My Little Devil

My Little Devil
Kemarahan Leonard


__ADS_3

Sudah seharian Maxwell mencari bahkan ia sampai tak memperdulikan keadaanya sendiri. Yang ada di kepalanya hanya Evelyne dan dimana wanita itu sekarang?! Tak ada waktu untuk duduk istirahat bahkan ia sudah menyebar seluruh anggotanya di kota ini.


Jack mengatakan jika tak ada yang mencurigakan di Bandara dan Pelabuhan yang mereka intai. Semuanya sudah di jelajahi bahkan anggota terus memperluas jaringan kerjanya.


Tempat terakhir yang Maxwell datangi adalah Rumah Sakit Nyonya Meeiner. Ia berharap jika Evelyne datang kesini sebelumnya tapi tetap saja hasilnya nihil.


"Apa masih belum ditemukan?" tanya Tuan Fernandez pada Jirome yang berdiri di depan pintu ruang rawat Nyonya Meeiner yang semalam baru sadar ingin menemui Maxwell yang tampak sangat kusut.


Wanita paruh baya dengan wajah pucat dan lemah itu sedari tadi membiarkan Maxwell duduk di sofa sana dengan mata terpejam dan kepala bersandar ke belakang.


Jirome-pun merasa sangat prihatin. Ini sudah hampir mendaki malam tapi Maxwell masih terus memikirkan Evelyne yang tak keluar dari benaknya.


"Semua tempat di kota ini sudah di telusuri. Jejaknya juga tak di temukan bahkan Tuan sampai pergi ke Pura dan ke tempat Dawson tapi nihil. Pria itu juga tengah di rawat di rumah sakit dan tak mungkin melakukannya," jelas Jirome menghela nafas dalam.


Tuan Fernandez yang mendengar itu langsung berkecamuk. Ia kemaren pergi mengintrogasi Marcello dan dia mengatakan hal yang sangat mengejutkan baginya.


Kenyataan yang begitu konyol tapi memang benar adanya. Ia ingin mengatakan itu pada Maxwell, tapi apa dia akan percaya?!


"Aku juga akan membantunya!"


"Kau?" tanya Jirome dengan tatapan menyelidik. Ia tak percaya sama sekali karna jelas Tuan Fernandez termasuk musuh bebuyutan Maxwell.


"Hm. Aku akan membantunya karna negara ini luas! Kota Brusell hanya sebagian kecil dan bisa saja ada tempat persembunyian yang tak menggunakan sinyal atau jaringan hingga kalian tak bisa melacaknya!"


"Tuanku tak akan percaya padamu!"


"Dia akan percaya!" tegas Tuan Fernandez melangkah masuk mendekati Maxwell yang masih mengabaikan mereka semua.


Nyonya Meeiner melihat itu segera ingin bersuara karna takut Maxwell dan suaminya bertengkar lagi. Tapi, sangat mengejutkan baginya kala Tuan Fernandez duduk di samping Maxwell yang juga langsung membuka matanya yang tadi terpejam.


Tahu akan kewaspadaan Maxwell menarik helaan nafas Tuan Fernandez.


"Aku akan membantumu!"


"Aku tak butuh!" ketus Maxwell ingin bangkit tapi tiba-tiba saja Tuan Fernandez memeggang bahunya. Maxwell semakin mendidih menatap murka padanya.


"AKU TAK PUNYA WAKTU MELADENIMU!!" geram Maxwell meninggi segera menepis tangan Tuan Fernandez dari bahunya.


"N..Nak!" lirih Nyonya Merineer cemas.


"Aku disini karna Evelyne begitu memperhatikanmu! Dia sekarang .."


Maxwell menghentikan kalimatnya lalu menendang meja kaca di depannya dengan kasar hingga benda itu pecah.


"M..Maxwell!"


Lirih Nyonya Meeiner berkaca-kaca melihat wajah kelap Maxwell yang terlihat sudah tak setenang biasanya. Ada tumpukan sesak, rindu dan penyesalan di wajahnya.


"Kau benar! Aku memang pecundang!" gumam Maxwell merasa tak berguna. Ia bahkan tak bisa mencari Evelyne padahal selama ini keangkuhannya sudah melebihi akal sehatnya.


"Aku akan membantumu! Kita.."


"Kenapa? Jika kau ingin menghancurkan-ku sekarang saatnya, Fernandez!" tekan Maxwell mengintimidasi Tuan Fernandez yang diam.


Ia melihat jelas Maxwell tengah tak stabil dan jika ia sekarang memang musuh seperti dulu pasti ini saat yang tepat menghancurkan seorang Maxwell.


"M..Max! Kenapa kau bicara seperti itu? Nak! E..Evelyne pasti akan kembali. Dia.."

__ADS_1


"Dia pasti membenciku!" gumam Maxwell membuang pandangan ke arah lain. Nyonya Meeiner merasa sesak melihat ketidakberdayaan pria tampan itu sampai ingin rasanya ia memeluk Maxwell yang masih bertahan walau keadaan selalu menekannya.


"Aku akan berusaha membantumu asal kau mau mendengarkanku!"


"Cih, sudah ku duga," decih Maxwell dingin lalu berdiri melangkah ke arah pintu keluar tapi Tuan Fernandez segera merendahkan egonya.


"Kau putraku!!"


Ucapannya dijawab oleh keheningan. Nyonya Meeiner termenung kosong begitu juga Jirome yang sampai terperangah.


Maxwell yang berhenti di depan pintu sana hanya membeku tak bersuara sedikit-pun.


"Marcello yang mengatakannya padaku! Dia juga membenarkan jika kau bukanlah Putranya bersama Camillia karna saat itu kau di tukar dengan Violet. Max!"


Senyum remeh Maxwell mencuat. Ia berbalik menatap remeh Tuan Fernandez yang juga tak bisa bersikap hangat. Saat mengatakan itu-pun suaranya begitu datar.


"Drama apa lagi yang akan kau buat. Hm?"


"Aku tak berbohong! Jika bisa memilih aku bahkan tak ingin mendapatkan putra sepertimu tapi itulah adanya!" ketus Tuan Fernandez tak memandang wajah kelam Maxwell.


Nyonya Meeiner yang tadi mencerna semua ini sampai berusaha duduk tapi dadanya sangat sakit hingga Jirome segera mendekat.


"Kau jangan terlalu banyak bergerak. Nyonya!"


"M..Maxwell!! M..Maxwell a..anakku?" tanyanya terbata-bata dengan air mata yang tiba-tiba jatuh. Antara rasa senang, sakit dan tak menyangka itu bercampur sampai Nyonya Meeiner beralih memandang Maxwell sendu.


"A.. Anakku?"


Maxwell-pun juga diam berbalik dingin. Matanya bersitatap lama dengan manik coklat berair itu sampai ia merasakan sesak di dadanya.


"Jika kau tak percaya. Kita bisa lakukan Tes DNA!" gumam Tuan Fernandez. Ia tetap seperti biasa seakan tak perduli padahal saat mengetahuinya ia langsung menghajar habis Marcello yang sekarang antara hidup dan mati di ruang bawah tanah Villanya.


"Aku tak masalah jika kau mau atau tidak. Tapi, darahku mengalir di tubuhmu. Kau tak akan bisa mengubahnya!" timpal Tuan Fernandez sampai kedua tangan Maxwell mengepal.


Ia tak bodoh untuk memahami ini. Banyak kemiripan antaranya dan Nyonya Meeiner terutama darah mereka. Tapi, ia tak bisa mengekspresikan perasaan itu karna sekarang ia tak punya semangat atau kekuatan lagi.


"Tuan!" gumam Jirome kala melihat Maxwell pergi tanpa satu patah-katapun.


Tangis Nyonya Meeiner pecah diiringi wajah dingin Tuan Fernandez yang tampak diam tapi dadanya terasa tercabik.


"M..Maax hiks! D..dia anakku. Dia.. A..anakku!"


"Aku akan menyusul Tuan!" pamit Jirome lalu pergi mengejar Maxwell yang sudah menghilang dari lantai rumah sakit ini.


Ia pergi ke lantai dasar dimana semua orang masih sibuk seperti biasa. Mereka leluasa berjalan disini karna anggota Tuan Fernandez sudah mengamankan suasana manusia yang di minta tak merekam apapun.


"Kau melihat Tuan?" tanya Jirome pada Gregor yang ada di pintu depan rumah sakit. Pria dengan wajah sangar tapi matanya menatap sendu Jirome seraya menunjuk ke arah mobil di dekat Lobby.


"Tuan tadi kesana!"


"Lanjutkan pekerjaanmu!" pinta Jirome lalu mendekati mobil mewah yang sudah tertutup rapat dengan keadaan di sekitar sini sunyi.


Jirome mengetuk pintu kaca itu tapi Maxwell yang ada di dalam hanya diam pertanda ia tengah tak ingin di ganggu.


"Tuan! Setidaknya kau makan atau minum obatmu dulu!" ucap Jirome menegakkan tubuhnya di samping mobil.


Maxwell hanya membisu dengan kepala tersandar ke kursi mobil dan kedua tangan mencengkram kedua sisi kursi di sampingnya.

__ADS_1


"Kau dimana? Aku membutuhkanmu. Evelyne!" gumam Maxwell yang tak bisa menormalkan perasaanya.


Sesak, sakit, marah dan penuh kerinduan bercampur aduk di dadanya


Aku tak tahu harus senang atau tidak. Biasanya kau selalu bisa membuatku lupa dengan rasa sakit ini.


Jerit batin Maxwell mengusap wajahnya dengan kasar. Rasanya ia ingin mengulang waktu kembali agar malam itu ia tak tidur dan selalu bisa melihat Evelyne.


.......


Nyatanya, wanita yang tengah ia rindukan itu sekarang tengah diam mendengar ucapan Dokter Charles yang tadi memeriksa tubuhnya. Leonard juga sama, antara marah dan sangat murka tapi juga bingung akan melakukan apa.


"Nona hanya keram karna terlalu depresi dan tertekan! Usahakan jaga pola makan dan tidurmu terutama suasana hatinya karna janin itu masih sangat lemah!"


"J..janin apa?" tanya Evelyne tak mengerti. Ia bingung dan merasa heran dengan raut wajah kosong Leonard yang seperti terkejut tapi juga marah.


"Nona! Kau tengah mengandung 3 minggu!"


"Mengandung? A..aku?" syok Evelyne memeggang perutnya. Dokter Charles mengangguk tersenyum melihat respon polos Evelyne tapi ia tak mau menyinggung soal ayah dari anak ini karna Leonard adalah Tuannya.


"Kau terlalu tertekan itu sebabnya janin mu bereaksi. Apa yang kau rasakan itu sangat berdampak padanya!"


"T..tunggu, maksudmu ada b..bayi disini?" tanya Evelyne masih belum memahaminya. Saat Dokter Charles mengangguk exspresi wajah Evelyne langsung pias.


B..bayi? Aku hamil lalu bagaimana nanti?! Maxwell tak disini dan bagaimana aku bisa mengurusnya?!


"Aku.. Aku harus pergi! Maxwell harus mengurus aku sekarang!" desak Evelyne tapi memancing emosi Leonard yang menarik lengan Evelyne agar tetap berbaring di atas ranjang.


"Kau tak akan kemana-pun!!!"


"Kenapa?? Aku tak paham cara mengurus bayi dan hanya dia yang tahu caranya!" ketus Evelyne tapi Leonard segera mencengkram kedua bahu Evelyne agar memahami ucapannya tadi.


"Apa kau tak ingat tentang apa yang aku katakan tadi. Ha??"


"Fernandez yang melakukannya dan Maxwell tak tahu apa-apa!!" bantah Evelyne begitu memancarkan cinta dan kepercayaannya pada Maxwell sampai Leonard tak lagi bisa mengajak Evelyne untuk membalaskan dendam itu.


"Kau sudah berubah, Evelyne! Rasa cintamu pada keluarga kita itu palsu!" desis Leonard tapi Evelyne hanya tak bisa melukai Maxwell.


"Aku menyayangi orang tuaku tapi aku masih berpikir untuk menyakiti orang yang selalu melindungiku!" geram Evelyne ingin bangkit tapi Leonard kembali mendorongnya ke atas ranjang hingga Dokter Charles tak berani ada disini langsung pergi keluar.


"Aku akan melenyapkannya!"


"Jika kau melakukan itu aku yang akan membunuhmu!!" geram Evelyne memantik bara api di hati Leonard yang segera keluar dan menutup pintu kamar keras.


Evelyne turun dari ranjang ingin membuka pintu ini tapi sayangnya Leonard sudah menguncinya dari luar.


"Bukaaa!!! Buka pintunyaa!!!"


Leonard yang ada di luar kamar hanya diam dengan wajah gelap dan murka. Ia benar-benar tak percaya jika Evelyne hamil dan itu anak dari Maxwell.


"Kau tak hanya menghancurkan keluargaku tapi juga menghancurkan hidup adikku!" geram Leonard segera pergi.


Ia membawa Evelyne ke tempat yang tak sembarang orang bisa masuk ke wilayah pedalaman ini. Leonard benar-benar niat untuk membawa Evelyne sampai sudah mempersiapkan apapun.


Ia tahu Maxwell punya banyak jaringan anggota gelap begitu juga Tuan Fernandez. Itu sebabnya Leonard mempersiapkan semuanya dengan matang lalu barulah ia mencari Evelyne.


....

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


__ADS_2