My Little Devil

My Little Devil
Kakak adik


__ADS_3

Setelah menempuh beberapa lama perjalanan. Akhirnya mereka sampai ke Restoran Crystial Cove yang hari ini ramai. Banyak pengunjung yang datang karna Resto khas Itali ini memang terlihat mewah dan elegan.


Terbukti dengan desain Eksterior yang sederhana tapi masih kental akan unsur klasik dan bercampur Moderen dari pelayanan dan pakaian para Waiters yang tengah bekerja.


"Ini berbeda dengan tempat penyerangan dulu-kan. Max?" tanya Evelyne tengah di genggam tangannya oleh Max yang mengangguk seadanya.


Mereka berjalan masuk ke pintu Resto hingga mata kembali di manjakan dengan Interior hangat dari lampu yang di tata di atas langit-langit Resto. Walaupun ini masih siang tapi mereka seperti masuk dalam ruang makan Eropa.


"Selamat datang Tuan, Nona!" ucap para Pelayan Resto menyambut hangat dan mengiring mereka ke arah meja Privat yang telah di pesan oleh Nyonya Meeiner.


Banyak orang yang memperhatikan mereka dengan tatapan bingung sekaligus berminat. Walau wajah mereka tertutup Masker tapi Postur tubuh sempurna itu tak bisa ditepis sama sekali.


"Mereka siapa?"


"Pasti tampan dan cantik!"


"Prianya sangat tinggi, aku suka tubuhnya!"


Puji para wanita yang duduk di kiri kanan mereka dan Evelyne mendengar itu. Ia ingin mendekat tapi genggaman tangan Maxwell menariknya fokus untuk pergi ke area Privat Cove yang di sediakan.


"Mereka itu memang ingin dikuliti!"


"Abaikan saja!" bisik Maxwell mengiring naik ke atas tangga kayu yang terlihat begitu rapi dan coklat tua mengkilap.


Mereka di bawa ke lantai atas Resto dimana tak ada dinding tebal melainkan hanya kaca separuh memperlihatkan pemandangan di luar sana. Terlihatlah Nyonya Meeiner yang tengah duduk di kursi dekat kaca menatap mereka dengan pandangan hangat.


"Nak!"


"Tempatnya bagus dan segar!" puji Evelyne meresapi angin yang berhembus dari luar. Ia berjalan mendekat dengan Maxwell yang menarik kursi meja makan bulat tepat bersebelahan dengannya.


"Aku mau duduk di sana!" pinta Evelyne melihat penyangga kaca yang bisa saja pecah.


"Disini saja!"


"Tapi, itu segar dan.."


Evelyne berhenti bicara karna melihat tatapan tajam Maxwell yang membuatnya segera duduk di kursi yang tadi telah ia sediakan.


"Baiklah. Aku duduk disini!"


"Hm."


Maxwell duduk di kursi samping berdekatan dengan Evelyne yang membuat Nyonya Meeiner tersenyum halus. Ia baru melihat sikap perhatian Maxwell pada seorang Wanita.


"Kau ingin makan apa? Nak!" tanya Nyonya Meeiner menyodorkan buku menu ke arah Evelyne yang dengan semangat mengambilnya.


Tujuan pertama Evelyne ada Ice Cream dan itu tak luput dari pantauan Maxwell yang juga melihat dengan teliti.


"Aku mau ini.. Ini .. Ini dan.."


"Vanila Combo 1!" sela Maxwell memerintah pada Pelayan yang tadi menunggu di belakangnya.


"Maksudnya apa? Aku mau ini semua!"


"Satu saja!" tegas Maxwell membuat Evelyne langsung mendengus. Ia ingin kembali protes tapi Buku menu itu sudah ada di tangan Maxwell yang memilih makanan beratnya.


"Pasta tagliatele sama pizza capriacini!"

__ADS_1


"Minumnya Tuan?" tanya Pelayan itu sopan.


"Mharaschino dan Vanila Latte!" pinta Maxwell menutup Buku Menu itu lalu menatap Nyonya Meeiner yang sudah lebih dulu memesan Exspresso yang masih penuh.


"Aku masih kenyang. Kalian bisa lanjutkan!"


"Itu saja!" ujar Maxwell menyandarkan tubuhnya ke kursi ini seraya membuka Maskernya. Pelayan itu sempat terkejut melihat wajah Maxwell yang pastinya sudah mereka kenal sebagai seorang Milyuner muda yang berbakat.


"Kau tak ingin pergi?!" ketus Evelyne dan segera di angguki secara kaku oleh Pelayan itu.


Evelyne membuka Maskernya hingga wajah cantik beraut masam itu terlihat jelas di mata mereka.


"Kenapa? Kau ingin makan apa? Nak!"


"Dia itu pembohong. Tadi dia bilang boleh tapi sekarang bersikap seenaknya," ketus Evelyne melirik sinis Maxwell yang langsung menjentik keningnya.


"Kauu.."


"Aku hanya mengatakan boleh bukan berarti kau makan semuanya!" jawab Maxwell tapi Evelyne tak menganggapnya seperti itu.


"Tapi aku sudah besar. Gigiku juga kuat tak seperti Leen!"


"Hm," acuh Maxwell memilih untuk bermain Ponsel. Alhasil Evelyne segera pindah tempat duduk di samping Nyonya Meeiner hanya bisa tersenyum melihat pertengkaran manis anak muda ini.


"Aku disini saja. Dia itu menyebalkan!"


"Dia benar. Sakit gigi tak memandang usia, Nak!" peringat Nyonya Meeiner mengusap kepala lengan Evelyne hangat.


Hal itu mendapat tatapan serius Maxwell yang kembali menyimpan Ponselnya di dalam saku Jaket.


"Kenapa dia marah?" tanya Nyonya Meeiner tapi Maxwell tak menjawab hingga helaan nafas tenang itu terdengar kepermukaan.


"Marah atau tidak itu bukan masalah besar. Yang penting aku berdiri di tempat yang benar."


"Iya. Aku setuju!!" sambar Evelyne ikut menimpali. Maxwell hanya diam dan tak bisa percaya begitu saja. Ia masih belum melupakan permusuhannya dengan Tuan Fernandez apalagi Dawson.


Nyonya Meeiner juga tahu kewaspadaan Maxwell itu sangat wajar. Ia juga tak mempermasalahkannya.


"Nak! Kau bilang ingin menunjukan sesuatu. Bisa kau perlihatkan sekarang?"


"Ouh. Iya! Sebentar!" gumam Evelyne mengulurkan tangannya pada Maxwell yang segera mengeluarkan Ponsel mencari Foto Ibunya yang tadi ia ambil dari kamar.


Evelyne menunjukan Ponsel itu pada Nyonya Meeiner yang sejenak hanya biasa saja tapi sedetik kemudian ia terkejut.


Respon Nyonya Meeiner membuat Evelyne dan Maxwell saling pandang heran.


"Kau kenal?"


"Dari mana kau mendapatkan Foto ini? Dari mana?" cecernya dengan mata berkaca-kaca terus memperjelas Foto seorang wanita cantik bermata besar hangat dengan rambut pendek tengah menggendong seorang bayi laki-laki.


"Memangnya kenapa?"


"Ini.. Ini Adikku!"


Duaarr...


Seketika Maxwell terkejut hebat bahkan matanya sampai tak berkedip menatap Nyonya Meeiner yang menangis.

__ADS_1


Evelyne tak begitu terkejut karna ia sudah menduganya sejak awal pertemuan ini.


"Dimana? Dimana dia sekarang? Aku mohon beritahu aku!"


"Dia.."


"Kau jangan membuaall!!" geram Maxwell tak suka Mommynya di permainkan. Wanita itu adalah mahkota tertinggi dalam hidupnya.


"Membual apanya? Aku sudah lama mencari Camillia dan selama ini tak ada kabar apapun. Apa kau tahu dia dimana?" cemas Nyonya Meeiner sampai gemetar memeggang Ponsel Maxwell.


"D..dimana dia? Aku..aku akan sangat berterimakasih jika.."


"Dia bukan bagian dari Keluarga Terkutuk seperti kalian!" geram Maxwell tak mau menerima itu. Walau ia sadar jika ada kemiripan wajah antara Mommynya dan Nyonya Meeiner tapi Maxwell tak pernah berpikir jika mereka Kakak adik.


"Max! Apa maksudmu ha?? Dia memang Adikku!"


"Jika dia adikmu kenapa namanya tak ada di Keluarga kalian?? Kenapa?" tanya Maxwell penuh tekanan. Hal itu membuat Nyonya Meeiner diam dengan dada terasa sakit membayangkan penyebabnya.


"Kalian membuangnya?"


"Max aku.."


"KALIAN MEMBIARKAN DIA MENIKAH DENGAN BAJINGAN SEPERTI MARCELLO ITU. HAA??" bentak Maxwell menyala-nyala dan kali ini Evelyne berdiri karna suasana tak lagi baik-baik saja.


"Max! Tenanglah!"


"JIKA MEMANG DIA ADIKMU. KENAPA KAU BIARKAN ITU SEMUA TERJADI? DIA SAMPAI MELENYAPKAN DIRINYA SENDIRI KARNA DEPRESI DENGAN LUKA YANG KALIAN BERIKAAN!!" keras Maxwell berdiri dengan tatapan membunuh dan sangat emosi.


Pelayan yang tadi ingin mengantarkan makanan langsung berlari pergi karna suasana lantai ini tak lagi segar atau hangat seperti tadi.


Apalagi tangisan Nyonya Meeiner tak lagi terbendung. Ia juga menyesali hal itu dan tenggelam dalam perasaan bersalah yang besar.


"M..maaf. Hiks! Maafkan aku!"


"Seharusnya kau senang-kan?" desis Maxwell tak bisa menerima jika itu benar tapi tak juga bisa menyangkal karna bukti fisiknya memang nyata.


"A..aku.."


"Dia sudah tiada. Tak perlu kau cari!" sarkas Maxwell lalu melangkah pergi. Nyonya Meeiner tak lagi bisa berkata-kata memandangi Maxwell yang baru ia sadari jika itu adalah Putra adiknya.


"Aku.. Aku bersumpah tak pernah menginginkan ini. Hiks! Aku tak pernah ingin!" isaknya terlihat sangat rapuh.


Evelyne yang tadi ingin mengejar Maxwell seketika terhenti kembali berbalik mendekati Nyonya Meeiner yang sudah tak sanggup untuk berdiri.


"M..maafkan aku. Hiks! Maaf!"


"Tenanglah. Maxwell hanya emosi sesaat. Dia akan berpikir setelah perasaanya stabil!" ucap Evelyne memeluk Nyonya Meeiner yang sangat terpukul. Ia menyalahkan dirinya atas semua yang terjadi pada Camillia adiknya.


Jadi benar. Ibunya Maxwell adalah Adik Nyonya Meeiner dan secara tak langsung mereka satu keluarga.


Jika Tuan Fernandez tahu apa dia akan senang atau tidak?


Itulah yang menjadi buah pikiran Evelyne. Ia harus menemui Tuan Fernandez untuk menyelesaikan semua ini termasuk mengatakan hal yang sebenarnya.


.....


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2