
Pagi ini tiba-tiba saja terdengar kabar menggembirakan dari para anggotanya yang kemaren ia perintahkan untuk membakar Villa Tuan Fernandez. Alangkah senang dan leganya Leonard saat tahu jika anggotanya berhasil melakukan itu dan sekarang pasti pria tua itu tengah menuduh Maxwell.
Leonard memberikan beberapa tanda untuk mengarahkan pembakaran itu pada Maxwell. Jadi, nantinya kedua kubu itu akan bersiteru apalagi Maxwell yang tengah merasa kehilangan akan gelap mata dan bunuh Tuan Fernandez.
Itulah rencana Leonard yang berkeliaran di kepalanya sampai di meja makan ini-pun ia tak berhenti menyeringai membuat Evelyne yang tadi turun di paksa makan-pun jengkel.
"Hentikan senyum bodohmu itu!"
"Hm? Kenapa?" tanya Leonard lembut dan hangat. Ia ingin membelai rambut Evelyne tapi wanita purba Maxwell ini segera mengacungkan garpu padanya.
Seketika tangan Leonard urung melanjutkan dan kembali ke posisi semula di atas meja. Ia menatap hangat Evelyne yang menurunkan garpunya. Ia tak nyaman di pandang seperti itu hingga ia menghentikan kunyahan tak berseleranya pada buah di depannya.
"Kau ingin mati?!"
"Aku merindukan suara ketusmu," guman Leonard merasa tak ada lagi kekhawatiran baginya untuk membahagiakan Evelyne serta menuntaskan dendam masa lalunya.
Setelah semuanya selesai aku ingin menggantikan pendeta Aide'an untuk mengurus mu. Dia pasti sangat senang di atas sana. Harap Leonard sudah tak sabar untuk menantikan hidupnya bersama Evrlyne si iblis kecil yang selalu membuat onar.
"Apa kau merasa tak nyaman dengan perutmu?"
"Hm. Tapi, kau tak perlu ikut campur. Ini urusanku dan jiwa dalam tubuhku!" ketus Evelyne kembali melanjutkan acara makannya.
Leonard tak sakit hati. Walau berat baginya menerima kehamilan Evelyne tapi tak mungkin juga untuk mencelakainya. Ia hanya mengancam wanita ini agar menurut padanya.
"Kau bosan disini?" tanya Leonard seraya menegguk gelas air di samping piringnya.
"Berikan aku ponsel!" pinta Evelyne datar menghentikan kunyahannya.
"Tidak bisa!"
"Kenapa?" sambar Evelyne tapi Leonard menatapnya santai sembari menghela nafas dalam.
"Lebih tepatnya tak mungkin menggunakan ponsel disini!"
"Kenapa? Kau jangan mencoba menipuku," geram Evelyne menekan kalimatnya. Leonard menggeleng dengan satu kaki bertopang tindih dan tangannya memainkan ujung gelas yang tadi ia minum.
"Tak ada sinyal disini!"
"Aku ingin ponsel, bukan sinyal katamu itu," marah Evelyne menggebrak meja sampai Leonard menyunggingkan senyuman yang pertama kali Evelyne terlihat tulus.
Terdengar sangat konyol tapi tak heran jika Evelyne yang mengatakannya.
"Sudah berapa lama kau di dunia manusia?!"
"Oh. Kau meremehkan aku?" geram Evelyne segera mengacungkan pisau buah di samping piringnya. Leonard sontak menggeleng karna Evelyne terlalu nekat dan amburadul.
"Letakan itu!"
__ADS_1
"Berikan aku ponsel!" desak Evelyne tak menuruti itu. Leonard ingin mengambilnya tapi Evelyne lebih dulu mengacungkan itu ke leher Leonard yang terkejut dengan kecepatan tangan Evelyne.
"Kau.."
"Kau memang berniat baik tapi aku tak akan tunduk padamu!" tekan Evelyne hingga Leonard terdiam. Ia menatap netra abu dingin ini karna hanya ini yang selalu Evelyne tunjukan saat bersamanya.
"Ponsel itu bisa menghubungi perangkat lain jika ada jaringannya. Itu bahan elektronik dan bukan mainan anak-anak."
"Kau menyebutku anak-anak?" sensi Evelyne berdiri dengan menekan pisau itu. Leoanrd tak ingin terjadi pertengkaran berdarah hingga ia langsung cepat menahan pergelangan Evelyne tapi tak mencengkram terlalu kuat.
"Aku akan mengajakmu berkeliling tempat ini. Lupakan soal ponsel itu karna kau tak akan mendapatkannya!"
"Cih, jangan sampai kau lengah!" desis Evelyne menyentak tangannya kasar lalu ingin pergi.
"Aku menunggumu! Kau suka dengan senjata, bukan?" pancing Leonard ingin mengalihkan Evelyne pada Maxwell. Harapannya pria itu bisa hilang dari benak Evelyne.
Namun, perkiraan Leonard yang mengira Evelyne pergi berganti baju ternyata salah. Wanita cantik dengan kaos crop seperut dengan celana pendek pertengahan paha itu tengah berdiri menatap tajam ke arahnya di depan sana.
"Aku sudah menyiapkan banyak pakaian di lemari mu!"
"Cepatlah! Aku tak punya waktu meladeni mu lama-lama," gumam Evelyne dengan wajah malasnya.
Leonard mengangguk dan segera berjalan ke arah Evelyne yang mengacuhkan keberadaan Netta pelayan setia Leonard yang selalu mengawasinya.
"Tuan!"
Evelyne hanya acuh tak acuh. Ia berjalan seraya mengikuti Leonard ke arah pintu depan. Bangunan ini tak begitu luas tapi sangat elegan dan menyatu dengan suasana alam.
"Semalam aku lihat ada banyak lampu di seberang sana."
"Itu pemukiman para biksu yang mengasingkan diri dari gemerlap kota!" jawab Leonard berjalan lebar begitu juga Evelyne dengan gaya arogannya.
"Mereka keluargamu?"
"Hm. Hanya itu yang tersisa!"
Jawaban Leonard barusan sukses membuat Evelyne diam. Ditatapnya sulit wajah datar Leonard yang pasti sangat menderita. Tapi, ia tak tahu harus apa sekarang.
"Setelah kejadian itu aku mencari anggota Daddyku yang masih hidup dan membawa mereka pergi agar selamat dari tekanan pemerintah yang mengatakan jika kami penyebab Pura-mu ludes terbakar," imbuhnya berhenti tepat di dekat teras luar dimana mata berhadapan langsung dengan tatanan bunga tulip yang dialiri air dari beberapa bambu yang segar dan airnya jernih.
"Aku harus membangun keluarga kembali karna mereka tak semuanya sehat. Ada yang kehilangan anggota tubuh bahkan sakit parah."
"Kenapa kau tak membawanya ke Rumah Sakit? Aku lihat di kota sana mereka sering ke ruang jas putih itu!" tanya Evelyne memandangi Leonard yang mendekati rumpun bunga tulip di dekat bebatuan ini.
"Saat itu aku buronan aparat pemerintah. Sebelum masuk ke sel penjara aku sudah mengatur tempat mereka tinggal!"
"Tapi.."
__ADS_1
"Jangan membelanya!" tegas Leonard tak mau berdebat. Alhasil Evelyne juga segan untuk mengungkitnya.
Ia memilih untuk melihat-lihat taman di depan Villa ini sampai Leonard mengajaknya untuk berkeliling keluar area Villa.
Mereka melewati jalanan tanpa aspal tapi tak becek. Hanya kelembaban daun mati dan aroma wewangian rumput di sekitarnya.
Mereka persis ada di wilayah pedesaan dengan banyak hutan yang masih terpelihara.
"Disini segar!"
"Kalau suka aku akan menambah pohon lagi di sekitar Villa," tawar Leonard serius. Evelyne menggeleng seraya mengamati daerah di sekitarnya.
"Kau bisa katakan apapun yang kau mau selain meminta keluar dari sini! Aku akan berusaha memenuhinya," ujar Leonard hangat.
"Aku tak tahu. Saat bersamamu pikiranku buntu!" gumam Evelyne asal bicara saja. Tapi, apapun itu kenyataanya memang benar. Ia memang tak menginginkan apapun.
Namun, lama keduanya berbicara seraya menyatu dengan alam. Tiba-tiba saja salah satu bawahan Leonard datang dengan tatapan panik.
"Tuan!"
"Ada apa?" tanya Leonard tapi pria itu melirik Evelyne karna dia orang asing. Alhasil Leonard melangkah agak jauh dari Evelyne yang pura-pura melihat dedaunan di sampingnya padahal telinga tajam itu menyadap.
"Katakan!"
"Tuan! sepertinya ada yang menerobos masuk ke dalam hutan!" jawabnya dengan intonasi yang cemas.
Leonard diam sejenak. Apa Maxwell sudah tahu tempat persembunyiannya?! Tapi bagaimana bisa?!
"Mereka menghilang dan sulit di temukan. Sebaiknya Tuan pindahkan Nona ke tempat yang lebih aman," gumam pria itu membuat darah Leonard mendidih.
"Aku tak akan membiarkan dia mengambil adikku lagi!" gumamnya ingin kembali ke tempat tadi tapi Evelyne sudah tak ada.
Hal itu memantik kemarahan Leonard yang segera membentak hebat.
"SIAPKAN MOBIL SECEPATNYA DAN CARI EVELYNE!!!"
.....
Vote and Like Sayang..
Maaf ya author tadi nggak up..
Bukan tanpa alasan say. Author tadi ada acara perpisahan SMA jadi harus sibuk banget ngurus keperluan dari subuh.
Jadi kagak sempet.. Negemeng2 mohon do'anya sayangku semua😁 moga urusan kedepannya di lancarin ama Allah yak.. Ummuahh..
Sekedar mengingatkan.. Baginya mau Visual Max sama Evelyme bisa cek di Ig author yak 🥰
__ADS_1