
Mobil yang di kendarai oleh Jirome itu melesat ke arah jalan menuju Perumahan Elite Brusell. Dada Maxwell terasa bergejolak menahan marah sekaligus geram karna aksi nekat Evelyne yang bertindak tanpa memberitahunya sama sekali.
Apalagi, Jack sudah membobol CCTV tempat ini sampai rekaman Evelyne yang mengecoh penjaga Gerbang sana dapat ia lihat di Tab miliknya.
"Apa dia memang tak punya pekerjaan lain?!" geram Maxwell sebenarnya enggan untuk datang kesini. Tapi, ia tak ingin Evelyne ikut campur dalam urusannya bahkan sampai masuk asal tanpa berpikir dua kali.
Melihat wajah merah padam Tuannya, Jirome hanya bisa diam memelankan laju Mobil karna sudah hampir mendekati belokan ke arah Gerbang. Ia tak membawa Mobil yang biasa di pakai tapi ini Mobil santai dan tak akan ada yang mengira Presdir Perusahaan Keluarga Marcello itu tengah menahan marah didalamnya.
"Tuan! Aku akan keluar!"
"Dapatkan dia!" titah Maxwell bersandar ke kursinya kala Jirome sudah menghentikan Mobil di tepi jalan yang cukup sunyi.
Ia keluar dari Mobil ini memakai Maskernya lalu berjalan ke arah belokan menuju Gerbang Perumahan. Disana sudah terlihat dua Penjaga yang mengecek beberapa sudut jalan karna ini sudah tengah malam.
"Kau siapa?"
Jirome diam menatap ke arah dalam sana. Suasana remang dam hawa dingin tempat ini mengharuskan mereka untuk memakai pakaian agak tebal.
"Kau mencari apa?" tanya salah satunya pada Jirome yang masih diam di dekat Gerbang.
"Apa ada Wanita berambut pertengahan punggung dan kulitnya putih datang kesini?"
Keduanya saling pandang. Mereka terdiam sesaat tapi Pria yang tadi berbicara dengan Evelyne tampak mulai mengingatnya.
"Yah. Tadi ada Wanita cantik yang berantakan, dia mengatakan jika dia adalah Kerabat dari Tuan Besar Marcello dan.."
"Kau melihatnya keluar dari sini?" tanya Jirome saat Pria itu seperti antara marah dan juga kebingungan.
"Aku tak tahu. Yang jelas tadi ada tapi saat aku berbalik ke belakang dia sudah hilang. Ntah manusia atau tidak hanya tuhan yang tahu," gumamnya bergidik.
"Kau benar tak melihatnya keluar dari sini?"
"Tidak. Masuk saja aku tak melihat Wanita itu. Tak ada bekas jejaknya sama sekali."
"Hm. Terimakasih!" ucap Jirome berbalik pergi kembali melangkah ke arah Mobil.
Beberapa kendaraan roda empat berdatangan dan sepertinya mereka salah satu penghuni tempat ini. Pikir Jirome masa bodoh.
Saat di dekat Mobil ia mengetuk kaca jendela dekat Maxwell yang menurunkannya. Wajah datar Tampan ini terlihat mengintimidasi Jirome yang menurunkan Maskernya.
"Tuan! Tak ada yang tahu kedatangannya. Dia bergerak sangat baik."
"Dia memang benar-benar," umpat Maxwell memandang ke arah depan jalanan. Jujur bukan hal itu yang ia khawatirkan. Wajah wanita itu sudah Familiar di Pusat kota apalagi para Masyarakat yang tak suka padanya atas Scandal itu bisa saja berbuat buruk.
"Tuan! Anggota kita juga sudah menyusuri jalanan di sekitar sini dan dia pasti bisa di temukan."
"Aku tak perduli dengannya tapi kemanapun dia berada pasti menciptakan masalah untukku," elak Maxwell padahal tak sejalan dengan hatinya.
Alhasil Jirome hanya bisa diam ingin kembali masuk ke dalam Mobil tapi tiba-tiba saja ada siluet bayangan dari arah belokan jalan Gerbang tadi membuat Jirome waspada.
__ADS_1
Ia menggenggam Pistol di balik jaketnya melirik ke arah Maxwell yang menyipitkan netra elangnya.
"Tuan! Aku akan memeriksanya!"
"Hm," gumam Maxwell ingin menutup jendela kaca di samping.
Tapi, saat Pistol Jirome sudah terarah ke remangan jalan sana mata tajam Maxwell melihat kulit putih seseorang yang sangat ia hafal seberapa bersihnya itu.
Dengan cepat ia membuka Pintu Mobil lalu berjalan tegas menarik bahu Jirome sampai kembali mundur ke dekat lampu Mobil.
"T..Tuan kau.."
Maxwell hanya diam masih membelakangi arah bayangan tadi hingga mata Jirome agak melebar kala melihat Evelyne berjalan tertatih-tatih memeggangi perutnya dengan wajah pucat dan penampilan berantakan.
"Tuan! Itu dia!"
Evelyne yang mendengar itu segera mengangkat pandangan ke arah Jirome. Ia yang merasa pusing berusaha memperjelas tatapan buramnya sampai sudut bibir kering Evelyne terangkat melihat Punggung lebar nan kekar milik seseorang yang membuatnya tak segan berjalan pelan ke sana lalu menyandarkan kepalanya ke punggung berotot itu.
Helaan nafas beratnya muncul seperti melepas lelah yang ia tahan beberapa waktu sebelumnya.
"Akhirnya.. Emm!"
Gumam Evelyne menghembuskan nafas lega. Ia menopang kepalanya disini dan jika Maxwell beranjak sudah di pastikan ia akan tersungkur kedepan.
Tapi, Maxwell merasakan hawa tubuh Evelyne begitu dingin. Itu sudah pasti karna Evelyne hanya memakai kemeja dan Boxernya tanpa penghangat apapun.
"Aku.. K..kaki..ku.."
"Kenapa kau.. Kesini? Hm?"
Maxwell tak menjawab. Ia melepas Jaket di tubuhnya lalu membalutkan pakaian hangat itu ke bahu Evelyne.
"Jawab aku. Kau.."
Kalimatnya terhenti kala Maxwell sudah menggendongnya ringan dan berjalan melewati Jirome yang kembali terpaku kosong di tempat.
Apa yang terjadi pada Tuannya? Pria ini sehat?
Pikir Jirome seperti itu. Saat suara Pintu Mobil di tutup keras akhirnya Jirome sadar segera menyusul Maxwell masuk ke dalam sana.
"Kenapa kau kesini?" tanya Evelyne berbaring di atas kursi dengan kedua kaki sudah ada di paha Maxwell yang mengeraskan rahangnya.
Bagaimana tidak? Telapak kaki Evelyne sudah merah dan berdarah karna tergores aspal belum lagi ini terasa sangat dingin.
"Kalau kau ingin mati. Bukan begini caranya?" geram Maxwell memelintir pergelangan kaki sebelah kiri Evelyne yang sontak langsung terpekik hebat menendang tangannya.
"Kau ingin mematahkan kakiku. Haaa??!!"
"Hm. Akan ku patahkan," tekan Maxwell menariknya sampai berbunyi detakan cukup nyaring. Evelyne langsung syok mengira kakinya benar-benar patah.
__ADS_1
"K..kaki.. Kaki ku. Kau.. Aaaaa!!!" teriakan Evelyne sejadi-jadinya dengan emosi ingin menendang bahu Maxwell dengan kaki kanannya tapi tangan besar Maxwell dengan mudah menangkap tungkai jenjang ini lalu melakukan hal yang sama.
Sontak Evelyne kian menggila sampai bangkit beralih ingin mencekik Maxwell dengan kedua tangan sudah menarik leher kaos Maxwell yang menahan kepalanya ke belakang.
"Aku.. Aku akan mematahkan lehermu!! Akan ku patahkan kerongkonganmu!!!"
Geram Evelyne tapi Jirome langsung berdehem sedikit keras karna terganggu dengan suara keras Evelyne.
Lirikan mata abu membunuh itu bagai pedang menembus jantung Jirome yang tengah memandu Mobil keluar dari area Perumahan ini.
"Kau juga?"
"Tuan hanya melenturkan kakimu!" jawab Jirome tahu apa yang baru saja Maxwell lakukan. Evelyne terdiam sejenak masih dengan deru nafas memburu dan wajah keras itu melirik tajam Maxwell yang hanya menatapnya datar.
"Periksa kakimu kalau tak percaya!" imbuh Jirome tahu Evelyne tak menduganya.
Tanpa melepas bidikan matanya dari wajah tampan Maxwell, Evelyne memutar pelan pergelangan kakinya. Tapi, ia segera menatap ke kaki jenjang indah ini karna tak merasakan perih atau pegal teramat luar biasa yang tadi ia rasakan.
"K..kaki.. Kakiku tak pegal lagi. Tadi rasanya aku tak akan bisa berjalan kembali," syok Evelyne sampai mengangkat kedua kakinya ke atas punggung Kursi kemudi Jirome karna lega dan cukup senang.
Melihat itu Jirome hany menggeleng dan Maxwell tetap dalam mode Coolnya. Ia tak memandang Evelyne lala mata abu ini beralih memindai wajahnya lebih tenang.
"Dari mana kau belajar seperti itu. Ha?"
"Untuk apa kau datang kesana?" tanya Maxwell masih tak melihat Evelyne yang mengulurkan tangannya.
"Gantian tanganku!"
"Kau.."
"Lalu bahuku!" pinta Evelyne menjulurkan kedua tangannya ke hadapan Maxwell dengan wajah bersemangat. Tak biasanya ia seperti ini.
"Jawab pertanyaan ku!!! Kenapa kau datang kesana dan.."
"Perutku lapar! Jadi, sekarang otakku tak bisa berpikir," sela Evelyne santai hingga kedua tangannya langsung mencengkram kedua tangan Evelyne memberikan pijatan yang sama.
Walau kasar dan beberapa kali menyentak tangannya Evelyne tak menarik diri. Samar-samar Jirome bisa melihat tatapan Evelyne pada Maxwell terlihat dalam dan menyimpan sesuatu.
Lebih pada sebuah empati dan rasa kasihan yang melebihi apa yang ada di kepalanya.
"Semakin kesini aku semakin paham kenapa kau jadi seperti ini?"
Batin Evelyne merasa sikap kasar, angkuh dan arogan Maxwell terbentuk karna tekanan dan masalah yang begitu rumit.
Ia jadi mulai sedikit paham kala tadi melihat jika Tuan Marcello seperti menjadikan Maxwell tameng untuknya dan Violet. Hubungan dua manusia itu masih belum bisa Evelyne buktikan tapi ia berjanji pada dirinya sendiri.
Ia akan mengambil Hak Maxwell yang seharusnya tak seenaknya di permainkan Tuan Marcello sebagai Ayahnya.
....
__ADS_1
Vote and Like Sayang..