My Little Devil

My Little Devil
Kelicikan Maxwell


__ADS_3

Malam sudah semakin larut. Rembulan bergulir ke tengah permukaan langit gelap yang kesepian tanpa kerlipan Bintang yang biasa mendampinginya.


Suara berisik dari raja malam mulai berkumandang menyapa pendengaran sosok wanita berwajah bulat dan mata sipit terpaku ke arah Pintu besar Kediamannya.


Yah. Ini sudah sangat larut dan tak mungkin rasanya Perusahaan akan bekerja di jam tidur manusia kecuali ada sesuatu yang terjadi.


"Nona! Sebaiknya anda ke kamar atas. Ini sudah sangat malam," ajak Pelayan Reamy yang sedia mendampingi Wanita berkaki empat julukan Evelyne itu.


Tak ada jawaban dari bibir datarnya yang terus menatap berharap pada lebarnya bukaan Pintu besar yang menggambarkan betapa besarnya lubang kekosongan didadanya.


"Non!"


"Mungkin dia akan pulang sebentar lagi," gumamnya masih penuh harapan. Tak ada sanggahan lagi dari Pelayan Reamy yang membisu tak ingin mencampuri kekosongan Nonanya.


Tak berselang lama manik hitamnya langsung berbinar kala ada lampu Mobil yang tampak masuk ke dalam Gerbang besar di ujung sana.


"Itu! Itu pasti dia!"


"Iya, Nona! Tuan pasti pulang," gumam Pelayan Reamy menimpalinya. Penjaga yang ada di depan sana langsung mendekat kala Mobil itu sudah memasuki area Kediaman di dekat Garasi.


Namun. Saat Kursi Roda itu Pelayan Reamy dorong ke depan Pintu tiba-tiba senyum yang tadi melebar di bibir Violet seketika mengendur.


Di tatapnya kosong perawakan Pria Tua gagah ini dengan raut wajah suram dan tak bersemangat sama sekali.


"Tuan Besar!" sapa Pelayan Reamy.


"Dad!"


"Kenapa kau di luar?" tanya Tuan Marcello yang tadi ingin bertemu dengan Maxwell. Ia datang kesini karna kemaren Maxwell pulang dan kemungkinan malam ini ia juga akan kembali, pikirnya begitu.


"Dad! Ada apa?"


"Hanya ingin menemui suamimu. Dia sudah pulang-kan?" tanya Tuan Marcello sudah berdiri di dekat Kursi Roda Violet yang terlihat anggun dengan Dress Navy Rumahan itu.


Tak langsung menjawab atau bicara, raut murung dan sendu Violet sudah bisa di tebak oleh Tuan Marcello yang seketika langsung menegakkan tubuh dengan exspresi wajah marah.


"Dia tak pulang lagi?! Anak itu memang benar-benar."


"Dad! Mungkin Maxwell tengah ada pekerjaan. Dulu juga dia jarang pulang, bukan?!" gumam Violet memaksakan senyuman padahal jelas ia kembali terluka.


Tuan Marcello terdiam sejenak lalu mengeluarkan Ponselnya. Namun, niat hati untuk menghubungi Maxwell seketika sirna kala ingat jika Pria itu tak akan menjawab panggilannya.


"Violet! Kau istirahatlah. Daddy akan mencarinya."


"Dad! Nanti kalian bertengkar lagi. Biarkan saja dia dia bekerja," cegah Violet menahan lengan Tuan Marcello yang tadi ingin pergi.


Seketika wajah Tuan Marcello langsung berubah sendu menatap Violet yang begitu pengertian pada Maxwell tapi tidak sebaliknya. Pria itu akan menyesal melakukan semua ini.


"Maafkan Maxwell! Dia hanya tak bisa menerima wanita dalam hidupnya."


"Dad! maaf sebelumnya tapi kenapa Maxwell tak pernah patuh padamu?" tanya Violet mengutarakan isi dari kepalanya setiap melihat interaksi Tuan Marcello dan Maxwell selama bertahun-tahun lamanya.

__ADS_1


Apalagi saat ini wajah Tuan Marcello tampak diam terpaku seperti sangat tak berani mengingat kejadian lama. Ia juga segan mengatakan hal ini pada Violet takut wanita ini juga benci padanya.


"Kenapa Maxwell sangat tak akur denganmu? Setiap Daddy dan dia bertemu ada dinding besar yang menghalangi kalian."


"Dia marah karna aku tak begitu perhatian pada saat dia kecil," jawab Tuan Marcello tapi sebenarnya tidak. Ada penyesalan dan rasa malu dari manik coklatnya hingga Violet percaya akan hal itu.


"Aku terlalu sibuk hingga meninggalkan Maxwell bersama Ibunya sampai Ibunya meninggal dunia aku tak datang karna sesuatu yang mendesak."


"Benarkah? Tapi, seharusnya Maxwell paham jika Daddy tengah ada kendala untuk pulang," jawab Violet memahami posisi Tuan Marcello yang hanya mengangguk dengan pasrah.


"Dia membenciku karna Ibunya tewas tepat di hadapannya karna tahu tentang Perselingkuhanku."


Batin Tuan Marcello sangat malu jika Violet mengetahui itu. Kebencian Maxwell memang mendarah daging tapi ntah kenapa sampai sekarang Maxwell terlihat enggan untuk bermain senjata dengannya.


..........


Di tempat yang berbeda. Masih di kamar yang tadi menjadi saksi bisu dan telinga pendengar bagi sesosok belia yang tadi terbaring lemah sekarang tampak sudah berubah kembali seperti malam-malam sebelumnya.


Pose tubuhnya membujur di atas Ranjang dengan satu tangan menopang kepalanya dan satu lengan di perban itu ada si atas perut datar mulus itu. Ia sama sekali tak memakai pakaian apapun termasuk selimut yang ia biarkan jatuh ke lantai.


"Hati-hati dengan pandanganmu. Kau bisa kehilangan kendali," desisnya seksi menatap penuh kelicikan pada Maxwell yang sedari tadi berdiri di samping ranjang memandangnya penuh hunusan belati.


Jelas Maxwell ingin sekali mengoyak kepala Wanita cantik ini tapi akan berdampak pada Evelyne kecil yang akan kesakitan.


"Kau yang mendorongnya?" geram Maxwell dengan intonasi mengerikan.


Sudut bibir pink segar yang seksi itu terangkat membentuk senyuman misterius yang hanya Maxwell bisa mengartikannya.


"Menurutmu?"


"Kau ingin menyakiti Tubuhku. Hm?" lirih Evelyne dengan exspresi ketakutan mengejek Maxwell yang sudah mendidih hebat. Dadanya naik turun dengan tatapan sangat mematikan meruak keluar.


"Lakukanlah. Aku tak akan melawan-mu. Ayo lakukan!"


"Kau pikir kau cerdik?" desis Maxwell dengan kedua tangan mengepal. Bukannya marah seperti dulu Evelyne tiba-tiba berubah lebih tenang seperti sudah tahu bagaimana Maxwell bertindak.


"Terimakasih sudah memujiku. Aku sangat tersanjung."


"Baiklah," tegas Maxwell berjalan tenang ke bagian Ranjang sebelah kiri. Tatapannya tak berpaling dari Evelyne tapi masih dalam area mata.


"Kali ini kau tak mengikat tanganku? Kau tak takut aku akan menyerangmu. Hm?"


Maxwell diam dengan wajah datar aspalnya tapi seketika Evelyne tersentak kala bagian atap kamar terbuka otomatis hingga matanya langsung melebar melihat ratusan serangga yang begitu menjijikan baginya.


"K..Kau.."


Ia menatap Maxwell yang sudah bersandar ke dinding kamar dengan tatapan berubah licik dan seringaian iblis yang meremehkan.


"K..Kau.. Kau apa-apaan ini. Haa???" bentak Evelyne langsung merapat ke Kepala ranjang kala Ratusan bahkan Ribuan Kupu-kupu berwarna-warna dari langit-langit luar dingin dan gelap sana menyerbu masuk ke dalam kamar.


Seketika Evelyne pucat dan berkeringat dingin. Jantungnya berpacu dengan tatapan benci, jijik dan sangat tak suka dengan hewan satu ini.

__ADS_1


"SINGKIRKAN INI DARIKUU!!!"


Teriak Evelyne menghempaskan bantal di sekelilingnya mengusir Serangga-serangga indah di mata Evelyne kecil tapi begitu menjijikan di matanya.


Evelyne dengan tubuh polos itu gelagapan sampai ia jatuh ke lantai dengan makian serta umpatan keluar menelan Maxwell yang bersidekap dada tak jauh darinya.


"PRIA IDIOOTT!! SINGKIRKAN MEREKAA!!"


"Kenapa? Bukankah kau cerdas. Hm?" ujar Maxwell benar-benar membangkitkan amarah Evelyne yang sudah berapi-api menendang dan menghalau ratusan Kupu-kupu yang mengelilingi Tubuhnya.


Nafas Evelyne terengah dan kakinya tiba-tiba tak bisa bergerak sedikit bergetar. Ia menghalau dengan Bantal yang ada di bawah kakinya tapi itu sia-sia. Mereka semakin banyak bahkan kamar ini sudah penuh dengan aroma dan sayap-sayap indahnya yang berwarna terang.


"JAUHKAN MEREKA DARIKUU!!! AKU.. AKU AKAN MEMBUNUHMU!! AKU AKAN MELENYAPKANMUU!!"


Melihat Evelyne yang biasanya begitu arogan dan sangat angkuh sekarang seperti Kucing di jerat harimau senyuman mematikan Maxwell tak kunjung redup.


"Kau pikir aku sebodoh itu. Hm?"


"K..kau.." Evelyne sudah terlihat pucat.


Maxwell sama sekali tak perduli. Ia berjalan tenang ke Sofa di sudut ruangan dengan mata seperti menikmati penyiksaan batin bagi Evelyne di tengah ruangan ini.


"PRIA IDIOOT!!"


"Kau yang idiot," gumam Maxwell menjawab makian Evelyne yang terlihat sudah benar-benar tak berdaya. Ia seperti sangat tak menyukai Mahluk ini hingga nafasnya mulai tak beraturan.


"K..Kau.."


"Aku akan menghentikannya jika kau mematuhiku," ujar Maxwell dengan exspresi wajah serius.


Bukannya mengiyakan Evelyne langsung melemparkan Vas di dekat Ranjang ke arahnya tapi kaki Maxwell sangat lihai menepis benda itu hingga pecah ke lantai dingin ini.


"Aku.. Tak akan pernah TUNDUK PADAMUU!!!" bentak Evelyne berapi-api membuat kesabaran Maxwell yang hanya setipis tisu itu langsung ludes tak bersisa.


"Baik. Aku tak akan menahannya lagi," geram Maxwell menjentikkan jarinya hingga Langit kamar sepenuhnya terbuka memperlihatkan dunia luar dengan ribuan Kupu-kupu masuk melahap Evelyne yang langsung ingin lari tapi tak bisa.


"HENTIKAN INII!!!"


Ia terpadat ke Pintu kamar yang sudah di kunci otomatis oleh sistem keamanan. Maxwell bertopang kaki angkuh dengan satu tangan di atas peggangan Sofa dan satunya lagi menyangga pelipisnya terlihat sangat-sangat mempesona dan berkharisma.


Apalagi. Tiga kancing kemejanya terbuka memperlihatkan otot dari dada bidang dan leher kokoh yang sangat sempurna.


Jujur Tubuh Evelyne bagai Ice Cream yang terlihat lezat di mata lelaki tapi Maxwell masih bisa mengendalikan dirinya.


"HENTIKAN INII!!"


"Cih," decah Maxwell hanya melihat bagaimana Evelyne terdesak dan tak berkutik.


Ia sudah memikirkan ini sedari Evelyne jatuh tadi. Jika Evelyne adalah kebalikan dari Wanita ini maka hal yang mereka suka dan tidak juga bisa Maxwell simpulkan dengan otak cerdiknya.


....

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


Maaf ya say baru up tadi ada kesibukan yg nggak bisa di tunda soalnya🥲


__ADS_2