
Pengawasan di sekitar Perusahaan semakin ketat. Para Anggota Maxwell tengah mengejar beberapa orang yang tadi terlihat memata-matai mereka dari kejahuan. Apalagi Gregor menemukan beberapa alat penyadap suara dan kamera pemantau yang terpasang disela dinding tebal ini.
Sialnya mereka sangat tak menyadari alat-alat ini di pasang sedangkan sedari dulu keamanan Perusahaan sudah ketat dan tak mungkin benda ini tak terdeteksi.
Namun, kenyataannya sangat berbeda. Baru kali ini mereka di buat bingung kenapa bisa terpasang disini tanpa ada yang mengetahuinya.
"Kapan kau melihatnya?"
"Saat membawa Nona kecil ke Taman samping. Aku lihat jika satu Pria memakai Hoodie yang berlalu-lalang didepan sana. Setelah di dekati ia langsung lari," jelas Gregor memberikan semua alat yang ia temukan tadi pada Jirome yang tadi keluar Ruang Meeting.
Ia juga cukup terkejut karna tak biasa mereka bisa kebobolan seperti ini.
"Kau hubungi Jack untuk segera melacak pemilik alat ini. Dan jangan lengah sedetik-pun. Paham?"
"Mengerti!" jawab Gregor membiarkan Jirome kembali melangkah masuk ke Perusahaan membawa alat itu ditangannya.
Di dalam sana Jirome berpapasan dengan Evelyne yang berlarian di lantai dasar melihat-lihat Visual Mobil 3D yang masih menjadi objek permainannya.
Yello terlihat berusaha mencegah Evelyne untuk berkeliaran disini karna keadaan sangat tak aman.
"Nona! Ayo ke kamarmu!"
"Leen mau ke sana!"
"Nona kau.."
Jirome mengisyaratkan Yello agar mundur dan ia yang beralih mendekati Evelyne yang tengah asik mengulurkan tangannya untuk memeggang bayangan Mobil itu.
"Kenapa bisa begini?"
"Kau tahu ini jam berapa?" tanya Jirome berjongkok di dekat Evelyne yang menoleh dengan tatapan sangat hangat.
"Uncle! Kau kemana saja? Leen sangat merindukanmu."
"Benarkah?"
Evelyne mengangguk berhambur memeluk Jirome yang memiliki kedekatan tersendiri dengan bocah ini. Sejak dulu Jirome-lah yang selalu menjadi sandarannya saat Maxwell tak mau menerimanya.
"Yah. Uncle sibuk bekerja sampai tak bisa bermain dengan Leen!"
"Aku sudah banyak mendengar aksi-aksimu belakangan ini. Kau hebat," puji Jirome seraya mengiring Evelyne untuk pergi ke Lift bersamanya.
Bocah itu jadi lupa dengan acara bermainnya hingga hanya menuruti Jirome yang kali ini menjadi teman baginya.
"Uncle!" menarik lengan Jirome agar membungkuk padanya.
"Ada apa?" menuruti hal itu.
"Tadi Leen bertemu Wanita," bisik Evelyne padahal disini hanya ada mereka berdua. Jirome kembali menegakkan tubuhnya menatap Evelyne tenang.
"Yang mana?"
"Itu yang datang dengan Ayahnya kemaren," jawab Evelyne membuat Jirome berpikir. Apa yang di maksud Evelyne adalah Oliver? Untuk apa Wanita itu mendekati Evelyne.
"Apa yang dia lakukan?"
"Dia menanyakan tentang Daddy. Apa yang ia suka dan tidak?!" gumam Evelyne tak mengatakan tentang Ice Cream. Ia tak mau kena sembur Daddy-Nya jika tahu hal itu.
"Lalu kau menjawabnya?"
"Iya. Tapi Uncle tenang saja. Leen tak memberi tahukan semua itu dengan benar."
Mendengar itu Jirome seketika lega. Ia mengusap kepala Evelyne yang sangat bisa ia andalkan.
"Lain kali jika ada yang mendekatimu seperti itu jangan mau. Mereka tak tulus."
"Leen tahu. Uncle!" gumam Evelyne hingga Lift ini terbuka memperlihatkan Lantai atas dimana tempat Ruangan kerja Maxwell tersedia.
Ia sebenarnya bosan disini tapi Evelyne segan untuk menyusahkan Jirome yang tampaknya tengah bekerja.
"Bermainlah di kamarmu. Tuan akan segera kembali!"
"Siaap!!"
Evelyne berlari ke dalam ruangan Maxwell hingga Jirome langsung mengambil nafas dalam. Ia cemas jika Dawson tahu kejadian di Gerbang malam itu.
__ADS_1
"Dia pasti sudah tahu wajah Evelyne. Ini sangat membahayakan!"
"Ada apa?"
Jirome tersadar kala Maxwell sudah keluar dari Lift khusus yang tadi ia lalui.
"Tuan!"
"Hm."
"Ini alat penyadap dan kamera yang tadi di temukan di dekat Gerbang Perusahaan!" menunjukan benda-benda itu.
Tak ada guratan terkejut dari Maxwell yang tampak lebih tenang dari biasanya.
"Tadi, mereka juga memata-matai Evelyne. Ini sangat membahayakan. Tuan!"
"Dia baik-baik saja-kan?" Maxwell terlihat mulai agak cemas.
"Yah. Untung saja Gregor segera mengetahuinya dan mengambil tindakan cepat."
Mendengar itu setidaknya Maxwell bisa tenang. Yang jadi Prioritasnya sekarang adalah Evelyne. Bocah itu tengah dalam masa bermain dan ia tak bisa mengekangnya.
"Jangan lakukan tindakan besar. Biarkan dia masuk ke Wilayahku lebih dulu!"
"Baik. Tuan!"
Jirome mengangguki itu. Ia mengikuti Maxwell yang pergi ke ruangannya dimana tempat itu seperti biasa sunyi tapi berisik di dalam kamar sana.
Ia membuka kecil Pintu kamar melihat Evelyne tengah bermain di atas Ranjang memanfaatkan Pantulan benda empuk itu untuk melambungkan tubuh kecilnya ke atas.
"Yeyyy!!!"
Suaranya memecah membuat bibir Maxwell menipis. Dadanya menghangat menyaksikan kesenagan sederhana Evelyne yang mudah untuk tersenyum.
Setelah beberapa lama melihat Evelyne dari sela Pintu ini. Suara panggilan dari luar membuat Jirome pergi ke arah Pintu.
Tapi, alangkah terkejutnya ia kala melihat kedatangan Pria paruh baya dengan tatapan menajam hebat tengah berusaha di tahan oleh Yello.
"Tuan! Silahkan anda keluar!"
Nyatanya Tuan Fernandez tak hanya datang sendirian. Ia juga membawa Putrinya Violet dan juga Tuan Marcello yang muncul dari arah Lift sana.
Setidaknya Jirome tahu jika Pria ini memang sangat keras dan akan membuat keributan di Perusahaan.
"Dimana Maxwell??"
"Tuan tak ingin bertemu dengan anda," tegas Jirome tak memberikan jalan masuk. Melihat hal itu emosi Tuan Fernandez yang sedari Kediaman tadi sudah meledak-ledak kembali berkobar.
"MAXWEELL!!!"
Bentaknya menerobos masuk hingga Jirome langsung mengepal. Ia menatap tajam Tuan Marcello yang hanya melempar pandangan biasanya.
"MAXWELLL!!"
"Jangan menggonggong di Ruanganku!" desis Maxwell yang sudah duduk di Sofa ruangan kerjanya. Kaki itu bertopang angkuh dengan kedua tangan ada di sisi lengan Sofa.
Tatapan datar itu seperti biasa membuat Tuan Fernandez mengepal. Ia tak bisa mengerti kenapa Maxwell begitu tak tersentuh sama sekali.
"Kenapa kau ingin bercerai dengan Putriku?"
"Aku tak menyukainya," lugas Maxwell tak bertele-tele lagi. Ia tak memandang Violet yang tampak diam tapi wajahnya begitu putus asa.
"Tapi kenapa? Dia begitu mencintaimu bahkan saat itu kau juga menyetujui Pernikahan ini."
"Bukan kemauanku. Kau dan Tua Bangka itulah yang membuat kesepakatan," tegas Maxwell membuat Tuan Marcello langsung angkat bicara.
"Aku memberimu dua pilihan. Kau menikah atau ingin Rumah Ibumu tapi kau.."
"Tapi kau tak menepatinya juga," geram Maxwell mengepalkan tangannya kuat. Ia masih menahan diri karna sudah lelah ada di tengah-tengah masalah seperti ini.
"Maxwell! Sampai kapanpun Violet akan tetap menjadi Istrimu!!"
Brakkk..
Maxwell menerjang meja di depan sampai jauh terpental di depan sana. Violet sudah memucat berlindung di belakang Tuan Marcello yang tahu Maxwell akan terbakar emosi.
__ADS_1
"Kau ingin aku membunuhnya?" desis Maxwell dengan tatapan mematikan.
"Kau tak bisa mempermalukan dua Keluarga sekaligus apalagi Violet adalah Putri Sulungku!"
"Apa peduliku?" tanya Maxwell sama sekali tak memikirkan hal itu.
"Bawa dia pergi sejauh-jauhnya atau kau akan menyesal!" tekan Maxwell membuat Tuan Fernandez semakin berkabut. Keinginan Violet adalah harapan baginya karna Maxwell sangat memiliki kekuasaan yang bisa membawa mereka ke puncak keemasan.
"Apa karna anak itu?"
Desis Tuan Fernandez sudah tahu jika Evelyne adalah anak angkat Maxwell. Violet juga mengatakan jika Evelyne sudah sangat dekat dengan Iblis jantan ini.
"KARNA ANAK TAK TAHU DIRI ITU KAU MENCERAIKAN ISTRIMUU!!"
Bentak Tuan Fernandez hingga Maxwell langsung bangkit melayangkan tinjuan ke wajahnya. Hal itu membuat Violet terpekik hebat karna Daddy-nya juga tak bisa menahan Maxwell.
"Jaga bicaramu!!" geram Maxwell berdiri dengan hasrat membunuh yang hebat. Ia tak perduli siapa yang tengah berdiri di hadapannya baik itu malaikat sekalipun.
"Kau berani memukulku. Hm?" decah Tuan Fernandez meraba rahangnya yang bergeser dengan darah keluar di hidungnya.
Jirome sudah membatu diam tapi berbeda dengan Tuan Marcello yang sangat gugup karna Tuan Fernandez termasuk orang yang berpengaruh di Dunia bawah.
"Kau sangat ingin hancur. Maxwell!"
"Yah. Hancurkan jika kau bisa. Aku menunggu saat itu tiba," geram Maxwell tak gentar sama sekali. Tangannya sudah panas ingin memecahkan kepala Pria ini tapi ia masih menahan emosinya.
"Kau sangat menyedihkan. Seharusnya kau bersyukur karna Putriku mau mencintai Pria Gilaa sepertimuu!!"
"Dad!" lirih Violet memeggang bahu Tuan Fernandez yang sudah menggebu-gebu.
"Aku akan membuat Dunia tahu siapa kau yang sebenarnya. Kau Pria menyedihkan yang bersembunyi di balik Bayangan Ibumuu!!!"
Mendengar itu Maxwell tak bisa menahan lagi hingga ia meraih Gunting di atas Mejanya ingin menghabisi Tuan Fernandez tapi Tuan Marcello sudah lebih dulu menarik Pria itu pergi keluar Ruangan.
"Pergilah! Aku akan menangani Maxwell!"
Tuan Fernandez pergi dengan marah. Violet hanya bisa pasrah dengan ketidakberdayaan yang membuatnya hanya bisa mengemis berkali-kali.
Saat Tuan Marcello berbalik Maxwell sudah lebih dulu menebaskan ujung Pisau itu ke arah lehernya tapi Jirome sudah dengan gesit menarik Maxwell hingga Tuan Marcello tak terkena sabetan tajam ini.
"AKU AKAN MELENYAPKANMUU!!!"
Tuan Marcello hanya diam. Ia menatap tegas Maxwell yang ia tahu sangat depresi tapi Pria ini terlalu membangkang padanya.
"Kau tak akan bisa membunuhku. Dan ingat Maxwell! Fernandez bukan orang yang akan melepaskanmu, aku sudah berusaha memperbaiki hubungan kalian tapi kau.."
"Kau Pria Tua Pembawa Siaaal!!!"
Pekikan Evelyne yang sudah sesenggukan berlari keluar dari Kamar melempari Tuan Marcello dengan barang-barang yang ia bawa dari dalam kamar.
Mata dan telinganya menyaksikan pertikaian ini sampai ia melihat jika Daddy-Nya di hakimi banyak orang.
"Pergiii!!! Pergiii!!"
"Dan kau. Cukup kau saja yang tak memiliki Keluarga. Jangan tularkan kesialanmu itu," geram Tuan Marcello melangkah pergi setelah mengatai Evelyne yang tadi juga mendengar makian Tuan Fernandez.
Sementara Maxwell. Ia sungguh tersiksa dengan perasaan ini. Ia hanya memikirkan tentang Ibunya dan itu sangat membuatnya menderita.
"Mati saja kalian semuaaa!!!" teriak Maxwell meninju Meja di belakangnya hingga kaca itu pecah.
Sontak Evelyne diam dengan tatapan mata berair melihat Maxwell yang dimusuhi hanya karna dirinya. Apa benar Daddy menderita karna ada Leen? Leen tak berniat membuat mereka membenci Daddy.
"D..Dad!"
"Pergi!!" gumam Maxwell benar-benar sudah tak tahan lagi.
"D..Daddy kau..."
"PERGI DARI SINII!!!"
Bentak Maxwell membuat Evelyne langsung terperanjat. Jirome mengisyaratkan Evelyne agar keluar dulu agar emosi Tuannya bisa reda.
.....
Vote and Like Sayang..
__ADS_1