My Little Devil

My Little Devil
memberi penjelasan


__ADS_3

Setelah membuat Leonard dalam keadaan memprihatinkan akhirnya tak ada halangan lagi untuk membawa Evelyne pergi. Ia tak membunuh satu-pun anggota Leonard karna tak ingin menambah musuh baru yang akan menyulitkan Evelyne nantinya.


Tapi, untuk membawa Evelyne keluar dari hutan ini rasanya banyak sekali pertimbangan. Akses jalan yang tak manusiawi dan ditambah hari sudah mendaki malam apalagi tubuh keduanya lembab.


"Sebaiknya kita menginap dulu di Villa Leon. Max!"


"Kau suka disana?" tanya Maxwell dengan intonasi yang menukik menatap tajam Evelyne yang tengah ia gendong di belakang punggungnya.


Mereka tengah dalam perjalanan menuju Villa Leonard yang tadi juga bersikeras ingin Evelyne tak langsung di bawa pergi. Alhasil Maxwell merendahkan egonya karna mengingat Evelyne sudah lama berendam di dalam air. Dia butuh istirahat dan pakaian hangat.


"Kalau kau tak suka kita langsung pulang saja!"


"Hm. Disini tak ada landasan Helikopter dengan hutan yang padat. Apalagi tubuhmu banyak luka-luka, aku tak mau mengambil resiko," gumam Maxwell dengan para anggotanya yang menerangi jalan bersama alat yang mereka peggang.


Jirome juga berjalan di belakangnya menjaga agar tak ada hewan buas dari arah lain. Jaketnya juga sudah dipakai Evelyne yang tak di biarkan kedinginan oleh Maxwell.


"Max! Kau tak lelah?" tanya Evelyne menempelkan pipinya pada telinga Maxwell dengan kedua tangan membelit leher kokoh ini renggang.


Ia sadar jika berjalan dari air terjun dan menerobos semak-semak ini cukup menguras tenaga apalagi jaraknya lumayan jauh dengan kondisi tak baik.


Banyak duri dan hewan-hewan berbisa yang sangat agresif di tengah malam. Tapi, sedari tadi Maxwell tak ada keluhan apapun. Wajah tampannya masih sama kuatnya dengan kaki tegap yang memijak dedaunan lembab ini.


Terkadang Evelyne bingung, terbuat dari pada tubuh kekar ini sampai bisa menahan bobot tubuhnya tanpa mau berhenti.


"Bajumu masih lembab. Kau nanti demam?"


"Aku tak apa!" jawab singkat Maxwell seperti biasa. Tatapannya fokus kedepan walau sesekali Maxwell menurunkan belitan kaki Evelyne ke pinggangnya tapi tumit wanita itu menekan bagian bawahnya. Dia memang sangat membahayakan.


"Disana tempatnya!" ucap salah satu anggota Leonard yang tadi memimpin jalan.


Dari sini mereka sudah melihat lampu-lampu Villa yang menyala terang. Pepohonan rindang dan terawat di sekitarnya menjadikan panorama sakral yang indah.


"Tuan! Aku akan mengatur seluruh anggota. Kau bisa bawa Evelyne ke dalam!" ucap Jirome tahu jika Tuannya butuh istirahat.


Gregor yang tadi tengah berjaga juga mengangguki hal itu hingga mereka berpencar saat sudah menginjak area Villa.


"Nona! Silahkan pergi ke kamarmu dan Netta sudah menunggu di sana!"


"Siapkan makanan untuk orang-orang tadi!" pinta Evelyne dan pria itu langsung mengangguk segera pergi.


Melihat itu senyum meledek Maxwell muncul karna siapa yang akan berani menentang wanita ini?!


"Kau sangat berpengaruh disini rupanya!" sindir Maxwell melangkah ke dalam Villa yang seperti biasa sunyi tapi hangat karna dekorasi kayunya.


"Tidak juga. Tapi, Leon selalu membolehkan aku melakukan apapun kecuali melarikan diri."


"Dia begitu berkesan untukmu?" tanya Maxwell dengan lirikan ekor mata tajamnya pada Evelyne yang dengan santainya mengangguk.


"Yah. Walau dia menyebalkan tapi cukup baik."


"Cih!" umpat Maxwell kesal. Ia disambut oleh seorang wanita paruh baya yang dulu melayani Evelyne.


"Silahkan ke kamarmu. Nona! Saya sudah menyiapkan air hangat untukmu!"


Evelyne hanya diam begitu juga Maxwell. Mereka melewati Netta yang merasa sifat sombong Evelyne juga di latih oleh pria yang tengah menggendongnya menaiki tangga.


"Aku tak suka dia!" bisik Evelyne ke telinga Maxwell yang sudah membawanya ke lantai atas.


"Kenapa?" tanya Maxwell dengan mata waspada dan mengamati beberapa pintu dan tempat di sini.


"Dia selalu mengaturku. Lihat saja caranya bicara seakan-akan dia itu KAU," ketus Evelyne hingga Maxwell tak menanggapinya.


Ia lebih ingin mencari kamar Evelyne yang segera di tunjuk oleh wanita itu.


"Di depan. Max!"

__ADS_1


"Sana!" seraya berjalan ke arah depan pintu kayu yang rapi dengan relief khasnya. Evelyne membantu menekan gagang pintu hingga mereka bisa masuk.


"Taraaaa!!! Ini penjaraku!" pekik Evelyne menunjukan kamarnya.


Maxwell menatap datar ruangan tak begitu besar tapi sangat nyaman di tempati. Ada ranjang King Size yang sudah rapi dengan handuk dan pakaian Evelyne tertata di sana.


Timbul perasaan cemas karna pelayanan disini cukup baik sedangkan di tempatnya Evelyne tak bebas sama sekali.


"Aku tidur biasanya di ranjang atau bisa di sofa. Sesukaku saja asal bisa terpejam!" gumam Evelyne turun dari gendongan Maxwell dan menghempaskan dirinya ke atas ranjang.


Ditatapnya wajah datar Maxwell yang seperti tak suka dengan raut senangnya membicarakan tempat ini.


"Kenapa? Ada yang salah?"


"Kau suka disini?" tanya Maxwell dan kali ini ia begitu serius menunggu jawaban Evelyne. Sampai-sampai tak bergerak dan hanya menatap dalam dirinya dari dekat pintu.


"Suka. Disini cukup nyaman dan.."


"Kau tak ingin pulang denganku?" sela Maxwell membuat Evelyne terdiam. Ia yang tadi berbaring perlahan duduk dengan pakaian yang mengering di tubuhnya.


"Kenapa bertanya begitu?"


"Kau suka kamar ini?" tanya Maxwell lagi-lagi membuat Evelyne harus berpikir dua kali. Ia berusaha memahami arah pembicaraan Maxwell yang seperti tak suka dengan ucapan itu.


"Kau tak ingin kembali?"


"Max! Kau ini semakin hari semakin menyebalkan. Kamar ini memang bagus tapi aku lebih suka kamar kita. Disini tak ada sistem sensor dan pakaianmu juga," ucap Evelyne menyelipkan nada kesal.


Seketika Maxwell yang tadi merasa cemburu langsung mendekatinya dengan tatapan hangat.


"Benarkah?"


"Iya. Aku tak sabar lagi ingin pulang dan memakan Ice Cream. Rasanya ingin pulang sekarang," gumam Evelyne sudah sangat merindukan suasana di luar.


Mendengar itu Maxwell segera mengangguk beralih melepas jaket di tubuh Evelyne dan juga menanggalkan Bra serta underwear yang membalut area sensitif wanita seksi ini.


"Apa kita akan main sekarang?"


"A.. Kau.."


"Ayo! Lepaskan pakaianmu!" lantang Evelyne menarik kaos Maxwell yang terpaksa melepasnya. Tubuh kekar ini begitu membuat Evelyne bergairah karna memang sangat ingin bermain.


Saat tangan Evelyne ingin membuka resletingnya yang membengkak Maxwell langsung menahannya cepat.


"Aku mau main!"


"Kita belum tahu kondisimu dan bayi kita. Hm?!" peringat Maxwell mengusap kepala Evelyne yang seketika merenggut.


"Kalau begitu suruh dia keluar!!" geram Evelyne tapi Maxwell tersentak sekaligus sangat bahagia karna firasatnya benar, Evelyne memang hamil.


"Berapa usia kandungan mu?" memeggang perut Evelyne seraya berjongkok di tepi ranjang.


"Mereka bilang 3 minggu. Memangnya kenapa kalau hamil? Coba kau lihat isinya apa?!" pinta Evelyne dengan lugunya terdengar menggemaskan di telinga Maxwell yang memaklumi itu.


"Aku sudah mengajaknya keluar agar bisa melarikan diri dari sini. Dan kau tahu?! Aku sudah melakukan bermacam cara untuk mengeluarkannya!"


Degg..


Kalimat itu langsung meninju jantung Maxwell yang terkejut sekaligus cemas jika Evelyne nekat melakukan hal yang membahayakan kandungannya.


"Kau melakukan apa? Kau.. Kau tak terjun atau.."


"Aku menghasutnya!" sela Evelyne menyeringai. Seketika wajah pucat Maxwell tadi berganti tenang karna tak seperti yang ia pikirkan.


"Aku menceritakan bagaimana indahnya dunia ini. Aku juga mengenalkan kau padanya tapi sialnya dia tak menjawab ku. Max! Dia bahkan berusaha mengambil alih jiwaku," protes Evelyne menceritakan hal itu dengan ekspresi seakan ia tengah terdiagnosa.

__ADS_1


"Ini tak sama dengan Leen, Sayang!" lembut Maxwell mengusap pinggang Evelyne hangat. Suaranya yang dingin di hadapan orang lain tadi terdengar lembut tak menembus sehelai tisu-pun.


"Bukan Leen. Lalu apa? Jangan-jangan yang tadi menyerang ku di air itu!!" tebak Evelyne tapi mendapat jentikan kasih di keningnya.


"Kau.."


"Jangan sembarangan bicara!" tukas Maxwell beralih membereskan pakaian kotor Evelyne tadi lalu mengambil handuk di atas ranjang dan memakainya.


Evelyne hanya melirik ketus menggulung tubuhnya dengan selimut seraya menatap Maxwell yang membereskan celananya.


"Max!"


"Hm?"


"Apa yang harus aku lakukan pada Fernandez?" tanya Evelyne mengutarakan hal yang mengganjal di kepalanya sedari tadi.


Maxwell yang tadi ingin membawa Evelyne ke kamar mandi mengurungkan niatnya.


"Apa aku harus membunuhnya?"


"Tergantung pilihanmu!" jawab Maxwell beralih duduk di samping ranjang seraya menarik kedua kaki Evelyne ke atas pahanya. Ia melihat ada goresan di kaki putih ini dengan intens.


"Jika aku membunuhnya bagaimana denganmu?! Bukankah dia daddymu?"


"Baik Ayah, ibu maupun anak kalau sudah salah ya salah. Untuk apa di bela." jawab Maxwell tegas memijat betis Evelyne yang merasa tak begitu ingin melakukan itu.


"Tapi, aku hanya ingin mengatakan jika saat itu dia hanya menyediakan anak buah sedangkan yang menggunakannya bukan dia!" imbuh Maxwell mencoba memberi pengertian sederhana lada Evelyne.


Saat melihat ada kawanan misterius yang mengintai Villanya, Tuan Fernandez segera bertemu Maxwell hingga di sana Maxwell menceritakan tentang masalah Evelyne. Untungnya Tuan Fernandez tak segan melebarkan pembahasannya karna memang bukan ia yang salah.


"Maksudnya?"


"Fernandez tak tahu menahu tentang masalah internal keluargamu. Dia hanya menyediakan jasa ilegal yang di sewa oleh beberapa pejabat setempat untuk menghancurkan Puramu!" jelas Maxwell membuat Evelyne terdiam. Leonard juga mengatakan jika Fernandez-lah yang menyewakan orang-orangnya untuk melakukan tindakan itu.


Seakan tahu kebingungan Evelyne pada kisah ini membuat Maxwell harus ekstra jeli memilih kata-kata karna Evelyne termasuk lugu.


"Aku membuat mobil yang bisa melaju cepat bahkan sangat cepat!"


"Lalu?"


"Lalu ada yang datang padaku membeli mobil itu. Saat sudah ada di tangannya, dia membawa dengan sesuka hati karna dia sudah membayar, bukan?" tanya Maxwell dan Evelyne mengangguk mendengarkan.


"Jadi, dipertengahan jalan dia menabrak seorang wanita. Siapa yang sala? Yang menyediakan mobil atau yang menggunakan," imbuh Maxwell menatap lekat wajah cantik Evelyne.


"Yang menggunakan!"


"Kenapa?" tanya Maxwell begitu sabar saat Evelyne berpikir lumayan lama.


"Max! Jika kau yang menyediakan mobil itu dan di ambil alih oleh orang lain jadi kau tak ada urusan lagi dengan orang itu maupun mobilnya. Kau tak salah!"


"Hm. Begitu juga Fernandez. Dia punya pekerjaan menyediakan pembunuh bayaran tapi.. Dia tak pernah menyuruh membunuh orang lain karna pembunuh bayaran yang sudah di sewa itu sudah mendapatkan tugas dari orang lain. Paham?"


"Jadi, yang menggunakan orang bayaran itu untuk membunuh lah yang salah-kan?"


Maxwell mengangguk. Ia mengusap betis Evelyne agar lebih tenang dan stabil.


"Walau pekerjaan itu kotor tapi tergantung siapa yang menggunakannya. Dan kau tak perlu cemas, aku sudah mengurus semuanya!" jawab Maxwell membuat Evelyne terkejut. Sejak kapan dan bagaimana bisa?!


"Dia masih hidup?"


"Sebagian. Yang lain sudah tiada!" jawab Maxwell membuat Evelyne tak sabar. Ia ingin menghabisi orang-orang itu sampai memohon ampun padanya.


"Dia penyebab kebakaran itu dan aku tak akan melepaskannya!"


"Perlahan-lahan aku akan mencoba menjelaskan tentang penyebab kebakaran itu. Kau masih belum bisa untuk menerimanya. Sayang!"

__ADS_1


Batin Maxwell tak mau menekan Evelyne dulu. Ia harus menjernihkan kesalah-pahaman ini agar tak lagi kusut.


Vote and Like Sayang..


__ADS_2