My Little Devil

My Little Devil
Kebencian Violet!


__ADS_3

Para Pengawal yang tadi membawa Nyonya Meeiner ke Rumah Sakit terlihat pucat karna kemarahan Tuan Fernandez di dalam sambungan Ponsel ini. Pria itu benar-benar benci dan muak akan sikap keras kepala Nyonya Meeiner yang sialnya lagi-lagi menemui Maxwell.


"Tuan besar! Nyonya pingsan tanpa sebab setelah menemui Tuan Maxwell!"


"Aku tak ingin tahu tentang apapun. Jangan biarkan dia bertemu dengan Pria itu lagi dan jika dia masih kekeh bawa ke Penginapan dan kurung dia!!"


Keras Tuan Fernandez seperti tak punya hati sama sekali berkata seperti itu. Dua Pengawal setia Nyonya Meeiner-pun sampai saling pandang tak bisa berbuat apa-apa.


"Tuan! Nyonya masih pingsan. Apa kau akan datang kesini untuk.."


"Dia bisa mengurus dirinya sendiri!! Jalankan perintahku!"


Tegasnya lalu mematikan sambungan. Keduanya menghela nafas dalam berdiri tepat di depan Pintu yang mana sesosok yang tadi sudah sadar dan bersiap ingin pergi itu hanya bisa mematung di dekat Pintu.


Air matanya keluar dengan dada terasa sangat sakit. Sekuat tenaga ia pejamkan mata untuk meredam luka yang selama ini ia tahan agar tak terlihat keluar.


Kenapa rasanya masih sakit? Padahal sudah bertahun-tahun kau memperlakukan aku seperti itu.


Batin Nyonya Meeiner sungguh teriris. Ditariknya senyum hangat itu segera menghapus sisa air mata yang lewat di pelupuk netra indahnya lalu membuka Pintu ini.


Dua Pengawal yang tadi tengah berpikir seketika tersentak kala melihat Nyonya-nya sudah berdiri dengan wajah masih pucat.


"Nyonya!"


"Nyonya apa anda baik-baik saja?" tanya Temmi dan Recle. Keduanya terlihat masih berumur kepala tiga dan mempunyai wajahnya yang sangar


"Aku ingin pulang!"


"Tapi, apa anda ..."


"Aku baik-baik saja," sela Nyonya Meeiner hanya tersenyum hangat berjalan melewati mereka. Tepat saat ia sudah ingin menjauh dari Pintu tiba-tiba saja Dokter Karren muncul dan segera memeggang bahu Wanita ini.


"Nyonya! Kenapa kau keluar?"


"Aku baik-baik saja. Hanya pusing sedikit itu tak masalah," tolak halus Nyonya Meeiner memeggang lengan Dokter Karren si Pria muda berkacamata ini.


"Tapi, kau masih belum sehat. Tekanan darahmu rendah. Biarkan semuanya stabil baru kau bisa pulang. Nyonya!"


"Aku baik-baik saja," tegas Nyonya Meeiner tapi sedetik kemudian ia merasa kepalanya sangat sakit hingga nyaris terjatuh tapi untung saja Temmy dan Recle sigap menahannya.


"Bawa Nyonya kembali ke dalam ruang rawat!" pinta Dokter Karren yang cemas karna suhu tubuh wanita ini begitu dingin.


"Aku..aku baik- baik saja," lirihnya tapi tak di pedulikan Temmy dan Recle yang memapah Nyonya Meeiner kembali ke ruang rawatnya.


Wanita malang itu di baringkan di dalam sana sedangkan Dokter Karren kembali memasang infus Vitamin dan Infus biasa di kedua tangan Nyonya Meeiner yang begitu merasa lemas.


"Nyonya! Kami mohon mengertilah. Kondisi tubuhmu sangat tak stabil. Kemaren tekanan darahmu sudah normal tapi sekarang begitu rendah."


"Aku hanya perlu istirahat!" gumam Nyonya Meeiner memejamkan matanya membiarkan Dokter Karren memeriksanya kembali.


Saat di rasa Wanita ini butuh istirahat yang cukup ia segera meminta Temmy dan Recle untuk pergi menghubungi kerabat atau Putri Nyonya Meeiner untuk datang.


"Kalian hubungi Nona Violet atau Tuan Fernandez. Nyonya butuh keluarganya sekarang!"


"Baiklah!"


Mereka keluar dan beberapa menit kemudian di ikuti Dokter Karren yang menutup Pintu ini dengan perlahan dan pergi.


Alhasil hanya tinggal Nyonya Meeiner yang membuka matanya karna tergganggu dengan deringan Ponsel di dekat nakas Ranjang rawat.


Ia meraih benda pipih itu dan senyumnya terbit melihat nama Gadis imut yang memberi warna pada harinya ini. Siapa lagi kalau bukan Wanita Iblisnya Maxwell dan Wanita Purba Jirome.


"Hm. Hello sayang!"


"Kau baik-baik saja? Bagaimana keadaanmu? Apa kau sudah di Rumah Sakit?"


Cecer Evelyne yang terdengar cemas. Nyonya Meeiner hanya tersenyum melihat kedua punggung tangannya dipasang infus.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?"


"Aku tak perlu kau pedulikan. Kau jangan dulu banyak berpikir nanti aku akan mengurus Maxwell. Kau tenang saja!"


Seketika Nyonya Meeiner diam. Ia sangat merasa bersalah pada Maxwell yang pasti begitu membencinya. Sebenarnya itu pantas terjadi karna Keluarganya juga terlalu kejam mengeluarkan Camilia dari anggota Keluarga Wesley.


"Dia itu hanya terlalu menyayangi Mommynya yang meninggal dengan mengerikan. Hanya itu dan aku akan berusaha membuatnya mengerti!"


"Terimakasih. Kau sangat baik!"


"Aku tak sebaik itu. Hanya ada keuntungan saja jadi aku melakukan ini!"


Nyonya Meeiner hanya tersenyum karna ia tahu Evelyne bukan tipe Wanita yang bisa bermanis mulut tapi hatinya sangat baik. Mereka berbincang kecil dan sesekali Nyonya Meeiner tersenyum mendengar makian Evelyne pada Tuan Marcello dan itu sangat menghiburnya.


Setelah beberapa lama Evelyne pamit dan tentu Nyonya Meeiner tak bisa menolaknya. Mereka menyudahi obrolan konyol itu hingga suasana hati Nyonya Meeiner kembali tenang.


"Seandainya Evelyne mau jadi anakku aku pasti akan sangat senang!"


"Angkat saja dia jadi anakmu!"


Deggg..


Nyonya Meeiner terkejut mendengar suara Violet. Ia melebarkan matanya melihat Violet yang sudah berdiri di depan Pintu sana dengan tatapan lukanya.


"V..Violet! Kau ..kau kapan datang? Sayang!"


"Kenapa Mommy begitu dekat dengan Wanita itu?? Dia yang membuat Rumah Tanggaku hancur. Mom!! Kenapa Mommy sejahat ini padakuu??" teriak Violet merasa jika ucapan Tuan Marcello benar. Evelyne ingin mengambil Keluarganya dari dirinya. Wanita itu ingin menghancurkan hidupnya.


"Violet! Apa yang kau katakan? Nak! Mommy tak merasa dia jahat dan.."


"Dia jahat Mom!! Dia hanya baik karna ada maunya padamuuu!!! Tukas Violet menggemparkan ruangan ini termasuk Temmy dan Recle yang tadi menghubunginya.


Air mata Nyonya Meeiner meluncur kembali dan ia menggeleng tak membenarkan ucapan Violet barusan.


"Dia tak jahat. Violet! Cobalah kau mengerti dan.."


"Dan apa Moom?? Kau menyesal karna aku Putrimu dan bukan Evelynee. Haa??"


Bukannya merasa kasihan dengan keadaan Nyonya Meeiner yang terlihat sangat depresi, Violet justru hanya memikirkan tentang dirinya sendiri.


"Aku benci Mommy!! Aku sangat membencimu. Moom!!!" bentaknya lalu berbalik pergi.


"V..Viii.. Vii dengarkan Mommy. Naak!! Mommy minta maaf padamu!!" isak Nyonya Meeiner ingin turun tapi Temmy segera menahannya sedangkan Recle mengejar Violet.


"Nyonya! Tenangkan diri anda!"


"Tidak.. Dia.. Dia marah padaku. Hiks! Vi..Violeet!" gumam Nyonya Meeiner terlihat mulai merasakan sakit di kepalanya kembali.


"Nyonya! Aku akan memanggil Dokter dan anda tenanglah disini!"


"V..Violet!" lirih Nyonya Meeiner memejamkan matanya terbaring lemah di atas Ranjang ini. Temmy segera berlari keluar karna keadaan sangat darurat dan ia juga harus mendesak Tuan Fernandez untuk datang walau nyawa taruhannya.


"V..Violet!"


"Apa kau tak lelah?"


Degg..


Nyonya Meeiner seketika terkejut mendengar suara itu. Ia membuka matanya dan sontak jantungnya berpacu cepat melihat siapa yang sekarang berdiri dengan tubuh gagah dan kharisma tak terbantahkan.


"K..kau.."


Wajah datar Tampan itu tak bergurat apapun. Langkahnya mendekat dengan hawa yang sangat kelam dan tak bersahabat.


"M..Max!"


Gumam Nyonya Meeiner menatap netra tajam Maxwell yang terlihat sangat misterius. Ia merasakan kehadiran Pria ini tak bisa dideteksi sama sekali. Ia hanya merasakan hawa sesak dan intimidasi dari kedatangannya.

__ADS_1


"Kau ingin membayar kesalahanmu?" tanya Maxwell dan segera diangguki oleh Nyonya Meeiner yang sangat ingin Maxwell memaafkannya. Ia merasa sakit setiap netra elang ini memandangnya penuh kebencian dan dendam yang membara.


"Maafkan aku! Aku akan.. Aku akan melakukan apapun asal kau memaafkan-ku!"


"Kau yakin?" tanya Maxwell masih dengan intonasi datarnya.


"Iya. K..katakan!! Katakan padaku!" desak Nyonya Meeiner penuh rasa sakit.


Maxwell tak langsung menjawab. Wajah pucat ini terlihat tak berdaya bahkan tiba-tiba Maxwell merasakan sesak di dadanya.


Tidak. Aku hanya merasa sakit karna dia mirip dengan Mommy. Aku tak bisa mundur lagi!


Tegas Maxwell membatin. Ia sudah mengambil keputusan dan itu tak akan ia sia-siakan setelah menunggu selama bertahun-tahun lamanya.


"N..Nak! Aku.. Aku mohon maafkan aku. Maaf!"


"Kau harus mengembalikan nama baik Mommyku!"


"Baik! Aku.. Aku akan melakukannya. Camillia adalah adikku dia adikku dan kau juga Putra bagiku!" gumam Nyonya Meeiner dengan suara bergetar meraih lengan kekar Maxwell yang masih mengepal erat.


Ia tak bergeming dan hanya membiarkan Nyonya Meeiner memeggangnya dengan rasa bahagia karna Maxwell mau memaafkannya.


"N..Nak! Maafkan aku, aku.. Aku tak pernah ingin ini semua terjadi. Maafkan aku!"


"Kenapa rasanya sangat sakit?"


Batin Maxwell merasa sentuhan Nyonya Meeiner membuatnya ikut masuk dalam tangisan Wanita ini. Tangannya di genggam hangat dan Nyonya Meeiner berusaha bangkit dari baringannya dan langsung memeluk pinggang kokoh Maxwell yang hanya diam tanpa berbicara sepatah-katapun.


Aku tahu kau pasti sangat merindukan Ibumu. Nak!


Batin Nyonya Meeiner teriris. Ia memeluk erat tubuh kekar ini sampai tak terasa Maxwell juga merasakan sensasi aneh dalam dirinya. Dada terasa sempit dan mata memanas, tapi kenapa? Bukankah seharusnya ia membenci Wanita ini?!


"Kau tahu?"


"M..Max!"


"Mommyku bunuh diri!" gumam Maxwell dengan mata tak bergurat apapun tapi tangannya terus terkepal membuktikan Maxwell tengah menahan luka di hatinya.


"B..Bunuh diri?"


"Hm. Dia menjatuhkan tubuhnya dari atap Rumah yang tinggi hingga darahnya menyusuri lantai. Kau pernah melihat itu?" tanya Maxwell menyunggingkan senyum nanar tapi jelas ia sangat ingat bagaimana detailnya.


"Aku menahan kepalanya agar tetap utuh dan darah itu memandikan tubuhku. Sangat menyenangkan bukan?"


"M..Max. Hiks!"


"Seandainya kau melihat dengan matamu. Pasti kau akan tertawa, bukan?"


"T..tidak. Aku.. Aku minta maaf hiks. Maaf!"


Maxwell tak menjawab. Ia melepas paksa pelukan Nyonya Meeiner lalu pergi dengan mata sudah merah dan segera ia normalkan.


Terdengar suara isakan Nyonya Meeiner di dalam sana tapi Maxwell masih membatu di luar ruangan. Jirome yang tadi merekam semua itu hanya bisa diam merasa Tuannya terlalu kejam.


"Tuan!"


"Kirim itu pada Fernandez tanpa suara. Katakan jika Istrinya bekerja sama denganku untuk menghancurkannya!" tegas Maxwell tanpa mau menatap Jirome.


Ia pergi membawa rasa sesak yang tiba-tiba tak mau hilang dari dadanya. Mata Nyonya Meeiner seperti malaikat memandangnya tapi ia tak akan terpengaruh dengan itu semua.


.......


Di tempat yang berbeda Evelyne sudah jauh pergi meninggalkan Resto. Ia tadi memang makan di sana bersama Yello yang menemaninya. Saat Wanita itu ingin membayar Evelyne segera pergi karna ia harus menemui Tuan Fernandez untuk menjelaskan semuanya.


"Maxwell pasti tak akan menerima begitu saja. Sebelum masalah ini berlarut-larut aku harus lebih dulu menyelesaikannya," gumam Evelyne sudah ada di dalam Mobil yang ia kemudikan secara ugal-ugalan.


Ia tak terlalu paham tapi ingatannya tepat mengarah pada cara Maxwell mengemudi. Walau keteteran tapi Evelyne mengusahakan tak menabrak apapun.

__ADS_1


Ia ingin pergi ke Villa Tuan Fernandez yang sudah ia tanyakan sebelumnya pada Nyonya Meeiner. Ia sudah mencari informasi dari dulu bahkan hanya menunggu Maxwell pergi dan tak mengawasinya.


Vote and Like Sayang..


__ADS_2