
Setelah membersihkan dirinya tiba-tiba saja Evelyne menemukan pakaian yang sudah di siapkan di tepi ranjang. Ada pelayan wanita juga yang menunggu di dekat meja rias hingga Evelyne hanya bisa pasrah memakai kaos santai dengan hotpant sepaha.
Rambut basah itu ia gerai asal lalu melenggang pergi keluar kamar tak menggubris pelayan wanita yang tadi begitu cerewet.
"Nona! Biarkan saya membantu mengeringkan rambutmu!"
Evelyne tak menjawab. Ia berjalan menyusuri lantai ini seraya mengamati bangunan apa yang tengah mengurungnya. Bentuknya seperti Villa yang ada di tengah hutan atau mungkin konsep bangunan ini lebih ke alam.
Terbukti dengan banyaknya furniture kayu dan warna putih mendominasi dinding dan langit-langit tempat ini.
"Aku tak bisa percaya begitu saja padanya!" gumam Evelyne melihat tangga dan segera turun menyusuri relief kayu ini. Ia juga di kejar oleh pelayan wanita tadi sampai ke lantai bawah karna tangga ini tak begitu panjang.
"Nona!! Nona berhenti!!"
"Dimana pria mata hitam itu?" tanya Evelyne berdiri tepat di tengah-tengah tempat ini. Ia menatap ke semua sudut ruangan sampai pada jendela kaca yang panjang dan minimalis dengan kesegaran udara menyapu bersih hidungnya.
"Nona! Keringkan dulu rambutmu. Kau bisa jatuh!" cemas wanita paruh baya berpakaian pelayan yang sudah membawa handuk mendekatinya.
"Dimana Tuanmu?"
"Tuan.."
"Aku ingin pergi dari sini! Jangan sampai aku membunuh kalian semua," sarkas Evelyne berbalik mengancam wanita ini hingga ia benar-benar tak menyangka jika wanita yang di bawa tuannya begitu ketus.
"Nona! Tuan ada di ruang makan menunggumu. Dia.."
"Pria mata hitaaam!!" teriak Evelyne menggelegar hingga wanita itu panik. Ia gelagapan mendekati Evelyne tapi wanita cantik ini seperti tak ada takutnya sama sekali.
"Aku tak akan percaya padamuu!! Kau jangan memakai nama keluargakuu. Pahaaam??"
"Nona! Kau..."
Ucapan pelayan wanita itu terhenti kala melihat Leonard sudah berdiri di pintu yang ada di dekat tangga. Ruangan ini memang tak begitu luas tapi sangat nyaman dan kasual.
Pria dengan rambut kriting dan mata hitam tajam itu menatap Evelyne yang tadinya berteriak segera diam kala sudah melihat kearahnya.
"Disitu ternyata!"
"Kau mencariku?"
"Yah. Jangan kau pikir aku percaya dengan pria sepertimu! Di dunia ini aku hanya percaya pada satu pria dan itu..."
"Kau ingin merasakan pingsan lagi?" sela Leonard dingin dan itu di jawab dengusan kasar Evelyne.
"Aku tak takut padamu!" ketus Evelyne hingga Leonard mengangguk. Ia sudah paham dengan sikap keras kepala Evelyne yang tak akan bisa dikendalikan dengan mudah.
"Kau ingin tahu alasanku membawamu, bukan?"
"Hm. Katakan!" tegas Evelyne masih dengan intonasi meninggi.
Leonard berbalik kembali berjalan ke ruang makan di belakang. Evelyne benar-benar merasa sangat kesal bukan main mendengar suara angkuh itu.
"Makan denganku atau kau tak akan bisa mendapatkan penjelasan apapun!"
"Kau.."
"Aku tak memaksa!" jawabnya di dalam sana hingga mau tak mau Evelyne berjalan dengan lebar dan penuh emosi.
Ia masuk ke dalam ruang makan yang tertutup dengan kampu besar di atasnya seperti untaian bunga tulip.
Dari sini sudah terlihat meja makan minimalis segi delapan yang terbuat dari kayu mahal yang mengkilap. Ia juga kagum dengan desain interior tempat ini karna berbeda dengan yang ada di Perusahaan.
"Duduklah!"
__ADS_1
"Disini saja!" jawab Evelyne membiarkan Leonard duduk di kursi kayu yang terlihat elegan. Tatanan makanan di atasnya sudah benar-benar menggugah apalagi ada Ice Cream yang tampak segar.
Tidak.. tidak.. Aku tak bisa menunjukan kesukaanku padanya. Dia bukan pria baik-baik.
Batin Evelyne berusaha menahan diri. Leonard tahu itu tapi ia hanya acuh memakan Pasta yang masih utuh di piringnya bahkan seperti tak memperdulikan Evelyne yang menelan ludah.
"Kau yakin tak ingin makan?"
"Tidak!" jawab Evelyne membuang muka tapi tiba-tiba saja perutnya langsung berbunyi. Hal itu membuat Evelyne mengumpat karna imannya tak sekuat itu.
"Makanlah!" ajak Leoanrd mengetuk meja di samping piring yang ada di sebelahnya.
Evelyne dengan berat menduduki kursi itu dengan wajah di tekuk dan rasa lapar yang tiba-tiba tak bisa di kendalikan.
"Aku terpaksa!"
"Terlihat dari caramu bicara!" jawab Leonard menegguk segelas air putih di dekat piringnya tenang.
Awalnya Evelyne ragu-ragu memakan pasta ini tapi satu suapan terasa begitu lezat sampai ia makan dengan sangat lahap.
Senyum Leonard muncul melirik Evelyne dari ekor matanya merasa senang karna wanita ini memang sangat menggemaskan.
Tapi, wajah Leonard yang tadi bersahabat tiba-tiba mendingin kala tahu jika Evelyne seperti ini karna hidup terlalu lama dengan pria itu. Jika bukan karna Maxwell bisa dikatakan Evelyne tak akan bisa di dekati. Cih, dia memang membawa dampak besar di hidup adiknya.
"Katakan! Apa maksudmu membawaku kesini?!" tanya Evelyne dengan mulut penuh tanpa menatap Leonard yang menghentikan makannya.
"Aku serius dengan ucapanku tadi!"
"Kau.."
"Kau memang adikku. Evelyne!" sela Leonard dengan tatapan serius ke wajah cantik Evelyne yang juga sampai terdiam.
"Kita memang tak sedarah tapi aku yang selalu ditugaskan untuk menjagamu oleh Pendeta Aide'an!" lanjut Leonard dan ia langsung membuat Evelyne terpaku menatap wajah dewasa Leonard yang mulai menatapnya sendu.
"Kau jangan membual!" sarkas Evelyne dengan mata tajamnya mengintimidasi Leonard yang tahu jika Evelyne tak ingat karna tak pernah melihatnya.
"Aku tak berbohong. Aku anak dari Biksu Ruud yang menjadi teman Pendeta Aide'an. Aku hanya bisa melihatmu dari jauh karna Daddymu melarang ku mendekat karna takut jika.."
"Jika aku akan membunuhmu?!" sela Evelyne dengan tangan mencengkram kuat garpu yang tadi ia peggang. Matanya terlihat marah dan membenci hal itu.
"Yah. Tapi, aku selalu melihatmu! Aku minta maaf karna saat kebakaran itu aku pergi ke Wihara Daddyku dan tak bisa mencegah bencana itu," jawab Leonard penuh sesal.
Itu terlihat saat ia bicara dan tatapannya yang melembut pada Evelyne. Tak ada raut kebohongan di matanya tapi Evelyne masih tampak ragu.
"Baiklah! Kau kenal ini?"
Menunjukan bekas tato di dagunya. Tak terlalu jelas tapi itu seperti tato setengah bulan dan ada beberapa bentuk lain yang membekas.
Evelyne tahu itu tanda dari Wihara yang berteman baik dengan Pura milik Daddynya. Secara tak langsung mereka memang terhubung dari kecil.
"Dan di tengkuk mu ada tanda bintang hasil ritual terlarang Pendeta Adie'an yang.."
"Apa kau tahu siapa yang melakukan kebakaran itu?" sambar Evelyne dengan intonasi dingin. Leonard diam dengan berat hati ingin mengatakan jika Kebakaran itu di sebabkan oleh Evelyne sendiri hingga musuh memanfaatkannya untuk menyerang.
"KATAKAN!! AKU AKAN MENGHABISI MEREKA!" geram Evelyne menggebrak meja ini hingga piring makannya tadi pecah ke lantai.
Bagaimana aku bisa mengatakan padamu Evelyne?! Kebakaran itu karna kau yang mengamuk dan di saat itu musuh memanfaatkan keadaan Pura yang kacau untuk menyerang.
Tapi, itu tak murni kesalahanmu. Kalau bukan karna para pemerintahan kota itu maka sampai sekarang pasti Pura masih berdiri tegak.
Batin Leonard hanya akan mengatakan orang yang memanfaatkan kejadian mengerikan itu. Ia tak akan membuat Evelyne menyalahkan dirinya sendiri akan hal ini.
"Katakan!! Aku sendiri yang akan membunuhnya bahkan memanggangnya hidup-hidup!"
__ADS_1
"Kau yakin?" tanya Leonard dan diangguki dengan serius oleh Evelyne.
"Yah. Mereka harus membayar penderitaan kita dan.."
"Fernandez!"
Duaar..
Bagi tersambar petir di siang bolong Evelyne terkejut bukan main. Ia menatap kosong Leonard seakan mengatakan, itu tak benar-kan?!
"F..Fernandez?"
"Yah! Dia adalah seorang Mafia gelap yang memiliki bisnis ilegal pembunuh bayaran. Para petinggi kota yang ingin mengambil alih Pura menyewa anggotanya untuk menumbangkan Pura bahkan Wihara Daddyku juga!" jelas Leonard juga mengingat bagaimana pemerintahan kota itu tiba-tiba menjadikan Wiharanya tersangka atas kebakaran yang terjadi di Pura Evelyne.
"T..tidak. itu tak mungkin!" gumam Evelyne menggeleng karna ia tak akan menyakiti Maxwell. Mendengar itu amarah Leonard meluap-luap.
"Apanya yang tidak?! Daddyku jadi tersangka utama karna dia yang sering mengunjungi Puramu. Bahkan, dia meninggal dunia karna syok dengan berita kebakaran itu dan.."
"DAN KENAPA KAU BARU DATANG SEKARANG??" bentak Evelyne berdiri begitu juga Leonard yang langsung menjawab lantang.
"Aku di penjara!!! Aku mendekam di penjara Evelyne!!!"
Mata Evelyne mengigil dengan cairan bening itu tiba-tiba memenuhi pelupuk netra abunya. Kenyataan ini benar-benar membuatnya syok dan sangat sakit membawa luka lebih dalam.
"Saat itu aku melakukan perlawanan hingga membunuh aparat kepolisian yang membuat Ayahku jantungan. Aku.. Aku di penjara sampai aku bertemu denganmu. Aku melihatmu berjalan di sampingku dan aku sangat kenal tatapan angkuh di mata abumu. Evelyne!" lirihnya memeggang bahu Evelyne dengan sendu.
Evelyne-pun mulai mengingat hal itu. Ia sadar jika saat di penjara waktu itu ada pria yang di bawa masuk ke dalam ruang tahanan utama. Jadi..
"Kau.."
"Hm. Itu aku yang setelah keluar dari situ langsung mencaritahu dimana kau tinggal dan apa yang kau lakukan?! Dan selama itu aku mengerti jika kau dekat dengan Keluarga Fernandez. Dia musuh utama kita!" desis Leonard tapi Evelyne hanya diam.
Ia tak tahi harus mengatakan apa karna Maxwell dan Nyonya Meeiner itu Ibu dan anak. Ada kemungkinan besar Fernandez juga ayah kandungnya.
"Kita wujudkan tujuan itu bersama. Aku akan buat dia merasakan hal yang sama dengan kita. Evelyne!"
"T..tidak. M..mungkin.. Mungkin saja salah. Aku.."
"Apa karna pria itu?" tanya Leonard mendesis dengan cengkraman ke bahu Evelyne menguat.
Mata wanita ini berair tak setegas tadi menandakan jika batinnya benar-benar tak sanggup membayangkan hal itu.
"T..tidak. Kau.. Kau cari dengan teliti siapa tahu itu.."
"Jangan hanya karna pria itu kau melupakan dendam keluarga kita!!"
"Tapi, aku mencintainyaa!!!" teriak Evelyne menyentak tangan Leonard yang menatap nanar Evelyne.
Matanya sampai memerah dan terlihat menolak kenyataan walau ia tahu itu tak kebohongan.
"A..aku! Aku ingin dia b..bahagia! Dia sudah cukup menderita. Dan.. dan jangan libatkan dia. Aku mohon!" lirih Evelyne memelas tak ingin Maxwell di bawa-bawa.
Leonard hanya diam merasa Evelyne terlalu mengagung-agungkan Maxwell yang pasti sudah berperan banyak dalam hidup Evelyne.
Setelah beberapa saat kemudian Evelyne merasakan sakit di perutnya. Leonard sontak panik menopang tubuh Evelyne yang tiba-tiba lemas.
"Kau.. Kau kenapa?"
"P..perutku!" geraman sakit Evelyne sampai wajahnya pucat. Leonard tak lagi membuang waktu langsung menggendong ringan tubuh seksi ini dan membawanya kembali ke atas.
............
Vote and Like Sayang..
__ADS_1
Ceritanya nggak berbelit kok say.. Ini mau ngungkap silsilah keluarganya aja βΊπ