
Malam ini semakin berkabut. Suasana Kota seperti biasa begitu ramai tapi tidak membuat sesak. Masih banyak ruang untuk melangkah dan lebarnya jarak memandang.
Gemerlap lampu Kota yang bersinar terang tak menjadi halangan bagi siapapun untuk berjalan di sekeliling Tempat ini. Gedung-Gedung mewah Apartemen dan Perhotelan ini begitu ramai selayaknya masih siang padahal sudah jam 10 malam.
"Aku rasa di jalan ini?" gumam Evelyne mencari tempat tinggal Tuan Marcello untuk sementara di Kota ini. Pria itu memiliki riwayat banyak tempat hidup sampai Evelyne harus kewalahan berkeliling di jalanan yang tertera disini.
"Ini semua data-datanya. Tapi, kenapa tak satupun aku menemukan Rumah Tua Bangka itu?!" umpat Evelyne sudah lelah berjalan sedari tadi.
Di remangan malam ini Evelyne cukup di samarkan oleh rambut berantakan dan kemeja kebesaran miliknya. Ia berjalan tanpa alas dipandang aneh orang-orang di sekitar tapi Evelyne hanya acuh.
Ia terus menyusuri jalanan yang semakin masuk area sepi dengan Perumahan Elite di Brusell. Didepan sana ada Gerbang atau besar yang menutup area jalan masuk menuju bangunan-bangunan mewah di dalamnya.
Evelyne berjalan santai ke sana dengan membaca berulang kali kertas di genggaman.
"Dia punya Rumah singgah disini. Ada di nomor 17 dan berlantai ti.."
"Kau mau apa?"
Tanya salah seorang penjaga yang keluar dari dalam Gerbang mendekati Evelyne. Pria paruh baya ini menatapnya dengan curiga hingga Evelyne harus menyiapkan rencana.
"Ada apa?"
"Apa ini Perumahan Elite Brusell utama?" tanya Evelyne seperti mencoba mengingat-ngingat.
"Yah. Kau tinggal disini?"
"Iya. Hanya saja aku lupa karna baru kembali dari luar negeri!" gumam Evelyne hingga tatapan menyelidik Pria itu sangat memindai Tubuhnya.
Dilihat dari ujung rambut sampai jemari kakinya yang tak ada alas, ia jadi ragu. Tapi, wajah wanita ini cukup tak asing baginya dan seakan-akan ia pernah melihatnya di suatu tempat.
"Kau.."
"Barang-barang ku tadi dirampok. Aku tak punya apa-apa dan ini dari pihak kepolisian," sela Evelyne menunjukan kertas di tangannya sebagai tanda alamat.
Wajah Evelyne yang sangat mengiba dan menyedihkan itu membuat ia terdiam sejenak melirik rekannya yang masih ada di area dalam Gerbang. Mereka tak bisa mengizinkan sembarang orang masuk ke wilayah ini karena terlalu beresiko.
"Datanglah dengan Aparat Kepolisian! Kami akan membantumu nanti."
"Aku ingin mematahkan lehernya," batin Evelyne menatap tajam dari samaran wajah lugu itu.
"Pergilah ke Kantor Polisi didekat sini atau kau.."
__ADS_1
"Apa kau kenal dengan Tuan Marcello?" sela Evelyne memasukan kertas itu ke dalam saku Kemejanya. Ia melipat lengan kemeja Maxwell karna terlalu panjang hingga lengan putih bersih ini cukup meyakinkan jika ia anak orang berada.
"Kau.."
"Aku kerabatnya! semua barang-barang-ku di curi dan tak punya apapun. Kau masih mencurigai aku?"
Wajah Pria ini mulai ragu. Disini Evelyne bisa mengambil kesimpulan jika nama Tuan Marcello sangat disegani disini.
"Nona! Apa kau ingat Kontak Tuan Marcello?"
"Jika aku ingin kenapa aku memintamu membantuku?" ketus Evelyne mulai angkuh. Ia melipat kedua tangannya di depan dada membiarkan Pria ini berunding dengan Temannya di belakang sana.
Melihat keduanya lengah. Evelyne memanfaatkan hal itu untuk memanjat Gerbang lalu dengan hati-hati berjalan di balik pepohonan rindang di sekitar Jalan aspal ini dengan dedaunan rimbun yang menutupi bayangan tubuhnya.
Dua manusia itu masih asik berbicara seperti mendebatkan sesuatu sementara Evelyne sudah masuk ke ara Perumahan Elite ini.
"Cih. Kau pikir bisa menahan-ku?!" decah Evelyne mengibaskan rambut pendeknya angkuh. Ia kembali fokus melihat jalanan dan Bangunan-bangunan mewah di sekitarnya.
Tempat ini begitu hijau dan bersih. Tak ada satu sampah atau kotoran mengganggu hidung dan mata. Lampu-lampu neon dan pijar di depan Rumah membuat Evelyne harus mencari jalan aman.
"Rumahnya ada di Nomor 17 lantai 3. Disini rata-rata berlantai 3 semua," gumam Evelyne mengendap-ngendap. Ia beberapa kali melihat Nomor di depan pagar Rumah perkotaan ini sampai kamera CCTV di depan Rumah tak ia pedulikan.
"Seharunya tadi aku mencuri dulu baru datang kesini," umpat Evelyne juga merasakan perutnya berbunyi. Ia terlalu semangat sampai lupa meminta makanan.
Setelah beberapa lama berjalan seraya melihat-lihat tempat ini. Tiba-tiba saja ada Mobil yang datang dari arah belakang Evelyne. Lampu depan benda itu sempat menyinari Evelyne yang merasa silau hingga berhenti di pinggir.
"Kondisikan Lampu mu!!" bentak Evelynr tapi Mobil itu hanya melewatinya. Di sela tajamnya kilauan cahaya itu mata tajam Evelyne menangkap wajah Tuan Marcello dari sela kacanya yang sempit.
Itu.. yah, aku yakin itu dia.
Evelyne bergegas mengikuti Mobil yang melaju pelan pertanda sudah dekat di depan sana. Ia bersembunyi di balik beberapa pohon besar yang begitu terawat menyamarkan Tubuh indahnya.
Mata abu Evelyne kian menajam mengamati pergerakan Mobil itu. Saat sudah berhenti di satu Rumah yang cukup besar, Pria tadi keluar dan itu tak salah lagi adalah Tuan Marcello dan Pengawal Owen.
"Kau ternyata bersembunyi disini," gumam Evelyne sangat bersemangat. Ia melihat Tuan Marcello berbicara dengan Pengawal Owen yang mengangguki hal itu hingga dia masuk ke dalam Pagar Rumah yang terbuka oleh Pelayan.
"Bagaimana aku bisa masuk kesana?!"
Evelyne mencari jalan pintas. Ia menahan nafasnya dengan mata terpejam dan berdiri seperti Mumi mati, ini cara efektif untuk kepalanya berpikir.
"Aku tahu!" gumamnya membuka mata ke arah Pepohonan rindang di dalam Pagar. Ia bisa memanfaatkan cabang-cabang benda itu untuk menelisik masuk ke dalam sana.
__ADS_1
Tak mau menunggu lagi akhirnya Evelyne bergegas memanjat Pagar beton yang melebihi tinggi badannya. Berkat ketangkasan Evelyne ia dengan mudah naik ke atas sana lalu memanjat Pohon di dalam pekarangan untuk menyamarkan diri.
"Disini juga banyak pengawal. Memangnya dia raja," maki Evelyne mengintip dari sela dedaunan. Di depan sana ada dua penjaga dan ia harus bisa lewat langsung ke kamar Pria itu.
Tak perlu berpikir lama. Evelyne turun dengan sangat perlahan memijaki hamparan rumput hijau ini. Ia pergi memasuki pekarangan samping Rumah dimana ada Pintu kaca selebar bahu yang memperlihatkan cahaya dari dalam.
Evelyne mengintip dari sela kaca itu melihat keadaan di dalam Rumah. Ia salut dengan desain tempat ini karna sangat modern seperti yang ada di Kediaman Wanita berkaki empat itu.
"Dimana kau. Hm?" gumam Evelyne mencari-cari sampai ia tersentak melihat Tuan Marcello tiba-tiba turun dari tangga sana mendekat ke arah sini.
Ia segera bersembunyi di dekat Pot-Pot Bunga di sudut luar yang tak begitu kena sinaran lampu dari arah dalam.
"Jangan sampai dia keluar."
Evelyne baru sadar ada Pintu di sampingnya. Ie berjongkok kala suara langkah kaki itu semakin dekat dan benar saja. Pintu samping ini di buka hingga kepala Evelyne harus menunduk semakin rendah.
Helaan nafas Tuan Marcello terdengar berdiri di depan Pintu Samping. Ia menikmati pemandangan dari tempat ini melihat bulan yang malam ini cukup membuatnya nyaman.
"Ntah apa yang akan dia pikirkan besok?!" gumam Tuan Marcello tapi telinga Evelyne masih mampu mendengar itu.
Di liriknya samar wajah sendu Tuan Marcello yang seperti memikirkan seseorang. Apa itu Maxwell? Atau Mendiang Istrinya?
"Aku menikahkan kau dengannya bukan tanpa alasan. Aku hanya ingin yang terbaik dari kalian berdua," gumam Tuan Marcello tampak sangat tertekan. Ia bersandar di ambang Pintu bicara pada dirinya sendiri.
"Aku tahu kau tak akan menyentuh Violet dan jika kau mencintainya kau akan melindungi dia sepenuh nyawamu. Kalian akan saling melindungi dan aku sangat berharap kau berangsur menerima kehadirannya, tapi.. Tapi kau sangat keras kepala. Max!"
"Kau yang seharusnya menikahi Wanita itu. Pria Tukang Selingkuh," batin Evelyne memakinya tajam.
"Dengan begitu aku tak perlu semakin mengkhawatirkan kalian berdua. Aku hanya ingin kau menerimanya walau tak tahu respon-mu nanti," imbuh Tuan Marcello seperti membicarakan hal lain. Evelyne merasa ini bukan dalam konteks Ayah Mertua dan Menantu.
"Walau dia tak sama denganmu tapi, dia juga harus kau lindungi. Max! maafkan aku yang egois," gumam Tuan Marcello sampai benar-benar terlihat merasa bersalah.
Evelyne semakin di landa kebingungan. Maksudnya apa? Aku sama sekali tak mengerti.
"Aku egois dan aku tahu. Tapi, kau akan bahagia dengannya. Aku ingin melihat kau menerima dia dengan baik," lirih Tuan Marcello diam beberapa saat merenungi nasib dan keputusannya.
Selama hampir 1 jam kemudian ia tak beranjak dari sana sampai kaki Evelyne terasa sangat sakit tapi ia tahan demi menjernihkan isi kepalanya.
.....
Vote and Like Sayang..
__ADS_1