My Little Devil

My Little Devil
Tak mau mengalah


__ADS_3

Keheningan itu terasa sangat jelas ditengah sinaran lampu kamar . Tak ada satu patah katapun keluar dari bibir keduanya yang tengah duduk saling memunggungi di tepi Ranjang King Size yang menjadi saksi bisu perang dingin yang melebihi suhu kutub yang semakin membeku.


Masing-masing memeggangi luka yang terus berdarah tapi tak membuat respon di wajah itu berubah. Evelyne dewasa masih dengan wajah cantik dinginnya dan begitu juga Maxwell yang masih memasang wajah Aspal tak berperasaan.


Maxwell yang sudah biasa terluka seperti ini ia mampu meredam pendarahan yang terjadi. Selimut tebal ranjang menjadi objek pembekapan di perutnya sementara Evelyne tampak diam memeggangi bahunya yang masih berdarah.


"Cih. Sebagus apa suaramu sampai tak bicara satu patah katapun?!"


Maki Maxwell membatin. Ia pergi ke kamar mandi meninggalkan Evelyne yang ia duga akan tiada dalam beberapa saat lagi.


Walau luka itu tak fatal tapi cukup membuat tubuh kebas dan kepala teramat pusing dan itulah yang di nantikan Maxwell.


Ia berdiri di depan Wastafel lalu melepas bekapan Selimut dan Baju Kaos santai yang sudah berlumuran darah di tubuhnya.


Pahatan atletis dengan dada bidang dan pinggang ramping pas itu membuat Maxwell menjadi Primadona cermin yang tengah memperlihatkan luka di bagian kiri perutnya.


"Dia hampir mengenai alat Vital tubuhku."


Batin Maxwell melihat jelas luka tusukan ini termasuk dalam. Hal ini menunjukan jika Evelyne bukanlah wanita yang baru memeggang Pisau. Ia tahu dimana titik Vital berjarak 3 jari dari area jantung.


Bagaimana bisa Evelyne berubah sebesar itu? Apa ini memang nyata?


Maxwell selalu bertanya-tanya bahkan ia habiskan waktunya untuk mencerna hal mustahil ini. Jelas tak bisa di terima oleh akal manusia bahkan ia sendiri sulit untuk bangun jika ini hanya Fantasi.


"Aku butuh hal yang lebih akurat," gumam Maxwell membersihkan luka di perutnya dengan air lalu berbalik keluar dari kamar mandi.


Saat ia sudah ada di depan pintu menatap ke arah ranjang yang tak lagi menampung sosok seksi mengerikan itu.


"Kemana dia?!"


Batin Maxwell menyipitkan mata. Lampu kamar cukup terang untuk melihat tetesan darah di permukaan lantai yang mengarah ke area Balkon.


Maxwell berjalan menyusuri tetesan itu dengan satu tangan memeggangi perutnya. Dari sini ia melihat kibaran tirai-tirai kamar yang tampak dibelai angin cukup halus.

__ADS_1


Mata tajam Maxwell menangkap Sesosok wanita yang tampak berdiri di dekat pagar Balkon masih dengan Tubuh polos yang di biarkan terkena angin.


Sontak Maxwell terkejut langsung meringsek ke sela tirai lalu menarik lengan mulus itu kasar kembali masuk ke dalam.


"Kauu.."


Tangannya di sentak kasar sampai Maxwell membanting Pintu Balkon lalu mematikan lampu itu agar tak ada yang melihat.


"KAU AKAN MEMBUAT MASALAH BESAR UNTUKKU!!!"


Bentak Maxwell memberikan sarkas tertajamnya pada Evelyne yang terlihat hanya membisu seperti tak bisa bicara.


Netra abu ini masih memandangnya penuh intimidasi dan tatapan permusuhan tanpa malu mempertontonkan Visual indah dari tubuhnya.


Maxwell pun sampai tak habis pikir. Kenapa ada wanita seaneh dan seberani ini padanya?!


"Kau manusia?" desis Maxwell masih dengan intonasi tak bersahabat. Ia tetap bertahan satu titik abu ini dan tak mau bergulir kemanapun.


Namun. Tak seperti yang Maxwell duga luka di bahu Evelyne yang ia kira membuat wanita ini tewas di tempat seketika berubah seperti luka biasa.


"Kauu.."


Belum sempat Maxwell berkomentar tiba-tiba saja Evelyne langsung mengayunkan tinjuan panasnya ke arah wajah tampan itu.


Satu tangan Maxwell sigap menahannya lalu dengan kasar menerjang pinggang seksi wanita ini hingga kembali terbentur ke dinding di belakangnya.


"Shitt!"


Batin Maxwell mengalihkan pandangan kala tampak depan ini terasa begitu membuat darahnya mendidih. untuk sesaat Maxwell mengambil nafas dalam masih dengan hawa dingin menyelimuti kamar ini.


"Aku tak perduli kau siapa tapi jangan pernah bermimpi masuk dalam hidupku," Tekan Maxwell lalu pergi ke arah ranjang membuka laci meja. Ia mengambil Kotak obat yang ia bawa ke area sofa tak memperdulikan Evelyne yang hanya memandang setiap kegiatannya.


Rasa waspada itu masih terlihat kental di sekeliling Evelyne yang seperti merasa Maxwell adalah ancaman baginya.

__ADS_1


"Waktumu 10 menit! Pikirkan tentang nyawamu,"


Ucap Maxwell membersihkan lukanya dengan alkohol lalu mengambil jarum yang selalu di siapkan karna ia suka mengerjakan apapun sendiri.


Evelyne menatap dingin Maxwell yang tengah menjahit lukanya sendiri tanpa Anastesi. Tak ada guratan sakit sama sekali padahal jelas itu bukan hal yang biasa.


Drett..


Ponsel Maxwell menyala membuat Evelyne langsung berubah kembali mode menyerang. Ia menatap liar ke semua tempat bahkan mencari dimana sumber suara itu.


Maxwell yang sadar akan ketidaknyamanan Evelyne hanya diam melirik dari ekor matanya jika wanita itu sangat asing dengan suasana kamar dan seperti tak mengerti dengan benda pipih yang tengah menyala di serpihan kaca yang tadi berserakan di atas Ranjang.


"Dia tak mengenal Ponselku?"


Batin Maxwell masih mencari-cari jawaban. Ia sengaja memperlama suara deringan itu sampai akhirnya Evelyne terlihat berkeringat dingin melempar semua barang-barang yang ada di dekatnya termasuk koleksi Jam tangan Maxwell yang ia buang bagai gulungan benang ke atas lantai yang menjadi wadah emosi dua manusia ini.


"I..itu..."


Nafasnya berubah memburu. Ia terlihat emosi sekaligus marah dengan suara Ponsel yang seakan memberikan sinyal ancaman dari otaknya.


Saat tangan lentik itu sudah memeggang hiasan Keramik di atas meja yang runcing siap di lemparkan ke arahnya. Maxwell langsung berdiri menggenggam gunting yang tadi ia gunakan untuk memotong kain Kasa.


"Kau ingin mati?" tanya Maxwell datar dan serius. Tak ada raut candaan sama sekali seakan ia benar-benar akan melakukannya.


Evelyne yang tak kenal takut langsung meluruskan niatnya ingin membunuh Maxwell dan begitu juga Maxwell yang sudah tak perduli dengan apa yang terjadi lada wanita ini.


Gunting itu ia lemparkan tepat ke arah dada Evelyne yang segera menghindar begitu juga Maxwell yang punya ketajaman mata akurat.


Dalam suasana panas beradu emosi keduanya sama-sama tak mau mengalah. Evelyne yang seperti kesetanan dan Maxwell yang tak sabaran membuat keributan hebat sampai terdengar ke luar kamar.


"Kenapa ada suara keributan di kamar Tuan?" gumam para Pelayan yang tadi sudah lama disini karna mendengar suara tembakan dari sana.


Tapi. Tak ada yang berani mendekat karna Maxwell begitu tak bisa di prediksi. Bisa saja pria itu tengah berlatih menembak di dalam kamarnya dan jangan sampai kepala mereka taruhannya.

__ADS_1


....


Vote and Like Sayang.ku


__ADS_2