My Little Devil

My Little Devil
Pertemuan yang menegangkan


__ADS_3

Setelah menyusuri asal suara air berjatuhan itu akhirnya mereka bisa bernafas lega kala dari belasan meter ini terlihat ada bebatuan penuh lumut dan rona segar alam perairan.


Jirome-pun sudah tak sabar ingin melihat bayangannya di atas permukaan air itu karna sedari tadi aroma lembab tanah dan dedaunan basah inilah yang buatnya pengap.


"Tuan! Sepertinya air terjun itu sangat segar!"


Maxwell tak menjawab. Ia hanya diam berdiri menatap kedepan dengan sorot mata tajam yang intens. Jirome-pun merasa heran tapi tak berani bergerak sebelum Tuannya mengonsumsi.


"Ada apa? Tuan!"


"Aroma busuk!" gumam Maxwell mempertajam indra penciumannya. Ia mengamati rerumputan liar di sekitarnya yang tampak sudah di pijak dan patah. Kemungkinan ada orang atau hewan berukuran cukup besar yang pernah melewatinya.


"Apa itu bahaya?"


"Waspada! Disini sudah di lewati sesuatu," jawab Maxwell dengan pandangan tertuju pada beberapa ranting setinggi pinggangnya yang patah.


Apa mungkin ada harimau atau sejenisnya di sekitar sini?!


Pertanyaan yang mendasar di benak Maxwell. Ia berpikir sejenak dengan tatapan waspada Jirome yang sudah mempersiapkan pisau di tangannya.


"Jika itu musuh, aku akan membantainya!"


"Anggap saja begitu," gumam Maxwell tak terlalu menghiraukan Jirome. Ia segera berjalan menyusuri semak yang rusak itu seraya waspada dengan pistol di belakang jaketnya.


Semakin Maxwell mendekat maka getaran keingin tahuannya semakin besar. Saat ada tanah yang lembek terlihat ada cetakan tapak kaki manusia.


"Tuan! Kau memang benar. Pasti ada yang sudah memantau kita disini."


"Kau pantau disini dan lihat apa ada yang mendekat ke arahku!" titah Maxwell yang diangguki oleh Jirome. Ia berganti senjata dengan Maxwell yang beralih menggunakan pisau untuk senjata jarak dekat sementara Jirome bersiaga dengan pistol ditangannya.


Langkah waspada dan gagah Maxwell mulai turun dari area semak. Ia menapaki bebatuan kecil di tepi air terjun yang nyatanya memang besar dan lebar.


Bebatuan besar di pinggiran sungai ini menghalangi pandangan Maxwell ke permukaan air. Ia hanya melihat tempat di sekelilingnya mengamati setiap jejak dan goresan lumut yang mengikis batu.


"Jejaknya masih baru. Berarti dia ada disini!"


Batin Maxwell menghentikan langkahnya di dekat batu besar yang tak menjadi objek fokusnya. Ia berjalan menyusuri pinggir air terjun mengamati beberapa kerusakan pada pinggiran tanah dan jejak kaki yang semakin mendekat di sebuah kolam yang terbentuk karna susunan bebatuan dan tepat ada di pertengahan air jernih yang menggebu.


Semakin Maxwell mendekat jantungnya mulai memompa agak lain seakan-akan ia gugup tapi juga tak sabaran. Kakinya yang kokoh memijaki batu-batu kecil yang basah karna cipratan air sampai Maxwell menahan nafas di pijakan batu berakhir.


Saat ia ingin melihat ke dalam kolam ini tiba-tiba saja ada tangan seseorang yang menarik kakinya dari pinggir batu langsung tercebur ke dalam deburan air.


"Kau..."


Maxwell tak bisa membuka matanya karna kepalanya langsung di benamkan ke dasar permukaan air dan pisau di tangannya di pijak oleh sesuatu yang kuat untuk tetap ke bawah.


Tanah yang ada di dasar kolam ini naik ke atas mengaburkan matanya hingga Maxwell tak bisa mengambil resiko. Ia merubah posisi dengan cepat karna kekuatannya memang tak bisa di tahan oleh tangan seseorang yang tadi mencengkram rambutnya.


"Ehmmm!!!"


Pekikan tertahan seseorang didalam sana karna Maxwell mencekik lehernya. Saat sudah muncul ke permukaan air Maxwell melihat kedua kaki jenjang nan putih terdapat goresan luka di telapaknya.


Tak butuh waktu lama bagi Maxwell mengenal kaki ini hingga matanya melebar menduga siapa yang sekarang ia tenggelamkan.


"E..Evelyne!!"


Maxwell menarik tubuh wanita ini kepermukaan hingga wajahnya langsung pucat kala sesosok wanita yang nyaris satu minggu meninggalkannya itu tengah terbatuk.


"Uhuukk!!! A.. Aku.."


"Sayang! Maaf.. Maafkan aku!" panik Maxwell antara terkejut dan sangat syok. Begitu juga Evelyne yang melebarkan matanya melihat wajah tampan basah Maxwell yang tadi ia kira anggota Leonard.


Apa aku mimpi? Kenapa dia ada disini?!


Batin Evelyne menatap tak berkedip Maxwell yang juga sama tapi ia berusaha menepuk-nepuk punggung Evelyne agar tak tersedak air lagi.


"Tidak! Aku..aku bermimpi lagi!" gumam Evelyne mengusap wajahnya kasar ingin melepas belitan tangan Maxwell di pinggangnya tapi sayang sekali ini terlalu erat.


"Evelyne! Kenapa.. Kenapa kau disini? Dan.. Pakaianmu.."


"Kau itu bertamu ke mimpiku jangan cabull! Lagi pula kita tak akan bisa bertempur," ketus Evelyne menganggap Maxwell hanya bunga tidurnya saja karna memang setiap malam ia selalu memimpikan wajah tampan ayah dari janinnya itu.


Berbeda dengan Evelyne yang menganggap ilusi, Maxwell justru ingin berteriak keras karna sekarang Evelyne benar-benar ada dipelukanya.

__ADS_1


"Sayang! Ini aku dan kau baik-baik saja-kan? Apa aku menyakiti lehermu dan.."


"Kau tak perduli lagi padaku, ya? Sampai ingin membunuhku!" rutuk Evelyne mengalungkan kedua tangannya ke leher kokoh Maxwell yang sama sekali tak perduli jika sekarang pisaunya sudah hilang ntah kemana.


Ia menggeleng keras melihat bekas cekikannya tadi yang menimbulkan rasa bersalah yang besar.


"Bukan seperti itu! Aku hanya.."


"Bahkan kau tak mencariku. Aku terpaksa lari dari mereka agar bisa bertemu denganmu. Tapi, kau hanya mau datang lewat mimpi saja," lirih Evelyne membuat dada Maxwell terasa sakit. Ia segera menangkup pipi putih mulus ini dengan penuh kerinduan dan cinta darinya.


"Bukan. Ini bukan mimpi. Aku.. Aass!!" desis Maxwell saat Evelyne mengigit bibirnya sampai Jirome yang ada di belakang sana terkejut.


"Tuaan!!"


"Kau membawa Jirome dalam mimpi kita?" tanya Evelyne dengan konyolnya padahal ia sudah membuat Maxwell harus segera melepas jaket di tubuhnya.


"Kau.."


"Berhentiii" tegas Maxwell membungkus tubuh Evelyne dengan jaketnya dan memeluk wanita itu erat agar bagian depan Evelyne tak terlihat.


Jirome yang sudah melihat puncak kepala Tuannya itu hanya bisa menurut dengan pistol sudah siap meledak.


"Tuan! Apa kau tengah mengunci musuh? Aku dengar ada suara riak air dan suaramu disini!"


Maxwell hanya diam. Antara senang tapi juga tak bisa mengekspresikan perasaanya karna sekarang Evelyne di temukan dalam mode panas yang tak rela ia bagi.


Evelyne yang diam berusaha mencerna semua ini. Ia menatap wajah tampan Maxwell lekat bahkan hidung mereka saling bersentuhan dengan hembusan nafas saling menyapa.


Begitu juga Maxwell. Semakin di bersitatap perasaan itu semakin nyata bahkan Maxwell tak bisa membendung kerinduannya segera menyambar bibir pink agak pucat Evelyne yang juga memejamkan matanya.


Ia tak menolak dan justru membalas penuh sensasi membuat dahi Jirome mengernyit heran. Kenapa Tuan tak menjawab?! Apa dia terluka?!


Benak Jirome khawatir. Antara ingin mendekat tapi takut melanggar perintah tapi jika diam saja ia justru gelisah.


Sudahlah! Yang penting aku harus melindungi Tuan.


Pikirnya segera melanjutkan langkahnya dengan kepala agak di tarik ke depan untuk melihat apa yang terjadi.


Alangkah terkejutnya Jirome melihat Maxwell tengah berciuman dengan seorang wanita yang tak begitu ia lihat wajahnya karna di tutupi tubuh kekar itu. Wajah Jirome pucat dengan tubuh gemetar panas dingin bercampur ayok karna tak menyangka Tuannya akan seperti ini.


"T..tuan!" lirih Jirome menatap kaku pergumulan panas Maxwell yang sepertinya sudah hilang akal dan tak sadar akan dunia. Ia hanya mencium penuh rasa rindu dan ketidakrelaan mengungkapkan gejolak dahysat yang menyiksanya.


Berbeda dengan Maxwell yang tengah meluapkan perasaanya. Jirome justru merasa kecewa, ia tak menyangka Maxwell bisa berpaling karena hanya melihat wanita menganggur di dalam kolam ini.


Tidak! Evelyne menunggu kita dan kau tak bisa seenaknya begini.


Benak Jirome segera melepaskan tembakan ke atas membuat Evelyne terkejut hebat melepas ciumannya. Wajah Maxwell membeku merapatkan Evelyne ke tubuhnya.


"Tuan! Aku tak menyangka kau melakukan ini!"


"Hentikan omong kosongmu!" datar Maxwell ingin berbalik tapi Jirome sudah lebih dulu bicara melantur.


"Lepaskan wanita itu karna kau harus menjemput Evelyne! Seharusnya kau tak begini, Tuan! Dia sedang hamil dan kau menghabiskan waktu dengan..."


"Kau membicarakan aku?" tanya Evelyne menyembulkan kepalanya di atas bahu Maxwell hingga Jirome hampir tersedak nafasnya sendiri.


Deggg..


"K..kau..."


Ia terbata-bata sampai menutup mulutnya tak percaya akan apa yang baru saja ia lihat. Tuhan seakan berpihak pada mereka dengan mempermudah pencarian wanita purba ini.


Antara senang dan bahagia Jirome sampai ingin bergabung ke dalam kolam untuk memeluk Evelyne tapi belum ia melangkah mendekat tiba-tiba saja suara Maxwell menggetarkan jantungnya.


"BERBALIIIK!!"


"T..tuan.."


"Jangan menatap kesini!" tegas Maxwell dan mau tak mau Jirome patuhi. Ia mendengar suara riak air yang memperlihatkan jika Maxwell tengah membawa Evelyne naik ke atas karna suhu air terasa sangat dingin.


"Sudah berapa lama disini? Kulitmu sampai pucat!" gumam Maxwell mendudukan Evelyne di atas batu besar di dekat kolam lalu ia melihat bekas cekikannya tadi.


Tapi, fokus Maxwell tertuju pada lengan Evelyne yang seperti di belit oleh sesuatu sampai merah dan sedikit memar.

__ADS_1


Rahangnya mengeras dengan kepalan menguat menduga jika penculik sialan itu melakukan penyiksaan.


"Mereka menyiksamu?" dingin Maxwell meraih lengan Evelyne ke genggaman besarnya.


Evelyne diam tapi segera menggeleng. Hal itu membuat Maxwell melayangkan tatapan tajam padanya.


"Ini apa?? Siapa yang melakukan ini padamu. haa?" cecer Maxwell dengan hawa membunuh yang kuat dan Evelyne dengan jujur menunjuk ke arah perginya ular malang tadi.


"Tadi dia pergi ke sana!"


"Jiromee!!!" bentak Maxwell hingga Jirome berbalik tapi matanya terpejam. Evelyne hanya diam memeluk manja pinggang berotot Maxwell yang membuatnya lupa alam.


"Iya. Tuan!"


"Dapatkan sialan itu di sebelah kiri tanganmu!" titah Maxwell dan Jirome mengangguk. Ia menghadap ke samping tubuhnya dan segera melompati bebatuan ini untuk melihat apa ada musuh di sana.


Namun, setelah mencari-cari Jirome tak melihat ada manusia lain disini. Hanya seekor Ular yang sudah mengambang di balik batu dengan pertengahan tubuh seperti di hantam benda keras.


"Bawa dia padakuu!!" geram Maxwell sudah membiru hebat. Ia sampai ingin menyusul Jirome tapi ia takut Evelyne pergi lagi hingga tak mau melepas genggamannya ke tangan lentik ini.


"Max!"


"Apa dia menyentuh tubuhmu?!" tanya Maxwell karna berpikir jika pakaian Evelyne pasti di tarik atau di koyak. Padahal, wanita kesayangannya itu membuat rencana sendiri.


Evelyne menggeleng beralih melihat batu yang ia duduki ini masih ada bercak darah hewan itu.


"Tadi aku membenturkannya kesini!" menunjuk tempat duduknya.


Melihat ada darah disana Maxwell semakin murka. Ia tak bisa menahan lagi hingga segera ingin menyusul Jirome yang sudah menunjukan tubuh Ular yang sudah mati di papahan lengannya.


"Tuan!"


"Matamu buta. Haa?? Itu bukan manusiaa!!"


"Max!" sela Evelyne menjawab bentakan Maxwell pada Jirome yang serba salah. Jelas-jelas ia hanya melihat Ular ini disana tanpa ada keberadaan siapapun.


"Sayang! Akan ku pastikan mereka membayar ini!"


"Jadi dia termasuk musuh mu?" tanya Evelyne menatap ke arah Ular yang Jirome letakan ke atas batu di dekatnya.


Dahi Maxwell mengkerut tapi Evelyne justru memperjelas ucapannya.


"Itu yang tadi ingin menyerangku!"


"Itu??" tanya Maxwell mengulang dengan wajah datarnya.


"Iya. Aku bertanya baik-baik tapi dia langsung ingin menyerangku. Padahal tadi aku hanya mau berendam disini," jelas Evelyne menyelipkan nada kesal seraya memeluk lengan kekar Maxwell yang diam begitu juga Jirome.


Tatapan pria serba-salah itu menerawang pada luka di tubuh Ular ini. Sontak ia mengambil nafas dalam karna lagi-lagi ia tak bisa menebak ajal seseorang di tangan wanita itu.


"Setidaknya kau mati di tangan wanita cantik!" gumam Jirome kembali mendekat ke arah ia berdiri tadi tapi Maxwell merasa sedikit lega karna Evelyne baik-baik saja.


"Kau membuatku tak bisa bernafas!" gumam Maxwell memeluk erat Evelyne yang juga tak segan membalasnya.


"Banyak yang ingin ku katakan padamu. Max!"


"Hm. Kita bahas saat sudah di rumah. Kau harus mengganti pakaian karna bisa masuk angin!" bisik Maxwell menggendong Evelyne ala Bridal Style. Ia belum ingin membahas kehamilan walau sekarang dadanya terasa begitu ringan dan sangat berenergi.


Belum sempat Maxwell menjahui area kolam tiba-tiba saja mereka di hadang kawanan anjing yang seketika membuat mata tajam Maxwell waspada.


"Max! Dia datang!" lirih Evelyne turun dari gendongan Maxwell yang mengawasi pergerakan hewan liar ini. Ada beberapa orang yang mengepung mereka dengan senjata yang lengkap.


"Kau tak akan bisa membawanya!!"


Suara lantang Leonard yang berdiri di dekat semak berjarak 7 meter dari mereka. Perawakan kekar dan penuh kemarahan dari Leonard tak bisa di acuhkan begitu saja.


Maxwell merasakan berapa mendominasi pria ini tapi tak bisa menggentarkan jiwa lelakinya. Ia menarik lengan Evelyne bersembunyi di belakang tubuh kekarnya yang tercetak jelas karna pakaian yang ia kenakan basah.


Leonard-pun sama. Ia melihat Maxwell begitu menjaga Evelyne sampai puncak kepala wanita itu harus tenggelam di bahu lebarnya.


..


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2