
Tak di sangka kejadian baru beberapa jam lalu ia lakukan membawa dampak yang besar bagi keduanya. Kecanggungan itu mulai terasa dan ini sungguh menjadi hal yang sangat menganggu bagi Maxwell yang menunggu di Mobilnya.
Ia duduk di dalam Mobil dengan satu tangan memeggangi jantungnya yang terasa ingin lari di dalam sana. Keringat dingin itu juga keluar di sela pori-pori kulitnya kala peristiwa tadi masih terngiang-ngiang di benaknya.
Apa yang-ku lakukan? Kenapa bisa kelepasan seperti itu?
Maxwell memejamkan matanya. Rasanya sangat segan untuk bertemu dengan Evelyne yang tadi juga buru-buru pergi bersama para Perias yang Jirome bawa.
Ia melarikan diri ke Mobil agar perasaan yang bergejolak di dalam sana segera sirna dari batinnya.
Sementara Jirome yang berdiri di luar Mobil sana tengah melirik ke arah kaca Spion memperhatikan gelagat Tuannya.
Sesekali Maxwell terlihat frustasi tapi setelah itu ia beberapa kali meraba bibirnya sendiri dan mengulum senyum yang tak pernah seumur hidup Jirome lihat. Ini senyuman kasmaran dan seperti dia juga menyukainya.
Apa Tuan mulai menyukai Evelyne? Wanita sangat berbisa sampai membawa Virus secepat ini.
Pikir Jirome seperti itu tapi ada semilir hangat yang menjalar di dadanya kala melihat jika wajah Tuannya lebih hidup sejak kedatangan dua Mahluk berbeda karakter itu.
Saat sadar Jirome memandanginya, ekspresi Maxwell seketika berubah datar kembali duduk dengan tenang bersandar ke Kursi Mobil.
"Kenapa dia lama sekali? Aku bisa terlambat," protes Maxwell ketus tapi Jirome segera mengangguk.
"Aku akan memeriksanya. Tuan!"
"Hm," gumam Maxwell memejamkan matanya untuk sekedar menata kembali akal sehatnya. Ia menikmati keheningan ini karna situasi Perusahaan cukup sepi.
Karyawan yang banyak itu memang berkeliaran tapi mereka sudah tak heran lagi dengan Evelyne dan seperti sudah terbiasa dan tak mempertanyakan apapun lagi.
Walau berita Scandal Maxwell masih booming tapi Karyawan Perusahaan tak berani untuk merekam atau mengungkit soal itu karna akan dikenakan sanksi berat bahkan akan di Black List dari Perusahaan. Rugi bukan?
"Aku sudah gila!" umpat Maxwell karna kepalanya tak henti-hentinya memutar memori barusan.
Exspresi lemah dan pasrah Evelyne dengan mata sayu dan lenguhan lembut yang menggoda itu mampu meremangkan bulu kuduk Maxwell yang untung saja tadi sadar saat melihat punggung Jirome.
Tak lama setelahnya Ponsel Maxwell berbunyi. Tertera nama Jack disana hingga Maxwell harus mengangkatnya.
"Hm."
"Tuan! Kau jangan dulu melewati jalur utama Kota!"
Mendengar itu dahi Maxwell mengernyit. Apa ada masalah lagi?!
"Kenapa?"
"Scandal Tuan sudah sangat panas apalagi Tuan Fernandez mengklaim jika Tuan rumor itu benar dan Tuan akan di buru Media untuk kedepannya."
Penjelasan Jack yang terdengar tengah melihat keadaan di luar sana. Rumor ini benar-benar sangat menghambat pergerakannya.
"Bukan hanya itu. Perusahaan Stars Otomof milik Dawson sudah menjalin kerja sama dengan Perusahaan milik Tuan Fernandez. Aku yakin jika keduanya punya maksud tersembunyi, Tuan!"
Maxwell hanya diam. Dawson memang memanfaatkan keadaan dengan sangat baik. Ia menunggu cela yang tepat hingga bisa bersekutu dengan Tuan Fernandez yang pasti tak bermain dengan kata-katanya hari itu.
"Jika masalah internal Perusahaan sampai bocor. Kemungkinan besar citra Produk Blackbird akan merosot dan Perusahaan mereka akan mengambil alih posisi-mu. Tuan!"
"Aku mengerti," gumam Maxwell lalu mematikan sambungan. Ia menghela nafas dalam berpikir tenang mencoba untuk tak terpancing akan masalah yabg selalu bertubi menghadangnya.
"Aku harus cepat menyelesaikan masalah Mobil ini atau dia akan punya banyak kesempatan," tegas Maxwell tak akan melepaskan Pasar yang masih ia duduki sekarang.
Tapi kita tak tahu sampai kapan Perusahaan akan ada di puncak teratas sementara ia punya banyak musuh dalam selimut.
"Tuan!"
"Hm."
Maxwell tak menoleh kala Jirome mengetuk Pintu Mobilnya. Beberapa saat kemudian tiba-tiba benda itu terbuka memberikan akses parfum beraroma Vanila dan perpaduan Anggrek yang hangat.
Suara detakan Heels itu sampai menyita pendengaran Maxwell yang perlahan menoleh ke arah samping.
Degg...
Jantungnya seakan di cabut keluar dengan mata terpaku kosong pada sosok yang berjalan agak kesusahan di bantu dua Wanita di sampingnya.
__ADS_1
Evelyne terlihat sangat mempesona dengan polesan Make-up tipis dan bibir mungil seksinya yang di beri goresan Glossy yang begitu ranum.
Dan.. Shiit. Lihat apa yang dia pakai?! Mini Dress berwarna Maron ketat mencetak lekuk tubuh proporsionalnya. Belum lagi bagian dada rendah itu hampir seperti Bera dengan kain berbentuk Pita membelit bongkahan kenyal yang begitu menggoda hampir membuat seluruh mata anggota Maxwell termasuk Jirome jatuh ke tanah tapi mereka segera menunduk.
"N..Nona!"
Mereka sampai gemetar memunggungi Evelyne. Bagaimana tidak? pakaiannya lebih ke Gaun tidur yang sangat terbuka. Tak ada tali apapun yang merangkul bahu mulus Evelyne yang hanya santai berjalan ke Mobil.
"Ayo pergi! Aku sudah siap," ucapnya enteng berpose di depan Jirome yang seketika langsung pergi ke arah Pintu Kemudi.
Dahi Evelyne mengkerut benar-benar tak mengerti. Mata indahnya yang semakin mempesona itu melirik dua Wanita di sampingnya.
"Apa aku tak cantik?"
"N...Nona! Sebaiknya pakaianmu.."
"Apa? Aku suka ini. Tidak panas," jawab Evelyne enteng padahal wajah Maxwell sudah merah padam dengan dada bergemuruh antara emosi dan ikut terpana dengan Dewi kecantikan ini.
"Aku mau kau bawakan lagi yang ini. Kalau bisa tak usah di ikat, dada ku sesak dan.."
"Ikut aku!" geram Maxwell yang sudah keluar langsung menarik lengan Evelyne untuk kembali ke Perusahaan.
Tapi, belum ia melangkah Evelyne segera menyentak tangannya tak perduli jika para Karyawan yang tadi sudah lebih dulu mimisan di dalam sana tengah mengintip mereka.
"Kau ini apa-apaan. Ha??"
"AKAN KU KOYAK PAKAIANMU JIKA MASIH DISINI!" tekan Maxwell menguarkan hawa membunuh hingga Sekertaris Ireein yang terdiam langsung mengamankan Karyawan yang terpaku kosong.
"Memangnya kenapa? Aku sudah disini. Ayo pergi!"
"Kau.."
Maxwell tak bisa berkata-kata karna Evelyne tak akan mengerti maksudnya. Tatapan mematikan itu beralih pada dua Wanita yang merias Evelyne tadi yang seketika memucat.
"JANGAN TUNJUKAN WAJAH KALIAN DI HADAPANKU LAGI!!!"
"T..Tuan! Tuan ampuni kami. Nona ini yang memilih bajunya sendiri, kami sudah berusaha membujuknya memakai baju yang lain tapi Nona memaksa kami. Tuan!" jawab mereka menunduk gemetar.
"Pergi!"
"T..Tuan!"
"Pergilah!" pinta Evelyne menimpali Maxwell tapi lebih tenang. Pandangannya mengatakan jika mereka akan baik-baik saja dan pergilah dulu.
Tak ada cara lain lagi selain mempercayakan nasibnya di tangan Evelyne, mereka berdua pamit di tengah emosi Maxwell yang terus di uji.
"Kau suka memamerkan tubuhmu?" desis Maxwell sangat marah sampai menjaga jarak darinya.
"Memangnya kenapa? Aku merasa lebih nyaman seperti ini karna dingin," jawab Evelyne memang apa adanya. Ia merasa lebih baik seperti ini karna cuaca juga tengah panas-panasnya.
"Kauu..."
"Lagi-pula kau aneh. Biasanya aku tak memakai apapun dan kau tak semarah ini," lugas Evelyne dan lagi-lagi Jirome menutup telinganya.
Ia sungguh tersiksa di dalam Mobil sana apalagi para Anggota Maxwell yang langsung bubar mengamankan suasana sepi ini.
Berbeda dengan Evelyne yang merasa tak bersalah, Maxwell justru tak terima. Ia tak suka ini dan sangat membencinya.
"Ganti pakaianmu atau kau tetap disini!" tegasnya kembali masuk ke Mobil.
"Tapi..."
"Jalankan Mobilnya!" titah Maxwell tak memperdulikan Evelyne yang seketika langsung di buat serbasalah.
"Hey!! Kau tak bisa meninggalkan aku disini!!"
Maxwell hanya diam. Ia memijat pelipisnya yang terasa berdenyut, dunianya sangat terguncang dengan kefulgaran wanita ini.
Mobil itu melaju stabil ke arah Gerbang Perusahaan yang sudah di buka. Evelyne yang tak terima ditinggal seperti malam itu langsung ingin mengejar tapi sayangnya ia tak terbiasa memakai Heels hingga lututnya langsung tersungkur.
"Nonaa!!"
__ADS_1
Yello yang tadi menjaga pintu Perusahaan langsung berlari mendekati Evelyne yang merasa kakinya sangat sakit. Lututnya berdarah dengan kedua tangan memar merah yang terasa perih.
"Nona! Kau baik- baik saja?"
"Hm. Aku tak suka benda ini!" gumam Evelyne melempar Heels mahal itu ke sembarang arah. Ia tak menerima bantuan Yello yang diam kala Evelyne berusaha bangkit sendirian sampai mau setengah berdiri tiba-tiba saja lututnya terasa nyeri membuatnya kehilangan keseimbangan.
"Mamaa!!"
Pekiknya mengira akan mencium lantai ini lagi tapi sayangnya lengan kekar seseorang di belakang sana langsung menahan Tubuhnya.
Kedua mata abu Evelyne mengerijab kala menangkap pahatan tampan datar Maxwell yang tanpa ekspresi menggendongnya ringan.
"K..kau.."
Maxwell hanya diam berjalan tegas dengan kaki kokohnya pergi ke arah Mobil yang nyatanya berhenti di balik Gerbang.
Kenapa dia kembali?
Batin Evelyne tak berkedip menatap wajah tampan Maxwell yang menyita perhatiannya. Pria ini semacam punya sihir yang ia akui bisa membuat wanita lupa diri.
Tak khayal jika banyak yang mengidolakan mu dan Violet sampai tak ingin bercerai darimu.
Pikir Evelyne begitu. Rasanya tak ada yang kurang dari Maxwell yang selalu punya gayanya sendiri.
"Kenapa kau datang?" tanya Evelyne mengalungkan kedua tangannya ke leher kokoh Maxwell yang membawanya masuk ke Mobil.
"Kenapa kau tak meninggalkan aku seperti malam sebelumnya?"
Tanya Evelyne lagi kala Maxwell mendudukkannya di kursi samping. Ia meraih Kotak obat lalu mengambil kapas segera menghentikan darah yang keluar dari luka di lutut Evelyne.
"Namamu Maxwell Zean Marcello-kan?"
Sama sekali tak ada jawaban. Maxwell kembali seperti Kutub utara menarik kejengkelan Evelyne untuk kesekian kalinya.
"Kau dengar aku tidaaak??"
Teriak Evelyne tapi segera mendapat lemparan Jas dari Maxwell yang menggulung lengan kemejanya ke atas untuk membersihkan luka ini.
"Kau.. Menyebalkan!" umpatnya lalu tak lagi bicara.
Ia memeluk Jas Maxwell mencium aroma Musk yang maskulin ini. Rasanya sangat hangat dan menenagkan.
Setelah lama sunyi mata Evelyne mulai di kuasai kantuk. Ia berbaring di atas kursi yang sudah di buat seperti ranjang mini untuknya. Kedua kaki janjang Evelyne ada di paha Maxwell yang mengurus semua hal untuknya.
"Dia tidur. Tuan!" ucap Jirome mengulurkan bantalan leher di Mobil. Maxwell tak mengambilnya, ia sudah menyiapkan bantal lain di balik kursi sana sampai Jirome menyeringit.
"Perhatikan jalan jika kau ingin berumur panjang!" tegur Maxwell yang tengah berjongkok di dekat kursi mengangkat kepala Evelyne dengan hati-hati ke atas bantal empuk ini. Ia juga menutupi tubuh Evelyne dengan Jas besar miliknya.
Jirome kembali fokus kedepan walau ia hanya bisa tersenyum pelit dan sering melirik kebelakang.
Tuannya terlihat merapikan helaian rambut Evelyne yang menutupi separuh wajah cantiknya tadi. Visual lugu saat tidur ini membuat Maxwell nyaman untuk menatap lebih lama.
"Aku tak suka kau berdandan untuk orang lain,"
Batin Maxwell mengusap pelan pipi mulus Evelyne yang sejatinya terasa tak memakai bedak apapun. Fokusnya beralih ke bibir merah agak terbuka dan hal itu membuat Maxwell mendidih.
"Kau tak tahu jika dunia ini penuh dengan hasrat. Mereka tak sekuat aku untuk menahannya,"
Pikir Maxwell mengusap bibir Evelyne pelan dengan jempolnya untuk menghapus polesan lipstik ini. Ia ingin mencium tapi ia masih sadar jika tadi itu hanya kesalahpahaman.
Asik menikmati pesona Eveline, Maxwell juga sadar jika mereka tengah di buntuti. Ia hanya memberi isyarat pada Jirome agar terlihat biasa saja jangan terlalu mengebut Mobil.
"Kau hanya perlu membawa mereka berkeliling! Tugaskan Anggota untuk membantainya satu persatu dan cari intinya!"
Tegas Maxwell sudah tahu ini akan terjadi. Ia saat di Gerbang tadi melihat ada beberapa orang yang memantau dari kejahuan dan kemungkinan besar target mereka adalah Evelyne.
Dengan besarnya Scandal itu maka Citra Maxwell tak akan tertolong lagi. Mereka akan mencegat di jalan dan mengambil sebanyaknya bukti ia bersama Evelyne untuk menggemparkan publik.
Cih. Rencana itu sudah terbaca oleh Maxwell yang diam tapi bukan berarti ia takut.
.....
__ADS_1
Vote And Like Sayang.