My Little Devil

My Little Devil
Kemarahan Maxwell


__ADS_3

Setelah mendapatkan donor darah dari Maxwell tadi, keadaan Nyonya Meeiner akhirnya tertolong. Walau tak sepenuhnya mereka bisa bernafas lega karna tembakan di area dada itu hampir mengenai jantungnya hingga setelah operasi akan berpotensi menyebabkan banyak komplikasi nantinya.


Dan sejak itu juga Tuan Fernandez tak ada di depan ruang rawat Nyonya Meeiner. Ntah kemana pria itu Maxwell juga tak perduli. Yang jelas ia sudah bisa sedikit tenang saat melihat wanita paruh baya dengan pandangan selalu hangat itu terbujur kaku dengan selang oksigen melekat di hidungnya.


"Tuan! Sebaiknya kau istirahat. Apalagi kau baru saja menjalani transfusi darah!"


Maxwell hanya diam mendengar perhatian Jirome padanya. Ia tetap berdiri di samping bangkar Nyonya Meeiner dengan tatapan datar mengarah pada wajah pucat itu.


"Ponselku!"


"Ini. Tuan!" memberikan ponsel Maxwell yang tadi ia peggang. Maxwell mengambilnya lalu beralih duduk di sofa tak jauh dari ranjang rawat Nyonya Meeiner.


"Apa yang di lakukan Evelyne hari ini?"


"Dia sudah keluar sejak siang tadi. Tuan!"


Jawab Jirome dengan tatapan segan karna pasti akan terjadi masalah jika Maxwell tahu kemana Evelyne pergi sampai malam ini belum kembali ke kamarnya.


"Kemana dia pergi?"


"Tuan! Yello sudah mengikutinya. Kau tenang saja!" jawab Jirome tapi tatapan menusuk Maxwell sudah mengarah padanya.


"T..tuan.."


Maxwell mengabaikan Jirome. Ia segera menghubungi Evelyne karena semalam Maxwell sempat menyalin nomor ponselnya dan ia juga memasang pelacak di ponsel wanita itu.


Panggilan pertama hanya mendapat jawaban dari operator. Maxwell memulai panggilan berikutnya hingga dalam beberapa menit kemudian barulah tersambung.


"Maa..."


"Kau dimana? Sedang apa sekarang?" cecer Maxwell. Ia mendengar suara berisik dan dentuman musik yang keras di seberang sana hingga membuat Jirome pucat.


Tuan! Dia tengah ada di Club. Tapi, aku mohon kau tenang saja.


Jeritan Jirome tapi hanya sebatas di batinnya saja. Ia menelan ludah berat kala melihat Maxwell sudah berdiri pertanda ia akan pergi.


"Kau dimana?" suaranya mulai berbeda dan lebih mengancam.


"A..aku.. Aku diluar. Nanti ku hubungi lagi, ya?"


"Kau.."


Sambungan itu mati kala kalimat Maxwell belum selesai. Ia segera memeriksa dimana Evelyne sekarang melalui ponselnya.


Seketika rahang Maxwell mengeras melihat dimana Evelyne sekarang. Layar ponselnya menunjukan arah ke Club yang termasuk wilayah keras Dawson dan kenapa wanita keras kepala ini masuk kesana! Sialan!!


"T..Tuan.."


Dengan nafas memburu Maxwell segera keluar dari ruangan ini. Ia melangkah lebar membelah anggota Tuan Fernandez yang ada di kiri kanan lorong.


Mereka hanya diam tak berani menyapa Maxwell yang dalam suasana hati yang tak baik. Hembusan hawa dingin dari kebekuan wajah tampan itu menundukan kepala mereka agar tetap terpaku ke lantai.


.......


Sementara di tempat yang berbeda terjadi sedikit keributan. Club dengan hentakan musik keras dan banyaknya ****** yang berkeliaran di tengah lampu yang bergerak liar ini terasa menyesakan betul bagi Evelyne.


Bagaimana tidak? Ia tengah ada di lautan manusia yang tengah mabuk dan ada juga yang berkuda dengan lantang di sofa sana. Sialnya Evelyne merasa jijik dengan banyaknya wanita yang bergerak liar di atas panggung Club yang dijadikan tempat asusila.


"Untung dia masih disana," gumam Evelyne menyempil diantara wanita berpakaian terbuka yang berjoget ria disekitarnya.


Evelyne hanya diam tak mengalihkan pandangannya pada Dawson yang tengah minum di meja Bar sana. Ia duduk sendiri dengan Kaylo yang sedia ada di belakangnya.


"Bagaimana caraku bisa mendekatinya?! tempat ini sangat ramai," gumam Evelyne sesekali mendapat kedipan nakal oleh beberapa lelaki yang berminat padanya.

__ADS_1


Sebenarnya Evelyne risih dengan tatapan nakal para pria hidung belang disini tapi karna ingin mendapatkan surat itu ia harus menebalkan kesabarannya.


Selang beberapa lama. Evelyne mulai mendapatkan ide. Para wanita nyaris tanpa busana ini bisa menarik lelaki manapun sampai mau menggerayanginya, bagaimana jika aku melakukan itu pada Dawson?! Aku rasa aku bisa bersandiwara sebentar, pikir Evelyne mengambil nafas dalam lalu berjalan ke arah Bar dimana Dawson masih asik minum dan sepertinya ia ada masalah.


"Tuangkan untukku!" pinta Dawson pada Kaylo yang sedia menuangkan Bir dengan tingkatan alkohol yang tinggi ke gelas yang di peggang tuannya.


"Tuan! Kau sudah banyak minum. Lebih baik kau.."


"Kau tahu apa?!" desis Dawson kembali meneguk tandas cairan memabukkan ini. Matanya sudah merah bahkan mungkin kesadarannya hanya tinggal beberapa persen saja.


Ada banyak wanita yang ingin naik ke pahanya tapi Dawson dengan tegas menolak mereka bahkan sampai menendang dengan kasar. Alhasil mereka tak berani lagi mendekat bahkan selalu menjaga jarak dari tempat duduk singa jantan itu.


"Kenapa aku selalu kalah darinya?!" gumam Dawson menatap gelas kecil di tangannya. Rasa marah dan tak terima itu datang kala Maxwell nyatanya bergerak lebih lincah darinya. Pria itu membalikan serangan bahkan lebih besar dari apa yang ia lakukan sebelumnya.


"DIA MEMANG BAJINGAAN!!" geram Dawson meremas gelas itu kuat hingga pecah melukai tangannya.


Kaylo terkejut segera ingin mendekat tapi Dawson tampak kelut tak bisa berpikir tenang. Ia mengeluarkan pistol di tangannya dengan wajah merah padam dan seringaian putus asa.


"Kau membunuhnya. Seperti ini-kan?"


Ia menembak ke arah wanita yang tadi tengah memuaskan seorang pria di dekat panggung sana hingga teriakan mereka semua melengking keras dan terkejut.


"Tuan!" gumam Kaylo merasa Dawson sudah kehilangan kendali. Satu Club ini seketika gemetar dengan mereka yang tadi tengah bereuforia seketika berganti mereggang nyawa melihat darah berhamburan ke lantai.


"Seperti itu atau.. Seperti ini!"


"Tuan! Sadarlah?" gumam Kaylo kala Dawson kembali menembak membabi-buta. Ia membayangkan jika itu adalah Maxwell yang meledak karna timah panasnya.


Tawa sarkas Dawson meruak seakan kehilangan akal menembak ke sembarang orang hingga lautan manusia tadi berubah menjadi kerumunan semut yang berlarian pergi dengan teriakan pecah diiringi barang-barang yang jatuh berserakan ke lantai.


"Kau akan matiiii!!! Bahkan lebih dari itu. Maxweell!!!" teriaknya lalu menembak tatanan botol Wiski dan Wine di dekat lemari pajangan hingga para Bartender yang tadi bersembunyi di bawah meja sampai lari keluar dari Club ini.


Keadaan seketika kacau dan berantakan. Dimana-mana ada pecahan kaca dan mayat manusia akibat dari tembakan brutal yang Dawson lepaskan tampa belas kasih.


"Tuan! Sadarlah, kau sudah membuat mereka ketakutan sampai keluar dari sini," jelas Kaylo yang selalu menyaksikan kekacauan pria ini.


Terbukti dengan senyum sarkas dan nanar Dawson yang melihat ujung Pistolnya. Ada asap halus yang keluar dari sana hingga aroma panas ini menyeruk ke indra penciumannya.


"Dia begitu angkuh dan percaya diri. Tapi, kenapa harus dia. Hm?"


Kaylo hanya diam. Tapi, sedetik kemudian ia melihat satu sosok wanita yang memakai kemeja dan masker di wajahnya tengah berdiri diantara kumpulan mayat itu.


Tubuh indahnya berdiri tegap tak ada respon takut atau gemetar. Bahkan, ia berani berdiri padahal sudah jelas ini bukan ranah permainan lagi.


"Kau ingin mati?!" desis Kaylo menatap tajam Evelyne yang bukannya mundur ia justru melangkah mendekati Dawson yang masih sibuk merutuki Maxwell.


"Kau.."


"Aku ingin bekerja sama denganmu menghancurkan Maxwell!" jawab Evelyne dan sontak Dawson langsung menatap ke arahnya.


Pandangan tak percaya dan terkesan mengejek itu menghunus Evelyne. Bahkan, beberapa detik kemudian Dawson terbahak sampai matanya semakin merah.


"Apa malaikat sekarang berpihak padaku? Kay!"


"T..tuan!"


"Pecundang mana lagi yang dia kirim padaku. Hm? Bahkan ini seorang wanita!" kelakar Dawson menunjuk Evelyne dengan ujung Pistolnya.


Ia berdiri dengan susah payah dan berjalan tak stabil ke arah Evelyne yang masih diam di tempat. Ia membiarkan Dawson mendekatinya dengan pistol siap menembak kapan saja.


"Berapa bayaran-mu. Hm?" desis Dawson antara ingin menahan tawa dan geram sekaligus. Evelyne bisa melihat jika Dawson yang berdiri di hadapannya dengan Dawson yang kemaren datang ke Resto sangat berbeda.


Rapuh dan tak berdaya, begitulah yang tertangkap di manik abu Evelyne.

__ADS_1


"Kau wanita yang bersamanya itu-kan?" tanya Dawson tahu karna ia hafal tatapan tajam ini. Bahkan tangannya ringan melepas masker di wajah Evelyne hingga kekehan sinisnya muncul.


"Aku benar. Kau wanita yang ingin mencari-ku ke kuburan ibuku itu?!" ledeknya dengan aroma alkohol yang tercium sangat menyengat dari mulutnya.


Evelyne tiba-tiba saja merasa mual. Dia ingin menjaga jarak dengan Dawson yang tiba-tiba langsung menarik pinggangnya hingga tubuh mereka rapat.


"Kauu.."


"Akan ku buat dia merasakan hal yang sama!!!" geram Dawson ingin mencium bibir Evelyne yang memberontak keras sampai tangannya langsung melayang ke pipi Dawson yang tertampar keras.


"Lepass bajingan!!" maki Evelyne mendorong Dawson hingga pelukan pria itu terlepas.


Nafasnya memburu hebat dengan wajah cantik mengeras marah karna Dawson berani menyentuhnya. Namun, bukannya marah Dawson justru tertawa keras sampai terbatuk beberapa kali mengusap sudut bibirnya yang berdarah.


"Dia lagi-lagi memiliki mainan yang menarik. Dulu kekasihku sekarang kau. Maxwell memang luar biasa!!! Dia sangat hebaat!!" teriak Dawson bertepuk tangan.


Evelyne tetap diam tapi jujur ia merasa jika Dawson membenci Maxwell bukan tanpa alasan. Pasti terjadi kesalah-pahaman sampai ia menganggap Maxwell sebagai penghancur hidupnya.


"Maxwell tak seperti itu! Dia tak pernah mempermainkan wanita!!"


"Benarkah? Dari mana kau tahu. Ha?" tanya Dawson penuh kemarahan. Ia berjalan mendekati Evelyne menginjak serpihan kaca yang tadi berceceran di lantai.


"Aku tahu karna aku merasakannya!! Dia tak pernah mempermainkan-ku bahkan dia yang selalu menjaga agar aku baik-baik saja. Dan kau.."


"DIA MEMBUNUH WANITAKU HANYA KARNA PEREBUTAN WILAYAH!! SEHARUSNYA DIA BISA MEMINTA PADAKU DAN BUKAN MEMBUNUHNYA!!" bentak Dawson memburu hebat bahkan bisa saja kerongkongannya akan pecah karna bersuara sekeras itu.


Evelyne-pun sampai terdiam karna ucapan Dawson barusan begitu penuh kebencian dan luka. Sudut matanya sampai berair menatap Evelyne yang hanya membisu.


"Aku.. Aku tak pernah berniat untuk mengusiknya tapi kenapa dia lakukan itu padaku? Kenapa?"


"Maxwell tak seperti itu!" bantah Evelyne masih kekeh dengan pendiriannya.


Hal itu membakar jiwa Dawson yang segera melesat ke arahnya dengan kasar menarik kemeja Evelyne yang memberontak kala Dawson ingin menyentuhnya.


"Lepaaasss!!" teriak Evelyne menerjang paha Dawson yang benar-benar kuat sampai menekannya ke dinding dan kemeja Evelyne koyak karna tarikan kasarnya tadi.


Tubuh mereka sudah benar-benar lekat tapi Evelyne berusaha lepas menghindari wajah Dawson agar tak menciumnya.


Saat Dawson ingin mengigit leher Evelyne tiba-tiba saja tubuhnya di tarik kuat ke belakang dengan tinjuan panas seseorang yang langsung membuat Dawson tersungkur hebat ke hamparan kaca sana.


Evelyne dan Kaylo melebarkan matanya melihat siapa yang tengah memukuli Dawson dengan membabi-buta bahkan bernafas saja Dawson tak bisa.


"AKU AKAN MEMBUNUHMU. SIALAAAN!!!"


Geramnya murka dengan urat kemarahan menjalar di wajah tampan iblis itu. Dawson yang tengah mabuk tak bisa bergerak dan hanya menerima hantaman keras pria kekar ini ke tubuhnya.


Siapa lagi kalau bukan Maxwell. Nafasnya seketika memburu hebat tak perduli jika sekarang keadaan Dawson masih setengah sadar karna amarahnya benar-benar mengubun.


Ia meninju habis wajah pria ini lalu menerjangnya kuat sampai Dawson muntah darah tersudut ke dekat panggung Club yang bergetar karnanya.


Saat Maxwell ingin menghantamkan botol kaca di sampingnya ke kepala Dawson, Evelyne langsung berlari menarik lengan kekar Maxwell dari kerah kemeja Daswon yang penuh darah.


"Maax! Hentikan!"


Dada Maxwell naik turun menahan emosi. Ia menatap membunuh Dawson yang sudah tak bisa bergerak bahkan banyak pecahan kaca yang masuk ke tubuhnya karna terjangan Maxwell barusan.


"K..kau.. Uhuuk!" Dawson terbatuk darah tapi ia masih memberi senyum sarkasnya pada Maxwell yang sangat ingin membunuhnya detik ini juga.


"K..kau k..kalah.. emm.."


"Jangan dengarkan dia! Ayo pergi!" ajak Evelyne tapi justru Maxwell yang menyeretnya kasar hingga jantung Evelyne berpacu cepat.


....

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


__ADS_2