
Tatapan penuh dengan api amarah dan kekesalan itu memecah Cermin yang sekarang memperlihatkan guratan wajah cantiknya yang sudah merah padam. Dadanya terasa sangat panas dan seperti darah dalam jantung-Nya tengah mendidih.
"Dia pikir dia siapa mau mengaturku?! Pria IDIOTTT.. KAU IDIOOTT!!" geram Evelyne mengatupkan rahangnya kuat sampai gertakan giginya beradu nyaring.
Tak tahan dengan kegelisahan ini akhirnya Evelyne memilih untuk berendam di dalam Bathub meredakan bara di dadanya.
Ia lebih dulu menanggalkan semua pakaian di tubuhnya lalu masuk ke dalam genangan air yang sudah terisi sedari tadi.
Evelyne tak tahu cara berbaring dengan benar hingga ia menenggelamkan seluruh tubuhnya sampai rambut hitam legam itu naik kepermukaan dengan buih-buih oksigen meluap ke atas.
Ia sama sekali tak bergerak seakan-akan membiarkan air ini memijat dan menampung bobot tubuh seksi-Nya yang terasa begitu pegal.
Tak perduli akan air yang berubah warna menjadi merah keruh karna darah yang menempel di tubuhnya serta perban yang tadi ada di tangan itu-pun sudah ikut basah.
Sementara di luar kamar mandi. Maxwell baru saja masuk membuka Pintu ini ringan lalu merotasikan matanya yang memindai seluruh penjuru kamar. Ia mencari sesosok wanita yang tadi menggila di bawah sana.
Helaan nafasnya muncul kala melihat kondisi ranjang sudah kacau-balau. Bantal berserakan di bawah dengan selimut melayang ke arah sofa. Tak lupa dengan bagian Furniture kamar berserakan di lantai dingin ini.
"Dia memang Monster," gumam Maxwell melempar Jaket di tangannya ke Sofa seraya melepas Jam tangan di pergelangan.
Masih ada 5 jam lagi untuk melihat Mentari pagi. Seraya menunggu itu ia bisa melihat apa yang di kirim Jack tadi padanya.
"Kau ingin menjadi Manekin. Ha?" tanya Maxwell menduga Evelyne ada di kamar ganti. Ia mengeluarkan Ponsel-Nya melihat ada pesan singkat dari Jirome yang sudah memastikan Violet pergi dari area Perusahaan.
Dalam kondisi senggang ini Maxwell beranjak ke arah Laci Meja di dekat dinding sebelah kiri Ranjang. Ia mengambil Tablet-Nya di sana lalu memeriksa File yang di kirim Jack padanya.
Dari beberapa halaman Maxwell hanya diam memperhatikan beberapa Foto laki-laki paruh baya dan ada satu Pria muda yang terlihat masih seumuran dengan Evelyne. Ada dua wanita paruh baya yang di bawah keterangannya adalah Bibik Evelyne dari segi Ayah dan Ibunya.
"Mereka meninggal dunia?" gumam Maxwell ambigu. Ia diam sejenak meneliti semua hingga Maxwell perlu Evelyne untuk mengkonfirmasi apa ini memang Keluarganya atau bukan.
"Cepat kesini jika ini masalahmu tuntaas!!"
Panggil Maxwell tapi tak ada jawaban dari arah mana-pun. Ia mulai kesal berdiri dari duduknya melempar Tablet ke atas Ranjang lalu berjalan cepat membuka Pintu Ruang ganti.
"Kauu..."
Geraman Maxwell terhenti kala tak melihat siapapun disini. Bahkan, barang-barang dan lemari masih utuh tak cacat sama sekali pertanda Wanita itu tak menginjak lantai ini.
"Dia memang benar-benar," gumam Maxwell berbalik ke jendela kaca kamar menelisik apa Wanita itu sudah gila melompat di ketinggian.
Namun. Evelyne sama sekali tak ada bahkan tak meninggalkan kerusakan di jendela.
Namun, sedetik kemudian Maxwell baru paham kala melihat Boxer yang tadi Evelyne pakai tergeletak di lantai kamar mandi yang terbuka kecil dengan sisi gagangnya yang retak.
Tanpa ab-aba lagi ia berjalan cepat ke sana mendorong kasar Pintu itu hingga mata Maxwell melebar melihat Evelyne menenggelamkan diri di dalam Bathub dengan air sudah sangat keruh.
"KAU INGIN MATI. HAAA??"
Bentak Maxwell langsung menarik lengan Evelyne naik ke permukaan air. Hal itu mengejutkan Evelyne yang tadi bermeditasi dengan ketenagan.
Maxwell mengangkat Evelyne keluar dari Bathub walau ia harus mengumpat melihat Wanita kembali dalam Mode bayi tanpa sehelai benang-pun.
"Kauu.."
"Kau ingin mati?" geram Maxwell mencengkram pipi Evelyne yang seketika langsung menepis tangannya.
__ADS_1
"Cih. Untuk apa kau kesini?" sinis Evelyne terlihat masih kesal.
Ia bersandar ke dinding kamar mandi dengan kedua tangan berlipat di atas dada mempertontonkan Tubuh-Nya di hadapan Maxwell yang langsung membuang nafas kasar.
"Kau ingin tiada secepat mungkin. Hm?"
"Jika aku ingin mati. Cara ini terlalu murahan," gumam Evelyne santai. Ia membiarkan hawa dingin ini menghempas kulitnya sampai Maxwell harus menjernihkan pikiran.
"Ini sudah dini hari. Air yang kau gunakan untuk berendam itu terlalu dingin. Kau tak merasakannya?"
"Benarkah?" tanya Evelyne acuh merotasikan matanya malas.
Alhasil Maxwell kembali harus menambah level kesabaran setiap berhadapan dengan Iblis satu ini.
Ia memencet tombol di di bagian samping Bathub hingga air tadi terhisap ke tempat pembuangan. Evelyne hanya membiarkan Maxwell mengambil Shower dan peralatan Mandinya di dekat Wastafel.
"Pakai ini!"
Melempar Botol Shampo ke wajah Evelyne yang sigap menangkapnya. Ia melihat lebel merek produk ini dengan tatapan cukup tajam.
"Itu bukan racun. Cepat pakai!"
Sambar Maxwell yang memunggungi wanita itu. Ia berdiri di depan Wastafel mencuci wajahnya untuk sejenak meredakan rasa pegal di rahangnya.
"Basahi kepalamu dengan shower!" mengulurkan benda itu ke belakang tapi Evelyne tak kunjung mengambilnya.
"Cepatlaah!!"
"Kenapa begitu lengket?"
Maxwell menangkap kegiatan Evelyne dari kaca wastafel hingga wajahnya berubah menahan kekesalan kala mahluk kuno ini memencet botol shampo sampai cairan itu lumer ke lantai tanpa ada yang tersisa di kepalanya.
"Aku tak suka benda ini!"
Melempar itu ke kaca wastafel lalu melenggang untuk pergi keluar kamar mandi. Namun, lengannya langsung di tahan Maxwell yang meneguhkan Iman dan jiwanya agar tak hilang kendali.
"Duduk!"
"Kauu.."
"D-U-D-U-K!" tekan Maxwell menarik Evelyne hingga terduduk di kursi dekat Wastafel.
Sebelum menatap ke arah bagian lain, Maxwell mencoba untuk tenang walau telinganya sudah merah.
"Kenapa telingamu.."
"Duduk dan Diam!" tekan Maxwell mengarahkan Shower ini ke atas kepala Evelyne yang akhirnya diam.
Ia membiarkan Maxwell membasahi rambutnya dengan sisa Shampo di botol yang tadi ia buang ke lantai. Aroma harum khas dari Shampo ini sama seperti yang di pakai Maxwell. Harum Musk dan Mine membuatnya memejamkan mata sampai Maxwell harus beberapa kali menelan ludahnya melihat Evelyne pasrah seperti ini.
Kenapa aku jadi segila ini?
Batin Maxwell merasa sangat tak percaya. Bisa-bisanya hanya karna melihat wajah damai Evelyne ia langsung aktif dan sulit di kontrol.
Bagaimana tidak? Evelyne bukan lagi anak kecil yang memiliki bagian tubuh rata. Ia sudah dianugerahi Dua bukit kembar yang padat dan puncak ranum sempurna dengan kulit mulus bersih tanpa sehelai halangan apapun.
__ADS_1
Maxwell akan gila. Yah, ia dangat tersiksa menahan dilema hasrat yang tak henti-henti merayunya untuk bersahabat dengan panorama ini.
"Kenapa bisa seindah ini?"
Batin Maxwell tak bisa memalingkan pandangannya yang sudah terpaku melihat Tubuh Evelyne.
Tangan tak sabaran Maxwell perlahan turun menyusuri rambut Evelyne hingga untuk pertama kali ia mengusap punggung yang terasa sangat lembut dan penuh dengan seni.
Air itu mengalir tak tentu arah mengiringi jemari kekar Maxwell yang tanpa sadar mengagumi ciptaan Tuhan satu ini.
"Cantik!" gumamnya tanpa sadar menyusuri pertengahan tulang Punggung Evelyne yang langsung menggelinjang menahan tangannya.
Kelopak mata abu Evelyne perlahan terbuka bersitatap langsung dengan manik elang Maxwell yang terlihat begitu kosong. Wajah Tampan dengan rona merah di telinga dan leher itu menebar pesona kegagahannya.
"Kau menginginkanku?"
"A.. A.."
Maxwell langsung menarik diri dari Evelyne dengan Shower yang sudah hilang kendali membasahi baju kaosnya. Wajah Maxwell langsung berubah kaku tapi terkesan arogan menjahui Evelyne untuk menormalkan Tubuh dan batinnya.
"Bersihkan sendiri!"
Gumam mengisi Bathub dengan Shower yang ia letakan di pinggirnya. Baju Kaos yang ia pakai sudah benar-benar basah mencetak tonjolan otot dan Tubuh kekar Maxwell yang memang begitu sempurna. Punggungnya yang bidang dan dada kokoh itu terlihat minta di bebani.
"Dimana kau membentuk Tubuh seperti itu?"
"Pakai handuk-mu setelah selesai!" acuh Maxwell ingin keluar tapi Evelyne segera mendorong Pintu untuk tertutup rapat.
Sontak Maxwell menatap tajam Evelyne yang masih santai menyilangkan kedua kakinya dengan senyuman terkesan berbahaya.
"Jangan munafik. Kau menyukai Tubuh-ku, bukan?"
"Kau gila?" geram Maxwell tapi Evelyne sangat suka melihat exspresi kesal Maxwell yang bertambah dosis ketampanannya.
"Kau tak pandai berbohong."
"Aku tak menyukaimu!! Dan sudahi semua ini!!" bantah Maxwell ingin pergi tapi Evelyne dengan cepat meraih Shower di dekatnya dan mengarahkan air itu pada Maxwell yang seketika mendidih.
"Kauuuu... "
"Perutmu bagus juga!" desis Evelyne melihat bentuk otot kekar Maxwell yang merasa di cabuli. Evelyne benar-benar tak takut melakukan hal yang bisa saja merusak dirinya sendiri.
"Hentikan dan cepat kau bersihkan dirimu!!"
"Dadamu lumayan!"
"EVELYNEE!!!" geram Maxwell nyaris seperti bentakan tapi seperti biasa Evelyne masa bodoh. Ia masih melecehkan Maxwell yang sudah tak tahan lagi langsung mendobrak Pintu dan keluar dengan perasan campur aduk.
"Tambah satu otot di bagian bawah perutmuu!!"
"Wanita gila!" umpat Maxwell mendengar teriakan Evelyne. Ntah sampai kapan ia akan merasa dunianya kacau begini?!
Siang hari ada Leen imutnya dan di malam hari ada wanita mesum itu.
....
__ADS_1
Vote and Like Sayang..