
Tuan Marcello terkejut kala Maxwell menerobos keramaian dengan menggendong anak kecil yang sudah dibaluti Jasnya. Wajah Maxwell sudah mendingin hebat membawa Evelyne ke lantai atas tepat ke arah ruangan Dokter Karren yang tadi baru keluar dari Ruang rawat Violet.
"T..Tuan! Kau.."
"Tangani dia!" pinta Maxwell mendekati Dokter Karren yang belum sempat bertanya tapi sudah di desak untuk bekerja.
Alhasil Dokter Karren mengiring Maxwell ke ruangan satunya dengan para Penjaga yang saling pandang heran. Tuan Marcello mengikuti langkah lebar Maxwell yang masuk kedalam ruangan yang tak jauh dari kamar rawat Violet.
Di dalam sini sudah ada satu Ranjang rawat yang kosong karna memang tak sembarang orang bisa masuk ke sini.
"Cepat tangani dia!! Apa yang kau tunggu??" geram Maxwell yang emosi melihat Dokter Karren masih berdiri di tepi ranjang termenung kosong melihat Balita kecil yang ia bawa.
Sontak Dokter Karten tercekat segera melihat keadaan Evelyne yang sudah Maxwell baringkan di atas ranjang rawat ini.
"Apa yang terjadi padanya? Tuan!"
"TANGANI DIAA!!" Desak Maxwell sampai membuat Dokter Karren tak bisa bernafas leluasa.
Ia mulai ingin membuka Jas ini tapi tangan Maxwell sudah menahannya. Tatapan elang tajam itu mengintimidasi Dokter Karren yang menelan ludah kasar segera memanggil Suster yang sudah berdiri kaku di depan Pintu sana.
"Bantu aku memeriksa tubuh anak ini!"
"B..Baik. Dokter!" gumam Suster itu mendekat tapi ia menunduk kala mata Maxwell bagai belati runcing menusuk jantungnya.
Bagaimana tidak? Wajah pucat Evelyne kecil sudah terlihat begitu menyedihkan. Kulit halus ini sudah dingin dan ada bekas memar di lengan dan kakinya membuat Maxwell tak bisa untuk diam.
"Tak ada luka di tubuhnya! Kau periksa luka dalam jika ada!" titah Maxwell kala Suster itu membersihkan darah yang lengket di Tubuh mungil ini.
Dokter Karren memasang selang infus yang tersedia disini lalu segera membuka kecil mata abu bening Evelyne dengan tatapan intens memeriksa setiap inci Tubuh kecil ini tanpa ada yang terlewat.
"Ini bukan darahnya. Memar di bagian lengan dan kaki kemungkinan terbentur benda tumpul. Dia baik-baik saja. Tuan!"
"Cek nafasnya!" titah Maxwell belum puas. Dokter Karren kembali memeriksanya hingga memang terlihat berangsur normal.
"Tubuh dingin karna efek terkejut atau syok. Dan lagi dia tak memakai apapun dan keadaan di luar membuat suhu tubuhnya naik. Tuan!"
Seketika Maxwell menghela nafas lega. Ia menatap datar wajah pucat Evelyne yang terlihat berangsur merah dan terlihat sudah lebih baik.
__ADS_1
"Tuan! Sebaiknya bersihkan dulu diri anda. Saya akan mengurus Nona kecil,"
"Hm," gumam Maxwell memang sudah terkena darah di tubuh Evelyne. Ia berjalan ke arah pintu keluar hingga Dokter Karren bisa lega mengerjakan tugasnya.
Saat Maxwell sudah ada di depan sana ia di hadang oleh Tuan Marcello yang membuat Maxwell mendingin.
"Apa itu anak yang kau bawa?"
Maxwell diam. Pandangan tajamnya tak berubah sama sekali bahkan semakin membekukan tempat ini. Ntah kenapa wajah Tuan Marcello membuatnya begitu muak dan jijik.
"Maxwell!! Jawab akuu!!"
" Kau puas?" tanya Maxwell lalu melewati Tuan Marcello yang seketika langsung memejamkan mata dengan helaan nafas tenangnya mengalun ringan.
"Aku tahu kau mulai mencintai. Violet!"
Sontak smirk remeh Maxwell tercipta mendengarnya. Ia tak berbalik tapi tubuh kekar itu selalu memusatkan kuasa dan ego yang tinggi.
"Violet wanita yang baik. Dia bisa membuatmu bahagia jika kau memang bisa menerimanya. Maxwell!"
"Cih. Sayangnya aku tak perduli." jawab Maxwell melanjutkan langkahnya dimana Jirome sudah datang membawakan Kemeja yang baru.
Visual tinggi gagah berotot tapi tak seperti Binaragawan. Maxwell bisa menyesuaikan porsi kharisma yang ia buat tapi terlalu menyilaukan mata kaum wanita.
Belum 10 langkah Maxwell menjahui ruangan tadi tiba-tiba saja terdengar tangisan dari dalam sana. Sontak langka Maxwell terhenti dengan Kemeja baru berwarna hitam ini masih belum selesai kancing memperlihatkan perut Sixpack-nya.
"Tuan! Sepertinya dia sudah bangun," gumam Jirome mendengar dengan jelas lengkingan itu.
Maxwell diam mencoba tak ingin lagi ikut campur. Sikap acuhnya kembali di keluarkan membuat Jirome heran.
"Tuan!"
"Bukan urusanku!" gumam Maxwell melanjutkan langkahnya. Tapi, baru 3 tapakkan ke depan tiba-tiba saja suara tangis itu terdengar lebih keras bahkan susah merembes keluar.
"Nona keciil!!!"
Dokter Karren mengejar Evelyne yang tadi sadar tapi segera memberontak turun dengan Jaket Maxwell kebesaran di tubuh kecilnya sampai menyapu lantai.
__ADS_1
Tuan Marcello termenung kosong melihat Bocah itu berlari langsung memeluk kaki kokoh Maxwell yang diam dengan wajah tak berubah.
"Leen jangan di tinggal! Jangan di tinggal. Hiks!" isaknya dengan tubuh terasa bergetar. Maxwell bisa merasakan itu dan sangat berbeda dengan apa yang di perlihatkan oleh Evelyne pada saat pertama bertemu.
"Jangaan hiks. Mamaa!!"
"Leen!" gumam Jirome berjongkok menatap tegas wajah sembab masih pucat Evelyne yang terlihat sangat ketakutan. Ntah apa yang membuat si kecil ini sampai begitu menyedihkan seperti ini.
"U..Uncle! T..tadi... Tadi gelap. Leen takut."
"Disini tak gelap. Kembalilah ke ruangan tadi. Leen!" pinta Jirome kaku karna tak tahu harus membujuk bagaimana.
Evelyne terus menangis memeluk erat kaki kokoh Maxwell yang ia anggap sebagai tempat berlindung. Padahal seharusnya yang ia takuti adalah Pria ini.
Melihat Maxwell tak bergeming. Tuan Marcello mendekati Evelyne yang langsung beralih ke depan Maxwell memeluk satu kaki jenjang ini dengan sesenggukan.
"Nak! Kau masih belum sehat. Ayo ke dalam!"
"Leen!" gumam Evelyne masih kekeh memeluk kaki Maxwell yang merasa jika tingkah sok baik yang Tuan Marcello tunjukan itu sangat menjijikan baginya.
"Maxwell! Kau jangan berbuat seperti ini pada anak se.."
Maxwell langsung melangkah tanpa memperdulikan Evelyne yang terjatuh dengan keras ke lantai dingin ini karna dorongkan kasar kakinya.
"Ajak Leen!! Leen ikuut!!!" jerit Evelyne terlihat ketakutan ingin mengejar Maxwell tapi Jirome sudah menyuruh Penjaga sana untuk menahan Evelyne disini.
Bocah kecil itu terus berteriak melihat Maxwell yang sudah hilang dari ambang mata abunya. Air mata si kecil itu semakin deras seperti merindukan seseorang dari sosok Maxwell yang begitu kejam memperlakukan anak sebelia ini.
"Mammaa!!! Mamaaa!!!" teriak Evelyne memberontak dari peggangan para Penjaga yang menggendong paksa tubuh mungilnya untuk kembali ke ruangan rawat tadi.
Sekarang. Hanya tinggal Jirome. Pengawal Owen dan Tuan Marcello yang tak bisa lagi berbicara.
"Anak itu tak bersalah. Seharusnya Maxwell lebih.."
"Tuan seperti itu karna ANDA," sela Jirome tegas lalu melangkah pergi setelah mengingatkan Tuan Marcello pada masa lalunya yang begitu hina dan menjadi kerusakan mental Maxwell.
....
__ADS_1
Vote and Like Sayang..