
Sesuai dengan janjinya kemaren. Pagi ini Evelyne ingin menemui Nyonya Meeiner di Restoran yang kemaren mereka kunjungi. Evelyne menepati janjinya dengan memakai pakaian yang di belikan Nyonya Meeiner tapi sayang sekali Maxwell menolak keras hal itu.
Jika Evelyne tetap ingin memakainya maka ia tak akan membiarkan Wanita itu keluar dari kamar. Alhasil mau tak mau Evelyne mengalah dengan pasrah memakai Kemeja kebesaran Maxwell dan Boxer Pria itu seperti biasa.
Ia juga tak keberatan memakai Topi dan juga Masker sama halnya dengan Maxwell yang juga ingin ikut hingga pagi ini ia tak bekerja.
"Aku bisa sendiri!"
"Hm," acuh Maxwell memasang Jaket ke tubuh kekarnya. Ia sudah terlihat mempesona dan sangat cool dengan Jaket Moka gelap dan Jogger mahal hitam senada dengan kaos yang ia pakai.
Tampilannya santai tapi Trendi. Evelyne-pun terpesona karna tak biasanya Maxwell tampil santai dan hangat tanpa balutan kemeja atau jas.
"Max! Kenapa tak memakai kemeja saja?" jealous Evelyne yang duduk di tepi ranjang menatap sinis Maxwell.
"Kenapa? Apa ini tak bagus?"
"Tak bagus apanya?! Kau terlihat sangat tampan dan lebih muda,"
Batin Evelyne kesal pada Maxwell. Ia tak suka jika nanti akan banyak wanita yang kembali menjadi Oliver atau Violet.
"Kau jelek!"
"Benarkah?" tanya Maxwell meneliti penampilannya di hadapan Evelyne yang bertambah jengah.
"Pakai Kemeja saja. Kau lebih terlihat dewasa!"
"Dan kau seperti gadis. Begitu?" sinis Maxwell karna memang setiap Evelyne memakai kemeja ini ia akan seperti remaja dengan porsi tubuh Proporsionalnya.
"Yah. Kenapa? Aku memang masih muda."
"Aku juga!" jawab Maxwell tak mau kalah. Alhasil Evelyne memutar bola mata jengah lalu berjalan sedikit hengkang ke arah Pintu.
Ia memang kesulitan berjalan apalagi pinggangnya terasa masih sakit. Di mata Maxwell cara jalan Evelyne begitu menggemaskan bak Penguin betina.
"Kau tak perlu ikut! Pergi saja bekerja!"
"Hari ini aku libur," jawab Maxwell mengikuti Evelyne keluar kamar dan segera merengkuh pinggang ramping ini merapat ke tubuhnya.
"Semua orang bekerja. Kau jangan bermalas-malasan!"
"Aku pimpinannya! Siapa yang akan memarahiku, hm?!" tanya Maxwell segera mendapat sikutan di perut kerasnya oleh Evelyne yang sungguh bosan mendengar keangkuhan Pria ini.
Jika aku hilang ingatan sudah di pastikan kau hanya tinggal nama.
Begitulah kiranya benak Evelyne yang sudah terlalu sayang jadi memukul keras saja ia harus berpikir dua kali.
Keduanya berjalan sampai memasuki Lift yang membawa mereka ke lantai bawah. Pagi ini Maxwell tak hanya menemani Evelyne tetapi ia juga harus menemui tawanannya untuk di eksekusi.
"Kau banyak pekerjaan-kan? Nanti itu terganggu karna mengikutiku!" segan Evelyne yang semalam melihat Maxwell sibuk.
"Itu bisa di kerjakan nanti."
"Kau yakin?" tanya Evelyne mengadah menatap wajah tampan Maxwell untuk memperjelas jawaban itu. Maxwell menarik sudut bibirnya pelit menurunkan Masker Evelyne lalu melabuhkan kecupan lama di bibir lembut dan sedikit bengkak karna ulahnya itu.
"Hm. Yakin!"
"Oh!" jawab Evelyne membulatkan bibirnya seperti huruf O. Hal itu membuat Maxwell bertambah gemas langsung mencengkram pipi Evelyne hingga bibir pink segar ini manyun dan terlihat seperti Boneka.
"Lepassmm!!"
"Jangan seperti ini dengan Pria lain. Hm?" peringat Maxwell merapikan Topi Evelyne yang masa bodoh menyandarkan kepalanya ke bahu Maxwell yang menghangat.
Pintu Lift terbuka dan mereka segera keluar membelah lautan manusia yang pagi ini sibuk bekerja. Mereka hanya bisa menunduk kala Maxwell dan Evelyne lewat dengan tampilan berbeda pagi ini, yang jelas itu terlalu sempurna.
Terlihat Jirome sudah sedia di depan Pintu sana. Pria dengan tatapan lebih bersahabat itu menyambut mereka dengan hangat karna kemaren suasana hubungan Maxwell dan Evelyne membuatnya jadi sasaran.
"Selamat pagi. Tuan!"
"Aku bawa Mobil sendiri!" tegas Maxwell menerima kunci Mobil dari Jirome yang mengangguk tapi ia pergi dengan Mobil lain.
Maxwell mengiring Evelyne ke arah depan Lobby karna Mobil Blackbird yang memiliki khas Body yang bermodel sayap burung dengan bagian depan agak runcing tapi begitu gagah. Platnya mengkilap di lapisi baja yang bergerigi dilengkapi teknologi canggih karna dia bisa menyetir sendiri.
"Ini Mobil yang di permasalahkan itu?"
"Hm. Kau keberatan?" tanya Maxwell membiarkan Evelyne menyentuh area Pintu Mobil berwarna hitam ini dengan halus.
"Tidak. Ini bagus dan gagah, kau pandai membuatnya!" puji Evelyne mendapat tepukan lembut di kepalanya.
Maxwell membantu Evelyne masuk dan ia juga bergegas duduk di kursi Kemudi. Tombol-tombol di didepannya menarik perhatian Evelyne.
__ADS_1
"Nanti ku ajari!"
"Benarkah? Kau tak bohong?" pekik Evelyne memeggang lengan Maxwell yang tengah menanyakan mesin dan memutar kemudi untuk keluar dari area Lobby.
"Yah. Jika kau tak membuatku kesal!"
"Siap. Aku akan jadi anak baik," gumam Evelyne duduk sopan dan manis. Ia berusaha tak menyentuh apapun dan terus menahan tangannya agar tak bergerak.
Maxwell hanya melirik gemas saja seraya melajukan Mobil stabil keluar dari area Perusahaan. Pemandangan kota yang indah dan asri ini membuat mereka tak ingin lepas dari kehangatan Kota.
"Apa masalah itu sudah selesai? Max!"
"Sudah!" jawab Maxwell tapi Evelyne tak percaya. Belum ada berita soal Perusahaan Maxwell yang biasanya selalu disohor.
"Pasti belum. Kau selalu saja berbohong!"
"Itu hanya masalah kecil. Tak perlu di pikirkan," jelas Maxwell menggenggam tangan Evelyne yang hanya diam.
Saat Mobil ini melewati keramaian maka banyak pasang mata yang memandangnya. Antara terpesona dan juga ragu-ragu pertanda berita itu memang sangat berpengaruh.
"Max!"
"Hm? Kau butuh sesuatu?" tanya Maxwell sesekali menatap Evelyne yang memandang ke luar jendela.
"Membuat konferensi Pers tak akan menyudahi berita itu."
"Lalu?"
"Kau tunjukan saja di depan mereka sekarang. Mata yang melihat lebih terasa nyata dari pada telinga yang mendengar, bukan?" tanya Evelyne dan itu juga sempat Maxwell pikirkan.
"Itu tak akan membuat mereka jera!"
"Tapi, setidaknya citra Perusahaan kembali baik. Kita lakukan secara pelan-pelan. Hm?" dukung Evelyne memberi semangat.
Karna juga penasaran akan hasilnya memantik Maxwell untuk pergi ke area jalanan yang tak begitu ramai. Ia melajukan Mobilnya sekencang Mungkin menepis rumor soal Mesin Mobil yang mudah terbakar dan panas.
"Woww!! Lebih cepat lagi!" sorak Evelyne kagum akan kelihaian Maxwell dalam menyetir sampai tak terjadi benturan apapun.
Dalam situasi seperti ini Evelyne segera mengeluarkan Ponselnya lalu memulai Vidio Call dengan Nyonya Meeiner yang memberi pesan jika ia sudah sampai.
Saat panggilan itu tersambung Evelyne segera mengisyaratkan agar Nyonya Meeiner diam tapi ia menunjuk dengan dagunya ke arah Maxwell yang fokus menyetir.
"Suamiku tangah sibuk!" pelan Evelyne geli sendiri begitu juga Nyonya Meeiner yang memerah. Jika Maxwell dengar pasti Pria itu akan salah tingkah brutal.
"Kau yakin?" bisik Evelyne sesekali melihat Maxwell yang terlihat santai memutar kemudi walau jalanan ini mulai padat.
"Yah. cepatlah kerjakan!"
Pintanya pada Evelyne yang membalikan kamera ke arah Maxwell dan kemudinya.
"Max! Apa benar mesinnya mudah panas?"
"Jika iya sedari tadi kita sudah terbakar!" jawab Maxwell pedas tapi terkesan seksi dengan wajah tampan rupawan itu.
Kecepatan Mobil terpantau di kamera begitu juga dengan cara Maxwell mengemudi yang lihai dan tenang.
"Apa keunggulan Mobil ini? Apa mereka benar soal kecelakaan yang banyak memakan korban karna membawa Mobil keluaran Perusahaanmu?"
"Mobil ini sudah di uji dalam berbagai tahapan. Dilengkapi berbagai Fitur canggih seperti High Light untuk lampu penuh dan High Best untuk kecepatan teratas dan di tambah banyak perlindungan ganda. Semua tersedia di Tombol yang ada di dekat kemudi!" jelas Maxwell mengira Evelyne ingin belajar menggunakannya.
"Dan perlu di garis bawahi. Mobil ini sudah di uji berbagai tahapan dan keadaan. Jika ada yang mengatakan jika penyebab kecelakaan di karenakan Mobil dari Perusahaanku mereka salah besar. Aku sudah memperkirakan jika itu terjadi maka Fitur Pelindung utama akan aktif melalui sistem sensor di Body Mobil," imbuh Maxwell segera mengarahkan Mobil ke arah palang beton jalan membuat Nyonya Meeiner yang tengah menyaksikan seketika syok.
"Ya tuhan kauu.."
Belum sempat Mobil membentur beton tiba-tiba saja Ban berbelok sendiri dengan kemudi diam dan sistem bekerja secara cepat. Evelyne juga terkejut dengan itu semua apalagi pergerakan Mobil kembali stabil.
"M..Max! Kau.. Kau luar biasa!"
"Dia bisa mengenali jarak dan keadaan lingkungan. Hanya saja kesalahan terjadi pada Pengemudi yang tak mahir mengendalikan cara kerja Sistem ini. Apa kau bisa paham sampai di situ?" tanya Maxwell menoleh dan tersentak dengan Ponsel Evelyne mengarah padanya.
"Kau merekam?"
"Iya. Kau sangat tampan!" puji Evelyne malah fokus pada Maxwell dari pada Mobilnya. Sontak Maxwell menggeleng saja mengira itu hanya rekaman biasa.
Padahal Evelyne sudah mengirim itu pada Nyonya Meeiner yang kemaren mengajarinya memakai benda pintar ini.
"Kita langsung ke Restoran saja! Kau juga belum makan."
"Emm.. apa aku boleh makan Ice Cream?" tanya Evelyne mengerijabkan matanya polos seperti anak kecil pada Maxwell yang mengerti karna ia selalu melarang Evelyne makan Ice Cream di pagi hari.
__ADS_1
"Hanya sedikit, setelah itu aku gosok gigi. Boleh?"
"Hanya kali ini!"
"Yeey! Terimakasih!" pekik Evelyne tanpa segan mengecup kilas pipi Maxwell yang kembali menyetir manual. Ia hanya mengulum senyum dengan dada di penuhi kupu-kupu.
Semakin hari aku semakin susah mengendalikan exspresi wajahku saat bersamanya.
Pikir Maxwell menyadari keanehan pada dirinya sendiri. Ia terlalu menggilai Evelyne sampai tak bisa menahan sikap tak karuan.
Dalam beberapa saat kemudian tiba-tiba saja banyak Notifikasi masuk ke dalam Ponsel Maxwell. Ia mengeluarkan benda itu dari dalam jaketnya dan segera terpaku membaca pesan dari Jirome.
Tuan! Kau sangat cerdas. Media mempublish Vidio-mu dan mendapat tanggapan Positif. Nyonya Meeiner ikut mengakui kebohongan berita itu.
"Ada apa?" tanya Evelyne kala wajah Maxwell berubah datar kembali menatap jalan di depan. Evelyne benar-benar penasaran ingin mengambil Ponsel Maxwell tapi segera di jauhkan oleh Pria itu.
"Kau yang melakukan ini?"
"Apanya?" tanya Evelyne heran.
"Memberikan rekaman itu pada Istri Fernandez!" jawab Maxwell menatap datar Evelyne yang mengangguk.
"Iya. Tadi kami memulai panggilan Vidio dan dia menyuruhku untuk merekam-mu!"
"Kau tahu. ini akan berakibat buruk pada dirimu sendiri!" tukas Maxwell yang mengkhawatirkan Evelyne bukan dirinya.
Tapi, kekhawatiran Maxwell tak di mengerti oleh Evelyne yang hanya berpikir lurus. Yang penting masalah selesai dan Maxwell aman, kiranya begitu.
"Ayolah. Aku akan baik-baik saja. Memangnya dia bisa melakukan apa padaku. Hm?"
"Dia bisa mengakali otakmu!" lugas Maxwell agak ketus tapi itu hanya bukti kepeduliannya. Ia melajukan Mobil dengan rasa kesal pada Evelyne yang hanya tersenyum santai memeluk lengan kekarnya manja.
"Jangan marah. Aku semakin ingin mengigitmu!" desis Evelyne tapi Maxwell hanya diam setia dengan wajah datarnya.
"Jangan marah Sayangku! emm..Sayang!"
"Kau.. Apa-apaan. Ha??" sewot Maxwell menahan senyum kala Evelyne mencubit pipinya. Ia berusaha untuk tetap seperti ini walau rasa kesal tadi luntur entah kemana.
Melihat Maxwell yang berusaha menahan exspresi wajahnya Evelyne justru semakin gencar menggodanya hingga akhirnya Maxwell tak bisa bertahan.
"Emm.. Jika seperti itu kau sangat tampan sekaligus terlihat idiot!"
"Jangan ulangi lagi!" tegas Maxwell menggenggam satu tangan Evelyne yang ada di pahanya. Evelyne hanya diam tak menjawab itu karna ia tak menjamin.
.......
Sementara di tempat lain terjadi kebakaran hebat. Bukan api nyata tapi ini adalah rasa muak dan benci yang tak tertahan kala melihat Vidio kiriman Media yang melibatkan Mommynya dalam hal ini.
Ia yang tadi tengah ada di Rumah Sakit untuk memeriksakan diri seketika tak lagi memikirkan soal kesehatannya.
"Kenapa Mommy lebih memihak wanita ini?!" geram Violet meremas Ponselnya. Ia mengabaikan orang-orang yang ada di depan Rumah Sakit termasuk Tuan Marcello yang tadi menemaninya.
Pria paruh baya itu juga tahu apa yang membuat Violet marah besar dan berwajah merah padam seperti itu.
"Nyonya Meeiner mungkin nyaman dengan Wanita itu!"
"Tapi, aku Putrinya!! Seharusnya Mommy lebih memihakku-kan, Dad?" tukas Violet karna suara Evelyne terdengar jelas di Vidio ini. Ia panas karna Maxwell kembali berbaikan dengan Wanita cantik itu..
Melihat Violet yang mulai menunjukan sikap tak terima itu membuat Tuan Marcello punya rencana besar. Ia masih dendam dengan perlakuan Maxwell dan sikap angkuh Keluarga Fernandez padanya.
"Kau ingin memisahkan mereka?"
"Sangat! Maxwell hanya milikku dan dia tak berhak berduaan seperti ini," sambar Violet dengan nafas memburu.
Tuan Marcello mendekat dan membisikan sesuatu ke telinga Violet yang seketika menyeringit.
"Surat?"
"Hm. Maxwell sudah dari lama mencari Surat Rumah mendiang Ibunya dan aku bisa memberikan padamu asal kau juga memenuhi permintaanku!" jelas Tuan Marcello tapi Violet langsung mengangguk tak berpikir panjang. Yang pasti Maxwell harus kembali padanya.
"Katakan!"
"Kau harus berhasil mendapatkan tanda tangan Daddymu untukku!" ucap Tuan Marcello tersenyum santai.
"Hanya itu?"
"Cih. Kau tak secerdas Evelyne dan itu yang terbaik!"
Batin Tuan Marcello merasa Violet sangat mudah di manfaatkan. Ia hanya perlu menunggu sampai Violet mendapatkan tanda tangan itu dan ia akan memberi pelajaran dengan kedua pihak yang begitu bodoh ini.
__ADS_1
.....
Vote And Like Sayang..