
Hawa dingin dan lembab ini terasa begitu mencekam. Deretan pohon-pohon besar yang rimbun dengan semak-semak berduri itu ia terobos menjahui area percakapan bos dan anak buah tadi.
Saat mendengar ada yang masuk ke hutan ini selain anggota mereka, Evelyne merasakan kehadiran anggota Maxwell. Ia berusaha lari karna ingin keluar dari jeratan maut Leonard yang selalu membuatnya mencemaskan Maxwell.
"Aku harus keluar dari sini! Bisa saja Tuan Fernandez salah paham pada Maxwell dan mereka saling bertengkar lagi. Itu tak boleh terjadi!" gumam Evelyne berlari tanpa alas.
Ia tadi memakai sendal kamar mandi tapi putus saat tersangkut ke beberapa kayu yang patah. Akhirnya ia tak menyembunyikan identitas purbanya yang lihai berjalan di tengah hutan.
Tak ada jalan setapak atau bekas langkah manusia disini. Evelyne-pun hanya mengandalkan instingnya untuk mencari jalan keluar tetapi saat beberapa langkah kemudian ia mendengar suara anjing di belakang.
"Shiit! Apa dia ingin memburuku?!" umpat Evelyne mendengar suara-suara pengejaran anggota Leonard. Ia bergegas membelokan langkah ke sembarang arah mencoba lari dari suara gonggongan anjing itu.
"Nonaaa!!!"
Teriak mereka menembakan pistol beberapa kali ke atas sana sampai Evelyne tersentak kaget. Ia yang hanya berjalan ke sembarang arah mulai merasa terkepung.
"Aku harus kemana lagi?! Dia sangat tahu hutan ini bagaimana dan mustahil pergi tanpa menghabisinya," gumam Evelyne bersembunyi di balik pohon yang cukup menyembunyikan tubuh indahnya.
Ia memutar otak menatap tempat disekelilingnya. Hanya ada semak-semak belukar dan pohon-pohon tinggi yang berlumut. Rona binatang berbisa sangat kental sampai Evelyne beberapa kali melihat kelabang yang bertengger di kulit-kulit kayu pohon di sampingnya
"Tidak bisa. Jika anjing itu mencium aroma tubuhku maka mereka akan menemukan aku!" pikir Evelyne memejamkan matanya.
Suara anjing itu semakin terdengar mendekat dan menyerbu banyak. Ia harus ekstra keras memutar benaknya sampai Evelyne langsung terpikir sesuatu.
"Jika-ku tinggalkan pakaianku disini maka perhatiannya pasti tersamarkan. Yah, aku juga bisa memakai dedaunan dengan aroma yang berbeda," gumam Evelyne segera melepas kaosnya hanya menyisakan bra dan daleman berwarna hitam senada.
Kulit putih dan tubuh seksi itu memikat semua mahluk disini termasuk ular yang melintas di belakang Evelyne. Walau serigala-pun yang ada di hadapannya tak akan ada rasa takut di benak wanita purba ini.
Ntah apa yang ia pikirkan sekarang hanya dia dan tuhan-lah yang tahu. Lihat saja, Evelyne mencari dedaunan yang beraroma menyengat hingga pilihannya jatuh pada Bulbophyllum Phalaenopsis. Sebuah bunga bangkai termasuk dalam golongan Raflesia tapi sejenis anggrek liar.
Tanpa segan atau tergganggu akan bau busuknya, Evelyne menggosokkan itu ke lengan dan kakinya. Tidak menyeluruh karna ia tak suka dengan lendir yang tumbuhan ini keluarkan.
"Aku rasa ini cukup!" gumam Evelyne mencium lengannya sendiri dengan aroma seperti bangkai hewan.
Dirasa kawanan anjing itu semakin mendekat, Evelyne segera pergi dari tempat itu meninggalkan pakaiannya di akar pohon tempatnya bersembunyi tadi.
"Nonaaa!!!"
__ADS_1
Teriak mereka dengan anjing yang sudah menerobos ke tempat Evelyne tadi. Anggota Leonard segera mendekati pohon yang dikerumuni anjing itu tapi nyatanya hanya ada pakaian Evelyne di sana.
"Siaall!! Nona menipu kita!"
"Tuan bisa marah besar!"
Panik mereka gelagapan. Alhasil kawanan anjing-anjing pemburu tadi di boyong pergi ke arah lain tak mengikuti jalan Evelyne tadi karna aroma busuk yang mereka anggap mengganggu.
Sementara Evelyne. Berkat kelihaiannya menerobos hutan akhirnya ia mendekati air terjun yang cukup besar sampai terdengar di belasan meter dari tempat ia berjalan.
"Kenapa perutku rasanya sakit?!" ringis Evelyne merasa nyeri di bagian bawah perutnya. Ia mulai mencari sumber air karna haus dan ingin istirahat.
Ntah apa yang berbisik ke telinganya Evelyne sampai menyusuri kayu-kayu di depannya mendekati sumber air yang sudah tampak dari sini.
"Aaiiir!!" pekik Evelyne berlari ke arah deburan air sana dengan ancang-ancang ingin melompat sembarangan. Mungkin malaikat terlalu sayang mencabut nyawanya hingga dalam satu loncatan dari batu yang ada di pinggir air terjun ini Evelyne dilempar masuk ke dalam kolam yang terbentuk dari susunan bebatuan.
"Dingin!! Haiiss.. Ini sangat luar biasa!" pekik Evelyne menyembulkan kepalanya di permukaan air. Saat ia membuka mata alangkah herannya Evelyne ada kepala ular sebesar pergelangan kaki yang tengah beradu pandangan dengan netra abunya.
Untuk sejenak keduanya hanya saling pandang. Kulit reptilia ini hitam legam dengan mata bening dan lidah menjulur setiap hitungan detik, Tubuh panjang itu setengah tenggelam di dalam air.
Batinnya tak tahu. Ia juga baru ingat jika melihat mahluk sejenisnya saat menyusuri hutan tadi. Sayangnya Evelyne tak begitu perduli dan hanya menerobos tanpa permisi.
"Kau kenal aku?" tanya Evelyne dengan hidung nyaris bersentuhan dengan moncong Ular ganas itu. Ia seakan mengintrogasi boneka panda dengan mata menyipit dan bersikap tenang.
"Kenapa kau selalu menjulurkan lidahmu? Kau tak takut tersedak?!" tanyanya lagi tak menguarkan hawa intimidasi. Aroma tubuh Evelyne juga busuk dan itu yang membuatnya diam dengan ekor meliuk-liuk di dalam air.
Karna tak mendapat jawaban Evelyne dengan gamblang mengangkat tangannya menjentik kening hewan berbisa ini hingga binatang itu langsung menyerangnya.
"Kau ingin membunuhku. Ha??!" bentaknya naik pitam saat lengannya di lilit kuat oleh Ular bertubuh hitam legam ini dan berusaha mematoknya.
Evelyne yang tak pernah bisa sabar segera menyelam di dalam air dengan satu tangan mencengkram kepala hewan melata yang begitu liar saat di dalam air.
Ia sampai kesusahan untuk menahan perlawanan hewan ini sampai air bergelombang dan bergemuruh karnanya.
"Jangan remehkan aku sialan!!"
Batin Evelyne mencengkram kuat mulut Ular itu lalu muncul di permukaan. Ia menghantamkan lengannya yang di lilit tubuh Ular lincah ini ke batu besar di sampingnya.
__ADS_1
Tak hanya sekali tapi berulang kali sampai lilitannya mengendur barulah Evelyne menyudahinya. Itu-pun ntah hidup atau tidak karna kulit Ular itu sampai mengeluarkan darah.
"Masih ingin melawanku. Ha?!" desis Evelyne tapi sayangnya mahluk menyedihkan itu sudah tak berkutik lagi.
Dengan santai Evelyne melemparnya kembali ke dalam air karna ia yakin hewan itu masih hidup. Dan benar saja, ia berenang lemah menjahui Evelyne yang hanya membiarkannya.
"Kau pikir kau siapa ingin menguasai tempat ini?! Umpat Evelyne kembali merasakan pegal dan nyeri di seluruh tubuhnya.
Alhasil Evelyne kembali masuk ke dalam air untuk berendam karna sudah lelah dan kehabisan tenaga.
....
Di tempat yang sama tak jauh dari area air terjun liar itu ada dua manusia yang sedari tadi menyusuri hutan besar ini. Mereka berpencar menjadi dua team dengan Jirome ikut dengannya dan Gregor memimpin ke daerah lain.
Hanya saja Maxwell tak suka ada banyak orang di sekitarnya hingga memisahkan diri dari kawanan.
" Tuan! Aku tadi sayup-sayup mendengar suara wanita di daerah sana!" menunjuk ke area akar yang menjalar begitu tebal dari rimbunnya semak belukar.
Maxwell yang tengah mengamati situasi hutan ini juga harus waspada karna banyak hewan buas dan berbisa disini. Mereka-pun sudah beberapa kali di hadang ular dan kelabang berbisa.
"Jangan gegabah! Disini tak ada yang bisa di percaya!" tegas Maxwell melihat ponselnya yang tak berfungsi disini.
Jirome-pun merasakan hal yang sama. Tapi, ia merasa haus karna stok airnya ada di mobil sedangkan mereka sudah jauh masuk ke dalam.
"Tuan! Apa disini tak ada yang bisa di minum?!"
Maxwell tak menjawab. Ia kembali menyimpan ponselnya lalu mempertajam pendengaran elangnya.
"Aku mendengar suara air terjun di sekitar sini!"
"Benarkah? Telingamu memang jeli. Tuan!" puji Jiromr tak sabaran.
Maxwell dengan gaya angkuh dan penuh kharisma itu mengandalkan instingnya untuk mencari sumber air yang tanpa ia ketahui akan mendekatkannya pada sang belahan hati.
....
Vote and Like Sayangku..
__ADS_1