada.


"Ada apa?"


"Nona! Apa kau butuh bantuan?" tanya Pria itu tapi Evelyne sangat waspada.


"Kenapa aku harus percaya padamu?"


"Nyonya saya ingin membantu anda!" jawab Pria itu menunjuk sopan pada Wanita paruh baya berpenampilan seperti Wanita kelas atas.


Rambutnya disanggul indah dengan Style bak Ratu Kerajaan Inggris. Ada Topi kecil di atasnya dengan kalung Mutiara melekat asli di leher jenjang itu.


Bibir merah dan wajah ramahnya tersenyum menatap hangat Evelyne yang merasa Wanita ini tak punya niat jahat padanya.


"Nyonya-mu?"


"Iya. Dan.."


Pria itu tersentak kala Evelyne berjalan cepat ke arah Wanita itu hingga ia segera berlari untuk menghalanginya karna gelagat Evelyne seperti ingin meninju wajah Nyonya-nya.


"Nona!!"


"Awaass!!" ketus Evelyne ingin mendekat tapi di halangi dengan ketat. Alhasil Evelyne tak punya cara lain hingga dengan cepat menendang bagian inti Pria itu yang langsung memekik karnanya.


"Menyingkir!!!"


Geram Evelyne berjalan cepat sampai ke hadapan Wanita paruh baya ini. Wajah wanita itu agak terkejut karna Evelyne terlihat sangat kuat.


"Kau.."


"Apa kau mau membeli barangku?" tanya Evelyne menunjukan bungkusan kemeja itu. Mereka saling pandang terutama beberapa orang di sekitarnya yang berbisik tapi tak berani untuk menyapa.


"Barang?"


"Iya. Apa kau mau? Aku bawa ini!"


Evelyne membuka bungkusan itu hingga dahi Wanita itu berkerut melihat 3 Jam tangan dengan merek yang sangat membuatnya paham. Semuanya berlebel mahal dan bisa membeli 3 jenis Mobil berbeda.

__ADS_1


"Kau mendapatkan ini dimana?"


"Apa kau mau membelinya?" tanya Evelyne berbinar. Tapi, hanya di jawab senyuman hangat oleh Wanita itu.


"Namaku Meeiner!" mengulurkan tangannya rapi Evelyne hanya diam.


"Namamu?"


"Apa perlu?" tanya Evelyne yang tak suka berkenalan. Sontak hal itu membuat Nyonya Meeiner terkejut dan para Pengawalnya ingin menyangga tapi segera diam saat Nyonya Meeiner memeggang bahu Evelyne.


"Kita bicara di dalam Mobil. Hm?"


"Kau akan membelinya atau tidak?" tegas Evelyne tak ingin membuang waktu.


"Iya kalau aku tahu asal usulnya. Ayo bicara!"


Ajaknya lembut dan Evelyne menurut pergi ke arah Lobby Mall dimana Pengawalnya sudah membukakan Mobil ini Untuk mereka.


Nyonya Meeiner masuk menarik hangat Evelyne untuk duduk di sampingnya.


"Dari mana kau mendapatkan ini?"


"Aku mencuri!"


Jawab Evelyne jujur dan itu membuatnya tersentak. Di tatapnya netra abu polos tapi penuh ketegasan Evelyne yang baru kali ini ia lihat ada pencuri yang mengaku.


"Kau mencuri?"


"Iya. Tapi, ini punya Pria yang kaya. Jadi kehilangan 3 benda mahal dia tak akan masalah," jawab Evelyne santai dan tenang.


Nyonya Meeiner tersenyum simpul. Evelyne seperti tak takut jika ia akan melaporkan ke Polisi atau pihak yang bersangkutan.


"Kau butuh Uang berapa?"


Ucapannya terdengar benar-benar serius. Matanya juga tak berbohong sama sekali, dilihat dari pakaiannya semua ini benda bermerek tapi ...


"Apa kau juga mencuri pakaian ini?"


"Tidak. aku dan Pria itu satu pakaian!" jawab Evelyne terdengar senang tapi bermakna ambigu.


"P ....Pria?"


"Pria yang punya barang-barang ini," sambar Evelyne dan Nyonya Meeiner mangut-mangut mengerti.


"Jadi kalian tinggal satu Rumah?"


"Bukan Rumah, tapi kamar!"


"Uhuuk!" Nyonya Meeiner tercekat air ludahnya sendiri. Ia menatap sulit Evelyne yang tanpa beban menjawabnya.


"Dia Pria yang baik. Hanya saja banyak orang jahat yang ingin menghancurkannya," gumam Evelyne dengan tatapan menajam.


"Aku ingin menepati janjiku pada Putrinya! Aku harus melindungi dan menyelesaikan setiap masalahnya," imbuh Evelyne ntah kenapa merasa Wanita ini dapat di percaya.


Nyonya Meeiner terdiam sejenak. Kalimat Evelyne barusan terdengar sangat tulus dan tak ada niatan buruk apapun.


"Apa hubunganmu dengannya?"


"Emm.. Ntahlah. Tapi, dia Pria yang baik. Walau agak Idiot," jawab Evelyne tersenyum kecil ditandai dengan matanya yang menyipit.

__ADS_1


Melihat hal itu Nyonya Meeiner juga ikut tersenyum. Terlihat jelas jika Pria itu memiliki arti dan tempat yang spesial di hati Evelyne.


"Kau mencintainya?"


"A.. Aa?" tanya Evelyne terhenyak dengan pertanyaan itu.


"Kau mencintai Pria itu?"


"A.. t..tidak! aku.. aku tak mungkin melakukan itu. Lagi.. Lagi pula aku.."


Evelyne gugup sampai Nyonya Meeiner memeggang bahunya kembali kala merasakan kekacauan di batinnya.


"Lagi pula aku juga harus pergi!" lirih Evelyne dengan suara yang rendah memandangi barang-barang di pahanya.


"Pergi?"


"Iya. Setelah memastikan dia baik-baik saja aku harus pergi untuk menyelesaikan masalahku juga," jawab Evelyne tersenyum pahit dan sudah mengambil keputusan.


Ia tak akan melibatkan Maxwell dalam masalahnya yang rumit itu nantinya.


"Kau akan kemana?"


"Aku.."


Evelyne menjeda kalimatnya kala ia sadar ini sudah terlalu jauh. Tangannya menurunkan tangan Nyonya Meeiren di bahunya lalu kembali dalam mode serius.


"Apa kau membeli barang ini? Jika tidak aku ingin pergi!"


"A.. Aku..aku beli. Berapa kau menjualnya?" tanya Nyonya Meeiner membuat Evelyne berbinar.


"Benarkah?"


"Yah. Katakan harganya dan.."


"Aku tak tahu Harganya. Kau lihat saja berapa biasanya," gumam Evelyne menyodorkan beberapa jam tangan itu.


Nyonya Meeiner menghela nafas dalam lalu menggenggam tangan Evelyne hangat membuat wanita itu tersentak.


"Aku akan temani kau ke Rumah Sakit. Semuanya akan ku urus untukmu!"


"Tapi.."


"Kau cari aku saja saat butuh sesuatu. Hm?" ucapnya beralih mengusap kepala Evelyne lembut membuat dadanya mendesir hangat. Evelyne sampai diam beberapa lama karna jujur ia merindukan Mamanya.


"Cari aku dan jangan mencuri lagi. Kau punya Ponsel?"


Evelyne hanya diam memejamkan matanya menikmati belaian tangan Nyonya Meeiren ke rambutnya. Kehangatan ini membuatnya tak bisa berkata-kata.


Namun. Suara Ponsel Nyonya Meeiren menyadarkan Evelyne dari lamunannya. Wanita itu mengangkat sambungan seraya menurunkan tangannya dari kepala Evelyne.


"Hello. Sayang!"


"Mom! Kau dimana? Apa sudah ada di Kota ini?"


Suara seorang wanita yang di kenal Evelyne. Ia sampai terkejut karna dilihat-lihat wajah Nyonya Meeiren tak mirip dengan Wanita itu.


"Apa dia Mommy-nya Violet?"


Batinnya terkejut sampai terpaku lama.

__ADS_1


....


Vote and Like Sayang..


__ADS_2