
Pertarungan itu masih terjadi. Setelah berjam-jam lamanya waktu berputar, selama itulah Evelyne terus mencoba menyentuh sedikit saja tubuh Maxwell yang sama sekali tak bisa ia kalahkan.
Pria ini terlalu berenergi dan tahu setiap apa yang akan ia mulai untuk melakukan penyerangan. Gelap, remang, dan samar tak bisa di andalkan jika sudah berhadapan dengan manik elangnya.
"Payaah!!!" maki Evelyne melayangkan tendangan terakhirnya dengan nafas memburu kearah perut Maxwell yang mudah untuk memutar tubuh-Nya ke arah lain hingga kaki jenjang itu hanya berbenturan dengan angin dingin ini.
Bukan seperti pertarungan yang kejam, Maxwell justru membuat Evelyne menari di sekelilingnya. Sinar rembulan yang mulai cerah membantu matanya untuk menembus perisai dendam yang Evelyne miliki.
"Kau tak lelah?"
"Tutup mulut-mu!!" geram Evelyne begitu ingin memukuli Maxwell atau justru ia akan membunuh Pria ini.
Serpihan kaca di tangan-Nya masih ia peggang erat dengan gigi merapat dan rahang mengeras. Ia tak menahan jiwa haus akan darah itu dan semakin brutal kala sudah tak bisa menyentuhnya.
"Nafas-mu hanya setengah. Pandangan-mu tak fokus. Ini yang kau sebut petarung. Hm?"
Mendengar ejekan Maxwell yang tengah menghindari setiap serangannya, api amarah yang memang mudah tersulut dari batin Evelyne langsung menyambar kuat.
"Kau meremehkan-ku?"
Desisnya seraya terus melayangkan tinjuan ke tubuh Maxwell yang berputar seenaknya dengan perhitungan yang tepat. Ia terus memperhatikan serpihan kaca di tangan wanita itu bukan karna takut di kenai tapi Evelyne tipe yang nekat melukai dirinya sendiri.
"Jangan kau pikir kemampuan-mu bisa mengalahkan-ku."
"Aku tak berpikir begitu," jawab Maxwell terus menghindar sampai ia melihat darah yang menetes di tangan Evelyne bukan lagi darah musuhnya.
Dengan cepat ia menarik lengan Evelyne yang tadi melayangkan tendangan ke arah pahanya. Pukulan itu berhasil mengenai Maxwell yang sama sekali tak oleng atau bergerak dari tempatnya.
Tatapan keduanya beradu sengit. Tak ada guratan sakit sedikit-pun di wajah Evelyne padahal tangannya sudah di robek kaca itu.
"Kau PAYAH!" ketus Evelyne senang dengan tendangannya barusan. Ia ingin menarik dirinya tapi Maxwell sama sekali tak melepas genggamannya.
"Lepas!"
"Kau melanggar kesepakatan," geram Maxwell membuat lirikan mata tajam Evelyne tertuju pada genggaman tangannya.
Ia-pun baru sadar jika tangannya terluka. Darah itu sudah terbiasa keluar hingga ia sangat terbiasa.
"Aku tak tahu," santainya datar.
Tanpa banyak bicara lagi. Maxwell menarik kasar lengan Evelyne untuk kembali ke area Perusahaan melewati Jirome dan Hunter yang hanya berdiri kaku saat dua Mahluk misterius ini melewati mereka.
Aroma amis dari tubuh Evelyne membuat Hunter menelan ludah sedangkan Jirome hanya diam melihat kedekatan Tuan-Nya yang sedari dulu sulit ia pahami.
"Kau tahu siapa wanita itu?"
"Tidak," jawab Jirome singkat lalu mengikuti Tuannya. Dari sini mereka bisa melihat banyak mayat di tergeletak di sepanjang jalan dan hal itu membuat Evelyne menautkan alisnya.
Mereka tidak hanya berjumlah sepuluh. Siapa yang begitu ingin menghancurkan Pria Idiot ini?
Pikir-nya kala beberapa anggota Maxwell sudah menyeret Mayat-mayat itu ke dalam Mobil yang ntah ingin di kirim kemana ia juga tak tahu.
__ADS_1
"Kau cukup di gemari."
Maxwell hanya diam melirik CCTV jalanan yang tadi sudah di matikan oleh Jack. Evelyne bergerak terlalu ceroboh sampai-sampai tak tahu ini lingkungan umum.
"Sayangnya dia hanya menguji-mu."
"Jaga bicaramu," gumam Maxwell sudah masuk ke Gerbang besar Perusahaan dimana Evelyne masih berjalan mengikuti tarikannya.
Para anggota hanya membisu melihat Tuannya yang datang bersama Wanita yang sudah lama membuat benak mereka bertanya-tanya tentang asal dan awal mula kehadirannya disini.
"Kau ingin membawaku kemana?"
Tanya Evelyne kala Maxwell menariknya ke dekat Mobil yang tak jauh dari Gerbang tadi. Pria ini dengan kasar mendorongnya ke dalam lalu ikut masuk dengan Pintu Mobil otomatis tertutup.
Disini Maxwell bisa melihat sekujur tubuh dan pakaian Evelyne sudah dipenuhi oleh jipratan darah. Kemejanya sudah sangat amis dengan bagian kaki Evelyne terlihat lecet karna bergerak tanpa alas.
"Kau ingin masalah-mu selesai, bukan?"
"Kau tak bisa melakukannya," geram Evelyne membuang wajah kesalnya. Ia terlihat masih marah akan kejadian di lantai atas tadi sampai bertindak sendirian.
"Kau sama sekali tak bisa di andalkan," imbuhnya menghakimi.
Untuk sesaat Maxwell diam lalu meraih Kotak obat di bawah Kursi. Ia masih menggenggam tangan Evelyne yang bisa saja kembali melukai dirinya sendiri.
"Jika kau memang tak bisa membantu. Lebih baik aku mencari sendirian, aku juga bisa me.."
Belum sampai Evelyne bicara tiba-tiba saja Maxwell menekan lukanya hingga desisan itu tercipta samar.
"Berhentilah bicara," tekan Maxwell membersihkan lukanya. Kaca itu ia tarik keluar area kulit yang sobek lalu mulai melihat apa sobekan ini parah atau tidak.
Wajah tampan Maxwell sama sekali tak berubah. Visual tegas nan sulit di tebak ini punya pesona yang tak bisa di bantah siapapun.
Mata penuh perhitungan dan tangan bergerak sesuai arahan benak cerdasnya, ia punya semua yang di idamkan kaum lelaki termasuk bentuk bibir yang khas.
Mata Evelyne memandang terus sampai ia sadar jika Maxwell memiliki banyak tai lalat kecil di bagian leher dan area bahunya. Tak banyak orang yang tahu karna Maxwell selalu memakai kemeja dan Jas kerja yang sudah lekat akan kharismanya.
"Apa aku begitu tampan sampai mata-mu tak berkedip?"
Sontak Evelyne langsung membuang pandangannya ke luar jendela Mobil. Wajah dinginnya meruak tapi percayalah ia tak pernah memandang Manusia dengan tatapan lama dan berbeda seperti tadi.
"Ada jipratan darah di lehermu!" gumam Evelyne yang memang melihat itu tapi hanya sekedar sasaran logisnya.
"Tak perlu sampai memperhatikan hal sekecil itu."
"Berikan bualan itu pada Kaki empat di Kediaman mu!" ketus Evelyne membeku.
Maxwell terdiam sejenak menghentikan tangannya yang tengah menjahit sobekan kecil ini. Ia teringat akan panggilan Leen kecil yang menjuluki Violet Wanita berkaki empat.
Sedetik kemudian Evelyne-pun juga langsung sadar akan apa yang ia katakan barusan. Wajah-Nya mulai terpaku kosong dengan pikiran melayang ke arah sesuatu.
B..Bagaiaman bisa? Bagaimana bisa aku menirukan apa yang dia katakan? I..ini tidak mungkin.
__ADS_1
Evelyne menelan ludah kasar dengan tatapan semakin gusar. Ia juga merasa jika Jiwa Leen kecil mulai menghantui dirinya.
Terbukti dengan ia yang tadi menurut saat di bawa kesini dan membiarkan Maxwell mengobati lukanya. Itu sama sekali bukan sifat Evelyne yang sekarang.
"Lukamu ini harus di.."
"Lepas!!"
Evelyne manarik tangan-Nya paksa dari genggaman Maxwell yang kian kebingungan. Ia menatap datar Evelyne yang terlihat memutus benang jahitan itu lalu mengambil kain kasa di dalam Kotak dan membalut lukanya sendiri.
"Kau kenapa?"
Evelyne hanya diam membuka Pintu Mobil kasar lalu keluar seraya berjalan memasuki Pintu Perusahaan. Maxwell memandang dengan heran sekaligus merasa cukup aneh.
"Tuan!"
Jirome muncul dari pintu keluar Evelyne tadi dengan sesekali terlihat mengikuti pandangan Maxwell.
"Tuan! Anggota sudah menemukan deretan nama Aparat pemerintah yang ikut dalam Peristiwa itu."
"Hm."
Maxwell hanya bergumam kecil membiarkan Jirome masuk ke Mobil dengan Pintu yang sudah tertutup rapat.
"Pastikan dia tak membuat masalah di dalam sana!"
"Baik. Tuan!"
Jirome sudah mengisyaratkan pada anggota mereka untuk berjaga disini. Bisa saja anak buah musuh akan datang kembali.
........
Di tempat yang berbeda. Evelyne tengah berjalan kosong menyusuri lantai utama Perusahaan. Pandangannya terus meratap dan seperti tak menerima ini.
"T..tidak. Aku.. Aku pasti hanya terbiasa," gumam Evelyne membantah itu. Ia tak ingin menyatu dengan jiwa Evelyne kecil karna itu sangat menjijikan baginya.
"Dia tak bisa mempengaruhi-ku. Hanya aku yang bisa mengalahkannya," geram Evelyne memukul dinding di sebelahnya.
Seringaian iblisnya kian terlihat kala luka di tangannya sudah di obati dengan sangat teliti oleh seorang Pria. Bahkan, ia ada di suatu tempat dimana Pria itu ada.
"Tak akan ku biarkan kau memasuki jiwaku. Aku tak akan sudi," lirih Evelyne memukul kepalanya sendiri. Ia suka seperti ini dari pada harus membendung sakit dengan harapan kebahagiaan yang tak akan pernah terjadi lagi.
Dia itu jiwa yang munafik. Aku tak ingin jadi seperti dia. Tak akan pernah.
"S..Sudah jelas mereka tak akan kembali. Tapi kau.. Kau sangat lugu mengharapkan kebahagiaan yang sudah lama di renggut darimu!!!" teriak Evelyne memaki dirinya saat kecil.
Ia tak mau berharap lagi. Ia tak ingin hidup di antara buai-buai angan yang sangat menyiksa dirinya. Lebih baik ia hidup dalam dendam dan amarah dari pada harus terluka tapi masih di paksa tersenyum oleh keadaan.
....
Vote and like Sayang..
__ADS_1