
Untuk pertama kalinya Maxwell menundukan egonya dengan membiarkan Baby Evelyne satu Mobil dengannya. Walau raut wajah kelam tak bersahabat itu terus mengintimidasi anak ini tapi tetap saja Baby Evelyne tak ada takut-takutnya.
Ia bahkan berani berdiri di atas kursi Mobil yang tengah melaju stabil. Matanya menatap penuh binar penasaran sekaligus kagum pada Lampu-lampu jalan yang berkelip indah di matanya.
"Mainan!! Mainan!!"
Maxwell memejamkan matanya tak mau mendekati Baby Evelyne yang ia biarkan melakukan apapun di seberang sana dan ia hanya tenggelam dalam dunianya sendiri.
Jirome selalu memantau Baby Evelyne yang begitu aktif dari kaca depan Mobil. Ia memelankan kecepatan karna bocah 4 tahunan itu tak mau memakai Seatbelt yang tak bisa mengikat tubuh mungil lincahnya.
"Mainan!!! Ituu.."
Evelyne terus menunjuk keluar. Ia berbicara dengan suara khasnya membuat kepala Maxwell pusing dan tak bisa tenang sedetik saja.
"Mainan!! Mainan!!"
"KAU BISA DIAM. HA???" bentak Maxwell frustasi membuat Evelyne terperanjat sampai terduduk di kursinya lagi. Mata abu bening itu menatap polos wajah keras Maxwell yang seperti sangat tak menerimanya.
"Kau diam! D-I-A-M," tekan Maxwell sampai merapatkan giginya.
"Tuan! Dia memang aktif."
"Aku sudah bilang padamu. Anak ini tak bisa di atur," geram Maxwell menjaga jarak sampai mendempet ke jendela Mobil.
Maxwell kira bocah ini sudah tak berani bergerak karna bentakannya tadi. Tapi, beberapa saat kemudian Baby Evelyne beringsut mendekati Maxwell yang seketika berkeringat dingin.
"Kauuu..."
"Mainan! Mainan!" gumam Baby Evelyne merangkak ke paha Maxwell yang seketika merasakan dunianya di jelajahi oleh spesies iblis yang nyata.
Ia mendorong kasar Baby Evelyne dari pahanya sampai jatuh ke bawah sana membuat Jirome terkejut tapi ia tengah menyetir.
"Tuan! Kau baik- baik saja?" tanya Jirome melihat dari spion jika Maxwell tampak benar-benar tak berperasaan memperlakukan si kecil menggemaskan itu.
Tapi. Bukannya menangis Baby Evelyne terkekeh kembali menggapai kaki jenjang berotot Maxwell yang sampai ingin menginjak kepalanya dan untung Jirome bicara cepat.
"Kendalikan dirimu Tuan!!! Dia bisa tiada."
"JAUHKAN DIA DARIKU!!!" geram Maxwell mendorong Baby Evelyne dengan kakinya untuk merapat ke kursi kemudi. Alhasil Jirome mengambil nafas dalam menghentikan Mobil di pinggir jalan dengan Mobil-mobil anggota yang tadi membuntuti di belakang juga ikut berhenti.
"Uncle!"
__ADS_1
"Kesini," gumam Jirome mengangkat tubuh mungil Baby Evelyne dan mendudukkannya di kursi depan tepat di sampingnya.
"Uncle!!! Unclee!!" bersorak ingin kembali kebelakang. Jirome memasang Seatbelt ke tubuh kecil lincah ini itupun ia harus bersusah payah karna pergerakan Baby Evelyne begitu liar.
"Diam! Kau ingin Ice Cream-kan?" tawarnya membujuk.
"Ice Cream," gumam Evelyne lalu menggembungkan pipi gembulnya. Ia menoleh kebelakang dimana mata harimau Maxwell sudah siap menerkam nyawanya tapi Evelyne menarik senyuman lebar sampai gigi-gigi putih kecil seperti susu itu dipertontonkan padanya.
"Mainan!"
"Diam," titah Maxwell sudah pusing. Ia memilih bersandar ke kursi Mobil melihat jam dipergelangan tangannya. Ini sudah dini hari dan ia harus segera meninggalkan bocah ini di Rumah Sakit lalu pergi.
Yah. Begitulah pikiran Maxwell sekarang. Ia sangat muak menemui Violet atau Tuan Marcello yang hanya akan membuatnya naik pitam.
Waktu terus berjalan dengan Mobil yang sudah melewati banyak bangunan yang direkam oleh mata bening Baby Evelyne yang terlihat mulai gelisah di tempatnya.
Keringat di kening mulus putih itu keluar dan kulitnya mulai meradang merah. Maxwell tak memperhatikan itu bahkan ia acuh dan sangat tak perduli.
Berbeda dengan Tuannya. Jirome justru merasa jika Baby Evelyne seperti tengah menahan sakit tapi ia terlihat hanya diam meremas Seatbelt di perutnya.
"Kau kenapa?" tanya Jirome sesekali menoleh lalu melihat jalan.
Baby Evelyne memang terlihat cerdas dan wajar jika ia sudah bisa bicara selancar itu walau aksen bayinya masih samar terdengar.
"Kau punya tempat baru," jawab Jirome tapi tatapan Baby Evelyne tampak sayu. Sinaran rembulan di atas sana semakin terang bahkan menerangi jalan dibantu kilauan lampu ini.
Mereka sudah mau sampai ke lingkungan Rumah Sakit jadi Jirome cukup lega karna penderitaan Tuannya akan berakhir untuk sejenak disini.
"Mm..Mama!"
"Kau kepanasan?" tanya Jirome lalu menatap wajah datar Tampan Maxwell dari arah Spion Mobil seakan meminta izin.
"Hm."
"Dia kepanasan. Tuan!" gumam Jirome menaikan suhu AC tapi Baby Evelyne terlihat tak tenang. Ia justru terus memangil 'Mamma dan Mamma' itu terlalu merepotkan.
"Mama!! Mama!!"
"Kau masih meminum susu?" tanya Jirome seraya memasukan Mobil ke area Gerbang Rumah Sakit. Ia berhenti di dekat Teras dimana banyak Staf yang tengah bekerja malam ini.
Anggota-anggota Maxwell sudah keluar mendekati Mobil itu dengan Jirome yang menggendong ringan Baby Evelyne keluar dari Mobil.
__ADS_1
Ia terdiam sesaat kala suhu tubuh si kecil ini begitu tinggi. Ia menatap segan pada Maxwell yang terlihat tak perduli sama sekali.
"Mamaa!"
"Bawa dia ke Tuan Marcello!" pinta Jirome memberikan Baby Evelyne yang menolak. Ia meremas jaket Jirome dengan wajah sudah panas dan bintik-bintik merah itu terlihat di pipi gembulnya.
"Apa dia sakit?"
"Tuan besar tak akan setuju jika Tuan Muda membawa anak yang sakit," gumam mereka saling pandang ragu.
Merasakan keributan di luar. Maxwell segera mengangkat tangannya pada salah satu anggota yang seketika langsung mendekat ke kaca Mobil yang terbuka otomatis.
"Ada apa? Tuan!"
"Berikan dia lalu kalian pergi! Jangan mengurus apapun lagi!" titah Maxwell dan mereka segera mengangguk.
Jirome agak ragu memberikan Baby Evelyne karna suhu tubuhnya terus meningkat padahal disini dingin.
"Saat di dalam. Kau katakan jika dia demam."
"Baik!"
Mereka menarik paksa Baby Evelyne yang terus merilihkan kata MAMA. Ia menatap ke arah wajah datar Maxwell yang menatap dingin kepergian bocah kecil itu tapi tatapan mata Baby Evelyne seperti kesakitan.
Maxwell terdiam mencoba untuk tak perduli. Itu bukan urusannya dan jangan pernah bersimpati pada mahluk sekotor itu.
"Tuan! Sepertinya dia demam tinggi."
"Bukan masalahku," gumam Maxwell menutup jendela Mobil ini lalu kembali memejamkan matanya dengan tenang.
Jirome mengambil nafas dalam mencoba untuk tak berpikiran yang jauh. Ia masuk ke Mobil untuk mengantar Maxwell untuk kembali ke Perusahaan.
"Kenapa bisa sepanas itu?"
Batin Jirome merasa ada yang berbeda. Sangat tak wajar rasanya perubahan suhu tubuh Baby Evelyne yang begitu meningkat pesat padahal saat ia menggendong pertama kali rasanya sangat normal.
Maxwell juga merasakan itu. Tapi, ia pandai menyembunyikan apa yang tengah berkeliaran di kepalanya. Baru beberapa saat bocah itu memeggang kakinya dan Maxwell sudah merasakan jika ada yang aneh dan tak biasa.
"Apa yang terjadi padanya?!"
Batin Maxwell cukup penasaran. Kalau memang dia sakit, kenapa begitu tiba-tiba? Sedari di sana tadi Baby Evelyne terlihat sangat baik dan sehat tak mungkin tiba-tiba mengalami demam secepat itu.
__ADS_1
....
Vote and Like Sayang..