
Maxwell harus menebalkan telinga kala patuah Nyonya Meeiner masuk ke dalam jantungnya. Wanita paruh baya yang memiliki sikap hangat dan lembut ini mencoba memberi pengertian pada Maxwell.
Sangat berbeda dengan apa yang di lakukan Tuan Fernandez yang kala itu sangat emosian dan terlalu ingin berhasrat untuk membunuhnya.
"Nak! Apa masalahmu dengan Violet? Kenapa kau ingin bercerai dengannya," tanya Nyonya Meeiner halus tapi mengena.
Maxwell juga menjaga sikapnya. Ia tahu memposisikan diri dimana harus beradu otot dan suara.
"Aku tak nyaman dengannya!" tegas Maxwell tanpa embel-embel kiasan.
"Tak nyaman dalam hal apa? Mommy tahu kalian sudah menikah lebih dari 3 tahun dan selama itu pasti ada bosan dan.."
"Aku tak nyaman sejak awal menikah!" sela Maxwell yang duduk berhadapan dengan Nyonya Meeiner. Wanita berwajah hangat ini tersentak dengan pernyataan Maxwell yang tanpa beban mengatakan hal itu.
"Maksudmu?"
"Sedari awal aku tak menyukai Violet! Aku hanya terpaksa karna Tua Bangka itu mengancam ku, sampai saat itu aku bertahan hanya karna tekanan darinya. Bukan aku mencintai Putrimu!"
Sontak Nyonya Meeiner terkejut akan pernyataan Maxwell. Apa benar? Tapi kenapa baru sekarang Maxwell buka suara? Seharusnya tak menunggu 3 tahun ini.
"Aku juga sudah berulang kali mengatakan padanya untuk tak berharap padaku. Tanyakan pada Putrimu apa selama ini aku pernah menyentuhnya atau memukulnya, aku tak melakukan itu sama sekali," imbuh Maxwell dengan intonasi datar begitu juga raut wajahnya.
Nyonya Meeiner masih belum bisa berkata-kata. Dunianya seakan kabur dan sulit untuk menyelam diantara samaran kabut ini.
"3 bulan kami menikah aku baru tahu dia mengidap Kangker rahim. Dia tak memberitahu kalian karna itu permintaanya agar tak mengecewakan semua orang. Dia kekeh ingin memiliki anak tapi aku tak bisa memberinya hal itu, aku harap kau paham maksudku."
"T..tapi.."
Nyonya Meeiner tergagap berpeggangan ke lengan sofa di sampingnya. Dengan kata lain selama ini Violet menyembunyikan penyakitnya karna tak ingin mengecewakan dirinya yang berhasrat memiliki seorang Cucu.
"Tapi kenapa? kenapa kau tak bisa memberinya harapan sedikit saja dan.."
"Aku tak ingin mempermainkan Putrimu karna aku menghargai Keluargamu!" sela Maxwell jujur-jujur saja. Ia mengatakan perasaan itu hanya pada Nyonya Meeiner yang mampu mendengar maksudnya.
"Violet sangat mencintaimu. Dia mengagumi-mu sudah sedari kecil, tentu dia sangat tak ingin lepas darimu. Max!" lirih Nyonya Meeiner penuh kepahitan.
Apalagi sekarang Violet sudah tak bisa mengandung anak. Wanita itu hanya berharap jika Maxwell tak akan meninggalkannya dan terus bersama hingga senja.
"Aku tak bisa dan kau tenang saja, aku sama sekali tak merusak Putrimu," gumam Maxwell memang bersyukur ia tak melakukan hal itu. Jika sempat Violet hamil atau pernah berhubungan dengannya bisa saja ini akan menjadi berat.
"Apa dia masih berusaha mendekatimu?" tanya Nyonya Meeiner dengan suara rendah.
"Yah. Malam ini dia mengundangku makan disana. Karna menghormati kedatanganmu aku akan pergi dan aku harap kau bisa membantuku untuk memberi penjelasan pada Violet!"
"Lebih baik kau jelaskan sendiri. Max!" saran Nyonya Meeiner tapi Maxwell menghela nafas dalam.
"Kurang jelas apalagi sikapku padanya?!"
Jawaban Maxwell membuat Nyonya Meeiner terdiam. Tak ada keraguan, paksaan atau sekedar lelucon di netra coklat elang ini. Hanya sebuah kepastian dan sangat ambisius.
"Kenapa Tuan Marcello menekanmu?"
"Dia ingin aku berhubungan dengan Keluarga Fernandez karna kala itu Perusahaannya yang dulu dia peggang diancam kebangkrutan. Jika aku menikahi Violet namanya akan harum di hidung para Klien yang mengenal Keluarga kalian," jelas Maxwell tak menceritakan hal selanjutnya.
Raut wajah datar ini tak ada yang bisa menebak seberapa dalam rencananya untuk menjebloskan Tuan Marcello ke garis gelap Keluarga Fernandez.
"Tak di sangka Marcello selicik itu," gumam Nyonya Meeiner nanar.
Yah. Dia sangat licik dan aku juga tak ingin melihatnya hidup dengan baik.
Benak Maxwell terigap rasa ingin mengadu-domba Tua Bangka itu dengan Tuan Fernandez yang sangat emosian.
"Dengan apa dia mengancam-mu? Kenapa kau bisa tunduk padanya?"
Pertanyaan kali ini harus Maxwell pertimbangkan. Ia tak mungkin menceritakan semua kisah hidup kelam itu pada Nyonya Meeiner yang berhati kapas ini.
"Dia mengancam akan menjual Rumah Peninggalan Ibuku yang sudah meninggal," papar Maxwell menyelipkan intonasi geramnya.
Dengan begitu Nyonya Meeiner bungkam. Ia agak ragu dengan cerita Maxwell soal Tuan Marcello yang terlihat sangat baik dan hangat pada mereka.
"Max! Bukankah Marcello sudah bercerai, Istri maksudmu itu.."
__ADS_1
"Dia membunuh istrinya sendiri!" sela Maxwell langsung membuat Nyonya Meeiner syok. Matanya melebar dengan mulut sedikit terbuka.
"Ap..apa?"
"Mereka tak bercerai. Aku melihat sendiri dia membunuh Mommyku dan berselingkuh dengan wanita lain!" jawab Maxwell seraya mengeluarkan sesuatu dari balik Jasnya.
Sebuah Flashdisk yang berisi rekaman yang di lihat Ibunya sebelum ia melakukan aksi bunuh diri. Maxwell memanfaatkan itu untuk memperkuat ceritanya tadi.
Tangan Nyonya Meeiner gemetar kala Maxwell menyerahkan itu padanya. Ia tak menyangka ini akan begitu rumit dan gelap.
"Dia tak seperti yang terlihat. Jauhkan Putrimu darinya dan jangan sampai kalian menyesal!"
"Y..ya tuhan," decah Nyonya Meeiner masih belum siap menerima ini.
"Terserah kau ingin mengatakan ini pada suamimu atau tidak. Tapi yang jelas, aku sudah memperingatkanmu."
"A..aku.."
"Apa-apaan kau. Haa???" suara keras Tuan Marcello dari arah belakang sana membuat Nyonya Meeiner tersentak.
Maxwell hanya diam duduk di tempat tapi tatapan misterius itu jelas sangat ambigu.
Rasa penasaran Nyonya Meeiner tak lagi di tahan hingga segera bertolak kembali melangkah menuju area lantai dasar Perusahaan di dekat Pintu keluar.
Ia terhenti kala melihat Tuan Marcello sudah acak-acakan dengan Jas yang tadi ia pakai koyak dan rambutnya juga berantakan.
Tatapan mata penuh amarah Pria itu melayang ke arah Lift dimana Evelyne tengah berpose santai bersandar ke dinding menatap licik Tua Bangka ini.
"Kau ingin aku mencabut helaian rambutmu satu persatu?" desis Evelyne memainkan jarinya. Ia tak terlihat oleh Nyonya Meeiner yang menatap Tuan Marcello dari samping.
"Kau gilaa!! Ada wanita gila sepertimu di dunia ini. Haaa??"
"Susst! kau ingin aku melakukan apa lagi. Hm?" manja Evelyne bermain tenang padahal ia sudah bergulat dengan Tuan Marcello di lantai atas sampai Pria ini babak-belur.
"Kauu.."
Ucapan Tuan Marcello terhenti kala melihat Nyonya Meeiner di arah samping sana.
Dia hanya diam. Di tatapnya lekat keadaan Tuan Marcello seakan masih memastikan keterangan Maxwell tadi.
"Nyonya!"
"Aku ingin menemui Putriku!" tegas Nyonya Meeiner lalu melangkah pergi diikuti Tuan Marcello yang melempar tatapan membunuh pada Evelyne yang menunjukan jari tengahnya.
Sontak dia terkejut melihat itu tapi sudah pergi ke luar Perusahaan. Evelyne beralih menatap jari tengahnya yang ia acungkan kedepan.
"Ini maknanya apa? Kenapa di Poster Gedung tadi mereka berpose seperti ini?" gumam Evelyne mengingat di Mall tadi ada Poster Group Band yang berpose seperti ini. Terlihat keren dan liar, itu sangat menarik.
Sibuk mengotak-atik jarinya Evelyne tak sadar Maxwell sudah berjalan mendekat di depan Lift.
"Kau sudah melakukannya?"
"Sudah. Aku hebatkan?!" tanya Evelyne hanya menatap kilas Maxwell lalu fokus melihat jari-jari lentiknya.
Maxwell kira jari Evelyne terluka atau terkilir. Ia segera masuk ke dalam Lift segera meraih tangan Evelyne untuk dilihat.
"Sakit?"
"A..a?" tanya Evelyne saat Maxwell memeriksa jarinya.
"Ada yang sakit?"
"Max!" panggil Evelyne membuat batin Maxwell tersenyum. Sejak tadi Evelyne sudah gamblang memanggil namanya dan terdengar cukup merdu.
"Max!"
"Hm?"
"Ini artinya apa?" tanya Evelyne menunjukan jari tengahnya dan sontak Maxwell langsung tercekat segera menurunkan tangan Evelyne dari depan matanya.
"Kau.. Darimana kau belajar ini. Ha??"
__ADS_1
"Tadi, mereka terlihat keren bergaya seperti itu. Terkesan liar dan erotis!" jawab Evelyne tersenyum geli tapi senang.
Jantung Maxwell sudah memompa keras antara marah dan juga kesal karna Evelyne menangkap hal-hal buruk di luar sana.
"Ini senam jari atau.."
"Jangan lakukan itu lagi. Paham?" tekan Maxwell menggenggam jemari Evelyne agar tak membentuk simbol nakal itu lagi.
Evelyne yang selalu penasaran akan dunia ini tak akan menurut begitu saja. Ia suka meniru hal-hal aneh yang ia lihat.
"Kenapa kau marah? Itu hanya mainan Jari-kan?"
"Artinya tak baik. Jangan lakukan itu lagi karna kau perempuan. Hm?" lembut Maxwell mencoba memberi pengertian pada Evelyne yang mangut-mangut ntah paham atau tidak ia masih menunjukan sifat ambigu.
"Kalau padamu boleh?"
"Evelyne!" tekan Maxwell membuat mata abu ini menyipit. Ia jadi sangat bersemangat untuk menggoda Maxwell hari ini.
"Katakan! Apa misi-ku malam ini. Hm?" mengalungkan kedua tangannya ke leher Maxwell tanpa sungkan.
Maxwell hanya bisa mengambil nafas dalam dengan para anggota yang melihat itu berusaha menjadi patung.
"Kau tetap disini."
"Lalu, kau?" alis Evelyne menukik tajam kala Maxwell berniat untuk pergi sendiri.
"Aku akan pergi ke Kediaman Violet!"
Seketika wajah Evelyne berubah mengeras. Ia langsung melangkah keluar Lift berteriak menunjukan jari tengahnya.
"Kalian lihat ini dan beritahu aku apa artinyaa!!!"
"Kau.."
Maxwell sigap menggenggam tangan Evelyne yang masih saja membuatnya jantungan.
"Lepass!! Aku ingin tahu arti ini apa?!"
"Jangan tunjukan lagi. Kaki ku lemas!" bisik Maxwell karna Evelyne terlihat lucu dan menggemaskan dengan mode penasaran seperti ini.
Mendengar itu Evelyne tersenyum miring. Jika begini ia akan semakin mencari-cari hal aneh yang akan membuat Maxwell gelagapan.
"Awas saja sampai kau mendekati wanita itu!" ancamnya menunjuk dada Maxwell yang ada bekas lukanya.
"Memangnya kenapa?"
"Aku akan benar-benar membencimu!" geram Evelyne memperingatkan Maxwell yang hanya mengangguk tapi ada yang mengganggunya dan harus di utarakan.
"Jangan dekati Dawson. Dia bukan Pria yang mudah ditebak," bisik Maxwell karna Evelyne tengah menyandarkan tubuh padanya.
"Terserah padaku. Memangnya kau siapa?" ketus Evelyne tapi Maxwell tak menganggapnya serius. Ia berharap Evelyne mau mendengarkannya.
"Jangan melakukan apapun tanpa memberitahuku. Hm?"
"Tergantung moodku!" lugas Evelyne menatap bibir Maxwell kilas lalu tersenyum sendiri. Apa yang ku pikirkan? Kenapa akhir-akhir ini aku sering menginginkannya?
"Max!"
"Hm?"
"Aku penasaran dengan bentuknya!"
Sontak Maxwell langsung menarik diri dari Evelyne dan mengalihkan pembicaraan pada anggotanya yang juga belum sadar Tuannya berjalan ke arah mereka.
"Perketat penjagaan dan jangan biarkan manusia tanpa kartu identitas datang ke sini!"
"Baik. Tuan!" jawab mereka serentak dan Maxwell memilih pergi ke luar sana menjahui Evelyne yang kesal.
"Bagaimanapun caranya aku harus bisa melihat itu," tekan Evelyne mengibas rambutnya indah lalu melenggang untuk kembali ke kamar mereka.
...
__ADS_1
Vote and Like Sayang