My Little Devil

My Little Devil
Berani-beraninya


__ADS_3

Kepungan 10 anggota berpakaian hitam lengkap dengan balutan Masker dan Topi itu terlihat sangat ketat.


Di bawah hamparan langit gelap miskin bintang malam ini mereka tengah mengintimidasi seorang Wanita dengan perawakan yang begitu khas mempunyai kaki yang jenjang.


Mereka sudah agak menjauh dari area Perusahaan dan tepatnya di bagian jalanan Kota yang sudah sepi karna ini area khusus anak Sekolah.


"Siapa kau?"


Tanya seorang Pria yang menodongkan Pistol ke keningnya.


Mereka tadi melihat Wanita ini berlari tergesa-gesa keluar dari Perusahaan itu dan rasa curiga kian meningkat kala wanita ini memakai pakaian yang tidak formal jika ia karyawan Perusahaan.


"Siapa kaau??? Dan kenapa bisa keluar dari Perusahaan itu??"


"Apa aku harus memberi tahumu?" desis Evelyne dengan tatapan begitu dingin dan tak bersahabat. Mata abunya hanya memandang lurus kedepan padahal di sekelilingnya ujung Pistol itu siap meledak.


Melihat Evelyne yang begitu tenang seperti tak menyimpan rasa takut sama sekali membuat mereka saling pandang. Lampu-lampu jalan ini pun ikut berkedip senyap kala mereka ikut terhanyut dalam kebekuan Evelyne.


"Jika kau menjawab pertanyaan ku. Aku akan melepaskan mu!"


Mendengar kalimat itu tawa kecil Evelyne langsung terdengar mengerikan membuat bulu kuduk mereka berdiri. Suaranya yang mengalun misterius dan seperti Dewi kematian yang bertemu korbannya.


"Dia sudah gila?"


"Kenapa wajahnya terlihat mengerikan? Padahal dia sangat cantik."


Gumam mereka mengeratkan genggaman Pistol itu. Tiba-tiba saja ada keraguan di benak mereka untuk berhadapan dengan wanita ini padahal mereka sudah banyak membunuh manusia.


"Sebelum kau tiada. Lebih baik kau berikan informasi yang berguna."


"Informasi, hm?" gumam Evelyne memainkan ujung rambutnya dengan seringaian terasa semakin kejam.


Lirikan matanya menerobos ujung Pistol mereka yang sudah tak berani menembak tapi tetap di paksakan.


Karna Evelyne yang tak mengatakan apapun membuat kesabaran Pria di hadapannya ini menipis. Ia langsung menarik pelatuknya dengan bidikan ke arah kening mulus Evelyne.


"ENYAHLAH KAUU!!"


Tembakan itu langsung dilepas keras ke arah Evelyne yang gesit membungkukkan tubuhnya ke belakang seperti kayang hingga peluru itu mengenai Anggota musuh yang ada di belakangnya.


Mereka semua syok tapi itu sudah sangat terlambat. Evelyne yang semula masih di posisi lentur itu langsung meraih Pistol di tangan Pria yang tadi tertembak di belakangnya.


"K..Kau.."


Evelyne hanya diam membiarkan Pria itu tumbang tepat di depan kakinya yang tak beralaskan apapun. Tatapan Evelyne semakin beku kala 9 dari 10 manusia tadi masih saja menodongkan senjata itu.


"Kau tahu hal terburuk di dunia ini?"


Gumam Evelyne menatap Pistol di tangannya dengan pandangan kejam seperti seorang Pembunuh berdarah dingin. Ia menyebar ketakutan dimana-mana termasuk dalam seluk keberanian di otot mereka.


"K..Kau siapa?"


Evelyne hanya diam sejenak lalu berbalik kembali memandang Pria bertopi yang tadi membentaknya. Pistol itu masih terpampang walau tak stabil.


"Kau jangan ikut campur urusan. Tuanku!!!"


Tak sudi berbicara terlalu banyak. Evelyne langsung menembak ke sembarang arah mengenai lampu-lampu di sekitar mereka yang seketika langsung pecah tak menyisakan cahaya buatan melainkan hanya mengandalkan rembulan.

__ADS_1


"Tembakan mu meleset," ketus salah satunya mengejek Evelyne yang tak lagi terlihat dalam kondisi gelap begini.


Apalagi pakaian wanita itu cukup menyatu dengan pekatnya malam hingga hawa dingin dan rasa putus-asa itu mulai menjalar di sekujur tubuhnya.


"Dimana diaa??"


"Jangan gegabah!!"


Mereka membentuk pola penjagaan dengan masing-masing memeggang senjata yang siap meledak. Dalam situasi ini mereka sangat di rugikan karna tak melihat apapun.


Bayangan dari sinar bulan yang tak begitu terang itu membentuk Pola tubuh seseorang. Tapi, saat mereka menendangnya maka itu hanya segumpal angin kosong.


"Shitt! Dia melarikan diri."


Geram mereka tetapi seketika membeku kala merasakan hawa dingin yang berpusat di belakangnya. Untuk sesaat mereka membisu dengan dada berdegup sangat kencang bahkan hampir ingin meloncat keluar.


"D..Dia.."


"Di belakangmu!" bisikan di telinga salah satunya yang tak lagi sempat menembak atau melancarkan aksi pukulan karna angin dingin ini sudah merembes ke lehernya.


Suara geraman sakit kian terdengar menyedihkan membuat mereka menjalar panik.


T..tidak. Wanita.. Wanita ini bukan manusia!!! Dia bukan manusiaa!!!


Bantah batin mereka kala aroma darah ini begitu kental menyeruk. Apalagi, sekarang keadaanya semakin tak terkendali dimana satu persatu mereka hilang dalam kegelapan.


"TUNJUKAN TUBUHMU!!!"


Bentak lima Pria yang masih tersisa tapi tak lama mereka bicara pukulan keras itu mengenai tengkuknya masing-masing.


"I..ini.."


Lampu di jalanan yang tadi mati langsung berkedip samar seakan hanya membiarkan sedikit cela untuk melihat apa yang terjadi.


Alangkah terkejutnya mereka kala Aspal yang mereka duduki ini sudah di penuhi oleh darah dengan tubuh beberapa anggota yang tadi mengerang sakit sudah tergeletak dengan leher hampir putus dan mulut berbusa.


"K..Kenapa b..bisa.."


Keterkejutan yang sangat-sangat disayangkan. Mereka sudah terjerat dalam lingkaran kematian yang sudah banyak meminta nyawa dan tangisan.


"Kau masih ingat perkataan ku."


"K..kau.."


Mereka tersentak kala Evelyne sudah berdiri di belakang mereka dengan keadaan tangan berlumuran darah yang terus menetes dari ujung serpihan kaca lampu jalan ini.


Keringat dingin itu muncul tak lagi bersembunyi di balik pori-pori kulit yang sudah tertutup rapat.


"Hal terburuk di dunia ini...."


Evelyne menjeda ucapannya dengan seringaian iblisnya terus mekar seperti mencintai aroma-aroma darah dan ketakutan ini.


"Adalah saat BERTEMU DENGANKU," tekan Evrlyne lalu segera membunuh mereka semua.


Ia seperti seorang Kriminal yang baru lepas dari kutukan Penjara yang telah membuatnya hilang akal. Di setiap sabetan kaca dan kekerasan yang ia lakukan, ada rasa senang yang Evelyne rasakan yang tak dimengerti siapapun.


"Bawa semua rekanmu. Bawa mereka padaku. Bawalah!" bisik Evelyne berdiri di tengah-tengah tumpukan mayat ini.

__ADS_1


Ia meresapi aroma darah yang sangat amis dengan hawa-hawa putus asa yang membuatnya terus mereka hidup dalam kegelapan.


"Inilah hidup yang sesungguhnya!"


Gumam Evelyne menghirup udara separuh bebas di sekitarnya. Hanya tunggu dendamnya lepas maka ia akan kembali mendapatkan jiwa yang utuh dan hanya satu itu.


Dalam suasana hati yang begitu senang, Evelyne masih tahu dan sadar jika sedari tadi ada yang memantaunya dari arah belakang sana.


Raut wajahnya berubah datar dengan mood yang sudah tak lagi baik.


"Sampai kapan kau ingin memata-mataiku?"


Tanya berbalik. Walau ini gelap matanya bisa menerobos cela pekat yang sudah menjadi tempat sejawatnya.


Hawa keberadaan yang terasa Familiar untuknya dan tak asing lagi oleh tubuh-Nya.


"Kau sama sekali tak berguna. Aku tak membutuhkanmu," Imbuhnya dengan kata-kata begitu kejam dan tak berperasaan. Saat ia ingin berbalik pergi tiba-tiba saja langkahnya terhenti.


"Jangan berterimakasih padaku. Aku hanya ingin bermian-main."


"Bermainlah denganku!"


Ajakan itu sontak membuat Evelyne terdiam membisu. Suara dingin Maxwell terasa sangat serius dan tak pernah bisa ia pahami.


Apa yang diinginkan Pria sialan ini?!


Umpatan batin Evelyne yang sangat tak bisa mengerti tujuan Maxwell sebenarnya.


"Cih," decah Evelyne sinis.


"Tunjukan betapa hebat Permainanmu."


"Kau.."


Belum sempat Evelyne bicara tiba-tiba saja Maxwell sudah muncul di belakangnya. Ntah kapan Pria ini bergerak Evelyne tak bisa menyadari itu.


"Dia sangat cepat."


Batin Evelyne menahan nafasnya karna hawa perkelahian ini sangat berbeda dengan yang pernah ia lakukan sebelumnya.


Tatapan datar Maxwell melihat jelas tak ada rasa manusiawi dari mayat-mayat ini. Dendam dan bara kebencian Evelyne bisa membungkus nyawa mereka.


"Aku tak memilih lawan ku. Hm?"


"Pria tak tahu terimakasih," geram Evelyne langsung berbalik menyerang Maxwell yang tak menggunakan senjata apapun. Ia hanya mengandalkan kemampuan dirinya sendiri.


Tentu perkelahian dua Mahluk aneh ini dilihat langsung oleh Jirome dan Hunter yang tadi sempat mematung melihat kekejaman iblis wanita itu.


"Aku akui dia sangat lihai tapi apa dia tak tahu yang dia serang itu siapa?"


Gumam Hunter seperti menyaksikan Film layar lebar.


Sementara Jirome. Ia hanya bisa diam tapi paham betul jika Tuannya tak ada niatan membunuh sama sekali. Terbukti dengan Maxwell yang hanya menghindar membiarkan Evelyne kelelahan dengan apa yang ia lakukan.


....


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2