My Little Devil

My Little Devil
Keterkejutan Mr Plank


__ADS_3

Setelah mengurus Daddynya yang tengah ada Rapat di lantai atas Perusahaan. Sekarang, giliran Evelyne yang berkeliaran di lantai bawah dengan dua Anggota Maxwell sudah sedari tadi menguntitnya.


Para Karyawan Perusahaan yang melihat kedatangan bocah cantik itu hanya saling pandang bingung. Apa ini Putri salah satu Klien penting Perusahaan? Kenapa harus di kawal seperti itu?


Pikir mereka melalui Evelyne yang asik melihat Mobil -Mobil 3 Dimensi yang terpajang di lantai bawah yang terlihat sangat megah. Ia berlarian kesana-kemari tak perduli banyak pasang mata yang memandangnya.


"Apa ini Daddy yang buat?"


"Bisa dikatakan begitu. Nona!" jawab Yello dan Gregor yang merupakan anak buah Maxwell.


Yello adalah seorang wanita dengan ciri khas kulit eksotis dan rambut keriting tapi badannya menyamai tubuh Gregor yang merupakan Lelaki Tulen berkulit putih.


Keduanya memakai kacamata hitam pekat dan Stelan jas bak Bodyguard pribadi milik Evelyne yang selalu mereka pantau dari dekat.


"Uncle! sekarang jam berapa?" tanya Evelyne seraya duduk di dekat Mobil itu memandangi orang-orang yang hilir mudik di sekitarnya.


"Pukul 1 Siang. Nona!"


"Apa Daddy masih lama?"


Tanya Evelyne lagi karna sudah bosan. Ia ingin menemui Maxwell tapi tampaknya Pria itu sangat sibuk. Alhasil Evelyne mengurungkan niatnya untuk mengganggu Maxwell.


Setelah beberapa lama duduk disini tiba-tiba saja Karyawan yang tadi melewati lantai ini tiba-tiba saja berkumpul menyambut kedatangan seseorang dari arah Pintu kaca Perusahaan.


Evelyne hanya diam tak bergeming sama sekali dengan mata abu menerobos cela para manusia ini.


"Selamat datang. Mr Plank dan Miss Oliver!"


Mereka menyambut dengan ramah sosok Pria paruh baya yang tampak masih segar dengan perawakan tubuh yang tinggi dan agak kurus. Wajahnya begitu ramah sama halnya dengan sesosok wanita muda dibaluti oleh Dress Maron yang tak menutupi bahu mulusnya yang jenjang dan ramping.


Hawanya terasa sangat cerdas dan berkelas membuat mereka terkesima akan anak Seorang Pengusaha Parfum itu.


"Mereka siapa?" gumam Evelyne menopang dagu ke atas lutut yang ia tekuk rapat. Matanya tak teralihkan dari dua Mahluk yang sudah melangkah ke arah Lift di sudut lantai ini.


"Mereka adalah Klien tetap dari Perusahaan Tuan Maxwell! Dia adalah Mr Plank dan Putrinya Oliver yang menjadi Model dari Perusahaan Parfum mereka. Nona!"


"Dia cantik," puji Evelyne mengamati bibir tipis segar mengkilat itu.


Matanya tak berhenti memandangi Miss Oliver sampai mata hitam pekat wanita itu bergulir padanya. Dalam sekali tatap saja Miss Oliver sangat suka akan manik abu Evelyne yang begitu jernih dan indah.


"Dad! Kau pergilah lebih dulu."


"Jangan terlalu lama. Hm?"


Ia mengangguk membelokan langkah ke arah Evelyne yang masih belum mengubah posisinya. Ia menatap santai Sosok wanita berkaki panjang dan memakai heels yang cukup tinggi.


"Hay!" sapanya ramah.


"Kenapa kesini?" pertanyaan polos Evelyne mengerijabkan matanya.


"Tidak ada. Aku hanya ingin menyapa gadis cantik yang sendirian disini."


"Leen tak sendiri. Ada Uncle Gregor dan Aunty Yello," jawaban lugas Evelyne membuat bibir merah wanita ini menipis.


Ia menatap Yello dan Gregor yang tak merubah wajah datar mereka bahkan terkesan sangat menjaga Evelyne.


"Mereka pengawalmu?"


"Tidak. Mereka teman-teman Leen!"

__ADS_1


Tegas Evelyne lalu berdiri. Ia tak begitu suka dengan wanita cantik karna memang ia mempunyai rasa yang tak menerima hal itu.


Miss Oliver mengangguk kecil juga merasa canggung karna interaksi mereka di lihat oleh beberapa Karyawan disini.


"Apa Orang Tuamu disini?"


"Iya. Daddy sedang rapat. Memangnya kenapa?" tanya Evelyne membuat Miss Oliver tersenyum hangat menenggelamkan matanya.


"Mereka pasti sangat beruntung memiliki anak secantik dan secerdas kau."


"Yah. Tapi Leen juga beruntung karna punya Daddy yang sangat-sangat Tampan," Puji Evelyne bahagia saat mengungkapkan perasaanya.


Melihat obrolan wanita ini terlalu membuka privasi. Yello segera mendekat dengan cepat menundukan kepalanya.


"Nona! Kita kembali ke atas."


"Apa Daddy sudah selesai?" tanya Evelyne dan terpaksa Yello angguki.


Ia berlari ke arah Lift meninggalkan Miss Oliver yang hanya menggeleng melihat tingkahnya. Yello dan Gregor mengikuti Evelyne yang sudah lebih dulu masuk ke dalam Lift.


"Wajahnya agak tak asing," gumam Miss Oliver merasa Familiar dan Dejavu. Ia melanjutkan langkahnya sedangkan Evelyne sudah di kurung benda baja itu.


.......


Meja panjang dengan 8 Kursi yang sudah terisi itu tampaknya masih belum sepi dari masing-masing Laptop yang menyala. Suara Jirome terdengar menyampaikan hasil dari analisis Perusahaan Pengembang tentang Mobil Blackbird yang kemaren menjadi konflik pemasaran.


Mereka terlihat sangat fokus dan sesekali berdiskusi. Tak khayal ada yang memberi saran tapi nyatanya itu tak sesuai dengan apa yang tengah menjadi kendala Perusahaan.


"Presdir! Ada baiknya kita melakukan pembongkaran besar-besaran."


"Yah. Dengan begitu kita akan tahu apa benar ada masalah pada Mesin atau.."


"Tak ada masalah apapun," tegas Jirome dengan wajah sangat serius meletakan Dokumen yang ada di tangannya ke meja Maxwell yang diam melihat Laporan yang di berikan Perusahaan Pengembang pagi ini.


"Apa ada yang berusaha menjatuhkan Produk Perusahaan?"


"Aku rasa begitu."


Gumam mereka saling beradu argumen. Maxwell diam menelisik setiap gambar ini lalu menatap lurus kedepan dengan hawa dingin tersendiri.


"Jangan sampai masalah ini bocor ke telinga orang luar!"


"Baik. Presdir!" jawab mereka serempak. Maxwell menutup Laporan di depannya dengan Jirome yang menunggu perintah selanjutnya.


"Hentikan untuk sementara Pemasaran Mobil jenis ini sampai masalah selesai. Selebihnya tingkatkan Produk baru yang lebih efesien," titah Maxwell yang di angguki mereka.


"Kami akan berusaha semampu kami. Presdir! Anda tenang saja."


"Hm."


Gumam Maxwell membiarkan mereka berangsur pergi dan keluar dari ruang Meeting.


Jirome membereskan berkas di meja Maxwell lalu ingin bicara tapi tiba-tiba saja pintu itu diketuk.


"Masuk!"


Ucap Jirome melihat jika Sekertaris Ireein yang masuk dengan pandangan penuh hormatnya.


"Presdir! Mr Plank datang berkunjung."

__ADS_1


"Mr Plank?"


Gumam Jirome merasa cukup heran. Ia menatap Maxwell yang hanya sedia dengan wajah datarnya tak memusingkan hal itu.


"Tuan! Apa kau.."


"Bawa dia masuk!" titah Maxwell menyandarkan tubuhnya ke punggung kursi ini. Ia memainkan Bolpoin di dekat tangannya dengan Sekertaris Ireein yang sudah mempersilahkan sosok itu masuk.


"Presdir Maxwell!"


Sapa Mr Plank berjalan masuk dengan senyum ramah mengangkat kumis tipis di bawah hidungnya.


Maxwell hanya diam membiarkan Pria itu mendekat ke arahnya dengan Sekertaris Ireein yang membukakan Kursi agar ia bisa duduk.


"Silahkan. Mr!"


"Seperti biasa Perusahaan anda begitu menakjubkan," pujinya menuai tatapan tenang Maxwell yang menegakkan tubuh kekarnya.


"Katakan!"


"Anda terlalu to the poin. Presdir!"


"Aku tak punya banyak waktu," tegas Maxwell memang selalu berinteraksi seperti ini. Ia membatasi dirinya akan hal-hal yang tak penting sama sekali.


Senyum hangat Mr Plank yang tadi tertarik lepas agak mengendur. Ia memahami sikap Tempramen Maxwell yang memang mengerikan.


"Saya datang hanya untuk berkunjung setelah beberapa lama tak ke Perusahaan anda. Presdir!"


"Perusahaan ku sangat baik. Ada urusan lain?" tanya Maxwell mengetuk-ngetuk meja ini dengan ujung Bolpoinnya. Tatapan dingin netra coklat tajam ini membuat Mr Plank agak gelisah di tempatnya.


"Begini. Saya.."


"Daddy!!!"


Suara melengking Evelyne yang berlari menerobos pintu membuat Mr Plank terperanjat tapi tidak dengan Maxwell yang sudah biasa dengan Malaikat kecilnya itu.


Evelyne berhambur memanjat kursi Maxwell tak memandang Mr Plank yang berdehem kecil melihat kelancangannya masuk tanpa permisi dan tiba-tiba memanjat ke Kursi Maxwell.


"Dad!" gumam Evelyne mengadah dengan satu kaki sudah naik ke atas sepatu Maxwell dan kedua tangannya bertopang ke Paha kokoh itu.


Bukannya mendorong atau membentak Evelyne, perlakuan Maxwell justru membuat Mr Plank terhenyak.


Ia mencengkram tengkuk Evelyne lalu mengangkatnya ringan untuk duduk di atas pahanya. Walau cara barusan terlalu ekstrem tapi itu cukup membuat ruangan ini sunyi dan kosong.


"Dad! kau sibuk?" bisik Evelyne berkoala ke pinggang kokoh Maxwell yang hanya diam beralih menatap Mr Plank yang masih dalam mode syok.


"Jika tak ada urusan lain. Kau bisa pergi!"


"Iya. Ini waktunya Leen tidur siang," timpal Evelyne melirik sinis Mr Plank yang seperti orang kebingungan tapi Jirome hanya menipiskan senyuman menautkan Tos dengan tangan Evelyne di belakang punggung Maxwell.


Saat Mr Plank ingin berdiri tiba-tiba saja pintu ruangan itu terbuka memperlihatkan wanita yang tadi ada di lantai bawah.


"Dad kau.."


Degg..


Ia terkejut melihat siapa yang tengah ada di pangkuan Maxwell. Untuk sesaat exspresi wajahnya sama dengan Me Plank yang juga kebingungan akan panggilan Evelyne pada Maxwell tadi.


"K..kau.."

__ADS_1


.....


Vote and Like Sayang..


__ADS_2