My Little Devil

My Little Devil
Dua Kerpibadian


__ADS_3

Tatapan tak terbaca manik coklat itu menembus langsung jantung seorang Pria dengan kantung mata tampak tebal dan kulit mengeriput rentan. Hasrat senja-Nya terlihat menyedihkan dengan tatapan kosong yang seperti tak memiliki pikiran di dalam benaknya.


"D..Dia..."


Ia terus bergumam dengan keadaan kacau. Jika melihat dari kacamata dunia, sosok ini bukanlah Pejantan Perkasa yang dulu menyandang lencana kuning di bahu dan Topi perwira negara ini.


"D..Dia.."


"Maaf, Tuan! Dia memang sudah lama seperti ini," ujar seorang Wanita paruh baya yang tengah berdiri di belakang kursinya.


Sementara Maxwell. Pria itu masih diam duduk di hadapan sosok ini dengan mata tak berkedip tenang melihat apa ini benar orang-Nya? Awal masuk ia agak tak percaya tapi sekarang sedikit lebih jelas.


"Sejak kapan dia ada di Rumah Sakit ini?" tanta Jirome pada Perawat Aunnet yang terdiam sejenak.


Ia tampak menghela nafas dalam seperti cerita ini cukup berat keluar dari mulutnya.


"Saya tak tahu bagaimana bisa dia masuk kesini. Tapi, menurut laporan keluarga yang mengantarnya. Dia mengalami gangguan Psikis dan terus melamun dan terkadang dia bisa berteriak sendirian."


"Keadaanya sudah membaik?" tanya Jirome tak melepas pandangannya dari Jendral Baxter yang sama sekali tak lagi sama dengan Foto yang di berikan Jack.


Tubuhnya yang dulu gagah sekarang menyusut seperti Kayu di bawah terik matahari. Ntah sejauh mana panas itu membakar sampai keadaanya tak tertolong lagi.


"Semakin hari keadaannya memburuk. Kami hanya bisa menenangkannya dengan obat dan berbagai macam alternatif medis, hanya itu yang bisa kami lakukan."


"D..Dia.. P..pisau ..Disana.. Yah."


Racau Baxter seperti ketakutan melihat ke semua sisi. Di tambah lagi hawa keberadaan Maxwell yang mengancam baginya membuat Baxter harus bertekuk di Kursi-Nya.


"P..Pisau.. d..dia.."


Maxwell mengamati segalanya. Pria ini seperti waspada akan sesuatu yang datang padanya. Hembusan angin yang terkadang kencang menggerakan beberapa barang membuatnya langsung berteriak dengan wajah begitu pucat.


"B..Bukan.. Bukan aku.. Bukan!!"


"Tuan! Dia tak bisa lagi luar Bangsal-Nya," gumam Perawat Aunnet yang memeggangi bahu Baxter agar tak memberontak.


Maxwell hanya diam. Ia mengeluarkan Ponsel-Nya hingga mencari Foto Evelyne kecil di Galery Ponselnya. Saat sudah memilih foto yang jernih dan pas, Maxwell menunjukan benda itu pada Baxter.


Sontak mata Baxter terbelalak melihat sesosok bocah tengah tertawa lebar dengan gusi merah terlihat segar memeggang Pistol air yang tengah menodong ke arah keramaian.


"B...bukaaann!!! Bukan aku!!! Bukaaan!!"


Histerisnya berdiri dengan kasar lalu merapat ke dinding ruangan ini. Ia menggeleng dengan bibir nyaris biru terus meremas kepalanya mencoba tak memandang itu.


"B..Bukan. Bukan aku.. Bukaan.."


"T..Tuan!" gumam Perawat Aunnet kala keadaan Baxter terlihat memburuk kala Foto itu di tunjukan. Ia seperti takut dan sangat-sangat takut.


"J..Jauhkan dia darikuu!! Aku..aku mohon, bukan akuu!!! Bukaaan!!"


"Baiklah. Saya rasa ini sudah cukup," guman Perawat Aunnet mohon pamit menarik Baxter kembali membujuknya untuk kembali ke Bangsal.


Teriakannya masih terdengar dan tak mau lewat di samping Maxwell yang hanya diam memandangi Foto Evelyne kecil. Jirome-pun jadi bingung harus bicara apa sekarang.


"Tuan! Dia seperti diHantui sesuatu. Jelas dia terlibat tapi pasti ada yang membuatnya sampai ketakutan sebesar itu."

__ADS_1


Ucap Jirome menatap layar Ponsel Maxwell. Ia merasa tak mungkin dan mustahil anak selucu dan secantik ini sampai menakuti orang dewasa.


"Tak mungkin Leen kecil kita menjadi Monster-kan?"


"Menurutmu?" tanya Maxwell membuat Jirome menelan ludah. Ia sulit menentukan jawaban karna takut Maxwell marah padanya.


"T..Tuan! Hunter tengah menggali informasi dari Ayahnya yang ada di daerah yang cukup jauh, kemungkinan akan sangat lama untuk sampai ke sana."


"Kau percaya dengan Kepribadian ganda?"


Jirome diam tapi ia segera mengangguk. Jelas ia percaya karna itu memang pernah terjadi.


"Itu hanya di miliki oleh seorang gangguan jiwa. Tuan!"


"Apa menurutmu itu gangguan?"


Jirome menelan ludah berat. Bulu kuduknya meremang melihat exspresi Maxwell kian mendingin. Sebenarnya apa yang ingin di katakan Pria ini? Dia bertanya tapi juga tak setuju dengan jawaban-ku.


"A.. bisa saja. Tuan! Seseorang yang memiliki kepribadian ganda akan di anggap Monster karna memiliki dua jiwa dan karakter."


"Apa dunia menerimanya?"


Mendengar itu Jirome semakin di landa kegusaran. Bisa-bisanya Maxwell bertanya sedetail ini padahal sebelumnya tak pernah.


"M..Mungkin tidak."


"Kenapa?" gumam Maxwell mengusap wajah menggemaskan Evelyne dari permukaan layar ini. Takkan ada yang mengira di balik visual cantik dan lugu ini menyimpan Mahluk yang mengerikan.


"Logikanya mereka suka berubah-ubah. Manusia menganggap itu sebagai momok yang menakutkan. Tuan!"


"Benarkah?" gumam Maxwell seperti tak terima itu.


Batin Jirome tak lagi bersuara. Ia hanya membiarkan Maxwell diam dengan pikiran yang ntah kemana ia tak bisa menebaknya.


Lama Maxwell diam sampai Ponsel-Nya berdering. Nama Jack tertera di sana hingga Maxwell langsung mengangkat-Nya.


"Hm!"


"Tuan! Aku sudah mengirim beberapa data Kerabat wanita itu padamu. Semuanya sudah tiada tapi tak ada yang tahu mereka meninggal karna apa?!"


"Selidiki sampai tuntas!"


"Baik. Tuan!"


Maxwell mematikan sambungannya lalu mengambil nafas dalam. Masalah ini lebih rumit dari pembobolan senjata di Wilayah-Nya dulu dan misteri Percobaan Bunuh Diri Artis terkenal di Negara ini.


"Tuan! Apa kau akan memberitahukan tentang Baxter pada wanita itu?"


"Tidak sekarang! Dia itu Bom yang bisa meledak kapan saja," gumam Maxwell tak mau memperburuk keadaan. Evelyne hanya akan membuatnya pusing akan tingkah arogan dan tempramen yang baru kali ini ada yang bisa menyainginya.


Bicara tentang tempramental sekarang bisa di uji secara pasti. Kedatangan Violet ke Perusahaan malam-malam begini membuat para anggota yang berjaga cukup kebingungan terutama Gregor dan Yello yang tadi baru saja datang.


"Dimana Maxwell?"


Tanya-Nya membawa amplop yang berisi surat menyurat yang hanya dia yang tahu. Wajahnya terlihat gusar dan sangat tak baik- baik saja.

__ADS_1


"Dimana Tuan-Muu? Dimana diaa??"


"Tuan tak ada disini. Pergilah!" tegas Gregor menghalang di Pagar Perusahaan. Ia tak membiarkan Violet menginjakan kaki disini sesuai perintah Tuan-Nya.


"Tidak! Dia pasti tak ingin menemuiku!! Dia masih ada di dalam!!!"


"Nona! Jangan membuat diri anda dalam masalah," desis Yello tak menyukai keributan di malam selarut ini.


Tetapi, Violet sudah sangat kacau. Ia tak mau berpisah dengan Maxwell yang sudah menandatangi surat perceraian mereka tapi ia tak akan pernah melakukan itu.


"Maxweel!!! Maxweelll biarkan aku masuuuk!!"


Teriaknya benar-benar sudah hilang harga diri. Air matanya terus mengalir dengan usaha untuk menerobos pagar yang sia-sia.


"Maxweell!!! Sayang aku mohon!!! Aku mohon berikan aku kesempataan!!"


Suara keras Violet bisa terdengar di telinga Evelyne yang tadi termenung di lantai bawah. Ia yang semula sudah sangat lelah berperang dengan dirinya sendiri bertambah mendidih dengan keributan di depan sana.


"Maxweeel!! Aku..aku sangat mencintaimuu!! Berikan aku kesempatan. Aku mohooon!!"


"Siall!"


Umpat Evelyne langsung bangkit dari duduknya dengan keadaan yang sama. Ia tak mengganti pakaian atau mandi untuk menghilangkan aroma amis itu sama sekali tidak.


Mata abunya menembus cela kaca Perusahaan lalu menangkap suara menjijikan ini dari sumber keputusasaan seseorang.


Mendengar tangisan-Nya batin Evelyne sangat terhibur. Ia menyukai hal itu dan ikut berbunga.


"Dia bernyanyi dengan merdu," gumam Evelyne menyeringai iblis keluar dari Perusahaan.


Jalannya begitu misterius dan tegas seperti ingin menjemput nyawa seseorang. Mendapati keberadaan Evelyne yang berjalan gontai ke arah sini para anggota yang tadi menyaksikan pembantainya langsung bergidik.


"Ini buruk. Kita tak bisa mengendalikannya kecuali ada Tuan."


"Cepat bawa wanita ini pergi!"


Gugup mereka semua menyeret Violet kembali masuk ke dalam Mobilnya. Melihat itu raut wajah Evelyne segera membeku seperti tak suka mainannya direnggut.


"Maxweeelll!!! Aku.. Aku tak menyetujui ini!!!"


"Masuk atau kau akan menyesal," tekan Yello menekan Violet ke dalam Mobil sementara Evelyne membuat mereka terkejut karna sudah ada di balik Pagar.


Tatapannya begitu dingin dan sangat kejam membuat mereka harus bersiaga.


"Kemana?"


Pertanyaan bagai bertemu Setan di tengah malam. Ia sedikit memiringkan kepalanya menatap Violet yang juga tersentak melihat seorang wanita berdiri kemeja terciprat darah yang mengering.


"K..kau..kau siapaa?? Kenapa bisa disini??"


Evelyne membisu tapu kebungkamannya mampu membuat jiwa bergidik. Sedetik kemudian sudut bibirnya tertarik melihat jika Violet tak secantik itu bisa bersandar dengan Pangeran Idiot-Nya.


"Kau siapaa? Haa!! Dimana Suamikuu?"


Mendengar kata itu wajah Evelyne langsung berubah dingin. Kuku-kukunya terasa sangat panas ingin merobek mulut wanita ini.

__ADS_1


"Tenggorokan-mu pasti sakit-kan?" gumam Evelyne tersenyum jahat langsung melesat ke arah Violet yang menjerit hebat kala kuku tajam Evelyne siap mencakar wajahnya.


Vote and Like Sayang..


__ADS_2