
Setelah mengurus keperluan Evelyne yang menolak untuk ditinggal akhirnya Maxwell memutuskan untuk membawa Wanita itu pergi ke ruang Meeting.
Evelyne sudah berjanji tak akan membuat masalah dan hanya duduk saja. Tentu karna itu Maxwell berani membawanya hingga sekarang duduk di kursi tepat di sampingnya.
Evelyne hanya sibuk dengan urusannya sendiri bermain Game di Ponsel Maxwell yang tengah mengeksekusi para penanggung jawab dari Perusahaan pengembang yang kala itu menerima tanggung jawab untuk mencari seluk-beluk Permasalahan Mobil itu.
"Bagaimana bisa masalah ini bocor ke Publik? Bukankah aku sudah mengatakan ini hanya bisa di konsumsi oleh kalian?!" hardik Maxwell menekan setiap intonasi suaranya.
Ia menjelma menjadi Pimpinan yang tegas dan penuh dengan kharisma membuat beberapa Karyawan Wanita dan khususnya Staf Perusahaan pengembang yang datang menjadi salah tingkah dan merona.
"Presdir! Kami benar-benar tak tahu dengan kebocoran masalah ini. Bahkan, anda tahu sendiri selama ini belum pernah kami berkhianat," jelas Ifalen yang merupakan Petinggi Perusahaan Pengembang. Pria paruh baya itu adalah Profesor sekaligus Insinyur yang di pilih Maxwell untuk mengurus Perusahaannya.
"Iya. Presdir! Masalah ini-pun hanya kami yang menangani dan tak mungkin salah satu dari kami berani melawan anda," timpal rekannya ikut pucat karna di beri tekanan oleh Maxwell.
5 Orang yang ada di dalam sini hanya bisa saling tatap bingung dengan masalah ini dan juga sesosok wanita cantik di samping Maxwell. Mereka tak tahu apa Skandal itu benar atau tidak karna jika tidak lalu apa hubungan Maxwell dengan Wanita ini?!
"Kau yakin sudah memeriksa anak buah-mu?" ulang Jirome yang tadi juga berusaha mencernanya.
Saat Ifalen mengangguk pasti seketika ia menatap wajah tampan datar Maxwell yang diam sejenak dengan pikiran melalang buana.
"Presdir! Kita bisa tunjukan pada mereka kalau permasalahan yang di komplain para konsumen itu tak benar, bahkan kita sudah membuat inovasi baru yang menunjang kualitas Mobil itu!"
"Bisa saja ada beberapa konsumen yang di suap dan membuat pernyataan palsu untuk memanasi Berita itu. Presdir!"
Ucap mereka memberikan dugaan-dugaan yang sudah terpikir oleh Maxwell sebelum datang kesini. Ia tahu ini perbuatan siapa karna sebelumnya Dawson juga menerima masalah darinya.
"Atau bagaimana kita membuat jumpa Pers dan menjelaskan jika berita itu tak benar?!" saran seorang Wanita seumuran Evelyne yang terlihat malu-malu menatap Maxwell dengan pandangan tak fokus.
Sadar akan hal itu Evelyne mengangkat pandangannya dari layar Ponsel dan menatap tajam Wanita yang tadi melembutkan suaranya pada Maxwell.
"Menurutku Presdir bisa menjumpai Pers yang pasti akan sangat senang dengan undangan anda. Presdir!" ulangnya dengan suara mendayu-dayu.
Maxwell hanya diam mempertimbangkan hal itu tapi segera tersentak kala Evelyne mengangkat kedua kakinya ke atas meja Meeting.
Semuanya terkejut begitu juga Jirome yang tak bisa berbuat apa-apa dengan wajah angkuh dingin Evelyne.
"Nona kau.."
"Kenapa?" tanya Evelyne dengan tatapan beku pada Ifalen yang memberanikan diri untuk bicara.
"Maaf, tapi ini ruang Meeting! Apalagi ada Presdir disini. Setidaknya Nona menghargai kami yang berusaha memecahkan masalah."
"Benarkah?" tanya Evelyne tanpa menurunkan kedua kaki jenjangnya yang memakai Kulot jeans dengan atasan kemeja kebesaran Maxwell. Jika ia masih memakai Bokser kemungkinan Maxwell tak akan membiarkannya keluar dari kamar.
"Iya. Nona! Kami sedang berusaha mencari jalan keluar dari.."
"Berusaha mencari perhatian. Hm? Itu lebih tepat!" sambar Evelyne melirik tajam pada Wanita yang tadi dengan berani menggoda Maxwell.
Ia tahu dan tak suka melihat banyak sekali cacing kepanasan kala berhadapan dengan Pria Idiot di sampingnya ini.
"Nona! Maksudmu.."
"Ini tempat berdiskusi. Bukan tempat mencari perhatian!" tegas Evelyne tanpa menurunkan kadar beku dari wajahnya.
Merasa tak terima di rendahkan Evelyne. Wanita itu segera berdiri dengan wajah sendu dan tatapan mengiba.
"Nona! Aku tak tahu apa hubunganmu dengan Presdir tapi aku sama sekali tak ingin mencari perhatian disini."
"Apa aku menyebutkan namamu?"
Glekk..
__ADS_1
Wanita itu menelan ludah mendengar balasan Evelyne yang tak melepaskan pandangan membunuh itu. Bahkan, ruangan ini terasa mencekam hanya karna raut wajah dinginnya yang kejam tapi dimata Maxwell itu sangat menggemaskan.
"A..aku.."
"Apa aku menyebut namamu. Ha?" ulang Evelyne dan kali ini suaranya sangat mengintimidasi. Bahkan sekertaris Ireein yang tadi diam di samping Wanita itu juga ikut menelan ludah.
"Nona maafkan saya!"
"Cih. Keluar dari sini!" tegas Evelyne membuat mereka syok saling pandang bingung. Wanita itu menatap Maxwell dengan mata memelas tapi Maxwell yang bersandar di kursinya justru tak melepas matanya pada pahatan cantik ini.
"N..Nona! Presdir saya minta maaf!" sesalnya mendekati Maxwell yang hanya diam berwajah datar.
"Kau tak ingin keluar?" tanya Evelyne dengan serius meremas Ponsel Maxwell yang sudah tak menyala lagi.
Siaall!!! Wanita ini memang sangat angkuh.
Makinya kala Evelyne terus menghakimi. Tak ingin keluar dari sini Wanita itu segera berdiri di dekat kursi Maxwell dengan mata berkaca--kaca.
"Presdir! Saya tak pernah ada niatan untuk menggoda anda.. Saya.."
"Kau memang ingin ini!" geram Evelyne berdiri dengan kasar mendorong bahu Wanita itu hingga terpental ke arah Pintu keluar.
Semua orang syok kecuali Maxwell yang tetap tenang di kursinya. Ia seakan tak perduli dan hanya fokus melihat mimik wajah garang Evelyne yang tak ada raut belas kasih sama sekali.
"Kau mendorongkuu!!"
"Hm. Bahkan aku bisa melakukan lebih dari itu!" geram Evelyne membiarkan wanita itu berdiri dengan tatapan nyalang ke arahnya.
"Jangan kau pikir kedekatan dengan Presdir bisa bersikap seenaknya. Aku sudah lama bekerja disini dan lebih berguna darimu!!"
"Benarkah? Apa selama ini pekerjaanmu hanya melamun dan mengotak-atik ujung kuku?!" sarkas Evelyne tahu jika sedari tadi Wanita ini hanya bermain-main ditengah keseriusan semua orang.
Ia bicara tapi itu adalah hasil pemikiran dari rekan satu teamnya yang tadi segan untuk menyampaikan pendapat hingga ia langsung menyela. Mata Evelyne tak seburuk itu sampai tak mengetahuinya.
"Sialaan!!"
Makinya lalu melangkah pergi keluar ruangan dengan rasa malu. Sekarang giliran mereka yang menunduk kala Evelyne sudah berbalik dengan pandangan mengintimidasi.
Ya Tuhan! tak mungkin Presdir berselingkuh dengan Wanita sekejam ini.
Jerit batin mereka gugup berhadapan dengan Evelyne yang tak suka jika ada yang tak sesuai di matanya.
"Dan kaliaan!!"
"I..iya. Nona?" jawabnya gugup dan serentak.
"Periksa kembali orang-orang di Team-mu dan lagi, sebelumnya kalian mengadakan pertemuan, lihat apa saat itu ada orang asing yang datang!" titah Evelyne mencurigai satu orang yang cukup membuatnya naik darah.
Mendengar penuturan Evelyne yang lugas Maxwell segera mengambil sikap tak lagi bersantai.
"Kau melihat sesuatu?"
"Pria tua dan Putrinya yang saat itu datang tanpa izin menemuimu! Dia sempat melihat kertas yang ada di meja sisa Meeting kalian saat itu!" jawab Evelyne membuat mereka terkejut.
Darimana Wanita ini tahu tentang Meeting pertama kali? Padahal mereka tak melihat kehadirannya sama sekali.
Ditengah kebingungan mereka semua Maxwell memutuskan untuk mengakhiri Meeting ini. Ia sudah mendapatkan titik terang dan sedikit pertunjukan pada Singa betinanya ini.
"Pertemuan ini selesai! Siapkan diri kalian untuk Pertemuan selanjutnya!"
"Baik. Presdir!"
__ADS_1
Mereka segera bertolak pergi dan terlihat menjahui Evelyne yang kembali duduk di kursinya lalu membuka Ponsel Maxwell kembali.
"Sandinya!" ketus Evelyne menunjukan Ponsel itu ke hadapan Maxwell yang mengarahkan layar itu ke wajah cemberut Evelyne.
"Tersenyumlah!"
"Aku minta sandinya!! Kau.."
"Lakukan saja!" pinta Maxwell dan terpaksa Evelyne menipiskan bibirnya secara paksa dan tak tulus.
"Berikan yang serius!"
"Cih!" umpat Evelyne mulai menarik bibir lebih natural dengan mata dibuat sebahagia mungkin. Dalam sekejap Visualnya berhasil di pindai oleh layar Ponsel Maxwell yang segera terbuka.
Hal itu membuat Jirome salah tingkah karna Tuannya terlalu nekat sampai menjadikan wajah Evelyne sebagai sandi cadangan Ponselnya.
"Kenapa bisa seperti itu? Bagaimana caranya?"
"Tak perlu banyak bertanya!" jawab Maxwell membuat Evelyne membelo jengah. Ia kembali memainkan Game bedah membedah di dalam Ponsel Maxwell yang tak mempermasalahkannya, yang penting Evelyne diam dan menurut.
"Apa maksudmu tadi Mr Plank dan Miss Oliver?" tanya Jirome pada Evelyne yang mengangguk tanpa melepas fokus ke layar Ponsel.
"Hm. Saat itu dia melihat kertas di meja kalian, dia juga tak akan munafik jika di beri keuntungan untuk memberi informasi itu ke pihak lain!"
"Dia memang benar-benar mencari mati," geram Jirome meremas tangannya sendiri.
"Serahkan padaku! Berikan alamat dan dimana dia tinggal, kalian hanya tinggal menunggu kabarnya saja," jawab asal Evelyne langsung mendapat citakan maut dari Maxwell yang tak pernah setuju dengan pola pikir nekatnya.
"Ini tak semudah itu. Pasti ada orang yang berpengaruh sampai dia berani melakukan hal yang jelas merugikannya," tegas Maxwell tahu akan hal itu.
"Emm.. Kalau tak salah yang lebih berpengaruh itu Daddynya Kaki Empat!" jawab Evelyne menatap kilas Maxwell lalu kembali fokus pada Ponselnya.
"Bisa jadi, Tuan! Dia pasti orang yang ada di balik setiap pengkhianatan orang-orang yang dulu tak berkutik padamu. Pasti Fernandez memberi mereka perlindungan untuk melakukan itu!" imbuh Jirome ikut geram.
Maxwell menghela nafas dalam. Tuan Fernandez sudah sangat jauh ikut campur dalam urusan hidupnya.
"Lihat saja. Sebentar lagi dia akan memutus kerja sama dengan Perusahaan-mu dan akan menjalin Kontrak dengan Perusahaan Dawson atau dirinya sendiri. Dengan kata lain dia mencoba menarik satu persatu Klien Perusahaan MEC dan menjatuhkan kualitas barang kalian!" jelas Evelyne yang mulai tahu kotornya dunia Bisnis yang Maxwell geluti.
"Tuan! Apa yang harus kita lakukan? Ini tak bisa di biarkan saja. Lambat laun Perusahaan akan bangkrut!" tanya Jirome sangat ingin menyerang mereka secara terang-terangan.
Maxwell tetap diam tapi ia berpikir jauh. Fernandez bukan orang yang bisa ditumbangkan hanya dengan sekali serangan.
"Max!"
Panggil Evelyne dengan Ponsel yang ia matikan. Tatapannya berubah serius dan sangat mantap.
"Aku dekat dengan Istrinya!"
"Aku tak mau melibatkan-mu," tegas Maxwell karna ini bukan lagi wilayah Evelyne.
"Aku yang melibatkan diriku sendiri. Paham?"
"Kauu.."
"Susst!! Aku disini untuk melindungimu, jangan pikirkan aku karna aku juga tak akan selalu bisa bersamamu!"
Degg..
Mendengar itu Maxwell tertekan diam. Tiba-tiba saja dadanya terasa berat dengan sesak menjalar di sela nafasnya.
....
__ADS_1
Vote and Like Sayang..
Selamat hari raya idul fitri say.. Maaf baru ngucapin ya. Mohon maaf lahir batin yaβΊβΊπππ