
Dua orang pria dengan wajah tampan pada masanya masing-masing itu tampak terduduk di lantai tepat berhadapan langsung dengan pintu ruangan operasi Nyonya Meeiner yang di tangani langsung oleh Dokter Karren dan Dokter Drew.
Tatapan keduanya begitu dingin menyembunyikan kekhawatiran dari sela urat kekelaman yang sama-sama berkumpul di kepalan tangan kekarnya yang tak berhenti menahan marah sekaligus emosi yang tak jua bisa di redam lebih lama.
"Tuan!"
Jirome mendekat bersama Etend kaki tangan Tuan Fernandez. Pria paruh baya dengan mata kehijauan itu mendekati Tuan Fernandez yang masih diam menatap lurus ke depan.
"Tuan! Kami sudah menangkap penembak itu!"
"Dan dia Marcello!" imbuh Jirome dan sontak membuat rahang keduanya mengeras. Maxwell segera berdiri begitu juga Tuan Fernandez yang beralih memandang wajah beku Maxwell yang masih membekas darah Nyonya Meeiner di area kemeja tanpa jas itu.
"Kenapa kau perduli pada Istriku?"
Mendengar itu Maxwell langsung mencengkram Jaket Tuan Fernandez dengan tatapan begitu mematikan. Tersimpan amarah di manik coklat ini dan itu lebih besar dari yang tadi.
"ISTRIMU? SETELAH APA YANG KAU LAKUKAN PADANYA KAU MASIH MENYEBUTNYA ISTRIMUU???!!" Bentak Maxwell menyala-nyala. Pikirannya kelut otaknya sangat kusut. Rasa cemas, dan takut itu tiba-tiba memenuhi kepalanya persis saat ia melihat Mommynya dulu mereggang nyawa.
Seakan memiliki watak yang sama, Tuan Fernandez-pun menyentak cengkraman tangan Maxwell dengan rahang yang di lumuri jambang tipis nan rapi itu menggeram.
"Kau pikir aku tak tahu rencanamu. Ha?? Kau sengaja memanfaatkan Meeiner untuk meluruskan niat busukmu!!"
"Kau lebih busuk dariku," umpat Maxwell memberi wajah jijiknya karna walau ia emosi dan dalam keadaan marah-pun ia pasti tak akan bisa atau berani membunuh orang yang ia cintai.
"Dia istrimu tapi kau jadikan dia umpan. Cih!"
"Apa bedanya denganmu. Ha?" desis Tuan Fernandez dengan sudut bibir terasa sakit karna di hantam tinju panas Maxwell tadi. Jujur rasa sakitnya masih jelas menggerogoti tulang rahangnya. Pria ini benar-benar luar biasa.
"Kau mengirim wanita ranjangmu ke wilayahku!,
" Katakan sekali lagi!" pinta Maxwell sudah ingin mencekik Tuan Fernandez yang melihat dirinya sendiri pada Maxwell.
Ntahlah, dari segi pembawaan dan karakternya. Maxwell menjiplak habis bahkan tingkat kesabarannya hanya beda tipis.
Melihat keduanya masih terikat ego yang kuat Jirome segera angkat bicara untuk menyudahi semua ini.
"Tuan! Marcello sudah di tangkap dan ada di depan. Mau kau apakan dia?"
"Itu bukan urusanku!" ketus Maxwell seakan acuh tapi jika tinjunya bisa berkata maka ia akan menjerit hebat ingin melesat ke jantung Pria itu.
Berbeda dengan Maxwell yang menahan keinginannya, Tuan Fernandez justru langsung pergi ke arah dimana Pria itu di bawah di ikuti Etend.
Tapi, sebelum ia benar-benar jauh tiba-tiba saja Dokter Karren keluar dari ruang operasi dengan wajah di tutupi masker medis.
__ADS_1
"Tuan!"
"Bagaimana keadaanya?" tanya Jirome tapi Dokter Karren memandang Maxwell yang bersandar ke dinding di belakangnya dengan kedua tangan ada di kedua sisi saku celananya.
Wajah datar itu sama-sama membuatnya gentar untuk bicara tapi pandangan Maxwell seakan mendesaknya untuk bersuara.
"Nyonya butuh donor darah. Ini darurat dan stok darahnya di Rumah Sakit ini sudah tak cukup. Kami hanya sedia 2 kantong darah dan Nyonya membutuhkan satu lagi!"
Maxwell tetap diam seakan membatu tapi ia tengah berpikir. Saat Tuan Fernandez berbalik kesini ia jadi sedikit lega karna mungkin pria bajingan ini ada solusinya.
"Ada apa?"
"Kami butuh stok darah satu kantong lagi untuk Nyonya, Tuan!" jawab Dokter Karren terselip rasa cemas karna keadaanya benar-benar kritis.
Maxwell menatap tajam wajah datar Tuan Fernandez yang sepertinya tak bisa menjawab langsung.
"Mungkin keluarga Nyonya atau.. a..anaknya?" lirih Dokter Karren hati-hati takut menyinggung Tuan Fernandez yang mengambil nafas dalam.
"Bawa anak bajingan itu kesini!" titahnya pada Etend yang ingin pergi tapi Dokter Karren langsung menyela.
"Golongan darah Nona Violet itu O sedangkan Nyonya Meeiner A- dan tak cocok. Tuan!"
Tuan Fernandez diam begitu juga mereka semua. Berarti Violet bukanlah anak Nyonya Meeiner dengan Tuan Marcello seperti yang ia katakan tadi. Maxwell yang memang sudah tahu tentang Tuan Marcello dan Violet hanya bisa diam karna ia juga menunggu hasil Tesnya keluar.
Tapi, mendengar golongan darah A- terbesit di otak Maxwell golongan darahnya juga sama.
"Siaall!!" umpat Tuan Fernandez mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi beberapa keluarga jauh Nyonya Meeiner tapi jika di pikir lagi itu percuma karna butuh waktu untuk datang kesini.
"Sebarkan ke seluruh tempat ini tentang pencarian golongan darah itu secepatnya dalam 5 menit!!"
"Baik. Tuan!" Etend langsung bergegas pergi sedangkan Tuan Fernandez mengusap wajahnya kasar.
Jujur ia sangat khawatir apalagi tuduhannya tadi benar-benar jauh dari kenyataan.
"Lihat saja. Akan ku buat kau mengakui segalanya!" geram Tuan Fernandez sudah panas dingin ingin segera bertemu Tuan Marcello tapi ia tak bisa meninggalkan Nyonya Meeiner yang tengah beradu nyawa di dalam sana.
Dokter Karren yang hanya bisa diam mengamati wajah-wajah dingin dua pria ini. Mereka memang punya caranya sendiri dalam meredam kecemasan hingga terlihat tenang tapi kedua tangannya saling mengepal.
Bahkan, Jirome bisa melihat tuannya berkeringat dingin dan belum pernah ia lihat keadaan Maxwell seperti ini sebelumnya.
Aku tahu saat melihat Fernandez ingin menembak kepalanya kau langsung merubah rencana. Tuan! Seharusnya ini bukanlah poin keinginanmu kemaren.
Batin Jirome tak bisa bertanya apapun. Ia berharap disini ada Evelyne yang bisa memeluk tubuh kekar ini hingga ia sedikit lebih hangat atau rileks.
__ADS_1
"Tuan! Apa masih lama? Kita hanya punya waktu 10 menit saja!"
"RUMAH SAKIT SEBESAR INI TAPI KALIAN TAK MENYEDIAKAN STOK DARAH SEKANTONG SAJA. HAA??" keras Tuan Fernandez juga sudah kelut dengan desakan Dokter Karren yang juga di kejar waktu. Mereka punya batasan dalam mengoperasi pasien dan jika lewat maka ini akan fatal.
"Tuan! Kami hanya punya dua stok dan itu kurang. Aku mohon secepatnya temukan itu atau Nyonya benar-benar.."
"Darahku!"
Pandangan mereka langsung tertuju pada Maxwell yang masih dengan wajah datar mendingin itu.
"Kau?"
"4 menit dari sekarang!" tegas Maxwell tak menggubris Tuan Fernandez yang terdiam dengan wajah kosongnya.
Dokter Karren juga sempat terkejut bersama Jirome tapi ia segera mengangguk karna ini sudah mendesak.
"Tuan tak menderita sakit kronis atau.."
"Ambil berapapun kau butuh!" sela Maxwell menggulung kedua lengannya keatas menunjukan tonjolan otot-otot kekar itu.
Ia berjalan mengikuti Dokter Karren yang bergegas melakukan tugasnya ditengah pandangan rumit Tuan Fernandez.
Maxwell yang menyadari hal itu hanya bisa diam acuh. Ia lebih memilih masuk ke dalam ruangan khusus yang tak begitu jauh dari ruangan operasi untuk mengecek darah dan melakukan transfusi bersama Dokter Karren yang menyuruhnya berbaring di atas bangkar.
"Apa kau sudah makan, Tuan!"
"Hm," gumam Maxwell tanpa ada kata apapun. Ia berbaring di atas Bangkar sana dengan tubuh kekar terlihat sempurna dibaluti kemeja putih ini.
"Saya hanya akan mengambil satu kantong karna.."
"Kau hanya memperkirakan. Ambil lebih dari itu!" tegas Maxwell tanpa menatap Dokter Karren yang menelan ludah berat. Ucapan Maxwell memang benar dan tak bisa ia sangkal.
"Tapi, jika saya mengambil lebih dari satu kantong bisa saja nanti.."
Ucapannya terhenti kala Maxwell sudah memandang penuh intimidasi. Alhasil Dokter Karren bergegas melakukan proses transfusi darah dengan harap-harap cemas Maxwell akan menelannya.
"Dia dan Tuan Fernandez sama saja. Keduanya pasti sangat khawatir tapi tetap tak mau menunjukannya,"
Batin Dokter Karren menusukan jarum itu ke pembuluh darah Maxwell. Tak ada guratan sakit atau nyeri yang Maxwell tunjukan. Ia hanya diam menatap lurus ke atas dengan keringat terus keluar di keningnya.
"Mommy!"
Batin Maxwell justru terbayang wajah bersimbah darah Nyonya Camillia. Ia merasa sangat takut dan tak tenang mengingat tadi Nyonya Meeiner juga diambang kematian.
__ADS_1
....
Vote and Like Sayang..