My Little Devil

My Little Devil
Kehilangan kesucian


__ADS_3

Malam ini semakin larut. Jam sudah menunjukan pukul 2 dinihari dan selama itu pula Maxwell tak lagi menunjukan batang hidungnya atau sekedar membuka pintu kamar yang terkunci.


Alhasil Evelyne hanya bisa diam mematung tepat di depan cermin Wastafel. Netra abu itu memindai penampilan tubuhnya yang sudah berubah 190° lebih menggoda dan bahkan sangat-sangat seksi.


Ia memakai Lingerie hitam dengan tali tipis di bahu sedangkan dada sekang yang berat itu hanya di tutupi oleh selembar kain kecil itupun hanya di bagian puncaknya saja.


Bergulir kebawah maka mata akan di manjakan dengan kaki jenjang mulus putih bak porselen yang sangat bersih dengan bentuk bokong bulat kencang dan menggemaskan.


Bagian intinya ditutupi oleh kain segitiga seperti jaring transparan hingga si tembem bayi itu terlihat sangat merayu.


Sebenarnya Evelyne tengah dalam mode senang. Senyumnya tertarik kecil menyentuh tali daleman yang membelah area bokongnya.


Segar, dingin dan bebas, itulah yang di rasakan Evelyne dan sesekali ia berpose di depan cermin dengan kedua tangan meremas rambutnya dan kedua kaki di buka selebar bahu.


"Ouhh.. Seksi!" desis Evelyne mengagumi Tubuh dan panorama kecantikan yang luar biasa itu.


Ia jamin Maxwell tak akan bertahan lagi saat melihatnya hampir polos ini. Kepercayaan diri Evelyne membuat dadanya yang besar membusung hebat dengan lekukan pinggang bak Gitar Spanyol yang eemm.. Menggoda.


"Baiklah. Kita lihat apa kau tergoda atau tidak?!" gumam Evelyne lalu melangkah dengan sensual ke luar kamar mandi.


Ia memutar tubuhnya indah dengan rambut dikibas menebar aroma harum dan masih lembab karna ia tadi keramas.


Ini sudah larut. Aku yakin dia akan kembali ke kamar cepat atau lambat.


Pikir Evelyne seperti itu. Ia punya ide sedikit nekat dan agak gila karna ingin menjebak Maxwell yang sudah ia targetkan tak akan lepas malam ini.


Evelyne mematikan lampu kamar dengan mengarahkan tangannya ke arah robot sensor di atas plafon ruangan hingga otomatis semuanya padam dan lampu tidur yang remang menyala.


"Selesai! Ini sudah seperti di Film-film," lirihnya lalu beralih naik ke atas ranjang. Ia masuk kedalam selimut memunggungi arah Pintu pura-pura tidur padahal telinganya menajam.


5 menit berlalu dan waktu terus bergulir hingga sudah 30 menit Evelyne menatap jam dan menoleh ke arah Pintu tapi lagi-lagi tak mendengar langkah kaki siapapun.


"Apa dia begitu takut atau jijik hingga tak masuk?!" gerutu Evelyne menyibak selimut yang menutupi tubuh moleknya dan melangkah turun dari ranjang mendekati Pintu masih tertutup rapat ini.


Evelyne sampai menempelkan telinganya ke sana hingga setelah beberapa lama terdengar suara tapakkan sepatu seseorang di luar sana.


"Itu pasti dia," gumam Evelyne lalu berlari meloncat ke atas Ranjang dan kembali pada posisinya semula pura-pura tidur.


Kedua matanya terpejam dengan selimut sudah menutupi sampai kepuncak kepala.


Terdengar jelas ada seseorang yang membuka Pintu dengan hati-hati dan ragu. Walau mata Evelyne terpejam tapi apa yang di lakukan Pria itu dan sedang apa ia sekarang bisa Evelyne tebak dari suara dan detakan sepatunya.


"Ayolah! Jangan malu-malu," batin Evelyne tersenyum licik.


Nyatanya benar. Itu adalah Maxwell yang terlihat lebih baik dari sebelumnya. Pemilik netra coklat tajam dan wajah dingin itu langsung lega kala melihat gundukan selimut di atas Ranjang.


Syukurlah dia sudah tidur


Begitulah harapan Maxwell tadi yang sudah membersihkan dirinya dari pertempuran solo yang singkat. Ia sudah berganti pakaian santai dengan kaos oblong hitam tanpa lengan mencetak otot-otot kekar tubuhnya dan celana pendek abu selutut yang santai yang terlihat cool di pinggang berotot miliknya.


Maxwell mendekati ranjang dimana Evelyne tidur. Pikir Maxwell seperti itu sampai ia berani masuk dan bisa bernafas lega.


"Sepertinya dia sudah mandi," gumam Maxwell karna melihat Kemeja Evelyne tadi tergeletak di depan kamar mandi.


Di tengah remangan kamar ini Maxwell membereskan barang-barang Evelyne termasuk Boxer yang tadi di pakai wanita itu.


Di rasa Maxwell sudah masuk ke dalam kamar mandi. Evelyne sigap membuka selimut lalu dengan cepat turun dari ranjang mengunci Pintu dari dalam dengan sensor jarinya.


"Sekarang kau tak akan bisa kabur!" desis Evelyne menyeringai licik lalu berbalik menatap pintu kamar mandi yang masih terbuka.


Ia berjalan santai kembali naik ke atas ranjang lalu berpose seksi. Ia berbaring menyamping menghadap ke arah kamar mandi dengan satu tangan menopang kepalanya dan satunya lagi ada di belakang tubuhnya.


Kedua kaki Evelyne agak bersilang hingga lekuk tubuhnya benar-benar terlihat bahkan seperti model lingerie profesional yang sangat menggoda.


"Dia mandi sampai menghabiskan Shampo ku."


Suara Maxwell terdengar mengumpat sudah berdiri didepan kaca Wastafel. Ia merapikan semua kekacauan yang Evelyne buat lalu berbalik untuk keluar.


Namun, saat kakinya baru dua langkah menjauh dari tempat ini tiba-tiba saja jantung Maxwell seakan melompat keluar kala melihat siapa yang tengah berpose autentik di atas ranjang sana.


Walau ini remang mata Maxwell masih bisa melihat jelas pantulan kulit cerah dan lekuk tubuh Evelyne yang menipiskan bibir padanya.


"K..kau.."


"Hm. Kau terkejut?!" desis Evelyne menatap lekat wajah pucat Maxwell.


Pria itu mematung di depan Pintu kamar mandi menatap tak berkedip ke arahnya. Ia juga mengikuti tangan Evelyne yang segera menjentikkan jarinya hingga lampu itu menyala.


Baamm..


Kepala Maxwell seakan di hantam batu-bata karna melihat secara jelas pasti dan tepat tanpa sensor sama sekali pemandangan indah di atas ranjangnya.


Bidadari mana yang ingin menyenangkannya malam ini?


Itulah yang tergambar di wajah kosong Maxwell yang menegguk ludahnya kala gudukan padat tanpa halangan itu membusung hebat dengan lekukan pinggang seksi ingin sekali Maxwell belai dengan tangannya.


"Bagaimana? Apa aku sudah cukup menggoda?" tanya Evelyne membelai pahanya sendiri dengan satu tangan sampai pada dadanya.


Jakun Maxwell naik turun dengan nafas berat menggebu dan ia merasakan celananya kembali sesak dan membeludak bengkak.


Aku.. Aku mohon jangan gigit bibirmu!


Batin Maxwell histeris kala melihat Evelyne mengigit bibir bawahnya dengan exspresi wajah dibuat pasrah, lemah dan memanggil-manggil Maxwell untuk mendekat.


"Kemarilah! Tunjukan padaku seberapa hebat rahasia mu," himbau Evelyne menepuk-nepuk halus bantalnya tanpa melepas tatapan dalam itu dari mata kosong Maxwell yang terhipnotis.


Melihat Maxwell yang sudah tak sadar dengan dunianya membuat jiwa Evelyne semakin gencar. Ia perlahan bangkit turun dari ranjang dan berjalan elegan dengan dada membusung seksi mendekati Maxwell yang hanya terpaku kosong.


"Kau menyukainya?" lirih Evelyne mengalungkan kedua tangannya ke leher kokoh Maxwell yang menatap dadanya lalu bergulir ke wajah cantik Evelyne.


Kini fokus Pria itu tertuju pada bibir pink segar tanpa polesan lipstik Evelyne yang basah dan sangat membuatnya ingin merasakan itu.


Biarkan aku mencobanya! Sekali saja aku mohon!


Itulah kalimat yang menghantui Maxwell sekarang. Perlahan ia mendekatkan wajahnya hingga sudut bibir Evelyne tertarik langsung menyambar bibir Maxwell yang sudah dikelabui hasrat kuat.


"Ehmm!!"


Geraman Evelyne mer**mas rambut Maxwell kala ciuman ini sangat dahsyat. Maxwell seakan lupa dengan dirinya sendiri sampai memangut liar bibir Evelyne yang juga tak kalah melayani dengan hebat.


Ouhh.. Ini manis, lembut dan segar. Aku tak akan melepaskannya!


Jeritan benak Maxwell beralih menekan tengkuk Evelyne untuk memperdalam ciuman bernafsu deras itu dengan satu tangan me**re**mas bokong bulat kenyal Evelyne yang dibuat mengejang.


Decapan erotis dari pangutan ganas itu sampai memecah keheningan kamar yang seketika memanas. Tangan kekar Maxwell sudah tak bisa di tahan menggerayangi bagian belakang bidadari seksi ini hingga Evelyne harus mengerang beberapa kali di buatnya.


"Ini kesempatanku. Aku.. Aku tak bisa menunggu lagi,"

__ADS_1


Batin Evelyne yang berusaha sadar akan tujuannya. Satu tangan yang me**mas rambut Maxwell tadi seketika turun secara halus dan sensual menyusuri bahu kokoh Maxwell lalu turun mengabsen jumlah otot lengan dan beralih turun ke perutnya.


Saat jari nakal Evelyne sudah mengusap bagian bengkak itu Maxwell langsung menggeram melepas pautan lidahnya dengan Evelyne hingga menyisakan benang Saliva yang basah.


Deru nafas keduanya benar-benar memburu bahkan wajah mereka sama-sama merah diselumbungi hasrat membara.


"Kau.. Kau tak bisa menghindari ku lagi!" bisik Evelyne ngos-ngosan karna ciuman tadi terlalu menguras oksigen di paru-parunya.


Lama Maxwell menatap dalam netra abu Evelyne dan merasakan tangan wanita itu mere**mas Miliknya dengan sesuka hati. Hal itu tambah membakar darah Maxwell yang mendidih hebat.


"A..aku.."


"Ayo tunjukan padaku bagaimana ben.."


"Aku tak bisa!" serak Maxwell parau dengan nafas memburu hebat. Ia tak ingin melakukan hal itu pada Evelyne yang masih polos dan hanya mengikuti penasaran dari benaknya.


Kau hanya penasaran dengannya dan bukan karna sadar akan apa yang kau minta padaku.


Itulah yang dikhawatirkan Maxwell. Ia mulai mundur ditengah tatapan kecewa Evelyne yang sumpah demi apapun ia tak mau memanfaatkan keluguan wanita ini.


"Tidurlah!" gumam Maxwell lalu ingin pergi tapi Evelyne segera bicara dengan intonasi dingin.


"Kenapa?"


Maxwell terhenti di tempat dengan nafas masih setengah stabil. Keduanya saling memunggungi tapi dada itu terasa berdebar dan sesak.


"Apa aku tak semenarik Violet? Atau apa aku bukan manusia di matamu?"


Maxwell masih diam dengan nafas tercekat mendengar suara sinis Evelyne yang memiringkan bibirnya remeh.


Ia membuang nafas kasar tanpa berbalik menatap Maxwell yang masih beku di tempat.


"Tak apa. Aku tak akan mengganggumu lagi!"


Ucap Evelyne datar lalu merobek Lingerie yang membalut tubuhnya hingga tak ada lagi halangan apapun di Tubuh seksi Evelyne.


Sekuat apapun ia mencoba tetap baik-baik saja tapi tak dielakan ada rasa sakit di dadanya. Bohong jika ia menganggap ini hanya sebagai lelucon.


"Lain kali aku tak akan mendekatimu. Kau pasti risih dengan apa yang aku lakukan. Aku juga paham dan mengerti. Lagi pula bukan kau saja yang ada di Dunia ini!"


Kalimat terakhir Evelyne sukses membuat dada Maxwell tertusuk tajam. Wajahnya mengeras dengan kedua tangan terkepal kuat membayangkan jika Evelyne dicumbu rakus Pria lain.


"Tidurlah! Aku ingin mencari udara segar!" imbuh Evelyne lalu ingin bergerak pergi tapi Maxwell langsung berbalik mendekapnya dari belakang sangat erat.


Begitu eratnya bernafas saja Evelyne tak bisa dan memberontak dari pelukan ketat dan posesif Maxwell.


"Kauu.."


"Kau serius dengan ini!" bisik Maxwell dengan hembusan nafas berat menerpa tengkuk Evelyne yang meremang.


Kenapa dengannya? Pria idiot yang menyebalkan.


Rutuk Evelyne di batinnya tapi segera tercekat kala tangan Maxwell sudah mengusap perutnya dengan hangat.


"Kau tak akan menyesal?"


"K..kau.."


"Kau ingin melihatku melakukannya?" bisik Maxwell sensual menyusuri tengkuk Evelyne yang meremang sampai mencengkram lengan kekar Maxwell yang membelit perut datarnya.


Bibir basah itu menyusuri garis leher jenjang Evelyne dengan sangat halus sampai melakukan jilatan lembut.


Maxwell tak lagi perduli dengan pemikirannya tadi. Rasa tak terima dan panas itu menyatu Evelyne untuk tetap bersamanya.


"M..Maax!" erang Evelyne mengadah kala kedua tangan Maxwell bergerak lembut me**mas bukit kembar yang terasa penuh di tangan besarnya.


Shitt. Ini sangat luar biasa, Tubuhnya tak pernah di jamah oleh siapapun.


Decah kagum Maxwell merasakan jika dua bukit kembar berharga ini masih sangat padat dan kencang. Belum lagi puncaknya begitu ranum dan pink bak Cherry manis yang minta di manja.


"Kau akan menyesal telah memancingku!" desis Maxwell menarik dagu Evelyne menoleh padanya hingga kali ini Maxwell yang memulai ciuman ganas itu.


Evelyne sampai terkejut karna lidah Maxwell sangat lihai menyusuri rongga mulutnya tanpa permisi sama sekali.


Hisapan penuh cemburu dan gigitan halus Maxwell berikan sebagai hukuman karna bicara asal. Ia tak membiarkan Evelyne bernafas lega karna tangannya juga bekerja di bawah sana.


"Ehmm!!!"


Evelyne menggelinjang kala tangan Maxwell menelusup diantara jepitan pahanya. Ia sampai mencengkram lengan kekar itu tapi Maxwell tak berhenti sama sekali.


"K..kenapa rasanya sangat aneh? Aku tak bisa mengendalikannya!!"


Jeritan batin Evelyne yang merasa sudah tak ingat misinya tadi. Ia ingin dan seperti mendamba sentuhan Maxwell yang menggerayangi tubuhnya.


Disela ciuman panas dan belaian tangan di bawah sana. Maxwell segera mengiring Evelyne untuk mendekat ke tepi ranjang.


Dengan sekali tarikan ia membuat Evelyne terpekik karna tubuhnya terlempar ke atas ranjang dalam keadaan terlentang.


"K..kauu.."


Gugupnya kala Maxwell berdiri tepat di dekat kedua kaki jenjang Evelyne yang menjuntai di pinggir jalan. Tatapan nyalang dan penuh dengan hasrat menggebu itu sampai menarik kegelisahan Evelyne yang merasa Maxwell tak lagi menahan diri.


"Kenapa aku jadi takut?!"


Batinnya mulai berkeringat. Wajah Maxwell sudah merah padam dan deru nafasnya sangat berat dan mengigil.


Ia membuka balutan kaos oblong tanpa lengan itu hingga Evelyne dipertontonkan kembali dengan dada bidang dan bahu lebar Maxwell yang minta di bebani.


Seksi dan mempesona.


Itulah yang dapat menggambarkan Visual Maxwell sekarang. Dengan wajah penuh birahi menatap Evelyne yang juga meleleh dengan jiwa jantan Maxwell yang tak seperti tadi menolaknya.


"K..kau bukannya tak menyukaiku?" memberanikan diri bertanya di situasi darurat ini.


Maxwell sama sekali tak menjawab. Ia menjatuhkan dirinya mengungkung Evelyne dengan kaki masih menapak ke lantai.


Tatapan keduanya begitu dalam sampai Evelyne ingin sekali bertanya tentang perasan Maxwell saat melihat dia memakai Lingerie tadi.


"Bagaimana menurutmu tentang.."


Cup..


Maxwell mengecup kilas dan kembali menatap intens Evelyne yang menelan ludah. Wajah Maxwell tak berekspresi tapi jelas tersirat perhatian di dalam sana.


"Kau.."


Cup..

__ADS_1


"Kenapa.."


Cup..


"Dan.."


Kalimat terakhir langsung dibungkam Maxwell dengan ciuman lebih panas. Hal itu membangkitkan hasrat Evelyne yang belum pernah merasakan di cumbu sebrutal ini tapi masih dalam batas normal.


"Ehmm.. Eunghh!" lenguh Evelyne meremas Sprei di bawahnya kala Maxwell mengecup setiap inci wajahnya lalu terus ke bawah sampai wajah Maxwell dihadapkan dengan dada sekang Evelyne.


Sempurna.


Itulah yang tergambar dari matanya. Apalagi nafas Evelyne sudah terengah-engah hingga puncak bukit indah itu menyentuh wajahnya.


"M..Maax!" Pekik Evelyne membusungkan dadanya kala Maxwell menyambar salah satu Squishi itu dengan lapar. Satu tangannya memanjakan kembaran menggoda ini dan mulutnya sangat penuh.


Ini sangat manis. Aku sangat menyukainya. Evelyne!!


Batin Maxwell terkesima. Permen ranum ini menjadi mainan Favoritnya dan itu membuat Evelyne kejang dan menggila.


"M..Maax emm.."


Maxwell semakin terpancing dengan erangan merdu Evelyne yang menekan kepalanya hingga terbenam ke bantalan empuk ini.


Sensasi apa ini? Kenapa aku sangat menyukainya? Aku tak bisa menahan lagi.


Evelyne bertanya-tanya tapi ia akui ini sangat memacu adrenalin. Ia memejamkan mata menikmati semuanya padahal seharusnya ia bertingkah seperti gadis yang ingin diperawani.


Tak mendapat perlawanan dari Evelyne menambah aksi gila Maxwell. Ia semakin menjadi-jadi bermain dengan Squishi kembar ini sampai lupa jika ia telah melanggar ucapannya tadi.


"Kau ingin merasakan sesuatu?" tanya Maxwell serak dengan kedua tangan masih me**mas mainan Favoritnya malam ini.


Evelyne hanya mengangguk pasrah karna ia juga sudah kepalang basah. Semua yang Maxwell lakukan itu tak menjadi ancaman baginya karna ia percaya pada Maxwell yang sudah tak kuat iman.


"B..bagaimana rasanya?" tanya Evelyne terdengar seperti rengekan di telinga Maxwell yang menipiskan bibirnya.


Ia mengecupi secara bergantian dua puncak Squishi itu lalu turun melakukan hal yang sama ke perut datar Evelyne yang sudah menggeliat kala wajah Maxwell sudah tepat ada di bagian Miliknya.


"Kau masih bayi?" gumam Maxwell gemas dengan bagian ini. Lihatlah betapa mulus dan lembutnya setiap inci tubuh Evelyne yang membuatnya menggila.


Ada rona merah di pipi Evelyne bukan karna ucapan Maxwell tapi wajah tampan itu seperti sangat mengaguminya.


"Jangan menatapnya seperti itu!"


"Kau yang ingin dilayani. Hm?" serak Maxwell menaikan kedua kaki Evelyne dibatas ranjang dengan membuka selebar bahu.


Mata Maxwell terpaku dengan bentuk sempurna Milik Evelyne yang begitu mulus dan masih Pink segar. Kulitnya yang putih bersih tak ada cela untuk menghinanya.


"K..kau.."


Evelyne mengigit bibir bawahnya kala Maxwell mengendus aroma khas dari bawah sana. Segar, wangi khas bunga dan bercampur aroma sabun yang menggoda.


Tak tahan menciumnya saja Maxwell segera melabuhkan lidahnya ke sana membuat tubuh Evelyne melenting hebat tapi kedua tangan Maxwell menahan pinggangnya.


"M..Maax emm.. Maa.."


Maxwell menyukai erangan erotis itu. Ia semakin menjadi-jadi bahkan seperti sudah pernah melakukannya. Padahal, ia hanya sering melihat dan paham caranya.


"Aa.. Ammm.. M..Max! Enghuuu!!" racau Evelyne tak tentu arah sampai menjepit kepala Maxwell yang segera menarik diri.


Wajahnya sudah merah dan dipenuhi birahi yang sangat gelap. Apalagi ******* Evelyne tak tanggung-tanggung meremangkan tubuhnya.


"M..Max! A..aku.."


Maxwell membuka bagian bawahnya dan mata Evelyne melebar melihat benda apa yang selalu mengeras itu.


K..kenapa sangat besar? B..bentuknya..


Kaki Evelyne mengigil. Antara terkejut dan meleleh Evelyne sungguh tak menyangka akan seperkasa ini. Ia mengimbangi postur tubuh kekar dan tinggi Maxwell yang sangat sempurna.


"Ini yang kau cari,bukan?" tanya Maxwell bernafas berat mengusap benda perkasa itu sampai membuat Evelyne menelan ludah.


Ia beralih ke bagian intinya dan apa itu akan memasukinya? Tapi.. Tapi mana mungkin muat, tidak.. Jangan bercanda.


Ia sampai berperang dengan batinnya sendiri. Evelyne ingin bangkit tapi Maxwell kembali mengungkungnya.


"Takut?"


Bisik Maxwell menyeringai melihat Evelyne yang pucat.


"A.. Aku.."


"Bagaimana? Kau menyukai bentuknya?" goda Maxwell membuat Evelyne kembali melihat ke bawah. Sumpah demi apapun itu sangat seksi tapi ia tak kuat jika itu harus menghantam di bawah sana.


"K..kau tak normal. Max! Kita.."


"Kemana perginya keberanian-mu. Hm?" sela Maxwell sudah mempertemukan kedua Kubu lawan itu. Evelyne tercekat kala Maxwell sengaja menggesekan benda itu untuk merayu Evelyne yang tak menyangka akan seperti ini.


"M..Maax! B..bagiamana kalau aku..Aunghh!!" lenguhnya di akhir kala Maxwell menekan dibagian yang akan ia bobol malam ini.


Maxwell juga sama. Ia mengigit bibir bawahnya mencoba untuk lembut padahal ia ingin menyelami lembah kenikmatan itu sekarang.


"Akan ku tunjukan kekuatannya padamu." bisik Maxwell menekan agak kuat mendapat cengkraman di lengannya oleh Evelyne yang merasa sakit dan nyeri.


"M..Max!" lirihnya terengah.


Maxwell-pun sama. Ia mencoba hati-hati karna walau bagaimanapun Evelyne masih pertama dan begitu juga dirinya.


Beberapa kali Maxwell menekan dan terus menerima cengkraman Evelyne yang tak melarangnya untuk menyatu. Ia bahkan memeluk leher Maxwell yang juga mengerti akan sakit yang akan ia cicil ini.


"T..tahan sebentar.."


"Aku.. Aku akan membantumu!" bisik Evelyne dengan lugunya menekan pinggang Maxwell yang tadi masih menahan-nahan hentakannya hingga kali ini ia memekik karna bantuan ini tak sia-sia.


"Maax emmm.. S..sakitt!"


"Akhss.. k..kau idiot," umpat Maxwell disela desahannya kala Pusaka perkasa itu sudah terbenam secara paksa di dalam sana.


Shitt. Rasanya sangat luar biasa, ini lebih nikmat dari pada bermain solo


Jeritan batin Maxwell sangat menyukainya tapi Evelyne jangan ditanya. Ia ingin memukul Maxwell karna ini terlalu sakit tapi juga tak kuasa bercampur nikmat yang sama.


Jadilah ia pasrah tapi disela desahannya ia mengumpati Maxwell yang malah mengerang karna kuasa tubuhnya tak main-main.


....


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


Maaf say.. Ini terlalu host tapi author kelepasan khilaf🥲🤣


__ADS_2