My Little Devil

My Little Devil
Apa harus menyerah?


__ADS_3

Suasana siang yang tadinya ceria seketika mendung tak berwarna. Tawa dan senyuman hangatnya hilang dan hanya di gantikan tangisan kecil yang membuatnya harus kembali ke area Tangga Darurat untuk menyembunyikan rasa sakitnya.


Hanya disini isakan dan hambatan batin itu lepas tanpa terdengar oleh siapapun kecuali dinding-dinding beton yang selalu melindunginya.


"K..Kenapa Leen harus seperti ini?" suara bergetar Evelyne begitu tak bisa mengerti. Ia ingin seperti anak-anak yang normal diluar sana bermain sesuka mereka tanpa ada yang menggali hati yang sudah lama terluka.


" L..Leen tak membawa sial! Kenapa.. Kenapa mereka sangat jahat?"


Isaknya menekuk kedua kaki mungil itu. Hatinya terluka bahkan begitu menganga tergores setiap harinya.


Ia tak punya teman. Hanya lulungan sunyi dan dinginnya tatapan semua orang yang semakin hari terasa menakutkan.


Daddy selalu di musuhi. Mereka tak suka Daddy dekat-dekat dengan Leen. L..Leen hanya akan menyusahkan Daddy.


Hal itu yang jadi buah pikiran Evelyne yang menyalahkan dirinya atas masalah yang Maxwell hadapi. Jika ini tentang orang lain ia akan menerima tapi jika Pria itu yang terkena imbasnya, tentu Evelyne sangat merasa terluka.


Dalam suasana seperti ini, Evelyne kembali merasakan pusing yang teramat pada kepalanya. Ntah ia kelamaan menangis atau memang ada sesuatu yang membuatnya terus merasakan ini.


"S..Sakitt," desis Evelyne meremas kepalanya sendiri. Ia mencengkram rambutnya kala kilatan ingatan itu berputar bak cuplikan Film kabur dan sangat menyilaukan.


"Mommy!!!"


"L..Leen.."


"Kapan Mommy pulang?"


"Ada yang akan menjemputmu."


"Mom! Leen suka Kupu-Kupu*!"


Suara-suara misterius itu membuat kepala Evelyne ingin pecah karna kobaran api dan teriakan-teriakan manusia di dalam otaknya beradu sangat keras bahkan begitu memecah.


"T..tidak.. Mom!" gumamnya berkeringat dingin.


"Leen jangaaan!!!"


"Hentikan Iblis ituu!!!"


Teriakan keras dengan suara tangisan seseorang membuat Evelyne mengerang sakit. Ia sampai memukul kepalanya berulang kali agar ini semua tak berputar di kepalanya.


"S..Sakitt hiks. Sakitt!!!"


Isaknya tak tahan lagi dengan semua itu. Ntah batin atau fisiknya Evelyne merasakan semuanya. Peristiwa kabur dimana hanya ada api yang mengelilingi tubuh mungil seseorang yang tengah meratapi kedua jasad yang sudah terbakar karna melindunginya.


Air mata Evelyne terus lolos kala bayangan itu semakin jelas memperlihatkan bagaimana semuanya terpanggang hangus tepat di depan sosok yang masih menatap nanar pada wajah-wajah orang yang ia sayangi sudah mengelupas dan terbakar hebat.


"M..Mommy. D..Daddy .." gumam Evelyne dengan nafas terengah dan keringat membanjiri tubuhnya.


Dalam pandangan yang sudah kabur dan nafas tak stabil ini mata Evelyne melihat jika ada Wanita Dewasa yang sekarang sudah berdiri di hadapannya.


Tubuhnya tak begitu jelas tapi wajahnya terlihat begitu mirip dengannya.

__ADS_1


"S..Siapa?"


Tatapan sosok itu sangat dingin penuh dengan keserakahan. Ia berdiri angkuh seakan mengatakan jika dia bukanlah apa-apa.


"S..Siapa.."


"Menyerahlah! Aku akan menyelesaikan semua masalahmu."


Suara yang sangat dingin tapi penuh dengan janji. Mata Evelyne yang semula sayu terlihat berusaha mengangkat tangannya menyentuh Wanita ini tapi ia tak cukup kuat.


"S..Siapa?"


"Aku akan melindungi Daddy-mu. Kau bisa pergi dengan tenang."


"D..Daddy!" lirih Evelyne mengingat Maxwell. Penderitaan di mata Pria itu membuatnya selalu tak tahan dan tak bisa bernafas lega.


"Jika disini-pun kau tak akan bisa membalas mereka. Kau ingin dia selalu menderita?"


"D..Daddy harus b..bahagia.. hanya Daddy yang L..Leen punya," jawab Evelyne terkesan begitu tulus padahal tak terhitung rasa sakit yang di berikan dunia ini padanya.


"Serahkan dia padaku! Aku berjanji akan melindunginya."


"M..Melindungi?" tanya Evelyne beralih menatap kedua tangan mungilnya yang tak bisa apa-apa. Ia tak bisa melindungi Daddy-Nya saat semua orang tengah menindas Pria itu.


Air mata Evelyne lolos merasa sangat tak berguna. Jelas mereka semua membenci dirinya yang tak bisa berbuat apapun.


"L..Leen lemah. Hiks! Leen tak kuat!"


"Sudah cukup kita membiarkan mereka bebas. Jangan bertahan lagi!"


"K..Kau siapa?" tanya Evelyne terlihat sangat ingin tahu.


"Kau adalah aku. Tapi, aku bukan kau! Kita berbeda."


Mendengar itu Evelyne diam. Ada keragu-raguan dalam matanya untuk mempercayakan Maxwell pada sosok ini.


"Benar kau akan melindungi Daddy Leen?"


"Hm. Aku akan melindunginya."


"Kau akan menjaganya-kan?" lirih Evelyne lagi membuat sosok itu diam sejenak lalu menganggukinya.


"Pikirkan lagi. Apa kau mau melihatnya terus menderita seperti itu?"


Evelyne menggeleng. Ia ingin Maxwell bahagia dan terbebas dari orang-orang jahat itu. Ia tak mau melihat Daddy-Nya minum dan meracau meluapkan rasa sakitnya dimalam hari.


"Kau tenang saja. Setelah memastikan dia baik-baik saja, aku akan pergi juga!"


"Kau tak akan menyakitinya-kan?" tanya Evelyne terlihat sangat menyayangi Maxwell. Ntah apa yang membuat bocah ini begitu peduli pada Pria itu.


"Tidak. Pikirkan lagi! Jika kau siap cukup katakan kau ingin melepas jiwamu!"

__ADS_1


"Tapi..."


Ucapan Evelyne terhenti kala tak ada lagi Sosok itu. Ia melihat ke semua arah dan hasilnya kosong dan tak ada satu orang-pun disini.


Karna terus dibebani rasa bersalah ini, Evelyne tak cukup berani untuk pergi ke lantai atas. Ia ragu berbalik karna tak ada yang memanggilnya sama sekali.


"Apa Leen harus pergi?" gumam Evelyne juga tak rela meninggalkan Maxwell.


"Tapi. Jika Leen pergi, apa Daddy akan sendirian?"


Gumamnya berkecamuk. Percuma ia disini tapi tak bisa membantu sedikit-pun.


"Nonaa!!"


Suara Yello terdengar dari atas. Wanita itu bergegas turun mendekati Evelyne yang masih melamun sendirian.


Saat melihat wajah sembab dan mata bengkak Evelyne yang masih berair seketika membuat Yello teriris.


Tak sepadan penderitaan bocah ini dengan usia dan ukuran tubuhnya yang kecil.


"Nona! Kenapa kesini? Ayo naik!"


Evelyne hanya diam. Ia berbalik dan melangkah menaiki satu persatu anak tangga ini dengan Yello menjaganya dari belakang.


"Pergilah dengan tenang. Serahkan dia padaku!"


"Aku akan menjaganya!"


Ucapan wanita itu masih terdengar di telinga Evelyne yang tak lagi memikirkan tentang dirinya. Langkah itu kosong dan wajah itu tak hidup seperti biasanya.


"Nona!"


Panggil Yello kala mereka sudah ada di depan Pintu Darurat. Evelyna terus melangkah maju tapi pikirannya sudah melayang-layang.


Ia hanya berjalan ke arah ruangan Maxwell hingga dari cela Pintu ini Evelyne melihat Pria itu terduduk di Kursi Kerjanya dengan tampilan kacau. Sepertinya dia baru selesai minum.


Ada Jirome juga yang tampak menyingkirkan benda-benda tajam di sekitar Maxwell yang terlihat sangat-sangat depresi. Inilah yang membuatnya selalu tak bisa tidur.


"Aunty!" gumam Evelyne dengan mata kembali memanas. Ia hanya bisa berdiri dari kegelapan tanpa berani mendekat sama sekali.


"Nona! Kau.."


"Leen tak cukup kuat," gumam Evelyne menatap kedua tangannya yang hanya bisa meraih Kupu-kupu. Sontak Yello diam tak mengerti arah pembicaraan dirinya.


"L..Leen tak bisa melindungi Daddy!"


Gumam Evelyne lalu berbalik pergi ke arah Lift membuat Yello bergegas mengikutinya.


...


Vote and Like Sayang

__ADS_1


__ADS_2