My Little Devil

My Little Devil
Masih kekeh ingin bersama


__ADS_3

Kesunyian itu seketika melanda. Hanya suara angin malam yang masuk ke sela Jendela kamar yang tak terlalu di tutup hingga Tirai-Nya terombang halus menari pelan.


Suasana ruangan ini sangat hening bahkan suara tetesan air dari dalam Kamar mandi terdengar berbenturan dengan lantai. Tak lupa lampu tidur yang menyala remang semakin membuat tempat ini terasa magis.


Keadaan kamar berubah karna dua Mahluk bumi yang tadi tengah bertengkar konyol sudah terbaring di dalam Selimut tebal yang menutupi Tubuh masing-masing.


Evelyne berbaring di atas Sofa panjang di sudut ruangan dengan Selimut menutupi sampai puncak kepalanya.


Ia tak lagi bersuara besar kemungkinan Wanita itu sudah tidur. Yah, pikir Maxwell begitu.


Maxwell yang berbaring di atas Ranjang juga pura-pura tidur tak memperdulikan Evelyne yang tak ia perbolehkan menginjak Ranjang-nya lagi. Bukan apa-apa tapi Evelyne begitu berbahaya untuk Jiwa sucinya.


"Apa dia benar-benar tertidur?"


Batin Maxwell bertanya pada dirinya sendiri. Ia memandangi Evelyne dari sini tapi agak risih dengan Tabiat tidurnya yang suka mengejutkannya.


Dia Tidur tapi seperti orang mati dimana tak ada terlihat helaan nafas atau pergerakan sedikit-pun. Sudah berjam-jam ia berbaring terlentang dan tak pernah berganti posisi. Padahal, Maxwell sudah 10 kali membolak-balikan tubuhnya di atas ranjang.


"Ehmm."


Ia berdehem kecil untuk melihat respon Evelyne. Tapi, sangat di sayangkan bergerak saja Evelyne tidak apalagi membuka Selimut-Nya.


Tak ingin di acuhkan seperti itu. Maxwell kembali berdehem lebih keras dengan harapan yang sama, tapi lagi-lagi ia di buat kesal kala Evelyne masih tak bergeming.


"Apa dia tidur mati?!" umpat Maxwell mengusap wajahnya kasar.


Batinnya berusaha tak perduli dan melanjutkan tidurnya tapi Maxwell tak bisa. Penyakit Insomnia-Nya terlalu akut sampai-sampai terus membuka mata.


Maxwell memejamkan mata dengan pikiran terus melayang-layang. Ia masih belum bisa melupakan Peristiwa kelam malam itu sampai harus membuka matanya kembali.


Tak bisa bertahan disini lagi akhirnya Maxwell memilih turun dari ranjang. Ia kembali mengambil Tablet-Nya lalu ingin keluar dari kamar.


Tapi, langkahnya terhenti di dekat Pintu dengan lirikan ujung matanya menatap puncak kepala Evelyne yang masih belum bergerak.


"Naiklah ke atas Ranjang!"


Evelyne tetap tak bergeming. Alhasil Maxwell merendahkan egonya berjalan mendekat ke arah Sofa lalu menyibak selimut Evelyne yang membuatnya tersentak kala mata wanita itu terbuka lebar menatapnya dingin.


"Kauu..."


Evelyne hanya diam tanpa exspresi atau rasa bersalah. Tangannya kembali menarik selimut lalu menutupi seluruh Tubuhnya sampai puncak kepala keangkuhan ini-pun sudah tak terlihat.

__ADS_1


"Naiklah ke atas Ranjang! Tubuh Leen akan sakit setelah kau bangun!!"


Evelyne masih tak bersuara. Ia mengacuhkan Maxwell untuk kesekian kalinya karna memang moodnya tengah tak baik. Ia hanya ingin diam dan berbaring disini walau udaranya cukup dingin.


Melihat itu Maxwell tak lagi ingin perduli. Ia berjalan cepat keluar kamar membanting Pintu keras membuktikan ia tengah emosi.


Dirasa Maxwell sudah tak ada, Evelyne segera membuka balutan selimut. Wajahnya berubah sinis merasa kesal karna tadi Maxwell memakinya untuk tak menginjak ranjang.


"Tadi menolakku dan sekarang ingin memerintah. Kau pikir kau siapa?!" ketus Evelyne melirik sinis kearah Pintu.


Pandangan tajamnya bergulir menuju Ranjang yang sudah berantakan. Evelyne menyadari kegelisahan Maxwell setiap ia ingin tidur dan tak pernah bisa nyaman kecuali saat bersama Evelyne kecil.


"Dia perlu dikasihani," gumam Evelyne lalu bangkit berjalan ke arah Jendela. Ia melihat jika ini sudah membayang Fajar dan ia tak akan lama lagi dalam Bentuk Dewasa seperti ini.


Bosan menunggu. Evelyne segera beranjak pergi ke arah Pintu keluar kamar dimana Maxwell terlihat fokus di kursi Kerjanya.


Evelyne berjalan mendekat seraya melihat banyaknya dokumen dan beberapa berkas di meja Maxwell. Saat tangannya ingin mengambil salah satu kertas, Maxwell langsung menegurnya.


"Jangan sentuh barang-barang-ku," tegas Maxwell tanpa menatap Evelyne yang masa bodoh. Ia tetap mengambil Kertas itu membuat Maxwell langsung menghela nafas dalam.


"Letakan kembali!"


"Kau mendesain Mobil?" gumam Evelyne melihat jika ini beberapa Model Mobil yang terlihat sangat menarik. Ia tak paham dengan benda-benda seperti ini hingga Maxwell langsung merampas Kertas itu.


"Cih. gambar-mu sangat buruk," ketus Evelyne mendudukan dirinya diatas kursi depan meja Maxwell yang seketika kembali menghela nafas.


"Kembalilah ke kamar!"


Evelyne tak menggubris sama sekali. Ia yang memakai kemeja dan boxer yang bergaya sama itu hanya santai menaikan kakinya di atas Meja Kerja Maxwell yang seketika naik pitam.


"Kauu.."


"Kecilkan volume suaramu. Aku tak tuli," tegas Evelyne tanpa menurunkan kakinya sama sekali. Ia menunjukan Wajah pembangkang-nya sampai Maxwell harus memundurkan Kursi kerja ini ke belakang dengan kaki bertopang dan kedua tangan ada di lengan benda itu.


Kharismanya memang sangat kuat dan patut menduduki Kursi seangkuh itu.


"Apa mau-mu?"


"Tidak ada," santai Evelyne melihat-lihat ruangan ini. Ia dulu tak begitu tertarik tapi jika di perhatikan disini cukup nyaman.


Tak ingin melayani Evelyne lagi Maxwell segera melanjutkan pekerjaannya walau harus melirik tajam pada kaki Evelyne yang tepat ada di ujung Meja. Jika bertengkar terus ia tak akan bisa hidup tenang.

__ADS_1


Dalam beberapa saat keduanya diam sampai Suara Ponsel Maxwell berdering. Nomer yang tak di kenal itu masuk hingga Maxwell mengangkatnya.


"Hm."


"Ini aku. Fernandez!"


Seketika Maxwell terdiam sejenak. Raut wajahnya masih tenang tak terpancing sama sekali.


"Kenapa kau menggugat Putriku? Apa kesalahannya. Ha?? Dan lagi hubungan kalian sebelumnya baik-baik saja."


"Bicaralah dengan Pengacaraku!" tegas Maxwell ingin mematikannya tapi Tuan Fernandez bergegas bicara.


"Kau tak bisa hanya memutuskan satu pihak. Pernikahan kalian beredar di Media dan akan memperburuk citra dua keluarga. Lakukan pertemuan lebih dulu dan jangan kau.."


"Urus Putrimu sendiri!" tekan Maxwell mematikan sambungan itu. Helaan nafas kasarnya meruak dan segera bersandar ke Kursi yang terus menopangnya.


"Siapa?"


Tanya Evelyne tapi Maxwell hanya memandangnya datar. Sontak Evelyne langsung ingin menendang Meja tapi Maxwell sudah menegakkan tubuhnya.


"Orang asing!"


"Siapa? Pasti kerabat Wanita sialan itu-kan?" geram Evelyne sangat tak menyukai Violet. Ntah kenapa suasana hatinya selalu buruk membayangkan wanita itu.


Maxwell tak menjawab. Ia mendapat Pesan dari Tuan Fernandez jika besok akan ada acara Makan Malam di Kediaman berarti mereka sudah terbang ke Negara ini hanya untuk membahas soal Rumah Tangganya.


"Dia tak ingin bercerai dari k.."


"Kau serahkan saja padaku!" sela Evelyne menyambar tanpa aturan. Ia sudah sangat bernafsu melakukan itu tapi Maxwell tak ingin Evelyne ikut campur.


"Kau tinggal duduk dan tenang. Tunggu kabar baiknya. Hm?" imbuh Evelyne berdiri ingin pergi tapi tiba-tiba kepalanya langsung berdenyut hebat tak bisa menahan bobot tubuhnya.


"Kau.."


Maxwell langsung melesat dengan kedua tangan memeluk Evelyne yang nyaris jatuh. Wajah Wanita ini sudah pucat dengan rasa panas kembali meningkat di tubuhnya.


"A..Aku akan melenyapkannya! Aku.."


Lirih Evelyne rapi langsung tak sadarkan diri. Maxwell segera menggendong ringan Evelyne untuk kembali ke Kamar karna ini sudah Pagi dengan Cahaya Mentari masuk ke dalam Kamar menghangatkan suasana.


....

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


__ADS_2