My Little Devil

My Little Devil
Penembakan


__ADS_3

Tak sesuai rencana sama sekali. Rencananya tadi malam Evelyne ingin bertolak pergi tapi tiba-tiba saja Maxwell langsung menggempurnya habis-habisan hingga siang ini Evelyne baru bisa turun dari ranjang itupun Maxwell sudah rapi dengan pakaian kerja yang membalut tubuh kekarnya.


Pria tampan dengan tatapan mematikan itu sudah duduk di sofa menyeduh secangkir kopi dengan satu kaki bertopang angkuh pada kaki satunya.


"Kenapa kau tak membangunkan-ku?" tanya Evelyna baru keluar dari kamar mandi. Maxwell menatap datar Evelyne tapi terselip rasa hangat dari netra coklat itu saat rambut basahnya mengibas di udara.


"Seharusnya kau membangunkan-ku dari pagi tadi. Jadi aku tak akan kesiangan. Max!" imbuhnya melepas handuknya lalu berjalan santai dengan tubuh polos seksi itu berlalu di depan Maxwell tanpa dosa masuk ke dalam ruang ganti.


Maxwell menghela nafas. Ia menelan sisa Kopi di dalam mulutnya tadi dengan tatapan beralih pada handuk yang seperti biasa sembarangan di taruh wanita cantik itu.


"Maax!"


"Hm?" gumam Maxwell meletakan cangkir kopinya di atas meja depan sofa lalu berdiri membereskan handuk yang kembali ia gantungkan di dalam kamar mandi.


Evelyne yang tadi berganti pakaian sudah keluar dengan balutan kemeja kebesaran dan bokser Maxwell seperti biasa. Rambut hitam lurus basah itu ia pelintir sampai airnya berceceran di lantai.


Maxwell yang tadi sudah keluar dari kamar mandi menatap tajam Evelyne yang sama sekali tak bisa merubah sikap tak senonohnya.


"Jangan sembarangan memerah rambutmu!"


"A..?!" gumam Evelyne mengangkat wajah cantik polos itu memberi pandangan tak bersalah pada Maxwell yang sudah jengah untuk memberitahunya.


"Lantainya akan licin dan kau bisa jatuh. Kau mengerti?"


"Nanti kering sendiri, tak perlu cemas," cengir Evelyne masa bodoh. Maxwell kembali masuk ke dalam kamar mandi dan keluar membawa handuk kecil khusus untuk mengeringkan rambut.


Ia tak memakai Hairdryer karna lebih suka memakai handuk karna lebih terasa simpel dan romantis.


"Max! Kau sibuk hari ini?"


"Kenapa?" tanya Maxwell beralih mengusap rambut Evelyne dengan handuk di tangannya. Aroma mint shampo yang mereka pakai sama saja tapi ketika Evelyne yang menggunakannya begitu terasa harum dan segar.


"Jawab dulu! Apa kau sibuk?" tanya Evelyne mengadah dengan kedua tangan membelit pinggang kekar Maxwell yang memang hari ini banyak sekali pertemuan.


"Aku ada pekerjaan hingga sore nanti. Akan-ku temani jalan-jalan saat malam, mau?"


"Emm.. Baiklah," jawab Evelyne mengangguk. Maxwell menenggelamkan kepalanya di dalam balutan handuk ini dengan kedua tangan menekan pipi Evelyne, bibir merah segar ini manyun dan saat itulah kecupan hangat Maxwell menghujam bertubi-tubi.


"Jangan membuat masalah lagi!"


"Siaap!!" gumam Evelyne membiarkan Maxwell memeluknya sejenak tapi lumayan lama. Tiba-tiba saja Maxwell merasa segan untuk beranjak dari dekapan Evelyne yang juga geli saat Maxwell mencium tengkuknya.


"Heey!! Kau bisa terlambat. Ini sudah siang!" menggeliat geli.


"Hanya sebentar."


"Haiss.. Baiklah. Peluk sesukamu," gumam Evelyne ikut mengeratkan dekapan hangat ini. Maxwell membenamkan wajahnya ke puncak kepala Evelyne menghirup aroma harum yang sangat ia sukai.


Setelah beberapa lama pelukan Maxwell bukannya mengendur bahkan semakin erat membuat Evelyne susah mengambil nafas.


"M..Max!" menepuk-nepuk punggung Maxwell.


"Kau sangat cerewet." mengendurkan pelukannya.


"Kau membuatku sulit bernafas. Biasanya kau tak seperti ini," ketus Evelyne hingga Maxwell mengurai dekapannya.


"Tunggu aku pulang. Hm?"


"Emm.. Pergilah! Jirome pasti sudah di luar," gumam Evelyne mengusap punggung kekar Maxwell yang tak rela melepas pelukannya.


Dikecupnya ringan kening mulus Evelyne yang mengulum senyum hangat. Ntahlah, ia merasa juga tak mau lepas dari dekapan Maxwell yang hari ini semakin manja padanya.


"Jangan lupa makan. Aku sudah menyiapkannya di atas meja."


"Hm. Aku mengerti," jawab Evelyne memandangi Maxwell yang keluar dari kamar. Wajahnya tiba-tiba memerah langsung menghempaskan diri ke atas ranjang yang terasa paling nyaman.


"Emm... Sepertinya aku akan gila," gumam Evelyne mengacak rambutnya sendiri. Ia tak sabar lagi memberikan surat itu pada Maxwell hingga pasti ia akan bahagia.


Tapi...


"Astaga, aku lupa," pekik Evelyne bangkit dengan mata membulat kala ingat sesuatu.


Ia baru sadar jika Tuan Marcello sudah menyerahkan surat itu pada musuh Maxwell karna pasti Violet tak bisa mendapatkan tandatangan Tuan Fernandez tadi malam.


"Shitt! Pada siapa dia memberikannya?!" pekik Evelyne mengusap wajahnya kasar. Ia memejamkan matanya mencoba untuk mencerna, kemana pergi surat itu?!

__ADS_1


Tiba-tiba saja pikiran Evelyne tertuju pada Dawson, hanya pria itulah yang menjadi musuh bebuyutan Maxwell bahkan selalu mencari cara untuk menghancurkannya.


"Yah. Aku yakin itu karna dia. Tapi.. Bagaimana caraku bisa mengambilnya?!" gumam Evelyne mencari rencana untuk menyusup lagi.


Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri. Tujuan awalnya memang ingin mencari surat itu dan bisa di katakan ini yang terakhir karna setelah mendapatkannya ia akan mematuhi Maxwell yang pasti akan marah tapi saat melihat surat itu ia akan senang, pikir Evelyne begitu.


Ia bersiap-siap dengan rambut yang sudah kering. Evelyne makan sandwich sisa Maxwell tadi padahal masih ada makanan yang lain.


Setelah dirasa ia siap barulah Evelyne keluar dari kamarnya. Topi dan masker itu tak pernah tinggal sama sekali mengingat ia harus tersamarkan.


.....


Di tempat yang berbeda. Kericuhan besar terjadi di Rumah Sakit yang seketika menjadi tempat pertengkaran hebat antara Tuan Fernandez dan Nyonua Meeiner yang kemaren di rawat inap karna masih belum sehat benar.


Pria pemilik rahang tegas dan tatapan penuh emosi itu mengguncang ruang rawat istrinya sampai para Dokter yang bertugas harus gemetar menjahui area itu.


"Kau berani melakukan ini padaku. Haa??"


"Apa? Kenapa kau marah-marah tak jelas seperti ini?" tanya Nyonya Meeiner yang duduk diatas ranjang rawatnya.


Ia juga kebingungan, kenapa Tuan Fernandez tiba-tiba datang dengan wajah marah bahkan seperti ingin menelannya hidup-hidup.


"Sejak kapan kau bekerjasama dengan bajingan itu?" geram Tuan Fernandez sampai membuat dahi Nyonya Meeiren mengkerut.


"Bekerjasama? Kau.."


"JANGAN BERPURA-PURA DI HADAPANKUU!!!" bentak Tuan Fernandez segera mencengkram pipi Nyonya Meeiner yang sontak terkejut dengan semua ini.


"K...kau.."


"Tak ku sangka wajah polos mu ini sangat MENJIJIKAN!" tekan Tuan Fernansez yang tadi sangat murka kala melihat vidio yang anggota Maxwell kirim padanya.


Apalagi, ia juga sudah menyelidiki tentang hasil Tes yang di berikan Evelyne kemaren. Dan alangkah murkanya Tuan Fernandez melihat jika hasil itu benar dan Violet memang bukan anaknya melainkan anak Marcello.


"A..pa? A..aku tak melakukan a..apapun," lirih Nyonya Meeiner tercekat dengan mata berair berusaha melepas cengkraman di pipinya.


Tuan Fernandez menyeringai iblis. Ia memang sudah sedari dulu tak menyukai wanita ini. Ia bahkan semakin benci karna tahu jika itu bukan anaknya melainkan anak dari pria lain.


"Jadi kau selama ini membohongiku?"


"VIOLET BUKAN ANAKKU!"


Duarrr...


Nyonya Meeiner terkejut bukan main. Air matanya yang tadi masih terbendung sekarang sudah mengalir hangat membasahi jari Tuan Fernandez yang segera melepas cengkramannya.


"K..kau.."


"Dia bukan anakku! Dan saat itu kau mengatakan kau hamil anakku?! Kau sangat cerdas Meeiner!" hardik Tuan Fernandez tapi semakin membuat hati Nyonya Meeiner begitu sakit.


Memang kehadiran anak itu hanya sekedar keterpaksaan karna desakan keluarganya ingin memiliki anak. Tapi, Nyonya Meeiner juga tak pernah menaruh niat buruk untuk keinginan itu.


"Tak ku sangka kau sangat pandai bersandiwara sampai puluhan tahun lamanya. Dan bodohnya aku percaya padamu!"


"T..tidak. V..violet.. dia.. dia anak kita. Kau.."


"Lebih baik kau pergi menyusul Ayahmu. Hm?!" desis Tuan Fernandez mengeluarkan Pistol di balik Jaketnya.


Nyonya Meeiner yang melihat itu hanya diam karna ia masih belum tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"A..aku.. Aku tak pernah mengkhianatimu, suamiku! Aku.."


"BERHENTI MEMANGGILKU DENGAN KALIMAT MENJIJIKAN ITU!!!" bentak Tuan Fernandez menerjang nakas di samping ranjang hingga Nyonya Meeiner terkejut gemetar.


"A..aku.. Aku tak mengkhianatimu. Hiks! Aku tak tahu apapun," isak Nyonya Meeiner terlihat sangat terpukul karna ia sudah lelah bertengkar seperti ini.


"Setelah menghabisi-mu aku akan membunuh bajingan itu!!"


"Tidak.. Jangan, Jangan lakukan itu!" gemetar Nyonya Meeiner memberanikan turun dari atas ranjang dengan tatapan memohon pada Tuan Fernandez yang sudah kelut dan gelap mata.


"Benarkan? Kau begitu menyayanginya," desis Tuan Fernandez menyeringai iblis.


"J..jangan. Dia itu juga anakku dia.."


"Tuaaaan!!!" teriak anak buahnya yang ada di luar syok kala Tuan Fernandez benar-benar menembak Nyonya Meeiner di area perut.

__ADS_1


Dokter Karren yang tadi berdiri di luar sana langsung pucat begitu juga para anggota Tuan Fernandez yang mematung kosong.


"Kau tahu?" bisik Tuan Fernandez kala tubuh Nyonya Meeiner tersandar ke bahunya. Darah itu mengalir ke tangannya yang tengah menekan Pistol ke perut wanita ini.


"Aku juga yang membunuh Ayahmu!"


Bisikan itu seperti sabetan pedang yang memutus nyawa Nyonya Meeiner. Air matanya lolos membayangkan jika selama ini Ayahnya meninggal di tangan suaminya sendiri.


"K..kau.."


"Kau pikir aku tak tahu apa rencana Ayahmu. Hm?!" desis Tuan Fernandez seperti pria tak waras dan tak memiliki hati.


"Dia ingin menjadikan putrinya sebagai ladang harta untuknya. Cih, aku tak akan menyerahkan apapun PADAMU!!" imbuh Tuan Fernandez tanpa belas kasih mendorong Nyonya Meeiner ke lantai dingin ini.


Ia memang tak pernah menaruh perasaan apapun pada wanita ini. Jika menghabisinya sekarang itu tak rugi sama sekali baginya.


"Turut berduka untukmu!" gumam Tuan Fernandez mengarahkan ujung pistolnya yang penuh darah ke kening Nyonya Meeiner yang tak lagi bisa berkata apa-apa. Air mata itu mengalir seiring dengan darah merembes di lantai.


Saat pelatuk itu ingin di tarik tanpa belas kasih. Tiba-tiba saja suara berat khas seseorang mengalun di depan pintu.


"Kau memang pecundang. Fernandez!"


Tatapan nyalang Tuan Fernandez beralih pada sosok pria dengan tubuh kekar tinggi yang berdiri tegap dan tenang. Seringaian liciknya mampu memantik api semakin membara di dalam diri Tuan Fernandez.


"Lihat! Rekanmu langsung datang menjengukmu. Meeiner!" decah Tuan Fernandez beralih mengarahkan pistol itu ke arah Maxwell yang hanya santai karna ia sudah mendapatkan rekaman ini.


Akan sangat menyenangkan mengguncang dunia dengan sikap tempramen mu. Sialan!


Benak Maxwell bergurat licik. Ia tak memandang Nyonya Meeiner yang menggeleng padanya dengan tatapan memohon agar ia segera pergi dari sini.


"M..Max! P..pergi.."


"Dengar! Dia sangat perhatian padamu," desis Tuan Fernandez menarik rambut Nyonya Meeiner kasar membuat kedua tangan Maxwell terkepal erat.


Ntah kenapa ia sangat marah dengan keadaan wanita ini tapi Maxwell masih membisu mencoba bertahan. Para anggotanya juga sudah mengurus anggota Tuan Fernandez yang terlibat perkelahian di luar sana.


"A..aku.. M..mohon.. J..jangan!" pinta Nyonya Meeiner sudah pucat pasih dan tak memiliki daya apapun lagi.


Melihat itu Tuan Fernandez semakin muak. Ia ingin mengarahkan pistolnya ke kepala Nyonya Meeiner yang hanya memejamkan matanya.


"Pergilah dengan tenang!"


Bughh..


Pukulan keras itu menghantam rahang Tuan Fernandez yang seketika mundur beberapa langkah dibuatnya.


Ia menatap Maxwell yang terlihat memburu dengan tatapan membunuh dengan raut wajah mengeras kelam.


"Ciuh!" ia meludah karna darah itu keluar dari hidung dan mulutnya.


Maxwell masih diam berdiri di dekat Nyonya Meeiner yang menatap sayu wajah tampan keras pria ini.


Penuh dendam dan amarah. Itulah yang terjabar di mata coklat kelam itu.


"Kau yang tak pantas hidup!" geram Maxwell mengeluarkan pistol di balik Jasnya. Ia mengarahkan Glock-20 itu ke kening Tuan Fernandez yang menyeringai.


Ia juga mengangkat pistol di tangannya ke arah Maxwell hingga mereka saling mengacungkan senjata masing-masing. Tak ada rasa takut atau gentar sama sekali untuk mati bersama disini.


Saat keduanya ingin menembak tiba-tiba saja Nyonya Meeiner melihat ada orang dari luar yang melepaskan tembakan ke arah Maxwell yang terkejut saat Nyonya Meeiner mendorongnya.


Doooorr...


Tembakan itu langsung mengenai dada Nyonya Meeiner yang sekaligus jika melindungi Tuan Fernandez yang tadi sejajar dengan Maxwell.


Waktu seakan terhenti kala darah Nyonya Meeiner menyembur ke lantai. Wajah Maxwell pucat begitu juga Tuan Fernandez yang tadi hanya memancing kedatangan Maxwell dan tak berniat untuk membunuh wanita ini.


"M..Max!" gumam Nyonya Meeiner tersenyum hangat menatap penuh kasih dan maaf pada Maxwell hingga tubuhnya langsung tumbang tapi Maxwell dan Tuan Fernandez sigap menahannya sebelum membentur lantai.


"Tuan!!"


Jirome yang tadi ingin mengejar penembak itu terhenti saat melihat keadaan di dalam. Ia benar-benar terkejut melihat Nyonya Meeiner yang sudah berlumuran darah.


"PANGGIL DOKTER KESINII!!" bentak Maxwell dan sontak Jirome segera pergi. Maxwell segera menggendong Nyonya Meeiner kembali ke atas ranjang sedangkan Tuan Fernandez menatap nanar darah di lantai ini.


....

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


__ADS_2