
Sesuai dengan apa yang Maxwell katakan tadi. Sekarang mereka sudah dalam perjalanan menuju Kediaman Violet yang Notabennya milik Maxwell. Tapi, Pria tampan berjuta pesona itu tak menghiraukan tentang hartanya dan lebih suka tinggal di kamar pribadi tepat dalam Perusahaan.
Tentu Maxwell sudah rapi dengan stelan Formal seperti biasa. Ia selalu tampil menawan dengan balutan Kemeja abu lengan panjang dilapisi oleh Mantel berwarna hitam yang senada dengan sabuk di pinggangnya.
Bedanya, malam ini Maxwell harus bersiaga karna sedari tadi ia merasa Evelyne tersenyum tipis tanpa sebab lalu menatap ke arahnya dengan pandangan misterius. Apa wanita ini kehabisan obat? Pikir Maxwell sesaat.
"Kau sudah tahu tugasmu, bukan?" tanya Maxwell bertopang kaki angkuh melirik Evelyne dari ekor netra tajamnya.
Wanita cantik ini masih nyaman memakai kemeja hitam kebesaran milik Maxwell dan Sendal kamar mandi. Bedanya kali ini Evelyne memakai Jaket serta Topi, jangan tanya dari mana ia mendapatkannya karna itu milik Pria tampan di sebelahnya.
"Kau mendengarku?" tanya Maxwell lagi karna tak mendapat jawaban. Jirome yang menyetir juga hanya membisu tak ingin menjadi nyamuk.
"Yah. Ada apa?" menoleh dengan pandangan santai.
"Kau masuk dengan arah yang ku jelaskan tadi. Ingat untuk tetap hati-hati karna di sana ada Fernandez!"
Evelyne mangut-mangut mengerti. Ia juga paham harus pergi ke kamar Violet atau mungkin ia akan ke kamar Tuan Marcello yang biasa menginap di sana.
"Aku paham!"
"Ulangi perkataan-ku tadi!" titah Maxwell belum percaya itu.
Evelyne membuang nafas panjang karna mereka sudah ingin mendekati area Kediaman Violet. Dengan lantang Evelyne menatap Maxwell yang masih setia dengan pandangan datarnya.
"Menyusup, tak terlihat, hati-hati dan dapatkan! Seperti itu?"
"Otaknya juga cepat tanggap dalam hal seperti ini,"
Batin Jirome sesekali melihat dari kaca spion. Tampaknya respon Maxwell tak begitu berlebih. Seperti biasa ia memasang wajah lurus tanpa ada belokan, kiranya begitu.
"Hm."
"Emm.. Tapi kau memberiku hadiah-kan?" tanya Evelyne agak menggeser bokongnya mendekati Maxwell yang tahu gelagat ini.
"Kau akan menuruti keinginanku-kan?"
"Kau bisa tidak jangan berpikir seperti itu?!" decah Maxwell menjauhkan dagu Evelyne yang seperti ingin mengintip area Resleting celananya.
Wanita ini berdecih kesal melirik tajam Maxwell dari netra abunya.
Kenapa dia sangat tak tertarik denganku? Apa aku kurang menggoda?
Pikir Evelyne meremas dadanya. Hal itu membuat Maxwell menatap tajam Jirome yang tadi tak sengaja melihatnya dan segera menurunkan kaca Spion.
"M..maaf!" lirih Jirome bergidik melihat pandangan membunuh Maxwell.
Evelyne masih menelisik penampilan dan bagian tubuhnya. Saat wanita ceroboh ini ingin menaikan Kemejanya ke atas Maxwell langsung angkat bicara.
"Perhatikan area ini!" tegas Maxwell mengalihkan otak Evelyne kembali pada tugas.
Terselip nafas lega di sela penjara dada Maxwell kala Evelyne tak lagi bertingkah sembarangan.
"Aku masuk di area belakang. Jack sudah mematikan CCTV berarti harus memanjat dulu-kan?"
"Ada anggotaku di dalam. Dia akan membuka pintu belakang!" jawab Maxwell memang sudah mengaturnya.
Saat Mobil sudah mendekati Gerbang. Dua anggota Tuan Fernandez nyatanya berjaga disana karna perintah dan kekuasaan mutlak atas Putrinya. Itu tak menjadi masalah bagi Maxwell karna ia bisa
Mobil itu masuk melewati mereka untuk menapaki pekarangan luas Kediaman ini. Evelyne sudah tak asing dengan kemegahan Bangunan yang bercorak putih khas eropa terkesan lebih dingin.
Terlihat juga anggota Maxwell yang berjaga di Pintu utama. Mereka menunduk kala Mobil Maxwell terparkir dengan stabil.
"Pakai ini!"
Maxwell memakaikan Earpice ke telinga Evelyne yang heran karna baru pertama kali memakainya. Ia melonggarkan Topinya kala Maxwell menjepitkan alat itu ke daun telinga indahnya.
"Untuk?"
"Kau bisa bicara denganku melalui itu. Ingat, selalu hati-hati dan jangan melakukan hal .."
"Diluar perintah-mu. Benar?" sambar Evelyne sudah hafal kalimat itu.
Maxwell mengangguk kecil lalu keluar kala Jirome sudah membuka Pintu Mobil. Ia merapikan Mantelnya menatap sejenak Evelyne yang meraba telinganya seraya memandangi Maxwell yang segera melangkah pergi ke Pintu utama.
Saat Maxwell sudah masuk ke dalam sana Evelyne melihat kiri kanan dimana anggota Tuan Fernandez masih ketata berjaga.
Otaknya yang selalu brilian membawa Evelyne untuk turun dari Mobil melalui Pintu kemudi yang agak tertutup karna ada Mobil di sampingnya.
Pergerakan Evelyne sangat halus tanpa berisik. Ia gesit menyelinap diantara bayang-bayang lampu Kediaman dan segera pergi ke area yang Maxwell jelaskan padanya tadi.
.....
Sementara di dalam sana. Maxwell di sambut hangat oleh Violet yang tersenyum sumringah menyongsong ke datangannya. Wanita berwajah oval dengan senyum tipis itu tampak cantik dengan gaun maron yang tertutup di bagian dada tanpa lengan yang anggun.
"Sayang! Akhirnya kau datang juga," syukurnya mendekat ditengah tatapan datar Tuan Fernandez yang bertaut lekat dengan netra dingin Maxwell.
Disini juga ada Nyonya Meeiner yang memandangnya teduh bersama Tuan Marcello yang senang Maxwell datang kesini.
"Sayang! Ayo masuk, aku yakin kau akan suka dengan makananya. Aku belajar memasak!"
"Violet!" sangga Nyonya Meeinee mendekati Putrinya karna melihat Maxwell tak merespon.
__ADS_1
"Mom! Aku.."
"Ayo pergi ke Ruang Makan!" ajak Nyonya Meeiner menggandeng lengan Violet yang tak rela melangkah lebih dulu meninggalkan Maxwell di tengah intimidasi Daddy-nya.
Dua Pria bertubuh tegap jangkung ini terlihat saling tatap membunuh mendinginkan suasana. Bahkan, Tuan Marcello sampai menelan ludah akan hal ini.
"Tuan Fernandez! Ayo ke Ruang makan. Kau juga Maxwell!"
"Simpan basa-basimu untuk nanti!" sarkas Maxwell berjalan angkuh di ikuti Jirome melewati keduanya.
Tangan Tuan Fernandez terkepal mencoba mengendalikan amarahnya karna ini malam kebahagiaan bagi Violet.
"Tuan! Maxwell memang seperti itu. Abaikan dia untuk malam ini."
"Kau sendiri tak bisa mengendalikannya!" ketus Tuan Fernandez melewati Tuan Marcello. Wajahnya berubah pahit dan menahan bulat-bulan hinaan itu.
"Memangnya kenapa? Toh dia sendiri juga tak bisa melawannya," umpat Tuan Marcello mencoba bersabar dengan Tuan Fernandez yang selalu menyalahkannya.
Padahal ia sudah berusaha mendekatkan Violet dan Maxwell yang tak bisa diajak bicara tenang sedikit saja.
Tepat di meja makan besar Persegi panjang dengan 5 Kursi yang mengelilinginya itu mereka tengah dilanda kecanggungan kecuali Maxwell.
Violet berusaha untuk melupakan tentang Perceraiannya karna malam ini ia ingin Maxwell memandangnya lebih dalam.
"Kau ingin makan apa? Disini tersedia atau kau bisa memintaku membuat makanan kesukaanmu?" tawar Violet sangat semangat.
Namun, sangat di sayangkan wajah Maxwell tak berubah masih menatap lurus kedepan tanpa menghiraukannya.
Hal itu membuat hati Nyonya Meeiner mencolos. Sikap Maxwell begitu kejam tapi ia paham jika Pria juga tak bisa di salahkan.
"Kau suka Seafood? Ini Udang yang ku.."
"Violet!" lirih Nyonya Meeiren memeggang bahu Violet karna duduknya tepat di sampingnya.
Maxwell tak membiarkan Violet duduk di dekat dengannya hingga tempat itu kosong dan mendingin sama seperti raut wajah Tampannya sekarang.
"Mom! Aku akan melayani suamiku."
"Biarkan Maxwell memilihnya sendiri. Hm?" bujuk Nyonya Meeiner mengusap pundak Violet hangat. Melihat Maxwell juga tak merespon akhirnya Violet mengangguk.
"Baiklah. Mom!"
"Kau makanlah makananmu. Dan semuanya silahkan duduk di kursi masing-masing!" himbaunya memanggil Tuan Fernandez dan Tuan Marcello yang sudah berjalan ke sini.
Kedatangan Tuan Fernandez membuat suasana jadi beku karna ditambah kebungkaman Maxwell yang hanya memakan Stek daging yang di berikan Nyonya Meeiner ke piringnya.
"Ayo makan. Kalian pasti sudah kelaparan, cicipi masakan Putriku!"
Tuan Marcello yang tadi ingin duduk di samping Maxwell sampai tak jadi karna lirikan netra tajam itu menembus tulang dadanya. Alhasil ia duduk di kursi kiri dan Maxwell sendirian di barisan kanan.
"Bagaimana? Masakanku enak-kan?"
"Makanlah dulu!" tegur Nyonya Meeiner pada Violet berhadapan dengan Maxwell.
Suasana di meja makan sangat sunyi dan hanya dentingan sendok beradu nyaring. Nyonya Meeiner sangat canggung dan pusing karna tak ada yang mau bicara selain Violet yang terus memperhatikan Maxwell.
Bagaimana dengan Tuan Fernandez? Cih, Pria paruh baya dengan visual sangar itu hanya fokus pada makananya dan terus membuat ketidaknyamanan bagi Maxwell.
"Bagaimana kabarmu? Nak!"
"Baik!" jawab Maxwell seadanya tak lagi memakan Steak itu. Ia hanya diam memilih untuk menyeruput segelas air Putih di dekat pirinnya.
"Perusahaan? Aku dengar Bisnismu sangat lancar. Pemasaran Produk Mobil kalian mendapat tawaran banyak Showroon Mobil," imbuh Nyonya Meeiner memecah keheningan.
"Hm. Ini keuntungan bagiku tapi tidak dengan orang yang ingin menjatuhkan aku," lugas Maxwell menatap kilas penuh arti Tuan Fernandez yang mengelap bibirnya dengan Serbet.
Ia tahu apa yang di maksud Maxwell barusan dan sangat paham artinya.
"Nak! Kau harus tetap hati-hati, terkadang banyak orang yang tak suka dengan pencapaian kita. Apalagi kau sudah dalam masa keemasan."
"Yah. Orang yang berhati sempit dan berotak dangkal!" jawabnya lagi dan kali ini benar-benar menyulut emosi Tuan Fernandez yang segera menggebrak meja mengejutkan mereka semua terutama Nyonya Meeiner.
"Suamiku!"
"TUTUP MULUTMUU!!" geramnya berapi-api memandang Maxwell yang tak merubah posisi atau raut wajahnya.
"Suamiku! Ada apa ini? Kenapa kau marah?"
"Jika bukan karna memikirkan Violet. Sudah sedari lama aku MELENYAPKANMUU!!"
Sontak hal itu membuat mereka terkejut tapi Maxwell tetap diam bahkan sekarang kakinya bersilang angkuh menatap tenang Tuan Fernandez.
"Kau sangat licik. Maxwell!! Kau memanfaatkan Putrikuu!!"
"Dad!" lirih Violet sudah gemetar bersembunyi di balik tubuh Nyonya Meeiner yang mencoba menenagkan suaminya.
"Suamiku! Ini meja makan dan jangan membuat keributan. Aku mohon!"
"Dia ingin bercerai dari Violet. Jika benar ingin lalu kenapa kau masih datang kesini. Ha?? Enyahlah dari sini!!!"
"Cukuup!!"
__ADS_1
Violet angkat bicara meninggikan suaranya. Air mata itu jatuh menatap iba antara sesak dan sakit pada semua orang yang ada disini.
"Dad! Aku mencintai Maxwell dan dia sama sekali tak pernah memanfaatkan aku!!"
"Kau tahu apa. Ha?" desis Tuan Fernandez sangat paham jika Maxwell ini pasti ingin memanfaatkan Violet guna mencari muka di depan Publik. Buktinya sekarang berita Skandalnya naik bahkan tersebar kemana-mana.
"D..Dad!"
"Dia ini hanyalah seonggok sampah!! Dia menikah denganmu karna ingin menaikan pamor dan popularitasnya!! Kau pahaam??"
Bentakan itu mengejutkan Nyonya Meeiner yang menatap wajah kepal Suaminya dan beralih pada Tuan Marcello yang hanya diam seperti terkejut.
"Dia ini hanya bajingan haus akan kekuasaan!! Dan kau masih mah padanya? Hanya mengandalkan Tampang sempurna itu. Cih!"
"Putraku tak seperti itu!" gumam Tuan Marcello mencari muka pada Maxwell yang menipiskan bibir seperti meledek.
"Dan kau.. kau sama sekali tak bisa mendidiknya. Dan sekarang masih ingin menyodorkan dia padaku?" desisnya menahan api amarah yang meledak-ledak di dalam sana.
Nyonya Meeiner yang tadi sudah melihat isi Flashdisk yang di berikan Maxwell tadi seketika mengepal. Ia punya bukti perselingkuhan Tuan Marcello yang pasti mengatakan hal buruk tentang Maxwell untuk mendapatkan hati Suaminya.
"Maxwell hanya punya pikiran sendiri! Dia akan berubah untuk Putrimu!"
"Seharusnya kau yang berubah!" ketus Nyonya Meeiner membuat mereka syok begitu juga Violet yang tersentak. Tak pernah aku melihat Mommy sepedas ini, pikirnya begitu.
"N..Nyonya kau.."
"Kau yang memaksa Maxwell menikahi Violet. Bukan?"
Degg..
Tuan Marcello terkejut bukan main. Ia menatap Maxwell yang menyeringai iblis padanya.
Shitt. Apa yang sudah ia lakukan?
"Kau yang merencanakan hal ini dan melimpahkan kesalahan itu pada Putramu!!"
"T..tidak. Aku tak pernah melakukan itu Nyonya!" sangkal Tuan Marcello tapi wajah Nyonya Meeiner sudah beku.
Ia beralih pada Tuan Fernandez yang notabennya tahu kelicikan dan kebusukan Maxwell bagaimana. Ia tak akan semudah itu percaya karna bisa saja Maxwell merencanakan semua ini.
"Suamiku! Kau harus menghukum dia karna.."
"Apa dia yang mengatakan itu?" tanya Tuan Fernandez memotong kalimat Istrinya tanpa memutus tatapan membunuh dari wajah datar Maxwell.
"Iya. dan dia juga memberikan bukti perselingkuhan Tuan Marcello dan Wanita lain."
"T..tidak. Itu.. Aku.. Aku tak melakukan apapun aku hanya.."
"Pergii dari sini!!" teriak Nyonya Meeiner sampai membuat gema di seluruh ruangan.
Karna tak ada pilihan lain akhirnya dengan malu dan marah Tuan Marcello pergi tapi sebelum itu ia di hadiahkan seringaian licik Maxwell yang terlihat sangat puas.
Jirome-pun juga senang karna rencana Tuannya berhasil mendepak Tuan Marcello tanpa menyentuh secara fisik lagi. Kehadiran Evelyne membuat Maxwell sadar untuk membalas semua penderitaan Mommy-nya dulu.
Bicara tentang Evelyne. Apa yang di lakukan Wanita itu sekarang? Kenapa tak ada suara panggilan apapun?
Benak Maxwell bertanya-tanya tak mendengar suara Evelyne di alat yang terpasang rapi di bagian dalam telinga Maxwell. Benda bulat berwarna senada dengan kulit karna didesain khusus untuk mode penyamaran.
Sedangkan sang empu yang Maxwell pikiran sekarang tengah sibuk mengobrak-abrik kamar Violet. Ia bekerja halus tak merusak barang-barang apapun tapi lebih ke mencari sesuatu.
"Di kamar Tua Bangka itu tak ada. Sekarang di kamarnya juga tidak. Kemana lagi aku mencari?" gumam Evelyne bertanya pada dirinya sendiri.
Ia pergi ke Walk In Closet melihat banyak pakaian disini. Ia membuka laci beberapa lemari sampai ke laci ketiga Evelyne melihat ada Foto bayi yang terselip diantara buku-buku tebal lain. Seperti ini susah lama dan tak di pedulikan.
"Foto kaki empat?" tanyanya menaikan satu alis.
Bayi mungil baru lahir dan terlihat dalam benda kaca seperti Inkubator yang tak Evelyne pahami. Ia memasukan benda itu ke dalam jepitan Beranya tempat penyimpanan paling aman bagi Evelyne.
Ia mencari-cari hak lain di dalam laci atau kolong meja sampai Evelyne membuka kemari kaca ini hingga matanya terpaku melihat Pakaian atau bisa di katakan ini baju Tarzan, benak Evelyne terkesiap.
"Apa ini pakaian atau sejenis Kostum?" tanya Evelyne melihat banyak bungkusan pakaian yang masih rapi di gantungan lemari.
Dahi Evelyne berkerut melihat-lihat model Pakaian ini sangat aneh. Ada yang transparan dengan jaring-jaring di bagian dadanya dan ada yang berbalut tali menali seperti akan gantung diri.
Tak ada yang beres dan semuanya terbuka lebar mengangakan mata.
Tapi, kenapa Violet memiliki ini? Pasti dia punya rencana atau ingin menggoda Maxwell.
Batin Evelyne menyipitkan mata penuh intimidasi. Ia membayangkan Violet memakai jaring laba-laba ini dan pasti tak ada yang bisa di tutupi di setiap inci Tubuhnya.
Tapi tunggu..
Evelyne jadi melenceng. Bagaimana jika ia yang memakainya? Apa Maxwell akan menunjukan benda mahal perjaka incaran kaum betina itu?
Membayangkan apa yang bersembunyi di balik resleting itu sudah membuat Evelyne tertantang. Ia penasaran kenapa Maxwell terus menutupi bagian itu?!
"Aku pinjam Jaringmu. Kaki empat!" gumam Evelyne tersenyum licik mengambil beberapa pakaian yang menurutnya cukup aneh dan menantang lalu memasukannya ke dalam Kemeja besar yang ia pakai.
.....
.Vote and Like Sayang..
__ADS_1