
Mereka berdua segera bangkit dari tempat duduk masing-masing. Tatapan penuh tanya Evelyne membuat nafas keduanya tercekat terutama Leonard yang mengumpati dirinya karna terlalu ceroboh.
"A..aku yang ..."
"Evelyne! Itu tak sepenuhnya salah-mu," sangga Leonard mendekat begitu juga Maxwell yang hanya diam memberikan kesempatan pada Leonard untuk berbicara.
"A..aku..."
"Saat itu kau hilang kendali menjatuhkan beberapa lilin yang akhirnya menyulut kebakaran. Masalah penyerangan itu bukan salahmu, itu..,
" T..tapi.. Tapi jika tak terbakar mereka tak akan menyerang P..Pura!" gumam Evelyne dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca.
Rasa sesak di dadanya semakin menjadi-jadi sampai susah bernafas membayangkan betapa kejamnya ia memanggang kedua orang tuanya sendiri di dalam api yang tengah memanas.
"Evelyne! Kau.."
Evelyne tak mendengar ucapan Leonard lagi. Ia segera pergi berlari kecil ke arah pintu keluar Villa dengan Leonard dan Maxwell yang mengejarnya.
Di depan sana ada Yello dan Gregor yang ada di samping mobil tapi tiba-tiba saja Evelyne masuk ke dalam benda baja itu dan menutup pintu dengan keras.
"Nona!" bingung Yello dan Gregor kala melihat Evelyne masuk dalam kondisi tak baik-baik saja diikuti Maxwell dan Leonard yang begitu cemas.
"Evelyne!! Dengarkan aku, kau tak bisa menyalahkan dirimu sendiri!!"
"N..Nona!"
Gumam Yello merasa bingung saat Leonard ingin membuka pintu mobil yang sudah terkunci rapat. Alhasil ia hanya bisa memukul pelan kaca jendela agar Evelyne mau mendengarnya.
Melihat Evelyne yang mengurung diri didalam sana ada rasa cemas di batin Maxwell. Tapi, ia tahu betul Evelyne tak akan bisa di ajak bicara jika emosinya tengah tak stabil.
"Evelyne! Aku mohon dengarkan aku!"
"Biarkan dia tenang dulu!" ucap Maxwell berdiri dibelakang Leonard yang seketika diam. Ia menatap nanar kaca hitam ini lalu melihat Maxwell yang masih dengan wajah datarnya.
Seakan tahu arti tatapan Leonard segera mendapat anggukan tenang Maxwell yang tak akan membiarkan Evelyne murung terlalu lama.
"Aku akan mengurusnya!"
"Kali ini ku percayakan padamu," gumam Leonard hanya bisa berharap pada Maxwell saja.
__ADS_1
Ia kembali masuk ke dalam Villa beberapa kali menoleh kebelakang berharap Evelyne membuka pintu mobil. Tapi, sangat di sayangkan itu mustahil.
Maxwell bahkan mengisyaratkan para anggotanya untuk pergi dari area sekitar mobil agar Evelyne merasa lebih tenang. Sementara dirinya, ia tetap berdiri di dekat pintu mobil tanpa bicara atau melakukan apapun.
Didalam sana Evelyne diam menatap benci kedua tangannya. Air matanya terus menetes padahal ia benci menangis.
"K..kenapa?"
Lirih Evelyne marah dengan dirinya sendiri. Kenapa ia harus berbeda dari orang lain di dunia ini?! padahal ia ingin hidup normal.
Kenapa aku bisa sejahat itu?! Selama ini mereka selalu memakiku dan kenapa aku marah?! Seharusnya aku sadar jika aku memang iblis yang MENJIJIKAN!!!
Maki Evelyne pada dirinya sendiri. Ia ingat jika detik-detik api itu membakar tubuh Pendeta Aide'an, pria itu sempat menukar nyawanya untuk meredam amarah di dalam dirinya. Tapi, kenapa ia tak sadar jika semua itu terjadi karna kebodohannya?!
"Kenapa?? Kenapa aku tak bisa melindungi mereka? Bahkan, aku yang menghancurkannya," gumam Evelyne mengusap wajahnya dengan kasar.
Bayangan kejadian kelam itu membuat Evelyne semakin mengutuk hidupnya. Ia merasa sangat sesak membayangkan bagaimana tangisan para anak dan istri melihat suami dan ayahnya berusaha menahan penyerangan yang di buka oleh kemarahannya.
Lama Evelyne memaki dirinya sendiri sampai tiba-tiba saja ia melihat Maxwell masih berdiri di samping pintu mobil.
Ntah kenapa merasa sangat sensitif dan tak bisa menahan apapun lagi.
"Seharusnya kau sangat tak pantas denganku. Max!" lirih Evelyne meremas ujung kemejanya. Ia terus merasa jika dirinya begitu kotor dan sangat menjijikan untuk di terima di dunia ini.
Kursi ini terasa di tekan dan benar saja, Maxwell tengah duduk di sampingnya.
Tak ada percakapan apapun. Evelyne tak bisa bicara dan Maxwell juga memilih diam sampai ia melihat punggung Evelyne bergetar barulah ia bersuara.
"Kau ingin mengatakan sesuatu?" tanya Maxwell membuka diri untuk mendengarkan suara Evelyne seraya satu tangan terangkat mengusap punggung indah ini lembut.
Seperti biasa Evelyne selalu tak bisa menyembunyikan perasaanya. Ia berhambur memeluk Maxwell yang sigap mendekap hangat tubuh rapuh itu.
"Maax hiks! Aku yang membunuh mereka semua."
"Itu diluar kendali mu," bisik Maxwell menenangkan Evelyne yang pasti tengah terpukul tapi semakin parah karna dalam masa kehamilannya.
"Aku.. Seharusnya aku yang mati-kan? Jadi mereka masih tetap hidup sampai sekarang. Kenapa aku tak mati sedari lahir saja. Ha?"
Mendengar itu wajah Maxwell mengeras segera menangkup kedua pipi Evelyne memaksa untuk menatapnya.
__ADS_1
"Bagaimana dengan aku. Ha?"
"A..aku.."
"Jika itu tak terjadi, apa bisa kita akan bertemu? Apa kau akan bisa mengandung anak kita dan hidup bersamaku?! Apa bisa?!" cecer Maxwell dengan nada tak sukanya.
Evelyne diam dengan mata yang sudah sembab. Kedua tangannya meremas jaket Maxwell yang terlihat masuk menyelami jiwanya.
"M...Max!"
"Di dunia ini tak lepas dari takdir! Memang pahit tapi kita bisa apa?! Walau kau menembak kepalamu detik ini juga apa kejadian itu bisa di rubah?! Apa kedua orang tuamu akan kembali?!" tanya Maxwell dengan rona sakit yang sama terpancar di matanya.
Evelyne baru sadar jika Maxwell pasti lebih mengalami hal pedih darinya sampai di permainkan oleh takdirnya sendiri.
"Kau tahu? Jika dengan bunuh diri dan mati bisa merubah hal buruk dalam hidupku, sudah lama aku akan melakukannya. Tapi tidak, Sayang! Aku tak ingin menyianyiakan takdir baikku dan itu KAU!" imbuh Maxwell sama-sama dalam posisi itu bahkan saat itu umurnya masih 7 tahun. Tak ada satupun keluarga atau orang yang perduli padanya atau wanita yang membasahi bajunya dengan darah.
Mendengar itu hati Evelyne menghangat. Ia tak bisa berkata-kata selain menatap sendu Maxwell dengan linangan air mata.
"Jika aku mati lebih dulu aku tak akan bertemu denganmu. Aku tak akan bisa melihat wajah baru orang tuaku dan bagaimana rasanya menjadi calon ayah bagi bayi kita?! Aku tak akan merasakan hal itu karna tak berpikir lebih jauh. Hm?"
"L..lalu.. A..aku harus apa? Aku.. Aku bingung. Hiks!" isak Evelyne membenamkan wajahnya ke dada Maxwell. Ia tak tahu harus bersikap bagaimana karna jelas orang-orang di Pura termasuk BUBU-nya Leen kecil begitu menyumpahinya.
"Aku tak bisa menghadapi mereka. Max! Aku tak bisa!"
"Kau tak sendiri. Kau masih punya aku dan bayi kita, Hm?" bisik Maxwell mengusap punggung Evelyne agar lebih tenang.
Evelyne diam masih menangis tapi keadaanya tak sekacau tadi. Ia hanya ingin meringankan sesak di dadanya dengan ucapan Maxwell yang menariknya dalam pikiran yang sempit.
Maxwell-pun hanya membiarkan itu. Ia akan selalu menjadi garda terdepan bagi yang ingin mengusik dan menganggu pikiran Istrinya.
Hal itu biasa di lihat oleh Leonard yang tadi ingin melihat Evelyne lagi. Ia berdiri di depan pintu menatap hangat ke arah pintu mobil yang tadi tak sempat Maxwell tutup.
Ia melihat segalanya. Bagaimana Maxwell menghadapi dan menenagkan Evelyne yang biasanya sangat keras kepala sekarang mau menyandarkan tubuhnya dalam pelukan kekar itu.
"Sekarang aku sadar. Cinta bisa merubah kepribadian seseorang,"
Batin Leonard menghela nafas. Ia bukannya tak tahu sifat Maxwell yang tempramen dan begitu angkuh. Ia tahu jika Maxwell tak sesabar yang sekarang ia lihat.
Menurut data yang diberikan anggotanya, Maxwell dulu sama sekali tak menerima Evelyne tapi sekarang, dia jadi pria yang penuh dengan kebijaksanaan padahal dulu pantang di sulut amarahnya mengamuk.
__ADS_1
....
Vote and Like Sayang..