
Masih di waktu yang sama. Malam ini berita kepergian Leen kecil dirahasiakan seluruh anggota bahkan tak seorangpun di perbolehkan bicara tentang Leen ketika sudah keluar Rumah Sakit.
Mereka pergi dengan kekhawatiran dan keluar di amuk kebingungan. Bagaimana tidak? Jirome sudah menyiapkan semua prosesi pemakaman untuk si kecilnya tapi sangat di kejutkan Maxwell menolak melakukan itu.
Apalagi yang paling mengherankan adalah kedatangan seorang Wanita yang keberadaanya masih menjadi misteri.
"Tuan! dimana Leen?" tanya Jirome pada Maxwell yang masih terduduk di atas kursi taman dengan pandangan kosong dingin kedepan.
Sesekali Jirome melihat Evelyne dewasa yang tampak duduk dengan angkuhnya di dekat Batu besar yang tak jauh dari Kursi Maxwell dengan balutan selimut Rumah Sakit. Wanita cantik itu asik memainkan ujung jari lentiknya membuat Jirome tertekan.
"Tuan! Aku sudah menyiapkan segalanya dan.."
"Dia tak tiada," tukas Maxwell dengan intonasi yang begitu beku. Tatapannya berubah sangat gelap seakan-akan tak ada lagi butiran cahaya kala itu.
Jiorme seketika membisu tak lagi bicara karna ia tahu Tempramen Tuannya sudah kembali seperti dulu.
"Dia hanya istirahat."
"A.. Aku mengerti," jawab Jirome tegas. Maxwell berdiri tanpa memandang Evelyne ia berjalan gafah dengan hawa yang tak bersahabat pergi ke arah Mobil yang tadi sudah terparkir di depan sana.
Melihat itu Evelyne langsung turun lalu berjalan gontai mengikuti Maxwell dengan pesona yang ia miliki. Satu tangannya memeggang simpulan selimut di dadanya dan satunya lagi terulur bebas membelai angin yang mengibarkan rambut hitam kecoklatan itu.
Beberapa Staf Rumah Sakit memandang Evelyne tak berkedip. Mereka seakan melihat Selebritis karna cara berjalan Evelyne memang begitu elegan dimana bentuk tubuhnya yang semampai bisa mengimbangi panjangnya Selimut.
"Hey!!"
Teriak Evelyne pada Maxwell yang masuk ke dalam Mobil tanpa memperdulikannya. Jirome yang menyusul hanya bisa diam juga masuk ke pintu kemudi.
"Kau jangan lepas tanggung jawaab!!" geram Evelyne membuka Pintu Mobil ini kasar lalu masuk seenaknya. Maxwell memejamkan matanya dengan satu tangan terkepal mencoba tenang.
"Keluar!"
"Tidak!" kekeh Evelyne masih disini.
"KELUAARR!!"
"AKU TIDAK MAU. IDIOOT!!" maki Evelyne tak kalah keras hingga tangan Maxwell mengigil menahan amarahnya. Matanya sudah benar-benar kelam dan ini sangat buruk.
"Kau keluarlah!"
"Kau pikir aku sudi disini?!" ketus Evelyne melirik tajam Jirome dari ekor mata cantiknya. Jika bukan karna janji ia tak akan mau terikat disini. Lebih baik ia pergi dan melakukan apapun yang ia suka di luar sana.
"Kau keluar! Ini bukan Mobilmu!"
"Kau ingin aku mengoyak mulutmu. Hm?" geram Evelyne tapi itu sudah sangat keterlaluan bagi Jirome.
__ADS_1
"Tuanku tengah ada masalah!! Kau keluar atau kau akan menyesal?" tekan Jirome tapi Evelyne sama sekali tak takut.
"Itu masalahnya, bukan masalahku!"
"Kauu.."
"DIAAAM!!"
Bentak Maxwell keras hingga keduanya langsung tercekat. Jirome menunduk tapi Evelyne hanya memalingkan wajahnya keluar jendela.
"Aku tak ada urusan apapun denganmu lagi!"
"Jadi?" Evelyne menaikan satu alisnya menoleh pada Maxwell yang mengeraskan wajahnya.
"Keluar!"
Melihat penolakan Maxwell, senyum remeh Evelyne meruak ringan. Ia menyorongkan tubuhnya berhadapan dengan Maxwell yang sudah tak ingin ikut campur dengan kehidupan wanita ini.
"Jika aku tak mau?"
Desis Evelyne tapi kesabaran Maxwell sudah tak ada lagi. Ia mendorong pinggang Evelyne dengan kakinya hingga Wanita itu langsung terpental keluar Mobil.
Sontak semua orang terkejut dengan sikap kasar Maxwell yang segera menutup pintu Mobil keras lalu kembali duduk.
"Jalan!"
"Idiooot!!! Kau Hewan menjijikaaan!!" maki Evelyne karna lengannya terasa sakit. Selimut ini tersibak hingga menampakan paha atas lutut yang mulus dan bening itu menyapa wajah para anggota dan beberapa Staf Rumah Sakit yang terpesona merah.
Bukan Evelyne namanya jika tak bereaksi menggemparkan. Ia dengan cepat berdiri diliputi amarah dan emosi yang menggebu-gebu karna Maxwell telah menghinanya.
"Kalian ingin ini!" desis Evelyne langsung berjalan tegas mendekati mereka. Sontak semua anggota langsung memisahkan diri pergi ke Mobil masing-masing.
Hanya Gregor dan Yello yang diam memandangi Evelyne dari arah Pintu kaca Rumah Sakit. Ia melihat Evelyne menakuti semua para Staf yang berhamburan pergi kecuali keduanya.
"Kalian belum pernah merasakan dicabut hidup-hidupkan?? Kesinii kalian semuaa!!!" geramnya karna sangat tak suka di permainkan.
Tatapan membunuhnya bergulir ke arah Gregor dan Yello yang kala itu melihat bagaimana kejamnya Evelyne membantai para kawanan musuh. Keringat dingin di kening mereka muncul dan itu di sadari oleh Evelyne.
"Seharusnya aku membunuh mereka. Setelah itu Pria Idiot itu akan menemuiku, cih!"
Batin Evelyne punya pemikiran senekat itu. Tapi, melihat wajah tulus mereka yang selalu melindungi Leen kecil itu memudarkan niat jahat di batinnya. Ntah kenapa ia seperti di halang oleh rasa yang membuatnya harus acuh.
Anak ini memang menyihir mata semua orang.
Pikir Evelyne lalu berbalik melangkah pergi tanpa menyentuh mereka. Sontak Gregor dan Yello saling pandang tentang apa yang baru saja terjadi.
__ADS_1
"Kenapa dia tak membunuh kita?"
"Wajahnya.. Wajahnya mirip dengan Nona Kecil!" gumam Gregor memandangi kepergian Evelyne yang berjalan santai tanpa beban tapi penjaga di Gerbang Rumah Sakit sampai kebingungan.
"N..Nona.."
"Dimana bisa mendapatkan uang banyak?" tanya Evelyne berhenti di depan Gerbang tanpa menatap dua Pria Paruh baya ini.
Mereka aura Evelyne sangat mahal dan seperti dari keluarga yang tak biasa.
"N..Nona kau.."
"Kau punya uang?" tanya Evelyne menoleh tapi wajahnya seperti malaikat maut mengintai mangsanya.
"D..Di Bank! Uang banyak di ATM dan BANK, Nona!"
Dahi Evelyne mengernyit. Ia belum pernah pergi ketempat seperti itu bahkan namanya saja Evelyne tak tahu pasti.
"BANK?"
"Iya. disana tempat penyimpanan uang!"
"Pakaian?" Tanya Evelyne lagi karna tak bisa memakai Selimut ini terus. Pergerakannya sangat terbatas.
"Di..di Mall! Y..ya, di sana!" gugupnya berkeringat.
"Jika kau berbohong. Tunggu ajalmu!"
Tanpa mengucapkan terimakasih atau hal sopan yang lain, Evelyne kembali berjalan angkuh menyusuri jalan dengan mode Kemban seperti itu.
Ia mengacuhkan banyak pandangan para manusia yang melewatinya dengan wajah datar dan tatapan ambisus bak seorang Psikopat.
Matanya tengah mencari dimana Mall dan BANK yang di maksud para Pria tadi?!
"Ternyata Dunia ini luas juga," gumam Evelyne mengambil nafas dalam. Ia memejamkan matanya menikmati udara segar dan dingin yang baru pertama ia rasakan.
Tapi, bukan itu masalahnya. Evelyne dengan tak berperasaan melangkah di tengah-tengah jalan membuat para pengendara yang melintas langsung membunyikan klakson.
Tapi, bukannya menyingkir Evelyne justru marah karna mengganggu ketenangannya. Ia menendang Body Mobil orang-orang yang berhenti di dekatnya karna kepalanya kusut mendengar suara Klakson dan teriakan ini.
"Heyyy Wanita gilaa!!"
"Cantik-cantik kau depresi juga!!"
Maki Mereka tapi Evelyne justru membalas tak kalah keras. Alhasil jalan ini langsung macet parah dengan antrian Mobil sampai kebelakang sana membunyikan Klakson mereka berharap Mobil di depan yang tengah di hadang Evelyne bisa maju.
__ADS_1
...
Vote and Like Sayang..