
Kediaman yang begitu besar dengan lampu-lampu menyala rapi di semua tempat. Mashion megah ini di bangun hanya untuk dua orang dan harusnya itu terlalu berlebihan. Beton tinggi bak kerajaan begitu membuat mata terkesima dengan nuansa Putih bersih mendominasi. Tampilan sangat Casual dan bisa di katakan ini Mashion Merpati putih.
Ditengah kemewahan ini. Ada rasa kacau dan kemelut gelisah dari seorang wanita yang tengah duduk di atas kursi roda tepat di sebelah Meja makan.
Ia beberapa kali bertanya pada Pelayan yang tengah mengatur Meja makan, apakah Suaminya sudah pulang? Atau Pria itu masih di jalan?
"Nona! Silahkan anda makan."
"Tidak. Maxwell masih belum pulang," gumam Violet meremas jemari di pahanya. Mereka hanya diam dengan suasana dingin pernikahan yang ntah sampai kapan mereda.
Jam terus bergulir sampai pada suara Mobil terdengar samar di depan membuat Violet berbinar. Ia sangat berharap itu adalah Maxwell.
"Tolong lihat. Apa itu Suamiku?!"
"Baik. Nona!" jawab salah satu Pelayan di belakangnya yang langsung pergi keluar dari area ruang makan.
Violet menatap hidangan yang mulai dingin ini lalu mengambil nafas dalam untuk setidaknya ia bisa melupakan kejadian di Rumah Sakit kemaren.
"Tolong ganti minumannya! Itu sudah dingin," pinta Violet dan tentu akan di laksanakan oleh Pelayan-pelayan yang sedia untuknya.
Setelah beberapa lama menunggu Pelayan itu datang dengan wajah tegang dan pucat. Ia mendekati Violet seraya menundukan kepalanya.
"Ada apa?"
"Tuan tak ingin di ganggu. Nona!" jawabnya dengan suara sedikit bergetar pertanda ia tengah dalam masalah.
Violet terdiam sejenak merotasikan mata ke arah Pintu keluar ruangan ini. Ia mengisyaratkan agar segera mendorong Kursi Rodanya untuk menemui Maxwell.
"Bantu aku menemuinya!"
"Baik."
Jawab Kepala pelayan Reamy yang mendorong Kursi Roda Violet untuk ke kamar atas. Walau jantungnya gugup, Violet harus berusaha menundukan Maxwell yang pasti akan bisa ia taklukan untuk terus bersamanya.
........
Sementara di dalam kamar yang luas dengan Desain interior yang dingin itu tampaklah seorang Pria tampan berjuta pesona miliknya tengah membaringkan Bocah kecil yang tadi ada di gendongan tangan kekarnya ke atas Ranjang king size hitam yang tampak rapi.
Ia melepas Jas yang sudah belepotan Saos itu lalu melemparnya ke atas Sofa panjang yang ada di ujung kaki Ranjang megah ini.
Lampu yang menyala membuatnya bisa melihat betapa lelapnya tidur si kecil dan begitu cantik rona merah pada pipi gembul itu.
"Emm Daddy!" racauan Evelyne kembali meruak kala tak lagi merasakan kerasnya perut kotak-kotak itu dan wangi maskulin yang tadi menyeruk di hidungnya.
__ADS_1
Maxwell hanya diam. Ia memandangi cukup lama wajah polos Evelyne lalu melirik ke arah jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukan pukul 10 malam.
"Apa dia akan demam malam ini?!" gumam Maxwell bertanya pada dirinya sendiri.
Setelah kejadian saat itu. Maxwell sangat berambisi mencari tahu siapa sebenarnya Evelyne dan kenapa bisa hilang tanpa sebab yang jelas?!
Karna merasa Tubuhnya juga lengket dan tak nyaman. Akhirnya Maxwell melepas Sepatu, Jam dan berjalan ke arah kamar mandi.
Di dalam sini seperti biasa Maxwell punya kebiasaan untuk berendam air hangat. Ia selalu melakukan itu setiap mau tidur atau setelah menyelesaikan Pekerjaannya.
Untuk sesaat semua berjalan normal. Maxwell membuka balutan kemeja di tubuh gagahnya hingga pahatan Atletis dengan otot dada dan perut yang tampak sempurna dan bagian lengan berurat seksi di tambah lingkaran pinggang pas menjadikannya seorang Pria penggoda yang menggiurkan.
Tapi. Yang mencuri perhatian adalah bekas sayatan di bagian dada sebelah kiri Maxwell yang terlihat sudah lama tapi masih terlihat jelas.
"Apa kabarmu?" gumam Maxwell melihat pantulan wajahnya di cermin ini. Tatapan datar tapi jelas sangat merindukan sosok yang membuatnya menjauh dari gemerlap Dunia nyata.
"Aku menepati janjiku tapi bagaimana dengan kau? Aku mengatakan jika aku tak akan membunuhnya tapi kau tetap pergi."
Imbuh Maxwell dengan mata mulai berkabut emosi. Ia memang selalu merasa sesak jika melihat bekas luka ini.
"Shitt!" umpat Maxwell segera membasuh wajahnya dengan air di Wastafel. Rambut agak panjang di bagian atas dan tipis di samping itu terlihat mulai di basahi air yang sangat beruntung bisa menyusuri wajahnya.
Maxwell melakukan Ritual mandinya setelah melepas semua Pakaian di tubuhnya dan baru masuk kedalam Bathtub yang sudah terisi air dan busa. Untuk sejenak ia melepas beban di pundaknya seraya menulikan telinga.
Panggil Violet yang sudah ada di depan Pintu kamar Maxwell yang tinggi ini. Ia mengetuk benda itu seraya memanggil nama penghuni yang tak kunjung menyahut.
"Maxweelll!! Ayo turun untuk makaan!!"
"Nona! Sepertinya Tuan tengah sibuk," gumam Kepala Pelayan Reamy yang sangat tahu jika akan begini.
Violet terdiam menatap Pintu besar bak Kerajaan ini. Ia dan Maxwell memang tak tidur satu kamar bahkan Maxwell tak memperbolehkan Violet menyentuh barang-barangnya. Hanya ekspektasi wanita itu terlalu tinggi pada Maxwell yang sama sekali tak perduli dengan Pernikahannya.
"Dia selalu saja begini."
"Nona! Tuan mungkin lelah apalagi tadi ada anak kecil yang ia bawa," jawab Kepala Pelayan Reamy membuat Violet terperanjat. Pikirannya melayang pada Evelyne yang tadi mengikuti Maxwell.
"M..Maxwell membawanya?!"
"Iya. Nona! Sepertinya dia tengah tidur," jawab Kepala Pelayan Reamy seadanya.
Violet terdiam sejenak lalu kembali mengetuk pintu dengan harapan Maxwell akan membukanya.
Namun, setelah beberapa lama ia mengetuk sampai tangannya perih tak ada yang membuka selain suara rengekan kecil yang terdengar dari dalam.
__ADS_1
"Daddy!!"
"Nona!" gumam Kepala Pelayan Reamy kala mendengar suara Evelyne.
Violet masih diam hingga tak berselang lama Pintu ini terbuka memperlihatkan Evelyne yang berdiri di atas sebuah kursi dengan mata sayu dan satu tangan memeggang gagang pintu.
"Leen!" gumam Violet menatap Evelyne yang sepertinya baru bangun dan belum selesai sadar dari mimpinya.
"Daddy!!!" panggil Evelyne mengucek matanya yang begitu berat.
Violet ingin melihat kamar Maxwell yang selama ini tak terpandang olehnya tapi pintu itu langsung di tahan oleh lengan kekar seseorang dari dalam.
"Maxwell!! Sayang kau.."
"Masuk!" gumam Maxwell mencengkram kerah pakaian di tengkuk Evelyne yang ia angkat seperti Bayi panda lalu menutup pintu Kamar tanpa menunjukan Visual tubuh dan wajah selain tangannya.
Violet terus memanggil tapi Maxwell yang sudah selesai mandi dan keluar dibaluti Bathrobe itu tak menggubris satu patah katapun.
Ia melempar Evelyne ke atas Tempat tidur hingga kepala bocah itu terjerumus ke sela bantal yang tampak mengapit tubuhnya.
"Daddy!!!"
Maxwell hanya diam kala Evelyne kembali duduk dengan benar di atas ranjang dengan tatapan mata sinisnya begitu menggemaskan. Maxwell hanya membisu seraya mengambil handuk kecil yang tadi ia lempar ke tepi ranjang sebelum menahan pintu kamar.
Evelyne menatap Maxwell tak berkedip. Walau ia anak kecil tapi ntah kenapa ketampanan wajah yang setengah basah dan rambut meneteskan air itu membuatnya diam beberapa saat.
"Dad!"
"Hm."
"Itu tadi siapa?" tanya Evelyne pada Maxwell yang tanpa sadar menjawab panggilan Evelyne yang sebelumnya tak pernah ia gubris.
Pertanyaannya tak mendapat jawaban dari Maxwell yang sudah melangkah ke Walkcloset untuk mengganti baju. Tapi, sebelum itu Maxwell mematikan lampu kamar yang membuatnya risih.
Di dalam sana Maxwell tengah memperkirakan waktu. Ini sudah malam dan ia hanya perlu memasang beberapa Alat perekam di sekitar Evelyne dan akan melihat apa kejadian waktu itu akan terulang kembali.
"Harus ku dapatkan," gumam Maxwell yang ingin sekali mengetahui kenyataanya. Evelyne terlalu berbahaya jika di diamkan dan ternyata dia adalah bagian dari rencana licik Musuh-musuhnya.
.....
Vote and Like Sayang..
Maaf ya author baru Up. Soalnya tadi abis ngurus keperluan Sekolah..
__ADS_1