
Siang ini mereka sudah kembali ke kota. Keramaian dan pemandangan mewah gedung-gedung tinggi di kota Brusell ini kembali mereka lihat setelah sekian lama, khususnya Evelyne yang sudah sangat rindu udara bebas di langit terang kota ini.
Apalagi, Maxwell memboyong Evelyne ke Villa Tuan Fernandez karna sesuai permintaan Nyonya Meeiner yang kala itu masih di rumah sakit.
"Nak! Aku sangat mencemaskan-mu," decah Nyonya Meeiner yang tampak sudah lebih baik menyambut kedatangan Evelyne di pintu masuk Villa.
Tempat ini terasa lebih hangat dari sebelumnya hanya saja, Ayah dan anak itu sedari tadi diam hanya memandangi interaksi mereka.
"Apa kau sudah sehat?"
"Aku akan selalu sehat saat sudah melihat menantuku dan calon anaknya baik-baik saja," jawab Nyonya Meeiner masih memeluk hangat Evelyne yang seperti biasa juga tak menolak. Ia nyaman dengan keramahan wanita ini apalagi ia tak mengungkit hal apapun.
"Bagaimana? Kau baik-baik saja-kan? Aku lihat tubuhmu kurus dan tak begitu berisi dari sebelumnya. Nak!"
"Benarkah?" tanya Evelyne saat Nyonya Meriner menangkup pipinya. Netra abu itu beralih menatap Maxwell yang hanya diam.
"Yah. Itu pasti karna kau tak makan dengan baik, aku sudah memaksakan semua menu sehat agar kau dan cucuku sehat dan kuat. Hm?"
"Makanan?" gumam Evelyne berbinar. Ntah kenapa selera makannya naik setelah bertemu dengan Maxwell yang hanya sesekali saja merasakan mual itu sekarang.
"Disana juga ada Ice Cream dan..."
"Ice Creaam!!!" pekik Evelyne bersemangat. Ia terlihat begitu ingin sampai beberapa kali menjilati bibirnya sendiri. Hal itu membuat Nyonya Meeiner gemas begitu juga para pelayan di belakang mereka.
"Max! Kau begitu kaya tapi tak bisa memuaskan Evelyne!"
"Betuul!! Dia itu sangat tak memuaskan," hardik Evelyne menyipitkan matanya kesal pada Maxwell yang merasa disudutkan.
"Kau tak bisa mengontrol dirimu sendiri," tegasnya penuh penekanan.
"Apanya? Aku sudah besar!"
"Kau masih kecil," gumam Maxwell tapi Evelyne segera berbicara lantang.
"Kalau aku masih kecil, kenapa kau menghamili ku. Ha??"
Degg...
Maxwell hampir saja tersedak liurnya sendiri. Ia mengusap tengkuknya yang meremang sekaligus cukup malu karna Evelyne membuat semua orang disini jadi tersenyum geli.
Ia beralih memelototi wanita cantik itu tapi sayangnya Evelyne sudah terlalu kesal. Ia menggandeng lengan Nyonya Meeiner lalu berjalan masuk meninggalkan Maxwell dan Tuan Fernandez yang tengah memandanginya.
"Kau menghabisi penculiknya?" tanya Tuan Fernandez dengan intonasi serius seperti biasa.
Maxwell-pun sama. Wajah tampannya kembali datar dengan kedua tangan masuk ke kedua sisi saku celananya.
"Tidak!"
"Kenapa? Ada masalah?" tanya Tuan Fernandez tapi Maxwell seperti memikirkan sesuatu.
"Aku tak ingin menyambung rantai permusuhan. Masalahnya hanya tersangkut pada namamu dan aku harap kau tak akan lepas tangan," tegas Maxwell menjadikan obrolan mereka sebagai pengusir para pelayan yang tadi merasa tak berani lagi karna dua wanita itu sudah pergi.
"Hm. Aku mengerti! Kau fokus saja pada Evelyne dan rivalbmu yang satu lagi."
"Cih," decih Maxwell berjalan meninggalkan Tuan Fernandez yang memandangi punggung lebar dan tegap putranya.
Ntahlah, ia merasa kebencian yang dulu mendarah daging beralih dengan sebuah kasih dan kebanggaan tersembunyi. Jelas Tuan Fernandez tak pandai untuk bermanis mulut tapi ia akan mengusahakan agar masalah ini cepat selesai.
"Tuan!"
Jirome datang dari belakang dengan membawa satu paper-bag gold yang mewah. Ia tadi mengira Maxwell disini nyatanya ia salah.
"Maaf, dimana Tuanku?" tanya Jirome pada Tuan Fernandez yang hanya menatapnya datar dan berlalu ke arah ruang makan.
Seketika Jirome memiringkan bibirnya. Tak ia sangka bukan hanya darah yang sama tetapi nyatanya watak keduanya hanya beda tipis, sama-sama menyebalkan dan begitu sombong.
Tak ingin mengumpat terlalu lama disini, akhirnya Jirome menyusul ke arah ruang makan yang terletak tepat di belokan belakang di samping tangga yang menuju ke lantai atas.
Desain interior tempat itu begitu mewah tapi masih mengutamakan rona klasik dan banyak barang-barang kuno yang berharga disini.
Saat tiba di ruang makan yang luas di belakang sana. Jirome menatap tatanan di atas meja makan yang begitu mahal. The Parnian Desk memiliki harga yang fantastis karena terbuat dari material kayu eksotik seperti Carpathian elm dan ebony.
Parnian Desk dibuat selama lima bulan dan menggunakan teknik polesan Parnian yang menjadi sebuah cap khas seluruh produk Parnian.
Parnian Desk dijual seharga USD 200 ribu atau sekitar Rp2,8 miliar. Mendengarnya saja sudah membuat keringat dingin tapi Jirome sudah biasa dengan kemewahan ini.
"Tuan!"
Jirom mendekati Maxwell yang tengah duduk disamping Tuan Fernandez yang saling berhadapan dengan istrinya masing-masing.
Pandangan yang sangat mustahil tapi tak bisa di tepis kebenarannya.
"Itu apa?" tanya Evelyne seraya memakan Fried Herring Sandwich yang di buat khusus untuknya.
Sandwich ini dibuat dari bawang putih, ikan herring, acar, saus krim kental dan remoulade. Hal ini baik bagi tubuh Evelyne yang harus menambah asupan protein sekaligus lemak.
"Tuan menyuruhku menyiapkan Gelato."
"G..ge .. Apanya?" bingung Evelyne masih menyelidiki paper-bag yang di berikan Jirome pada Maxwell.
__ADS_1
Pemilik netra coklat tajam itu tampak meletakan Paper-bagnya di atas meja di dekat gelas Wine yang tersedia di sana.
"Max! Itu apa?"
"Habiskan dulu makananmu!" tegas Maxwell menegguk wine di gelasnya. Evelyne seketika mencibir mengunyah makanan di mulutnya sedangkan Nyonya Meeiner selalu menambahkan banyak makanan ke piringnya.
"Cih. Pelit!"
"Sudahlah. Setelah ini kau bisa makan salad sayur atau buah yang ku buat, minum juga susumu dan.."
"Perutku rasanya ingin meledak!" decah Evelyne juga tak mau berhenti makan.
"Kalau begitu lanjutkan nanti saja. Nak! Kau.."
"Ini sangat enak. Mulutku tak mau berhenti tapi perutku rasanya sempit. Nyonya!" gumam Evelyne mengusap perutnya yang terasa tegang dan sesak.
Nyonya Meeiner mengulum senyum segera mengusap kepala Evelyne yang lagi-lagi memasukan makanan ke mulutnya bahkan hampir menghabiskan semuanya.
"Sudah, jangan makan lagi!"
"Tapi.."
"Nanti bisa dilanjutkan makannya. Hm? Dan satu lagi, jangan panggil Nyonya karna aku bukan orang lain."
Evelyne diam dengan mulut belepotan dan penuh menatap Maxwell yang hanya diam dan sepertinya Tuan Fernandez dan Maxwell masih belum bisa bersikap normal seperti ayah dan anak.
"Maxwell sudah memanggilmu Mommy?"
"A.. Itu.. Masih perlu pembiasaan," gumam Nyonya Meeiner agak canggung dengan Maxwell. Ia sendiri juga tak memaksa atau mendesak Maxwell yang juga belum memanggilnya dengan kata itu.
Dengan kepedulian dan kemauan Maxwell untuk mengunjunginya itu sudah lebih dari cukup bagi Nyonya Meeiner yang ingin semuanya berjalan siring berputarnya waktu.
"Pembiasaan? Memangnya kenapa tak terbiasa?"
"Evelyne! Ini.."
"Max! Aku rasa kau harus mencoba, pasti menyenangkan!" gumam Evelyne tapi Maxwell hanya diam dengan exspresi tenangnya.
Ia hanya menikmati wine di gelasnya seraya menatap tajam Evelyne yang tetap santai mengunyah makananya.
"Ayo katakan! Aku ingin mendengarnya!"
"Evelyne!" gumam Nyonya Meeiner segan pada Maxwell yang terlihat tak nyaman. Ia juga tak ingin memaksakan hal ini tapi Evelyne berpikir panjang.
Jika Maxwell tak memulai begitu juga kedua orang tuanya bagaimana bisa mereka akrab?! Bagaimana bisa keduanya saling menjadi keluarga yang utuh?!
"Kauu.." geram Maxwell tapi Evelyne menaikan satu alisnya sinis membuatnya langsung mengambil nafas dalam.
"Tak mau?"
"Cepatlah! Aku masih ada pekerjaan," kilah Maxwell tapi wajah Evelyne berubah cemberut dengan tatapan berubah datar.
"Urus saja pekerjaanmu!"
"Aku serius!"
"Aku juga serius," tekan Evelyne membuat suasana menjadi dingin. Tuan Fernandez hanya diam melirik respon Maxwell dari ekor matanya.
Pria ini tampak biasa saja seperti tak memperdulikan itu. Tapi, saat Evelyne semakin diam Maxwell langsung menghela nafas kasar.
"Besok saja!"
"Maunya sekarang." kekeh Evelyne masa bodoh.
"Aku masih ada pekerjaan. Ayo pulang!"
"Pulang saja sendiri. Aku mau menemani Mommy-mu," jawab Evelyne memeluk lengan Nyonya Meeiner yang merasa bersalah.
"Nak! Dengarkan ucapan Maxwell. Dia pasti sibuk dan.."
"Lagi pula mengatakan itu tak butuh waktu satu jam-kan?"
"Iya. Tapi.."
"Aku tak mau tahu. Jika dia tak mengatakannya aku tak akan ikut pulang," tegas Evelyne membuat Maxwell kesal.
"Baiklah. Tetap disini!"
"Hm. Baik!" jawabnya santai membuat Maxwell segera bangkit bersiap pergi memeggang Paper-bag tadi.
"Ini Gelato sama dengan Ice Cream! Yakin kau tak akan pulang?" bujuk Maxwell dengan raut angkuh dan sifat memaksanya.
Evelyne sedikit goyah. Ia merasa sangat ingin membayangkan manisnya lelehan coklat itu tapi segera menggeleng kala tahu tujuannya.
"Tidak mau."
"Kau yakin?" tanya Maxwell lagi dan dijawab gelengan oleh Evelyne.
Jirome yang melihat itu hanya bisa menghela nafas. Ia sudah biasa dengan suasana mesra, harmonis dan konyol tuannya.
__ADS_1
"Baiklah. Jangan kau merengek padaku nanti!" ancam Maxwell melangkah pergi tapi ia berharap Evelyne memanggilnya.
Tapi, sangat di sayangkan Evelyne hanya diam membiarkan Maxwell menghilang di ambang pintu masuk ruang makan diikuti Jirome yang ikut-ikut saja.
"Evelyne! Jangan seperti ini. Maxwell hanya perlu waktu. Nak!"
"Tenang saja. Aku tahu dia punya ego yang sangat tinggi. Jika hanya di biarkan dia akan terus seperti itu dan cenderung menghindar," jawab Evelyne. Walau ia tak ingin memaksa tapi jika tak sekarang kapan lagi?!
"Apa tak masalah? Aku takut hubungan kalian akan rusak karna.."
"Tenang saja. Sebentar lagi dia akan kembali!" gumam Evelyne membuat Tuan Fernandez agak penasaran. Kenapa bisa Evelyne begitu percaya diri padahal Maxwell bukan tipe pria pemuja.
Setelah beberapa saat kemudian Maxwell tak kunjung datang. Evelyne-pun sudah mulai tak bersemangat lagi dan sangat kesal.
"Mom! Apa pria memang seperti itu?"
"A..apa?" kaku Nyonya Meeiner karna sekarang ada Tuan Fernandez. Hubungan keduanya tak sebaik itu sampai saling tahu satu sama lain.
"Apa suamimu seperti itu? Soalnya dia dan Maxwell sedarah."
"Soal itu aku.. Emm.. Mungkin saja," jawab Nyonya Meeiner segan untuk membahasnya.
Melihat itu Evelyne menghela nafas dalam. Ia beralih memandang Tuan Fernandez yang juga menatap dirinya.
"Kau jangan menyakiti Mommy Meeiner lagi. Jika kau tak ingin bersamanya cukup tinggalkan saja. Pasti banyak yang akan menerima dia."
"Evelyne!" lirih Nyonga Meeiner karna wajah Tuan Fernandez terlihat mengeras.
"Aku benar. Kau cantik, tubuhmu masih bagus dan kau hanya punya satu anak! Apa ada yang menolak wanita seperti itu?"
"Ehmm!" Tuan Fernandez berdehem segera berdiri dan melangkah pergi ke luar ruang makan.
Di depan sana ia melihat Maxwell yang tengah duduk di sofa besar ruang tamu dengan mata terpejam bersandar gagah.
"Kau bawa pulang dia!"
Maxwell membuka matanya. Ia menatap datar Tuan Fernandez yang tampaknya kali ini menjadi objek sasaran Evelyne.
"Hm. Dia menyinggung-mu?" datar Maxwell dan mendapat dengusan kasar pria ini.
"Dia sama saja denganmu!"
"Hm. Jangan terlalu di ambil hati, kau akan mati berdiri karnanya!" jawab Maxwell acuh tak acuh.
"Apa kau tak mengajarinya cara bicara yang baik?"
"Apa bicaramu sudah baik?!" sarkas Maxwell hingga keduanya terlibat perdebatan yang sengit sampai Evelyne dan Nyonya Meeiner sudah muncul dari arah pintu sana.
Evelyne berbinar melihat Maxwell yang masih ada disini bahkan wajah tampannya sudah membuatnya merindu.
"Maax!!" teriak Evelyne berlari mendekatinya. Maxwell mengulur tangannya menarik pinggang Evelyne yang segera duduk di pahanya.
"Aku pikir kau sudah pergi!"
"Tanpa-mu?! Mana mungkin. Sayang!" bisik Maxwell mengusap perut Evelyne membuat Tuan Fernandez dan Jirome memalingkan wajah.
"Ayolah. Katakan itu! Aku ingin mendengarnya."
"Evelyne! Tak perlu sampai seperti itu, Nak! Aku.."
"Aku akan pulang dulu. Mom!"
Degg..
Nyonya Meeiner terkejut bukan main begitu juga mereka semua termasuk Evelyne yang merekahkan senyumannya.
"Lain kali berkunjunglah ke tempat-ku!"
"A.. Aku.. " Nyonya Meeiner tak bisa berkata-kata lagi. Nyeri di dada dan perutnya akibat luka tembakan itu sudah tak terasa sekarang.
"Kenapa diam disana? Ayo ke sini!" pinta Evelyne berdiri begitu juga Maxwell yang hanya menurut saja. Jika tidak maka akan terjadi kiamat ketiga.
"N..Nak!"
"Berpelukaan!!" Teriak Evelyne mendorong bahu Maxwell untuk segera memeluk Nyonya Meeiner yang sudah berkaca-kaca.
Maxwell awalnya diam tapi saat tangan Evelyne mengusap bahunya ia segera merengkuh tubuh Nyonya Meeiner yang seketika langsung menangis.
"N..Nak hiks! Maafkan aku.. Maaf!"
"Hm," gumam Maxwell tak bisa berkata banyak. Ia juga merasa hangat dan begitu lega dan ini menarik Jirome untuk mengambil gambar dan momen ini
Sementara Tuan Fernandez. Selain ikut senang ia juga masih menatap tak suka Evelyne yang tampak enteng bicara seenaknya.
Pria mana yang tahan dengan wanita ini selain putraku sendiri. Cih!
....
Vote and Like Sayang..
__ADS_1