My Little Devil

My Little Devil
Kakak Buatan


__ADS_3

Rapat bersama dewan direksi yang tadi menunggu kedatangan Maxwell berjalan dengan lancar. Rekaman pernyataan Tuan Marcello tengah ada dalam kurungan jeruji yang di setting pada anggota itu membuat mereka terkejut bahkan tak menyangka jika Tuan Marcello bisa sepicik itu.


Disini juga mengungkap fakta jika Maxwell bukankah anak kandungnya sekaligus kesaksian penuh dari bukti DNA yang sudah di lakukan sebelumnya.


"Presdir! Kami sangat senang jika anda bertanggung jawab penuh akan masalah ini!"


"Yah. Permasalahan ini seharusnya cukup membuat saham naik turun tapi anda bisa mengatasinya dengan cepat."


Ucap mereka pada Maxwell yang hanya mengangguk. Tak jarang ia menjawab beberapa pertanyaan itu-pun tak terlalu panjang yang penting rapat ini cepat selesai.


Mr Demar dan Alexs yang sedari tadi membahas masalah ini menangkap kegelisahan Maxwell. Mereka seakan tahu jika pria berwajah rupawan dan tegas ini tengah buru-buru.


"Presdir! Apa ada masalah?"


"Tuan harus menghadiri pers! Jika meeting sudah selesai dan tak ada lagi pertanyaan dari kalian maka harus segera di akhiri," jawab Jirome mengambil alih.


Pasalnya disini juga ada para wanita yang tampaknya sedari tadi sangat mengagumi Maxwell yang akhirnya berdiri tanda embel-embel nama tua bangka itu.


"Maaf, Presdir! Tapi, akhir-akhir ini kami tak melihat keberadaan Nona Violet. Dimana dia?" tanya Alexs pria berkebangsaan italia yang tampak cukup penasaran.


"Yah. Setelah rumor perceraian kalian kami jadi jarang melihatnya. Kami pikir.."


"Pertemuan ini selesai!" sela Jirome karna melihat wajah dingin Maxwell yang belum mau mempublish kebenaran. Ia hanya duduk di kursinya membiarkan para dewan ini bicara walau kakinya sudah sedari tadi ingin pergi.


Tentu karna waktu juga terlalu lama akhirnya mereka menyudahi basa-basi ini. Satu persatu pamit menyalami Maxwell sebagai bentuk kerjasama yang menguntungkan.


Saat giliran para Nyonya-nyonya berpandangan liar itu Maxwell menyerahkannya pada Jirome.


"Kau ambil alih!"


"Mengerti. Tuan!" jawab Jirome membiarkan Maxwell pergi ke area dinding kaca di ruang meeting beralih sibuk dengan ponselnya.


Para wanita itu saling pandang tak berani mendekat hingga mereka hanya berpamitan pada Jirome yang hanya bicara seadanya.


"Tuan! Kau harus ke lantai 9. Mereka menunggu anda di sana!"


Seru Jirome tapi Maxwell hanya diam. Wajahnya terlihat lebih santai kala melihat foto Evelyne dan si mungil kebanggaannya tengah tertidur lelap dalam satu ranjang yang di kirim Nyonya Meeiner padanya.


Jirome sudah menebak. Pasti yang menjadi mood buster Maxwell hanya Evelyne dan Baby Leen.


"Tuan! Selesaikan pekerjaanmu dengan cepat agar kau bisa pulang lebih awal!"


"Hm."


Gumam Maxwell menyimpan kembali ponselnya. Ia berbalik kembali mendekati meja setengah bundar mahal itu meraih segelas kopi yang tadi belum ia minum.


"Tuan! Kau ingin dekorasi kamar yang seperti apa? Hunter menanyakan itu kemaren," tanya Jirome bersemangat.

__ADS_1


Maxwell sudah membangun kediaman khusus untuk mereka dan berencana pindah setelah Evelyne benar-benar sehat sediakala.


"Semuanya sudah siap?" tanya Maxwell seraya menegguk kopi di gelasnya.


"Hanya tinggal mendekorasi kamar tuan dan nona kecil! Semua yang tuan inginkan sudah di buat di sana dan aku yakin Evelyne pasti akan senang."


"Bukan akan," gumam Maxwell meletakan kembali gelas itu dengan pandangan optimisnya.


"Sangat!" imbuhnya sudah tak sabar ingin memboyong keluarga kecilnya ke sana. Jirome-pun merasa demikian. Hatinya lega karna semuanya berjalan baik walau ada beberapa masalah kecil itu tak menghalangi apapun.


"Berikan semua fotonya padaku. Dua hari lagi aku akan melihatnya!"


"Baik. Tuan!" jawab Jirome mengikuti langkah tegas kaki kokoh Maxwell keluar dari ruangan meeting. Di dekat lift sana sudah ada sekertaris Ireein yang tampak menunduk menyapanya.


"Presdir!"


"Hm."


"Kita kedatangan tamu," jawab Ireein mengikuti Maxwell ke dalam lift bersama Jirome yang hanya mendengarkan kala wanita cantik berpakaian formal membawa Ipad berlogo setengah apple itu.


Respon Maxwell tak begitu penasaran karna ia memikirkan hal lain. Tapi, saat sekertaris Ireein menyebut nama seseorang ia langsung sadar.


"Tuan Leonard dari BeI An Corporation. Presdir!"


"Kenapa dia datang kesini?" gumam Jirome tampak tak suka apalagi Maxwell yang sedari lama memang tak pernah bisa berdamai dengan para lelaki yang dekat dengan istrinya.


"Biarkan dia menunggu," tegas Maxwell yang tahu pasti tujuan kedatangan Leonard. Putri kebanggaannya baru saja lahir dan dia sudah ingin mencari pendamping. Cih, sama sekali tak tertolong.


Tak lama setelahnya lift-pun terbuka. Maxwell langsung pergi ke ruang pers sementara sekertaris Ireein harus menangani Leonard yang di suruh menunggu.


"Tuan! Apa perlu aku mengurusnya?" tanya Jirome di sela langkah mereka.


"Biarkan saja."


"Dia akan mengganggu Evelyne lagi. Bagaimana?" tanya Jirome. Maxwell meliriknya tajam dan sontak Jirome membisu mengunci mulutnya rapat masuk ke dalam ruangan pers.


Suasana tempat luas nan elegan ini begitu ramai dimana para media sudah duduk di kursinya masing-masing. Saat Maxwell menaiki mimbar khusus untuknya maka dari situlah kamera datang menyorot.


"Silahkan Presdir!" seru Monic staf khusus yang menangani ini. Maxwell duduk dan barulah suasana menjadi sunyi.


Semua media masih fokus mengambil gambar karna aturan sudah di tetapkan jika ada beberapa sesi sesuai prosedur pers.


"Semuanya bisa duduk kembali dan mulailah ajukan pertanyaan!" arahan Monic karna Maxwell hanya memberi 10 menit itupun masih belum cukup bagi mereka.


Karna di buru oleh waktu satu persatu pertanyaan mulai muncul. Semuanya bersemangat tapi juga hati-hati karna mereka tahu presdir MCC ini tak suka membahas tentang masalah rumah tangganya.


"Presdir! Apa benar rekaman vidio yang beredar itu adalah pernyataan asli dari Tuan Marcello?"

__ADS_1


Maxwell diam sejenak. Tatapannya begitu tenang dan sedingin lautan es yang tengah membeku menunggu penghangat di rumah sakit sana.


"Jika itu benar. Apa yang akan anda lakukan?"


"Benarkah MCC akan sepenuhnya menjadi milik anda?"


"Apakah dewan direksi menyetujuinya?"


Melihat para media yang mulai kehilangan aturan Monic ingin menyangga tapi Maxwell sudah lebih dulu mengangkat satu tangannya tegas. Alhasil Monic mengangguk membiarkan semuanya berjalan.


"Terkait rekaman vidio yang beredar itu adalah sebuah kebenaran!" tutur Maxwell tanpa ragu. Mereka saling pandang tapi merekam semua itu untuk di jadikan berita booming.


"Marcello sejatinya tak punya saham apapun di perusahaan ini. Sejak lama perusahaan sudah bangkrut tapi aku membelinya dengan sangat mahal. Koreksi pertanyaan kalian!" tegas Maxwell dan mendapat anggukan dari para media.


"Lalu, bagaimana kronologinya Tuan? Apa mungkin jika kalian di tukar atau semacamnya?"


"Sesuai yang ada di vidio itu. Aku hanya menegaskan jika MCC sama sekali tak ada kaitan dengan Marcello. Perusahaan ini murni hasil pencapaian masing-masing devisi dan pimpinan. Dewan direksi juga telah menyetujuinya!" jawab Maxwell dan Jirome menghidupkan layar di belakang Maxwell dimana ia menjelaskan bagaimana hasik keputusan direksi tadi.


Sedangkan Maxwell, ia melirik kehadiran seseorang di dekat pintu ruangan yang tampak melihat pers kali ini.


"Kau ambil alih!" titah Maxwell pada Jirome yang mengangguk menjelaskan semuanya. Ia membeberkan bukti-bukti tes DNA Maxwell dan Violet sekaligus tuan Marcello.


Awalnya mereka sampai syok karna bukti-bukti perselingkuhan tua bangka itu juga tak Maxwell rahasiakan sama sekali.


"Kau sangat kejam," seru Leonard menatap Maxwell yang sudah berjalan keluar dari ruangan itu.


Wajah tampan datar seperti biasa dengan hawa tubuh mendominasi. Ia sampai lupa jika mereka pernah bertarung dan kekalahannya hal yang memalukan.


"Aku tak menerima tamu."


"Aku bukan tamu-mu. Aku hanya ingin menjenguk adikku dam ternyata pria yang ia agung-agungkan itu tengah membongkar aib seseorang dengan tak berperasaan," ledek Leonard tapi Maxwell seperti biasa tak terpancing.


"Dia sedang istirahat! Tak ada waktu untuk menemui mu."


"Kau lupa? Aku ini kakak Evelyne!" tekan Leonard. Maxwell menatapnya seperti orang asing dan acuh.


"Dia tak punya siapa-pun kecuali SUAMINYA."


Penuturan Maxwell hampir membuat tawa renyah Leonard menyembur. Ntah sampai kapan imajinasi pria ini akan berhenti?!


"Cih. Khayalan mu sangat berbahaya!"


"Itu lebih nyata dari pada kakak buatan," sarkas Maxwell halus tapi mengena di hati Leonard yang harus menelan kekalahan.


...


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2