
Mobil hitam pekat tanpa plat kendaraan itu terlihat melaju stabil di area jalan sempit yang notabennya sudah lama tak di gunakan masyarakat. Baja hitam dengan lampu berkedip tak terlalu terang itu tampaknya belum menyadari kehadiran Jirome yang tengah mengikutinya dari belakang dengan motor besar bermerek perusahaan mereka dengan bentuk yang ramping tapi gagah.
Suara kenalpot kuda besi mengkilapny tak begitu besar karna memang sudah di persiapkan untuk mengintai.
"Jadi mereka lewat disini!" gumam Jirome menjaga jarak dengan mobil itu.
Ia melihat jika disini ada CCTV tapi sudah mati dan mobil misterius itu melaju masuk ke dalam jalan sempit di sela dua gedung tua yang hanya di jadikan tempat pembuangan di kota ini.
Tak mau kehilangan jejaknya, Jirome segera melajukan motornya pelan tapi ia tengah tersambung dengan Maxwell dari alat komunikasi yang ada di telinganya.
"Tuan!" dia memasuki jalan sempit di gedung tua jauh dari jalur utama kota!"
"Ikuti tapi jangan sampai ada yang melihatmu!"
Suara Maxwell di seberang sana terdengar memerintah. Jirome mengikuti arahan tuannya dengan helem yang kokoh membaluti kepalanya untuk membututi lampu mobil itu.
Jalannya berair dan tak rata menunjukan jika tempat ini memang tak terawat. Jirome dengan kelihaiannya dalam berkendara itu mampu melewati setiap kerusakan jalan dan terus melajukan motornya menembus remangan malam.
"Tuan! Mobil itu semakin jauh dan jalan ini mulai berbatu dan rusak parah!"
"Usahakan kau jangan berpindah jalur karna nanti anggota lain akan membereskan jejak ban motormu!"
Jirome hanya menjawab paham. Ia semakin menjeljkan matanya melihat lampu mobil itu sampai mereka sudah di sambut oleh jalan bertanah dengan kiri kanan Jirome itu rumput-rumput liar yang merambat.
Tak ada lagi bangunan disini bahkan hanya lampu mobil didepan sanalah yang terlihat karna Jirome mematikan lampu motornya.
"Tuan! Kau bisa mengirim Drone kesini! di bagian sini tak terlalu banyak cabang pohon walau wilayahnya masih misterius."
"Saat kau rasa dia sudah berhenti kau harus bersembunyi karna nanti pasti anggota mereka akan memeriksa kebelakang!"
"Aku mengerti. Tuan!" gumam Jirome meminimalisir tanda-tanda keberadaanya. Ia terus berhati-hati sampai mobil itu tiba-tiba berhenti di ujung sana tepat di tepi hutan yang tampak dipenuhi pohon-pohon tinggi dan ranting runcing yang mati.
Aku baru tahu ada tempat seperti ini?! Bahkan ada hutan yang penuh dengan rumput liar.
Pikir Jirome tak menyangka jika di kota Brusell ada hutan mengerikan itu. Selama ini mereka berburu tapi tak pernah sampai ke tempat ini.
Siap dengan pengamatannya tiba-tiba saja seseorang keluar dari mobil. Walau gelap tapi Jirome memakai helm khusus yang selalu di gunakan saat mengintai oleh para anggotanya.
"Tuan! Seorang pria keluar dari mobil itu. Bentuk tubuhnya lebih kurus dari yang ada di rekaman."
__ADS_1
"Apa yang dia lakukan?!"
Tanya Maxwell yang sudah mengirim Drone sedari tadi mengikuti Jirome. Saat melihat benda kiriman misterius itu Jirome mendecah kesal. Jadi, sedari ia bicara tadi Maxwell sudah melihatnya dari atas sana.
"Tuan! Kenapa kau tak mengatakan jika ada Drone di.."
"Kembali! Mereka akan menyusuri jalan itu!"
Titah Maxwell dan Jirome tak lagi bisa menolak. Ia berbalik memutar motornya kembali ke jalur yang sama dengan anggota Maxwell yang sudah sampai mengikuti jalan ini seraya memperbaiki jejak ban Jirome tadi.
........
Di tempat yang berbeda. Maxwell tak melepas pandangannya dari layar laptop yang memaparkan kondisi mobil tadi.
Kamera Drone yang ia kirim sangat canggih hingga sampai bisa menguntit pergerakan sesosok pria berpakaian hitam dan topi yang berjalan masuk ke dalam hutan rimba itu.
Walau memakai sinar inframerah masih tampak jelas bahkan Maxwell sampai menggerakan jarinya di atas Touchpad laptop untuk mengendalikan Drone kecil seperti kelelawar.
"Ada jalan masuk kesini dan air juga!" gumam Maxwell mengamati pergerakan pria itu. Pohon-pohon tanpa daun ini memudahkan Maxwell untuk melihat akses jalan di sana sampai ada beberapa orang berpakaian hitam yang bertemu dengan pria itu di pertengahan jalan.
Mereka terlihat bicara dengan penerangan dari alat masing-masing dan setelah itu segerombolan manusia tadi pergi ke arah mobil tadi.
"Pantas Jack tak bisa melacaknya dalam kawasan ini!" gumam Maxwell melihat kerja bersih musuh gelapnya itu. Disini juga mulai kehilangan sinyal tapi Maxwell bis mengakalinya.
Ia kembali fokus pada sosok pria tadi yang tampak kembali berjalan terus maju kedalam hutan sampai terlihatlah jalan lebar tanpa aspal dengan pepohonan sudah berganti rimbun.
Disitulah mata Maxwell menajam karna pria itu seperti di sambut oleh rekan-rekannya yang berjaga sembari berjalan ke arah gerbang kayu yang tertutupi oleh akar.
"Mereka membawa Istriku ke tempat seperti ini?!" geram Maxwell merasa emosi karna ini bukan tempat manusia.
Sementara di dalam Villa hutan di dalam sana. Evelyne tengah pura-pura tidur saat Leonard berbicara dengan seseorang di depan pintu kamar yang terbuka.
Tadi pria itu bertengkar dengan Evelyne yang akhirnya di beri obat tidur oleh pelayan setia Leonard. Tapi Evelyne memuntahkan cairan itu ke atas ranjangnya tanpa sepengetahuan Leonard yang nyatanya menyelimuti Evelyne dengan selimut barulah ia pergi dekat pintu.
"Kau sudah menyelesaikannya?" tanya Leonard pada suruhannya yang tadi menunggu di area perbatasan hutan. Ia membawa kabar ini lebih dulu sebelum satu rekannya membawa mobil pergi.
"Semuanya sesuai rencana anda. Dia terlihat kacau sampai berteriak pada para anggotanya!"
"Kau melihatnya sendiri?" tanya Leonard memastikan. Saat anggotanya itu mengangguk ada senyum puas yang langsung tertarik di bibirnya.
__ADS_1
"Mayat itu mereka bawa pergi dan sepertinya ingin di makamkan."
"Kerja bagus! Aku ingin kabar baik ini juga akan di sampaikan oleh anggota yang ku tugaskan membakar Villa Fernandez," tegas Leonard akan mengurus satu persatu.
Anggotanya yang selalu memakai topi dan masker itu menatap ke arah ranjang dimana Evelyne berbaring dengan mata terpejam.
"Tuan! Apa Nona baik-baik saja?"
"Memangnya kenapa?" tanya Leonard menaikan alisnya tajam dan saat itulah dia menunduk kembali.
"Aku dengar pembicaraan para bawahan Maxwell yang mengatakan jika Tuannya tengah demam dan akhir-akhir ini sering drop!"
Degg..
Bukan Leonard yang terkejut tapi Evelyne. Ia berusaha tak membuka mata padahal mulutnya sudah ingin menyambar anggota Leonard.
"Kau dengar itu?! Pria idiot itu sakit. Saat malam itu dia juga tak sehat, apa yang harus aku lakukan?! Kau jangan diam saja!!!"
Geram batin Evelyne yang mengira janin di dalam sana sama dengan Leen yang bisa ia ajak bicara dulu. Evelyne terlalu lugu untuk memahami definisi hamil.
Merasakan hawa bahagia Leonard yang mendengar kalimat itu menjadikan bara api di hati Evelyne. Walau Leonard tak menyakitinya tapi pria ini cukup menyebalkan.
"Itu sangat bagus! Bila perlu dia mati perlahan!"
"Iya, Tuan! Pasti dia sangat hancur dan semakin sakit karna Nona sudah meninggal di matanya," gumam pria itu ikut lega dan senang.
Berbeda dengan Leonard yang senang, Evelyne justru tengah mencemaskan Maxwell. Ia ingin sekali menemui pria itu tapi tak bisa.
"Apa kau bisa masuk dalam pikirannya?! Katakan jika aku baik-baik saja dan tak perlu cemas. Dengan begitu kau sedikit berguna bagiku!"
Batin Evelyne berharap ada jiwa yang keluar dari perutnya lalu mereka bekerja sama untuk keluar dari sini.
Haiss.. Tapi kenapa tak ada?! Ia sudah lelah memanggilnya terus menerus. Apa mungkin dia ingin menguasai jiwanya?!
"Tidak! Aku tak akan memberikan tubuhku padamu. Tunggu saja saat Maxwell menemukanku. Aku akan menyuruhnya mengeluarkanmu!"
.....
Vote and Like Sayang..
__ADS_1