My Little Devil

My Little Devil
Kekhawatiran


__ADS_3

Setelah menempuh langkah yang penuh pengintaian akhirnya Evelyne sampai ke tempat Parkir mobilnya pertama kali. Untung saja mobil itu masih ada di sana walau sedikit berembun karna lama ia tinggalkan.


Beberapa orang yang melewati mobil Evelyne beberapa kali bingung karna benda mewah itu sembarang di Parkirkan. Apalagi disini bisa dikatakan area yang pernah terjadi pencurian.


"Akhirnya. Mereka tak bisa menangkap-ku!" gumam Evelyne mendekati mobil bersiap untuk membuka pintu mobil tapi tiba-tiba saja ia melihat ada secarik Kertas yang menempel di kaca hitam ini.


"Siapa yang menempel ini sembarangan?!" gumam Evelyne menarik kertas putih ini lalu membalikannya. Dahi mulus itu berkerut membaca tulisan yang terbuat dari darah seseorang.


AKU AKAN MENJEMPUTMU!!


Itu yang tertera di sana dengan makna yang masih sangat ambigu. Maksudnya apa?! menjemput kemana?! Aku rasa aku tak pernah punya teman. Kiranya begitu pertanyaan dari benak Evelyne.


Karna penasaran siapa yang melakukan ini. Evelyne segera melihat ke sekeliling tempat ia berdiri. Jalanan lebar bersih ini hanya di lewati banyak mobil tapi tak seramai tadi.


Tak mungkin orang tak waras yang menuliskannya. Pasti ada yang datang kesini tadi.


Evelyne terus membatin hingga matanya menangkap sesosok Pria berpakaian serba hitam dilengkapi topi dan masker begitu juga kacamata yang tengah berdiri di seberang jalan agak jauh dari Evelyne.


Keduanya seakan saling menatap hingga beberapa saat kemudian Sosok itu melambaikan tangan halus pada Evelyne lalu ingin pergi.


"Heeyy!!! Kau.. Apa yang kau lakukan. Haa??" tanya Evelyne ingin menyebrang tapi ia tak paham dengan kendaraan yang lalu-lalang di depannya.


Evelyne mengumpat kala sosok itu sudah pergi bahkan ntah kemana ia menghilang Evelyne juga tak tahu. Ia kembali berjalan ke dekat Mobil sesekali melihat ke arah tempat Pria itu tadi.


"Apa dia musuh Maxwell? Tapi, kenapa tak langsung menembak ku?!" gumam Evelyne bingung sendiri. Ia segera membuka pintu mobil ingin masuk tapi tiba-tiba saja tengkuknya langsung di cengkram dan di seret ke arah belakang.


Evelyne memberontak tapi sedetik kemudian ia mulai mencium aroma parfum khas dari seseorang yang tadi ia tinggalkan.


"M..Max!!" suara Evelyne antara tercekat dan terkejut.


Ia hanya menurut di tarik ke Mobil bermerek Huayra Imola yang harganya sangat fantastis tapi bentuknya begitu keren dengan sisi kanan dan kiri ramping dengan bagian depan gagah berbaja hitam mengkilap.


"M..Maax! Lepass!!" ketus Evelyne tapi tak bisa melepaskan cengkraman Maxwell ke tengkuknya. Ia di dorong masuk ke dalam mobil yang ntah kapan bisa sampai disini.


Raut wajah Maxwell sudah mengeras dan begitu kelam tak berani Evelyne tatap. Apalagi saat melihat darah di bahunya Maxwell terlihat semakin mendidih sampai menutup Pintu Mobil keras seakan tak takut jika Baja mewah ini akan jebol.


"Kenapa dia jadi menyebalkan?!" gumam Evelyne duduk dengan kedua tangan saling me**remas di pahanya.


Ia diam tak menatap Maxwell yang sudah masuk ke dalam Mobil duduk di kursi kemudi. Hawa dingin di dalam sini tak bisa Evelyne tahan bahkan mampu membuatnya berkeringat.


Apa aku harus minta maaf? Haiss.. Tidak-tidak. Aku-kan hanya membantunya. Kenapa aku yang salah?!


Batin Evelyne berkecamuk hebat. Saat ia sibuk memikirkan bagaimana bicara dengan Maxwell tiba-tiba saja Pria ini memacu mobil sangat cepat membuatnya hampir terpental ke depan tapi untung saja Evelyne berpeggangan ke pinggir Kursi.


Kau ingin mati. Haa?? Apa tak sekalian kau menabrakkan Mobil ini beton di pinggir jalan sana??!!


Tentu saja bentakan itu hanya sebatas aungan batin Evelyne saja. Ia tak berani untuk memaki Maxwell yang sekarang dalam mode marah dan sangat marah padanya.

__ADS_1


Tapi, Evelyne mulai memberanikan diri untuk bersuara karna ia kurang nyaman dan suasana seperti ini.


"Ehmm.. M..Max! Aku.. Aku tadi hanya bertemu dengannya sebentar. Itu-pun tak terlalu lama. Hanya saja luka ini tak begitu dalam. Kau.. Kau bisa tenang dan ... Maaax!!" pekik Evelyne di ujung kalimatnya kala Maxwell berhenti mendadak di jalanan yang sepi sudah jauh dari area Villa tadi.


Hampir saja kepalanya ingin membentur kaca depan karna Evelyne tak memakai sabuk pengaman.


"Bisa tidak kau jangan membuatku jantungaan??!!"


Pekik Evelyne tapi segera menelan ludah kala melihat wajah dingin keras dan tatapan membunuh netra coklat tajam ini sudah menghunus ke arahnya.


"Sudah berapa kali ku katakan?"


"M...Max!"


"JANGAN BERTINDAK SESUKAMUU!! APA KAU TAK MENGERTI BAHASA MANUSIA. HAA??" bentak Maxwell sudah sangat berkabut melihat Evelyne senekat itu apalagi berani membohonginya.


Ia masih bernafas lega saat Evelyne keluar dengan selamat tapi luka di bahu itu membuatnya ingin membalas semuanya pada Fernandez sialan itu.


"Ini masih untung hanya bahu-mu! Bagaimana kalau kau tak bernyawa saat keluar dari sana?? Bagaimana kalau kepalamu yang dia kirim padaku?? Apa kau memang tak punya otak untuk berpikir?!!"


Evelyne hanya diam menundukan kepalanya dengan tangan masih saling bertaut di atas pahanya. Ia merasakan kecemasan Maxwell padanya dan itu memang wajar karna tadi ia juga nyaris akan mati.


"Dengan cara apalagi aku mengatakannya padamu?! Apa kau begitu ingin mati disana?? Apa kau.."


"Maaf!" gumam Evelyne ciut dan nyaris tak terdengar. Tapi sayangnya Maxwell benar-benar emosi dan belum puas untuk mengatainya.


"M..Max!"


"Apa kau memang tak pernah memikirkan aku? Bagaimana rasanya membayangkan kau di tembak mati disana dan itu sudah membuatku gilaa Evelynee!!" geram Maxwell hingga Evelyne tak tahan lagi. Ia segera berhambur memeluk Maxwell yang hanya diam tak membalasnya.


"Maaf! Aku.. Aku hanya ingin bicara dengannya. Hanya itu, lagi pula dia tak akan bisa membunuhku. Max!" jelas Evelyne duduk di pangkuan Maxwell seraya mengalungkan kedua tangannya ke leher kekar ini.


Maxwell tak jua merespon. Ekspresi wajahnya masih keras bahkan tak mau memandang Evelyne yang seketika langsung menangkup kedua pipinya dan menghadiahkan kecupan sebanyak-banyaknya ke bibir Maxwell yang akhirnya menekan tengkuknya hingga kecupan itu berubah menjadi ciuman yang ganas.


"Ehmm!!" pekikan tertahan Evelyne kala Maxwell mengigit bibirnya dan menghisap dengan kuat. Tak cukup di situ saja. Maxwell benar-benar menguasai mulut Evelyne tak membiarkan wanita ini bernafas sama sekali.


"Ehmm Maamm!!" geraman Evelyne mendorong bahu Maxwell karna sudah kehabisan nafas. Usahanya tak berhasil karna Maxwell semakin mengigit lidahnya hingga Evelyne melebarkan mata hampir tersedak dan barulah Maxwell melepasnya.


"Uhuukk!!!"


Nafas Evelyne memburu hebat dan ngos-ngosan mengisi rongga dadanya kembali. Benang saliva itu masih terhubung di bibir basah keduanya tapi Maxwell hanya biasa saja karna ia memang pandai mengatur ritme nafasnya saat berciuman.


"K..kau.. Kau hampir m..membunuhku!" lirih Evelyne terengah-engah seraya memukul pelan bahu kekar Maxwell yang hanya menatapnya datar tapi jelas ia puas memberi hukuman kecil pada Wanita arogan ini.


"Kau ingin lagi?"


"T..tidak. Aku... Haiss.. Aku susah bernafas. Idioot!!" maki Evelyne bersandar ke jendela Mobil dengan dada naik turun berusaha menormalkan ritme nafasnya.

__ADS_1


Tatapan menyelidik Maxwell segera memindai pakaian Evelyne. Ia menajamkan matanya melihat Kostum pelayan yang seminim ini di tubuh Evelyne.


"Maaax!!!" teriak Evelyne saat seragam ini di koyak Maxwell sampai-sampai Evelyne terkejut bukan main.


Wajah Maxwell hanya datar bahkan tanpa rasa bersalah menanggalkan semua pakaian itu lalu membuka jendela Mobil dan melemparnya ke luar sana.


"Maax! Apa-apaan kau, ha?!"


"Ada yang menggoda-mu disana?" tanya Maxwell penuh intimidasi seraya menutup Kaca Mobil yang tadi ia buka.


"Tidak!"


"Jujuuur!!!" paksa Maxwell langsung membuat Evelyne frustasi bukan main.


"Tidak ada sayang! Aku bersumpah. Disana keadaanya kacau, mereka tak sempat menyelidiki-ku," decah Evelyne mengusap kepala Maxwell lembut.


Ia tak canggung walau hanya memakai Bra hitam yang seksi di tubuhnya dengan Boxer Maxwell tadi masih melekat di sana.


"Kau yakin?" masih menatap penuh selidik padanya.


"Yakin dan sangat yakin! Tak ada yang bisa menyentuhnya selain kau. Hm?!" goda Evelyne mendekatkan dadanya yang membusung seksi ke wajah Maxwell yang seketika langsung menurunkan Bra Evelyne dan segera melahap puncak bukit ranum ini.


"Gellii.. Kau.. !!"


Maxwell tak perduli. Ia sangat gemas dengan Squishi kembar ini sampai tak henti-henti menyesap seperti bayi.


Evelyne-pun tak masalah. Ia mengusap kepala Maxwell hangat meresapi sensasi yang sangat memantik hasrat keduanya.


Namun, saat ingin mencium leher jenjang Evelyne mata Maxwell melihat luka di bahu mulus ini. Sadar akan tatapan itu Evelyne segera ingin menutup lukanya.


"Ini hanya luka kecil. Tak masalah."


"Obati dulu!" gumam Maxwell menepis hasratnya karna luka itu lebih penting. Ia meraih Kotak obat di dekat Kursi lalu melepas Bra Evelyne yang tak masalah menunjukan tubuh polosnya.


Luka itu hanya seperti goresan di lapisan luar. Tak ada peluru di sana dan hanya sabetan kecil tapi masih memotong pembuluh darah.


"Tahan sebentar!"


Gumam Maxwell membersihkan luka dan darah di lengan Evelyne yang hanya diam menatap tak berkedip wajah Tampan datar ini.


Walau Maxwell Pria yang emosian tapi Evelyne nyaman dengan caranya memberikan perhatian.


"Kau tenang saja. Aku akan berusaha mendapatkan semuanya untukmu. Kau cukup obati saja lukaku. Max!"


Batin Evelyne merasa sangat bahagia setiap bersama Maxwell yang notabennya selalu mengkhawatirkannya. Ia jadi punya tempat untuk pulang dan bermanja.


....

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


__ADS_2