My Little Devil

My Little Devil
Wanita tak waras


__ADS_3

Pagi ini terasa sangat berbeda dari biasanya. Yang tadinya ia akan makan dan menata makanan di atas meja dekat sofa, sekarang ia hanya diam berbaring di atas Ranjang memandang kosong ke arah Pakaian Leen yang hari itu ia lepaskan masih ada di tepi Ranjang.


Ia tak bicara satu patah-katapun. Rasanya dunia ini begitu sunyi dan tak ada gairah apapun.


"Pagi!" sapa Maxwell lalu memejamkan mata. Tangan itu terangkat bebas memijat kepalanya yang terasa pusing karna ia sama sekali tak bisa tidur dengan tenang.


Rasa gelisah dan kosong itu mulai berbeda padahal saat Leen tak ada ia biasa dalam suasana hati dan keadaan seperti ini.


"Apa kau senang sekarang. Hm?" gumam Maxwell memandangi langit-langit kamar ini. Cahaya mentari dari sela jendela masuk mengukir renjana di atas sana.


"Jika kau berencana ingin pergi, seharusnya jangan datang padaku. Kau terlalu kejam," umpat Maxwell tapi ia cukup menyesali hal apa yang dulu ia lakukan pada Leen.


Saat ia membentak bocah itu hatinya juga bergetar dan tak bisa bertahan. Kehilangan kali ini benar-benar mempermainkan hidupnya.


"Dan kau!" menunjuk penuh kebencian ke atas sana.


"Untuk apa kau mengasihani-ku? Kau juga akan mengambilnya kembali," imbuh Maxwell sampai tak berani lagi membuka hatinya. Ia takut hal yang sama akan terjadi dan rasanya fisik dan batin ini benar-benar lelah.


Lama Maxwell memaki nasibnya hingga setelah melihat jam di atas nakas barulah ia turun dari ranjang dan langsung masuk ke kamar mandi.


Hari ini ia akan Full bekerja ntah akan kembali kesini Maxwell juga tak tahu. Ia hanya ingin mendinginkan Tubuh dan Kepalanya yang terasa sangat berat.


Menunggu kesibukannya di dalam kamar mandi, Maxwell tak menyadari jika Ponsel di atas ranjangnya menyala. Tertera Nomor Jirome disana dan sudah berulang kali memanggil.


Setelah melakukan panggilan yang tak di jawab. Jirome mengirim pesan singkat tapi jelas.


TUAN! LIHAT BERITA DI TELEVISI ANDA.


INI PENTING.


Pesan itu terpampang di layar Ponsel Maxwell yang setelah beberapa lama akhirnya keluar dari kamar mandi. Ia sudah memakai Bathrobe dengan rambut basah yang tampak seksi.


Suara Robot Sensor pengaman di kamar ini otomatis mematikan lampu kamar dan mengurangi suhu ruangan yang sempat di naikan Maxwell.


Namun, saat Maxwell sudah ada di dekat ranjang ia melihat layar Ponselnya menyala dan membaca pesan itu. Singkat cerita Maxwell tak ambil pusing segera menghidupkan layar tipis di depan sana.


"Ada apa?" gumam Maxwell duduk di samping ranjang tak memandang Televisi yang tengah menyala.


Baru saja dini hari tadi seorang wanita yang di duga mengalami gangguan mental di amankan pihak Kepolisian Brusell karna membuat kecelakaan beruntun di jalan Utama.


Awalnya Maxwell hanya acuh tapi saat Penyiar Media itu lebih memperjelas kata-katanya sontak membuat Maxwell terkejut menatap Televisi yang menggambarkan kondisi Jalan Kota yang sudah macet parah.


Wanita ini sempat berkelahi dengan Aparat keamanan dan sejumlah pengendara yang merasa terganggu karna dia menghalangi area jalan.


"D..Dia..."

__ADS_1


Maxwell segera mendekat ke depan Televisi melihat lebih jeli untuk memastikan penglihatannya. Ia segera mengepal kala Evelyne yang masih dengan keadaan yang sama itu tengah di balut Jaket tebal oleh pihak Keamanan karna kerumunan banyak Media dan masa yang membeludak.


Wanita ini tak punya identitas apapun. Ia hanya menyebutkan satu nama yang ia tahu dan kami sempat terkejut karna Presdir Maxwell Zean Marcello ternyata memiliki hubungan khusus dengannya.


"Apa-apaan ini?!!" geram Maxwell langsung mematikan Televisi. Ia segera mengambil Ponselnya menghubungi Jirome untuk memperjelas apa yang di lakukan Wanita sialan itu.


"Tuan!"


"Apa yang di perbuat wanita itu. Haa?? Kenapa bisa dia membawa namakuu??" amuk Maxwell naik pitam. Bisa-bisanya Evelyne membuat Scandal baru untuknya.


"Tuan! Aku sekarang di Kantor Polisi. Mereka minta keterangan dari Pihak anda."


"Shitt!" umpat Maxwell mengusap sisa air di wajahnya. Baru saja ia ingin tenang tapi lagi-lagi kesabarannya terus di uji dan tak bisa menebal sedikit saja.


"Kau istirahat saja. Tuan! aku akan mengurusnya."


"Aku tak ingin namaku di sangkut-pautkan dengan Wanita itu! Selesaikan ini secepatnya!!" geram Maxwell segera mematikan sambungan. Nafasnya memburu dan rahang mengetat mengekspresikan kemarahannya.


"Sebenarnya apa yang dia mau?? Urusanku hanya dengan Leen. Bukan dengannya," umpat Maxwell memilih untuk berganti pakaian.


Akal sehatnya terasa di tempa oleh masalah-masalah yang selalu di ciptakan Evelyne setiap keluar dari pengawasannya.


.......


Sementara sosok yang melakukan hal itu hanya diam duduk di kursi kayu panjang di dalam Sel dengan tatapan dingin mengintimidasi para Pria yang dinihari tadi sempat ingin melecehkannya karna Tubuh Evelyne memang beracun.


"Nona!"


Panggil salah satu penjaga Sel laki-laki muda yang mengalami lebam pada Pipinya. Pandangan Pria itu masih takut-takut karna semalam saat melerai perkelahian ini, ia ikut di pukul habis-habisan.


"P..Pak! Bawa dia.."


"Kau mengusirku?" tajam Evelyne pada para tahanan yang lain. Semuanya bergidik menggeleng tak berani mendekati Evelyne yang terlalu memberontak.


"K..kau bisa pergi!"


"Sekali lagi kau berbuat seperti itu pada wanita manapun. INGAT KUKU-KUKU ini!" desis Evelyne menunjukan kuku runcingnya yang indah.


Mereka menunduk pucat karna Kuku itu semalam mencakar leher mereka dan tak membiarkan nafas lega mengalun tenang.


"Nona! kau.."


"Kau juga!!" ketus Evelyne pada Petugas Penjaga yang hanya bisa diam membuka kuncian baja ini dan membiarkan Evelyne keluar berjalan angkuh melewatinya.


Di kiri kanan Evelyne juga ada Ruangan tahanan yang lain. Dari mulai berwajah sangat di penuhi tato dan ada juga yang tampak menatap penuh minat pada Evelyne yang tak memperdulikannya.

__ADS_1


Auranya terlalu mahal dan tak sudi berlama-lama disini.


"Dia siapa?"


"Apa ada penjahat secantik itu?"


Bisik mereka menatap nakal Evelyne. Namun, ada salah Pria yang diiring 3 Aparat penjaga masuk ke dalam area Sel ini dan berpapasan dengan Evelyne yang tak memandangnya.


Tapi, Pria itu melirik Evelyne dari sudut ekor matanya dengan tatapan yang tak sama dengan Para tahanan yang biasa memandang Evelyne sebagai objek fantasi.


"Dia siapa?"


Pertanyaan dari sosok yang berambut ikal panjang menutupi wajah. Tato itu terlihat membekas sedikit pudar di bagian dagunya.


Para penjaga itu kebingungan karna belum pernah Tahanan lama ini menanyakan hal yang termasuk tak penting.


"Dia pembuat onar!"


Mendengar itu dia diam tak lagi bertanya apapun. Tapi, jelas ia menunjukan ketertarikan yang sangat mustahil terjadi.


Sementara di luar sana. Evelyne sudah bertemu dengan Jirome yang menatapnya tajam tapi seperti biasa ia tak perduli.


Disini juga ada Kepala keamanan yang bisa mentolerir Evelyne karna Jirome mengatakan Wanita ini memang mengalami sedikit gangguan dan dia kabur dari Tempat rehabilitasi.


"Tuan! Sebaiknya anda harus menjaganya baik-baik. Jangan sampai dia mengamuk lagi di jalanan!"


"Kau pikir aku gila?" sambar Evelyne tak terima tapi Jirome sudah lebih dulu memotong pembicaraan.


"Baik. Bersihkan nama baik Presdir Maxwell. Wanita ini hanya gila karna terlalu menyukai, Tuanku!"


"Kauu.."


Evelyne langsung di tarik Jirome keluar dari ruangan ini karna Media sudah berkumpul di depan. Gedung Kepolisian ini terlalu berbahaya untuk privasi Tuannya.


"Aku tak sudi dengan alasanmu barusan!"


"Kau membuat Tuanku dalam masalah," umpat Jirome karna nanti Media pasti akan menjadikan Maxwell bulan-bulanan begitu juga para Perusahaan yang memang dulu bertopeng di hadapan mereka.


"Biarkan saja! Bila perlu aku akan mengatakan pada Dunia jika dia itu sangat IDIOTT.. Tak berguna."


Jirome hanya bisa menahan kekesalan membawa Evelyne keluar melewati Pintu Gedung yang lain. Untung para anggota mereka sudah bersiap jika terjadi adegan Anarkis lagi.


....


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2