
Karna kesal dengan ucapan Dawson dan kehadiran secara tiba-tiba Pria itu akhirnya Evelyne memilih untuk pergi kembali ke jalan Pulang.
Ia menyusuri area pejalan kaki yang juga ada tempat bersepedanya. Sesekali Evelyne tertarik mendengar suara lonceng di Sepeda anak itu karna teringat dengan Pura.
"Kau mau di tabrak. Ha??"
Suara bocah laki-laki yang bersepeda bersama anak seumuran Leen kecil. Evelyne yang ada di tengah jalan hanya diam menatap penuh minat Sepeda warna pink ini.
"Heyy!!! Kau Tulii!!"
"Aku mau benda itu!" gumam Evelyne tak menghiraukan orang-orang yang memandangnya aneh. Rasa penasaran kian meruak menarik dirinya untuk mendekat memeggang Keranjang di depannya.
"Aku ingin ini!"
"Ini Sepeda adikku! Menyingkir dari sini!!" ketus Bocah itu meneriaki Evelyne yang tak suka di bentak. Dengan kasar ia menarik leher baju Bocah ini hingga terjatuh ke bawah.
Anak kecil di belakangnya menangis melihat Kakaknya sampai jatuh sekeras itu dan Sepeda mereka langsung di peggang Evelyne yang memang tak pernah bermain apapun saat kecil.
"Kau jahaat, hiks! Kakaaak!!"
"Aku memang jahat. Hm? turun dari sini!" tukas Evelyne juga menarik tengkuk anak kecil ini untuk turun dari Sepedanya.
Saat Evelyne ingin mendorong benda itu pergi tiba-tiba saja ada yang meneriakinya dari belakang dan itu adalah seorang Wanita paruh baya dan juga Lelaki yang dewasa.
"Kau apakan Anak-anakku. Haa??"
"Mommy!!" teriak dua bocah itu berlari ke arah Wanita yang menatap tajam penuh amarah ke arah Evelyne yang hanya diam memandang ketus.
"Mom! Dia merebut Sepeda kami, dia juga mendorong kami. Mom!" aduan dari mulut Bocah lelaki itu sampai membuat Ayahnya mendekati Evelyne yang tetap di tempat tanpa takut sama sekali.
Pria bertubuh agak kurus dengan tatapan mata lebar ini seakan menelan Evelyne bulat-bulat.
"Kau ingin mengambil Sepeda anakku?"
"Yah. Kenapa?" tanya Evelyne menegaskan kalimatnya.
Mendengar itu Wanita di depan sana langsung memboyong anak-anaknya mendekat dengan rona marah yang jelas.
"Lutut putraku sampai memar dan juga tengkuk Putriku terlukaa!! Seharusnya kau tak menyakiti anak-anak!!"
"Dia yang tak ingin menurutiku!! Kau pikir aku tiba-tiba langsung mendorongnya. Ha??" balas Evelyne bersitegang.
Antara marah, benci dan tak bisa menerima melihat Wanita ini begitu melindungi Anaknya.
"Dia masih kecil!! Kau sudah dewasa, bukan? Apa orang tuamu tak mengajari sopan santun. Haa??"
"JAGA MULUTMUU!!" bentak Evelyne langsung ingin melesat ke arah Wanita itu tapi Pria di dekatnya segera mendorong bahu Evelyne kuat sampai tertolak beberapa langkah ke belakang.
Emosi Evelyne kian meruak melihat dua anak itu ketakutan dan bersembunyi di balik tubuh Mommynya yang juga memperlakukan mereka dengan sangat baik.
"Tadi aku hanya mendorongnya, hm? Sekarang aku AKAN MEMBUNUHNYAA!!"
"Mommyy!!"
Pekik bocah itu kala Evelyne benar-benar tak bisa menahan diri dengan cepat mendapatkan cela ke belakang Wanita itu yang berteriak hebat kala Evelyne mencengkram tengkuk anak-anaknya lalu di seret ke tengah jalan di jalur Mobil.
"Momyyy!!! Hiks, Mommyyy!!"
"Ayo mati bersama. Kalian saudara sekandung-kan?!" desis Evelyne melempar dua bocah itu ke tengah jalan dan alhasil beberapa Mobil yang tadi melaju kencang langsung menginjak Rem mendadak.
"Ada apa ini??"
"Siapa wanita gila itu??"
Teriak mereka melihat aksi nekat Evelyne yang dikerumuni banyak orang. Wanita tadi langsung mengejar dua anaknya yang menangis histeris langsung memeluk tubuh Mommynya.
"Kau sudah gila?? Toloog!! Tolong hakimi wanita ituu!!" teriaknya menunjuk Evelyne yang sudah di kepung banyak orang. Mereka memandang dengan kejam seakan mengatakan jika ia adalah Sampah.
"Kenapa kau melakukan itu?"
"Kau seperti orang tak waras!!"
"Lihat alas kakinya!!"
__ADS_1
"Apa ada orang keluar dengan Sendal kamar mandi?!"
Kelakar beberapa orang yang mengejek Evelyne termasuk memaki dirinya karna berbuat tragis.
Beberapa orang juga mendorong bahu Evelyne ke tengah jalan tapi ia tak jatuh sama sekali. Tatapan netra abu tajam itu masih mengunci dua bocah yang bersembunyi di pelukan Mommynya.
Apa saat Mamaku masih ada dia akan melakukan itu padaku?
Kenapa dia begitu beruntung?
Sebenarnya itu yang sedari tadi menganggu Evelyne. Ia sampai teringat lagi dengan anak-anak yang ada di Pura. Mereka ia bunuh karna memusuhi Leen kecil dan juga semua orang membencinya karna kesalahan Anaknya sendiri.
"Dasar wanita ibliiis!!"
"Kenapa ada manusia sejahat kau?? Haa!!"
Mereka melempar Evelyne dengan sampah di dalam Tasnya begitu juga beberapa batu kecil di dekat kakinya. Evelyne tak bergeming, kedua tangannya mengepal dengan mata berair tapi tak akan jatuh ke pipinya.
"Kurung saja dia di Rumah Sakit jiwa!!"
"Tak ada manusia yang tega melakukan itu!! Dia bukan manusiaa!!"
Maki mereka melempar terus menerus sampai mengenai kepala Evelyne yang juga tak menghindar. Ia menepis darah yang mengalir di pelipisnya begitu juga memar di bagian leher dan dagu tirusnya.
"Mati saja kau sialaan!!!"
Geram Wanita tadi marah segera mengambil Batu yang cukup besar lalu melemparnya ke arah wajah Evelyne.
Tapi, saat hujaman benda keras itu melayang tiba-tiba saja mereka di kejutkan dengan tubuh kekar seorang Pria yang langsung memeluk Evelyne hingga punggungnya yang terkena hantaman benda itu.
"Diaa..."
Evelyne juga tersentak kala tubuhnya di peluk erat melindungi dari lemparan batu-batu yang mengarah padanya.
Wajah Evelyne mengadah bersitatap dengan netra elang tegas milik seseorang yang sangat ia kenal dan tak asing lagi dengan aroma tubuhnya.
"Dia siapa?"
"Dilihat dari luar sepertinya sangat tampan?"
Mereka berhenti melempar dan saat itulah ia langsung mengiring Evelyne pergi ke arah Mobilnya dengan beberapa orang berpakaian hitam terlihat mengamankan suasana yang tadi ricuh.
"Aku agak kenal dengan perawakannya!"
"Dia mirip Presdir Maxwell!"
Gumam mereka memandangi kepergian Mobil yang tadi membawa Evelyne.
Sesuai dengan tebakan tanpa bukti itu nyatanya memang benar. Maxwell yang tadi marah dan ingin menyeret Evelyne pulang seketika tak bisa lagi untuk tak mengomel.
Masker di wajahnya ia buka dan melakukan hal yang sama pada Evelyne.
"Kenapa kau diam saja?? Mereka hampir membunuhmu!!"
Evelyne hanya diam. Ia tak perduli dengan luka di dahinya atau memar di dagu bagian lain. Tatapan datar itu hanya terbuang ke jendela Mobil baja ini.
"Kau selalu bicara kasar dan berbuat sesukamu!! Dan saat itu kau diam tanpa bergerak sekalipun, ada apa denganmu. Haa??" geram Maxwell antara marah dan juga tak bisa membendung rasa cemasnya yang tadi melihat hal itu.
"Apa kau.."
"Hentikan mobilnya!" tegas Evelyne menatap dingin Jirome yang tak pernah sebelumnya melihat tatapan itu.
Ia masih terus melajukan Mobil sampai kedua tangan Evelyne terkepal segera menerjang Kursi kemudi kuat sampai Jirome merasa pundaknya akan patah.
"HENTIKAN MOBILNYAA!! KAU TULI. HAAA??" bentaknya keras dengan mata merah dan mengigil.
Maxwell merasakan tangan Evelyne dingin dan hembusan nafas Wanita ini juga berat. Ntah apa yang terjadi sampai dia semarah ini?!
"Jalanan cukup ramai. Aku tak bisa berhenti!"
"Benarkah?" desis Evelyne ingin membuka Pintu di sampingnya tapi Maxwell langsung menahan pinggang Evelyne yang seketika memberontak.
"Lepaass!!"
__ADS_1
"Kau tak akan kemanapun!" tekan Maxwell mengakui jika seperti ini kekuatan Evelyne membuatnya harus ekstra mengunci kedua lengan jenjang ini ke belakang punggungnya
"Lepaaass!!! Lepaskan akuu!!!"
"Tidak akan." desis Maxwell sampai membuat Evelyne tak tahan lagi. Antara sakit dan juga marah ia benci dengan dirinya sendiri.
"Aku..aku tak ingin merasakan ini!! Seharusnya dia tak ikut bercampur dengankuu!!" teriak Evelyne membenturkan kepalanya ke dada bidang Maxwell yang tahu jika Evelyne tak suka dengan jiwa Leen. Darah itu sampai mengenai kemejanya.
"A .aku tak ingin merasakannya! Aku tak ingin," gumam Evelyne dengan suara parau dan terdengar sangat rendah.
Ia berusaha tak menangis karna ia benci air mata. Sekuat tenaga Evelyne memejamkan matanya untuk melepaskan rasa sesak dan air mata yang ingin keluar padahal sebelumnya ia tak pernah begini.
Aku bukan dia! Aku tak selemah itu, aku tak akan menangisi mereka. Tidak akan!
Itulah kalimat yang selalu ia tekankan pada dirinya sendiri. Ia tak mau siapapun melihat sisi rapuhnya termasuk Maxwell yang pasti akan mengasihaninya.
"Aku.. Aku tak selemah itu!" gumam Evelyne ingin menarik diri dari Maxwell tapi pelukan Pria ini sangat erat seakan tak memperbolehkan Evelyne menjauh sesenti saja.
"Menangislah!"
Evelyne diam mendengar bisikan lembut di telinganya. Ia meremas punggung Maxwell dengan bibir rapat berusaha tertarik membentuk senyum remeh dan mata penuh dengan ambisi.
"Menangis. Cih!" umpat Evelyne tak melakukan itu. Sekali ia bisa menahan akan ia lakukan dan itulah yang membuat dirinya di penuhi oleh kebencian.
"Aku tak akan menangis. Mereka siapa bisa melakukan itu padaku."
"Sampai kapan kau akan kuat memendamnya. Hm?"
Batin Maxwell yang juga merasakan itu. Hanya saja ia melepaskan dengan cara Minum dan berbuat seenaknya.
"Aku tak menangis... Tidak akan," gumam Evelyne menggesekan wajahnya ke dada Maxwell karna ia tak suka dengan mata berkaca-kaca ini.
Maxwell-pun tak keberatan. Ia mengusap kepala Evelyne yang untuk kesekian kalinya merasa nyaman sampai melupakan beberapa kejadian pahit yang lalu.
Ia membiarkan Maxwell mengusap darah di keningnya dengan Tisu dan sesekali meniupnya.
"Boleh aku menciummu?" lirih Evelyne membuat Maxwell tersentak dengan tisu yang ia peggang jatuh. Tiba-tiba saja ia merasa gugup karna Evelyne terlalu lancang dan tak malu-malu memintanya.
"Pikiranku kacau! Bisa ku lakukan padamu?"
Tanya Evelyne ingin membenahi otaknya. Maxwell diam sesaat melihat ke kiri kanan dimana ini mulai sepi.
"Kau yakin ingin melakukan itu di.."
Ucapan Maxwell tercekat kala Evelyne sudah menarik tengkuknya agar menunduk. Alhasil kening keduanya saling bersentuhan dengan jarak bibir nyaris bertaut.
"Aku suka bibirmu!" lirih Evelyne langsung memangut lembut membuat Maxwell harus mencengkram pinggangnya.
Kalimat Evelyne barusan membuat dada Maxwell menggebu sampai memasrahkan dirinya dengan mata terpejam melayani ciuman liar Evelyne yang kemaren kaku tapi sekarang sudah benar-benar terlatih.
Ia sudah bisa bermain lidah dan tangannya tak bisa diam di satu tempat.
Jirome yang mendengar suara decapan erotis itu langsung memasang musik di telinganya seraya menurunkan kaca depan agar tak membuatnya iri.
"Tadi kau ingin menyeretnya Tuan, tapi sekarang kau yang di seret,"
Batin Jirome sampai mengulum senyum. Saat pergi tadi Maxwell seakan kesetanan marah-marah tak jelas. Tapi, saat sudah dihadapkan dengan Iblis betina itu ia tak berkutik sama sekali.
Seakan tak menganggap keberadaan Jirome sama sekali keduanya lebih asik saling mencumbu tapi masih dalam batas normal. Maxwell beberapa kali menahan tangan Evelyne agar tak bergerak ke bawah karna akan bahaya jika itu terjadi.
"Apa kau tak mau melakukan itu?" bisik Evelyne tanpa malu sama sekali menawarkan tubuhnya. Ia senang saat Maxwell menyentuhnya dan tak ada masalah untuk hal apapun.
Apa kau gila menawarkannya padaku? Aku tak ingin merusak mu. Ceroboh.
Benak Maxwell sekuat tenaga menepis ajakan maut Evelyne. Ia juga Pria normal tapi masih sangat menghargai tubuh wanita ini.
Ciuman panas itu akhirnya terlepas dengan deru nafas keduanya sudah tak stabil. Wajah Maxwell sampai merah begitu juga Evelyne yang juga sudah dewasa.
"Aku belum pernah melakukan hal itu. Aku penasaran dengan caranya!"
"Jangan bicara lagi!" cegah Maxwell membekap mulut Evelyne yang membuatnya merinding. Wanita ini selalu penasaran dengan apapun dan ingin melakukannya tanpa tahu akibat besar dari cara itu.
........
__ADS_1
Vote and Like Sayang..